Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Jen ... de ... la ...?


__ADS_3

Yuri melihat ke kanan dan kiri, masih sambil mengipasi bara api yang dipakai untuk memanggang potongan ayam.


"Hafiz dimana sih?" gerutunya setengah menggumam tetapi masih bisa kedengaran oleh Ilham dan Yola.


Hafiz hanya permisi ke toilet, tetapi rasanya hampir setengah jam berlalu, pria itu masih tak menunjukkan tanda-tanda akan kembali.


"Tunggu aja, nanti juga balik," jawab Yola masih sambil mengotak-atik ponselnya.


Saat ini Ilham dan Yuri sedang membakar ayam di atas panggangan, sementara dirinya sendiri hanya sebagai penonton dan peramai acara.


Di layar ponselnya saat membuka aplikasi chat, dia menemukan satu pesan chat belum terbaca.


[Yola, aku ijin pergi bawa Putri pusing-pusing sekejap, tolong kamu handle Yuri]


Yola mengernyitkan keningnya.


[Jiaahh, si Ndut main belakang! Kamu jangan mempermainkan Putri, Ndut! Aku akan hajar kamu kalau kamu berani permainkan dia]


Yola melirik Yuri yang tampak gelisah karena Hafiz tak juga kembali. Tak lama sebuah mobil terlihat keluar dari pagar rumah, menegaskan kalau Hafiz memang sudah pergi membawa Putri pergi.


Triiing!


Sebuah pesan chat masuk lagi. Yola kemballi membukanya.


[Kita akan bicarakan itu nanti, aku bawa Putri sekejap dahulu, pokoknya amankan Yuri. Aku nak selesaikan kesalahpahaman ni dulu, ok]


Yola menghela napas. Hufff, ya sudahlah! Toh dia tahu antara Putri dan Hafiz telah tumbuh semacam rasa yang sama dengan rasa yang dia miliki bersama Ilham. Yaitu rasa cinta.


[OK. Jangan diapa-apain Putrinya, Ndut!Pokoknya lecet dikit, bacok!]


Hafiz yang telah mengemudi mobil keluarga Nirwan sambil membalas chat Yola hanya tertawa kecil mendengar ultimatum Yola.


"Kenapa?" tanya Yuri heran.


"Tak ape, Yola hanya takut aku nak buat macam-macam pada sepupu kesayangan dia," kekeh Hafiz.


Cih! Putri membalas kekehan Hafiz dengan cibiran. Lalu, mobil itu pun mulai melaju meninggalkan komplek perumahan Atok Yahya yang kini ditempati oleh Yola, Ilham dan Mamah Zubaedah.


"Hafiz kemana sih?" tanya Yuri gelisah.


Sungguh dia merasa risih tanpa Hafiz di sisinya, mengingat tak ada yang benar-benar menyukainya di sini. Ilham dan Yola, bahkan Zubaedah, Yuri tahu kalau mereka sudah tidak suka lagi padanya, jadi ada sedikit perasaan tidak nyaman yang dia rasakan saat ini.


Yola mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk karena sibuk ber-chat ria dengan Hafiz.


"Ah, Hafiz baru menghubungiku. Katanya dia ada urusan mendadak. Nanti kamu pulang diantar sama supir aja," kata Yola sekaligus mencari solusi sebelum Yuri mulai protes.


Yuri mengangkat ayam bakar yang sudah matang dan menaruhnya di atas piring dan meletakkannya di atas meja di samping Yola duduk. Lalu dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi Hafiz. Namun tak ada jawaban.


Hafiz sendiri yang sedang mengemudikan mobil menyempatkan untuk melirik ponselnya dan melihat siapa yang sedang menelepon.


Yuri ...


Tentu dia tidak ingin diganggu dan mencoba untuk mengabaikannya.


"Siapa?" tanya Putri dengan wajah datar. "Pacarmu?"


Dia bisa menebak kalau itu pasti dari orang yang dia pikir pacarnya Hafiz. Yuri. Kalau tidak salah itu namanya, kan?


"Yuri bukan pacar, bukan kekasih atau semacamnya," jawab Hafiz acuh.

