
Yola keluar dari kamar dengan ditarik oleh Putri. Dari anak tangga paling atas, Yola bisa melihat Ilham, Mamah Zubaedah, Atok, Hafiz bahkan Papa Ismail, ayah mertuanya yang jarang sekali berkumpul dengan keluarganya.
"Bengong kan lo?" ledek Putri padanya.
Yola akhirnya tersadar akan sesuatu.
"Jangan bilang kamu udah tahu tentang ini semua?" cecar Yola.
"Ya taulah," jawab Putri enteng.
"Jadi yang mau nikahan bukan kamu?" tanya Yola masih tak percaya.
"Ya enggaklah. Calonnya aja nggak ada," jawab Putri lagi-lagi dengan enteng. "Lagian nih ya, sejak kapan kamu berubah jadi b*go? Memang cinta itu benar-benar bisa bikin orang bodoh, ya? Hahaha, sekarang aku benar-benar percaya," katanya sambil tertawa cekikikan.
"Jadi kamu sekongkol sama Mama??" pekik Yola lagi-lagi tak percaya.
"Bukan hanya aku, Sepupu! Semua orang di sini tahu semua kali kalau acara ini untukmu. Semua sekongkol agar bisa membuat surprise untukmu! Abang ipar memang romantis sangat! Ya Tuhan, masih ada stok cowok kayak gitu nggak sih? Kalau ada sisakan untuk hambamu ini satu, aku udah bosan menjomblo, Tuhaaaan ...." katanya dengan penuh drama.
"Jadi ini idenya abang?" tanya Yola dengan mata memicing pada Ilham yang terlihat duduk bersila di bawah sana dengan rombongan keluarga dari Malaysia.
Putri lagi-lagi menjentikkan tangannya persis di depan hidung Yola.
"Tepat!" katanya. "Karena kau sudah tau, ayo kita turun!"
Putri segera menarik tangan Yola dan menuntunnya ke bawah. Dan lihatlah! Kini semua mata tertuju padanya. Yola menjadi malu sendiri meski orang-orang yang berada di sini hampir semuanya adalah kerabat dan orang terdekat dirinya. Bagaimana tidak malu, dia dilamar lagi dalam kondisi sedang hamil begini. Hahaha, ini lucu sekali, batinnya dalam hati.
Ilham sendiri terlihat pangling melihatnya.
"Duduk sini, dekat Mama!" kata Mama Ratih.
Yola menurut saja apa kata sang Mama. Dia pun mendekat dan duduk di antara mama dan papanya.
"Karena yang dinanti telah datang alangkah baiknya jika kita memulai acara lamaran ini dengan mengucapkan basmallah terlebih dahulu," kata Paman Hatta, Ayahnya Putri mewakili Keluarga Gunawan mengeluarkan kata sambutannya.
"Bismillahirrahmanirrohim," ucap orang-orang yang berada di ruang tamu rumah besar keluarga Gunawan itu.
"Mama, apa-apaan bohongin Yola segala sih?" bisik Yola sambil menggaet lengan Ratih.
"Diam, ih! Dengarin tuh, lihat ke depan!" balas Mama Ratih berbisik.
Saat pandangan Yola beralih ke depan, tak sengaja matanya beradu tatap dengan Ilham. Pria itu nampak senyum-senyum menggoda pada Yola sambil mengedipkan matanya pada Yola hingga wanita itu menjadi merona merah dibuatnya.
Yola menggigit bibir bawahnya seakan menggertak pada Ilham. Tega-teganya pria itu membohonginya seperti ini hingga dia uring-uringan tak jelas dari Kuala Lumpur hingga ke Jakarta, mengira suaminya itu tak peka terhadap apa yang diinginkannya.
"Karena besan kita ini datang dari Malaysia, yang mana salah satu ciri khas melayu Malaysia dan Melayu Indonesia adalah berbalas pantun. Mari kita buka acara ini dengan acara berbalas pantun antara keluarga Nirwan dan Keluarga Gunawan. Setuju???!!!" tanya Paman Hatta lagi.
__ADS_1
"Setujuuu!!!" sambut semua yang ada di sana.
"Kalau begitu acara berbalas pantun ini akan dimulai dari saya terlebih dahulu. Pihak keluarga Nirwan, silahkan bersiap membalas pantun dari saya," tantang Paman Hatta.
Perwakilan dari keluarga Nirwan pun saling berbisik satu sama lain untuk memutuskan siapa yang nanti akan membalas pantun dari Paman Hatta
"Perahu berlayar ke hilir tanjung,
Sarat bermuat tali temali,
Salam tersusun sirih junjung,
Apa hajat Ananda Ilham sampai kemari?"
