
"Kalau kau mau tahu alasan kenape abangmu Ilham berkahwin lagi dengan Sonia kau tanyakanlah sendiri. Suami isteri mestilah harus saling terbuka satu sama lain. Harus saling percaya satu dengan yang lain," kata Zubaedah.
"Kalau memang dia punya alasan, kenapa tidak memberi tahu aku sebelum dia menikah dengan Sonia?" tanya Yola masih disela isak tangisnya.
Mama Zubaedah menghela napas panjang.
"Jika Ilham bagi tahu, kau dan mamah papah kau boleh mengerti ke? Ape kau kire Mamah dan Papah kau akan mengijinkan putri semata wayangnya dimadu oleh Ilham?"
Yola terdiam. Ilham memang sudah mengatakan akan menjelaskan semuanya padanya, bahkan berjanji akan menceraikan Sonia. Tapi Yola sungguh tidak ingin tahu dan juga tak berusaha ingin memperbaiki hubungannya dengan Ilham. Kekecewaannya di masa lampau telah membuat dia merasa mati rasa akan segalanya.
"Kau pikir-pikirkanlah lagi, Yola. Mamah tak nak sembunyikan ape- ape dari Yola macam dulu. Mamah nak bagi tahu Yola sekarang agar Yola tahu abang Ilham selama ini selalu setia menunggu Yola," kata Zubaedah. "Semasa Yola berpikir ni, Yola usah temui Ammar dulu."
"Mamah .... Mamah .... Jangan. Biarkan aku tetap bertemu Ammar, ya ....." rengek Yola sembari mengejar Mama Zubaedah yang koni telah beranjak pergi.
"Tak! Tak boleh! Kau sadar tak Yola? Semakin Ammar sering berjumpe dengan kau, semakin dia sayang pada kau dan semakin dia menderita. Dia mahu Daddy dan Mommy-nya bersama-sama. Macam mana kau boleh berpikir dia akan bahgia setelah kau pisahkan dia dan Ilham kelak? Macam mana dia boleh lupakan kau kalau kau ada di dekat dia terus? Sudahlah. Sebelum dia semakin cinta dengan kau, lupakan sahaja Ammar dan pulanglah ke Indonesia."
"Nggak, Ma. Nggak, Ma! Aku nggak mau pisah dengan Ammar lagi. Tolongin Yola, Ma!"
Yola mengejar Zubaedah hingga nenek dari anaknya itu berada di unitnya Ilham.
"Kalau kau tak nak berpisah lagi dengan Ammar, rujuk sahaja dengan Ilham. Cuma itu pilihannya!" kata Zubaedah tegas sembari menutup pintu apartemen.
Yola memencet bel pintu itu berulang kali, sementara Mama Zubaedah memantaunya dari intercom.
"Mamah, ayo kita bicarakan lagi ini, Mah. Yola nggak mau pisah dengan Ammar. Ammaaar ...." ratap Yola menangisi Ammar.
Sementara itu si kecil Ammar dari dalam apartemen terlihat sangat kasihan dengan Mommy-nya dan ingin membukakan pintu.
"No, Ammar. Don't open the door!" larang Zubaedah.
"Tapi Grandma, Mommy sangat kasihan. Look! She is crying!" protes Ammar.
Zubaedah mendekatkan dirinya pada Ammar dan mengangkat cucunya itu.
"Ya, you right. Tapi ini demi kebaikan kalian. Ammar mahu Mommy Yola kembali bersama dengan Daddy kan? Maka kite mestilah memainkan drama sikit. Kite bikin Mommy kau tu rindu berat dengan kau, nanti kalau Mommy kau dah tak tahan, mestilah dia mahu kembali lagi dengan Daddy ...." kata Zubaedah dengan senang.
"Seriously?"
"Ya. Bila Grandma berdusta dengan Ammar?"
Ammar terlihat mengangguk-angguk sejenak.
"Tapi Ammar juga mestilah bantu Daddy juga. Usah temui Mommy dahulu dalam berapa hari ni. Biar Mommy kau rindu setengah mati dulu dengan Ammar, barulah nanti Ammar yang minta sendiri Mommy kembali bersama dengan Daddy. Ammar paham tak?" tanya Zubaedah.
"Oke. Ammar dah paham pun."
"Good! Kamu memang cucu Grandma yang paling pandai," puji Zubaedah.
\*\*\*\*\*\*\*
Keesokan harinya dengan kepala yang sakit Yola terbangun. Dia hampir tak bisa tidur semalaman menangis dan memikirkan syarat dari Mamah Zubaedah. Dia sungguh tak ingin kembali dengan Ilham, kenapa mereka semua memaksanya?