__ADS_1


Itu membuat Putri mengerutkan dahinya. Yola memang sempat menjelaskan padanya kalau tapi tidak secara rinci kalau Yuri bukan kekasih Hafiz. Tetapi tentu saja Putri tidak segampang itu percaya. Yola bisa saja hanya ingin menghiburnya. Tidak! Dia tidak segampang itu dibodohi. Putri tidak mau diberi harapan palsu, diangkat setinggi langit kemudian dihempaskan ke bumi.


"Idiiih, nggak usah bohong. Iya juga nggak apa-apa juga kali," cibir Putri, meski dalam hatinya bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya.


Hafiz melirik Putri yang terlihat manyun dengan muka ditekuk. Sumpah demi apa gadis itu terlihat menggemaskan seperti itu. Apa dia cemburu?


"Dia cantik," gumam Putri.


Hafiz menggeleng.


"Kau lebih cantik!"


"Dia juga sahabatnya Yola," kata Putri makin meracau.


"Dan kau sepupunya Yola," jawab Hafiz.


"Apa hubungannya, Bambang?!" protes Putri pada Hafiz yang sedari tadi sibuk menjawab-jawab omongannya.


"Nah justru itu, Abang nak tanya kamu pula, ape hubungannya dengan Abang kalau dia sahabatnya Yola?"


"Jangan panggil abang-abang! Kita ini seumuran, tau!" sungut Putri.


"Betul. Tetapi kalau dua orang, lelaki dan perempuan nak menjalin kasih mestilah harus ade panggilan sayang. Kalau Putri tak nak panggil 'sayang', macam mana?"


"Idiiiih, pedenya!" cibir Putri sambil melemparkan pandangannya ke arah luar jendela mobil.


Sungguh dia tak bisa membayangkan betapa konyolnya pasti dia saat ini. Kata-kata Hafiz berhasil membuatnya merasa berbunga-bunga. Dan pastinya dia tidak bisa menutupi itu dari wajahnya.


Hafiz tersenyum melihat Yuri yang memalingkan wajahnya ke luar jendela, hingga yang terlihat hanya pipi sebelah kanannya saja. Itu membuat Hafiz jadi iseng menghidupkan lampu dalam mobil yang berwarna lebih terang yang bisa membuatnya untuk melihat lebih jelas rona wajah itu.


"Hahaha ...." Hafiz tertawa dengan caranya yang khas. "Muka tuh dah macam kepiting rebuslah," ledeknya.


Plaaak!


Tangan Putri memukul lengan Hafiz, membuat pria itu semakin menikmati gelak tawanya.


"Udah diam ah," kata Putri merajuk.


"Hahaha, baik, baik. Kalau macam tu abang diam sahaja," jawab Hafiz.


"Nah, Abang lagi?!"


"Pilihannya hanya ada dua sahaja, panggil aku abang atau sayang." Hafiz tetap ngeyel.


"Pacarmu urus dulu, baru ngegombalin cewek lain."


"Dah pun dikate, dia bukan kekasih atau pacar, kau pun tak percaya."


"Emaaang nggak percaya!" jawab Putri ketus.


"Kau belum jawab pertanyaan Abang tadi. Apa hubungannya Abang dengan Yuri yang ape tadi Putri cakap? Bersahabat dengan Yola?"


"Ya, kamu kan memang belum bisa move on dari Yola, makanya kamu dekatin sepupunya sok-sok'an mau tanggung jawab nikahin segala, padahal biar kamu tetap bisa dekat dengan dia, dan sekarang mentang-mentang ada sahabatnya Yola yang lain yang tinggal di sini, kamu udah nggak butuh sepupunya Yola lagi deh yang di Indo," ketus Putri.


Mendengar itu Hafiz hanya tersenyum-senyum penuh makna pada Putri.


"Idiiih itu muka senyum-senyum kenapa? Ngolokin aku nih?" tanya Putri dengan mata melotot yang membuat Hafiz semakin tertawa terbahak-bahak.


"Issss!! Diam nggak?" Kini Putri mencubit Hafiz.