Paman Hatta pun melemparkan sebuah pantun pembuka untuk dibalas oleh Ilham langsung.
Ilham yang tak menyangka akan langsung disuruh membalas pantun dari Pamannya Yola langsung menunjuk hidungnya tak percaya.
"Saye?" tanyanya dengan bergumam.
Paman Hatta tersenyum mengiyakan. Seseorang menyerahkan microphone pada Ilham agar tamu yang berada di luar dan tak bisa melihat prosesi berbalas pantun itu bisa mendengarnya.
"Jom! Balaslah pantun dari Pakcik tu," kata Mama Zubaedah mendesak.
"Mamah, Ilham tak pandai pun," bisik Ilham. "Lagi pula biase mempelai pria tak de disuruh berbalas pantun macam ni," keluhnya.
Hafiz yang mendengar kesulitan abangnya menyelutuk dan meraih microphone Ilham.
"Itu pun tak pandai. Jom, aku sahaja yang balas. Tetapi yang berkahwin dengan Yola nanti biar aku sahaja, hmmm?" katanya usil.
Ilham menggemeretakkan giginya dan merebut kembali microphone itu dan berbisik sinis.
"Kau mimpi sahaja, Gendut! Yola tu Kakak Ipar kau!"
"Kalau macam tu balaslah!" tantang Hafiz sambil terkekeh.
Sesaat Ilham sibuk memilih-milih kata dalam pikirannya untuk bisa membalas pantun dari pamannya Yola. Sementara semua yang ada di sana setia menunggu.
"Sarat bermuat tali temali,
hendak digunakan bila berlabuh,
tentulah ada hajat di hati,
supaya luka yang lama bolehlah sembuh"
__ADS_1
Mendengar balasan pantun dari Ilham seketika bisik-bisik terdengar lagi di ruangan itu. Sebagian besar dari dua keluarga itu tentu saja tahu apa yang terjadi dalam pernikahan Yolanda dan Ilham.
Yola hanya tersenyum simpul mendengar balasan pantun yang dilontarkan Ilham nyaris tanpa basa-basi. Namun kemudian suasana yang nampaknya mulai menegang itu pun kemudian dapat diambil alih kembali oleh Paman Hatta.
"Malam-malam pasang pelita,
Pelita dipasang atas peti
kalau sudah bagai dikata,
Sila terangkan hajat dihati"
Lalu Ilham pun membalas,
"Bunga mawar bunga melati
Harum semerbak di dalam taman
Besar sungguh hajat di hati
Hendak menyunting Yolanda Gunawan,
"Huuuù ...." Suara menggoda dari orang-orang di sana langsung terdengar. Yang mereka kagumi dari Ilham adalah sikap lelaki itu yang langsung to the point menyampaikan maksud hatinya ingin meminang Yola.
Paman Hatta tidak langsung menjawab pantun dari Ilham, melainkan berunding sejenak dengan keluarga Gunawan khususnya Yola, Mama dan Papanya untuk menjawab inti dari acara lamaran ini. Sesaat kemudian Abimanyu Gunawan menganggukkan kepalanya sebagai isyarat memperwakilkan jawabannya pada ipar dari istrinya itu. Toh mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju dia harus mulai bisa menerima Ilham kembali menjadi menantunya.
"Dara manis memetik bunga,
Bunga disanggul seri wajahnya,
Hajat Ananda tinggi santunnya,
penuh adab kami terima,
Tepuk tangan spontan langsung terdengar dari dalam dan luar rumah itu. Hingga tiba saat pihak dari Keluarga Ilham ingin menyerahkan seserahan pada Yolanda. Kali ini Zubaedah yang mengambil peran untuk memberikan seserahan itu pada wanita yang sebenarnya telah menjadi menantunya itu.
"Yola, jangan pandang ape dan berape banyak yang dapat kami hantarkan untuk Yola hari ini, tapi tengoklah ketulusan hati kami untuk dapat meminang kamu sebagai menantu dari keluarga Nirwan," kata Zubaedah sambil manatap wajah ayu menantunya itu.
"Mamaaaa ...." gumam Yola terdengar manja. Dia tak menyangka kalau Ilham dan mertuanya akan menyiapkan surprise semacam ini. Benar-benar suurprise!
****
Kalian bawa kado apa gengs ke acara lamaran Yola dan Ilham?
Jangan lupa like dan komentnya ya...
__ADS_1