Sudah jam setengah 7 pagi tak ada tanda-tanda Ammar akan datang memintanya menyiapkan sarapan. Sungguh hatinya nelangsa dan sakit mengharapkan kehadiran malaikat kecilnya itu. Hingga jam 7 Ammar tetap tak datang, Yola nekad mendatangi apartemen Ilham dan memencet belnya dengan tak sabar.
"Kau mahu ape?" Ilham yang keluar membuka pintu.
"Mana Ammar? Aku sudah membuatkan sarapan untuknya. Dia pasti suka burger kan?"
Ilham menatapnya lama sebelum kemudian akhirnya berbicara.
"Kau sebegitu tak mahunya rujuk dengan abang ke?" tanya Ilham dengan berlipat tangan di dada.
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sedang menanyakan Ammar," kata Yola keberatan.
__ADS_1
"Ammar tak de kat sini. Mamah dah bawa Ammar balik ke rumah Atok. Kau seperti tak kenal dengan Mamah je. Kalau Mamah dah bersikeras cakap A mestilah yang terjadi mesti A. Sama saat dahulu Mamah paksakan Abang mesti berkahwin dengan Yola, abang pada akhirnya pun berkahwin juga dengan Yola."
Yola tersenyum sinis.
"Ya. Ini semua gara- gara kamu. Harusnya dari awal kamu tegas menolak menikahi aku. Sudah tahu terpaksa, masih aja dilakukan! Kalau memang kamu sangat terpaksa, sebaiknya sekarang juga kamu kasih tahu Mamah kalau kita nggak bisa rujuk lagi. Aku juga nggak mau melakukan ini dengan terpaksa!" Omel Yola.
Ilham tersenyum lembut dan menarik Yola dalam pelukannya. Yola meronta namun Ilham menariknya lebih dalam lagi.
"Abang belum selesai pun dah Yola potong cakap abang. Abang memang merasa terpaksa mase tu berkahwin dengan Yola, tapi lepas tu abang sangat yakin kalau Yola adalah yang terbaik untuk jadi isteri abang. Pilihan orang tua terhadap anaknya memanglah tak akan pernah salah. Sebab ridhonya Allah berasal dari ridho orang tua, sayang. Dan kali ini pun sama. Apa yang Mamah harapkan, percayelah itu mesti yang terbaik untuk kite," kata Ilham mencoba meyakinkan.
Yola lagi-lagi hanya tersenyum sinis.
"Tapi orang tuaku nggak akan setuju tuh dengan niatmu ingin kita kembali rujuk," kata Yola.
Yola sangat yakin Mama dan Papanya tidak akan sudi menerima kembali Ilham sebagai menantu mereka.
"Kalau abang boleh buat Mama Ratih dan Papa Abi setuju, Yola bersedia ke rujuk dengan abang lagi?" tanya Ilham.
"Mimpi!!!!" jawab Yola sembari mendorong tubuh Ilham.
Bagaimana ini? Bagaimana? Yola merasa hampa tak melihat Ammar meski hanya satu hari saja. Dia merasa hampir gila karena tak bisa melihat wajah lucu putranya itu.
Hari berikutnya pun sama, Ammar tak mendatanginya di apartemennya. Yola merasa ia tak bisa berdiam diri saja sehingga ia memutuskan untuk pergi melihat Ammar ke sekolah putranya itu. Tapi sesampainya di sana pun Yola tak diberikan ijin untuk bertemu, membuat hatinya semakin nelangsa.
Segera ia kembali ke N-one, dan tanpa basa basi lagi langsung masuk ke ruangan direktur utama untuk mendatangi Ilham.
"Aku ingin bicara!" katanya frustasi.
"Sila!" kata Ilham mempersilahkan.
"Tolong pertemukan aku dengan Ammar! Bagaimana bisa kamu setega ini padaku? Dia juga pasti mencariku!"
"Tak juga. Kalau Ammar tahu kamu adalah Mommy kandungnya, dia mesti benci padamu Kerana kau telah tinggalkan dia." jawab Ilham datar.
"Abang pun mase tu punya juge alasan kenape abang mesti berkahwin dengan Sonia. Dan kini abang pun menyesal telah menyakiti hati Yola. Tapi kenape Yola takmaafkan Abang?" Balas Ilham.
"Itu sesuatu yang berbeda. Kau menikahi Sonia karena kau cinta. Dan sekarang kau ingin rujuk denganku karena kau tak memiliki keturunan dengan Sonia sejak dia keguguran. Iya kan?" kata Yola mengagetkan Ilham.
Dari mana Yola tahu Sonia keguguran?
"Tapi Tuan Ilham, aku bukan mainanmu. Aku tak ingin berada di antara kalian. Jadi jangan bawa- bawa hubunganku dengan Ammar ke dalam hubunganmu dengan Sonia."