__ADS_1


Dan bukannya berhenti tertawa, Hafiz malah semakin tertawa terbahak-bahak. Akhirnya Putri lelah dan membiarkan saja Hafiz menertawainya.


"Baiklah, baiklah. Abang diam! Sekarang Putri nak makan ape?"


***


"Nggak diangkat teleponnya?" tanya Yola pada Yuri yang sedari tadi terus menghubungi Hafiz namun tak digubris oleh pria itu. Hafiz malah mengaktifkan mode silent pada ponselnya.


Yuri menggeleng dan masih berusaha menghubungi Hafiz.


"Udah nggak usah pusingin dia. Dia pasti ada urusan di gym-nya. Mending kita makan sekarang aja!" kata Yola mencoba menenangkan Yuri. Lebih tepatnya menghalangi Yuri mengganggu Hafiz dan Putri.


Yuri mengangguk pasrah.


"Udah, nggak usah pusing. Nanti kamu diantar sama supir aja."


Yuri kembali mengangguk.


"Kita makan di dalam aja, yuk. Di sini banyak nyamuknya," ajak Yola sambil bangkit dari duduknya.


Yola pun mengangkat dua piring berisi ayam bakar dan membawanya ke dalam.


"Biar abang sahaja, Yola!" kata Ilham sambil menarik piring di tangan Yola. "Nanti kau penatlah."


"Aduhay, lebay nian abang ni! Taklah sampai penat hanya nak angkat pinggan tu," jawab Yola dengan memakai bahasa Melayu.


"Tak terima penolakan!" balas Ilham sambil berlalu membawakan dua piring beri ayam yang coba dibawa Yola tadi.


Yuri mengikuti dari belakang.


Saat mereka berada di meja makan, tak sengaja berpapasan dengan asisten rumah tangga yang sedang mendorong Sonia di kursi roda. Yola menghentikan langkah kakinya tiba-tiba, sementara Ilham tetap berlalu mencoba mengabaikan mantan istrinya itu.


"Makcik, ehmm Sonia mau dibawa kemana?" tanya Yola.


Yola benar-benar berubah menjadi lebih peduli pada Sonia. Membuat Ilham menjadi semakin tak mengerti pada istrinya itu.


"Makcik baru sahaja membawa dia dari tandas. Nak buang hajat dia! Ckck!"


Wanita separuh baya itu terlihat sangat tersiksa mengerjakan tugasnya.


"Sabar sedikit ya, Makcik. Nanti Sonia mau dibawa berobat juga kok ke Penang. Nunggu aku sama abang libur dulu biar bisa antar dia ke sana," kata Yola mencoba memberi pengertian. "Nanti upah makcik Yola tambahin deh!"


"Ahh, tak payah. Jangan macam tu, Puan Yola!" tolak makcik itu. "Saye tak ape tetapi terkadang ..."


Yola tak lagi fokus mendengar asisten rumah tangga itu. Matanya tertuju pada Sonia. Nampak Sonia tengah mengangkat telunjuknya yang lemah.Telunjuk itu sampai terlihat bergetar sangking lemahnya.


Yola mengikuti arah telunjuk itu terangkat dengan bola matanya hingga pandangannya jatuh pada sosok Yuri di belakangnya.


"Jen ... de ...la ..." Lirih suara Sonia sambil menunjuk pada Yuri.


Yola mengernyitkan keningnya heran.


"Jen .. de ... ...la?" Sonia mengulang kata-katanya dengan tersendat-sendat.


Apa Yola tidak salah lihat? Yuri terlihat pucat.


****


Hai reader semua kesayang othor, makasih buat kalian yang masih setia baca novel ini, ngasih suport berupa view, like, komen, vote poin dan yang ngasih koin juga serta dukungan untuk karya remahan alias ecek-ecek ini hingga JDM bisa naik level ke 10. Pucuk, pucuk, pucuk wkwkwk. Pokoknya ini semua berkat kalian semua reader aku yang ketce badai... tengkyu very very so much and big hug untuk kalian sayang-sayangku... lebaynya othor hahaha... pokoknya tetap suport othor yaaaak ...

__ADS_1


__ADS_2