"Kau salah paham lagi dengan abang." jawab Ilham. "Abang dah kate akan jelaskan semua tentang Sonia pada kamu, tetapi kamu tak nak mendengar. Abang mesti macam mana agar kau percaya, Yola?"
"Kalau begitu jelaskan padaku! Tetapi kuberi tahu, itu tidak berarti aku mau rujuk denganmu," kata Yola.
Ilham menarik napas panjang dan kemudia bangkit dari duduknya dan menghampiri Yola yang hanya berdiri di hadapannya. Segera Ilham menuntun Yola ke sofa di ruangannya itu dan mendudukkannya di sana.
"Abang berkahwin dengan Sonia kerana terpaksa demi adik abang," kata Ilham.
Yola mengernyitkan keningnya bingung. Demi Hafiz?
"Bukan Hafiz," kata Ilham seolah tahu apa yang dipikirkan Yola saat ini. "Tapi Andini."
Andini? Siapa dia?
"Andini itu adik perempuan abang yang hilang di rumah keluarga Gunawan saat dia masih baby. Dia kira- kira sama usianya dengan Yola. Lama tak terdengar kabarnya, tak ade petunjuk ape pun. Tiba- tiba saje, entah macam mana Sonia datang bawa bukti kalau die boleh pertemukan kami dengan Andini, tapi dengan syarat Abang harus berkahwin dengannya," kata Ilham.
Yola terperangah tak percaya. Bagaimana mungkin ada hal semacam itu? Dia tak percaya sama sekali.
"Yola mungkin tak percaye, tapi itu yang sesungguhnya terjadi. Abang dah berembuk dengan mama, papa dan Atok semua setuju abang berkahwin dengan Sonia agar Andini boleh ditemukan kembali," kata Ilham.
"Lalu kalian mengorbankan aku?" tanya Yola gusar.
__ADS_1
"Maafkan abang Yola .... Abang tak nak korbankan Yola. Meski Abang berkahwin dengan Sonia, abang tak pernah khianati Yola. Hanya Yola yang Abang sayang dan cinte," kata Ilham.
"Oh, ya? Sangking cintanya, kau juga selingkuh di belakangku saat di Jerman. Ayolah, Ketua Pengarah. Aku tidak bodoh. Aku melihat di hari pernikahanmu dengan Sonia, di hotel itu betapa banyak foto-fotomu berdua dengan Sonia saat di Berlin. Dan itu mesra sekali. Dan sekarang kamu bilang kalau cuma aku yang kamu sayang? Kamu itu menganggap aku idiot atau bagaimana?" kata Yola geram.
Ilham tersenyum.
"Kau cemburu, ke?"
"Aku tidak cemburu. Tapi aku sakit hati. Sampai hari ini aku tidak akan pernah lupa bagaimana pintarnya kau merayuku hingga jatuh dalam perangkapmu dan kemudian menyakitiku. Kau memang hebat, Ketua Pengarah! Dan sekarang kamu masih bisa tersenyum? Apa yang sedang kau tertawakan?" tuding Yola jengkel.
"Kau sakit hati dengan abang hingga kini, artinya kau masih cinta dengan Abang," kata Ilham.
"Omong kosong ...." bantah Yola.
"Masalah Sonia, secepatnya abang akan ceraikan dia."
"Bukan urusanku."
"Lepas tu, kembalilah dengan Abang. Kita bersama-sama lagi dengan Ammar. Hanya ade kite. Abang janji," kata Ilham.
"Segera bangun dari mimpimu, Ketua Pengarah! Itu tidak akan pernah terjadi," kata Yola sembari bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan Ilham.
\*\*\*\*\*\*
Sonia diam terpaku di hadapan Zubaedah, ibu mertuanya saat ini. Kedatangannya kali ini pastilah ada kaitannya dengan Yolanda. Sonia tahu itu.
"Bercerailah dengan Ilham," kata Zubaedah.
Lagi, entah sudah berapa kali Sonia mendengar kata- kata itu.
"Mamah, aku tak nak berpisah dengan Ilham. Aku berjanji akan pertemukan Mamah dan Andini, ya? Tolong, Mah ...." kata Sonia memohon.
"Dah 7 tahun. Kau tetap tak boleh pertemukan kami. Ape maksud kau tu? Kau kire Ilham berkahwin dengan kau demi ape? Itu demi Andini, adiknya. Jadi, kalau kau tak boleh pertemukan Andini dengan kami, kau pergilah dari keluarga Nirwan, ni. Tak ade yang harap kau ada di sini. Hanya janji- janji yang selalu kau beri!" kata Zubaedah dingin.
"Tapi, Mah, aku selalu bagi Mamah berita tentang Andini, aku selalu memberi gambarnya Andini pada Mamah."
"Hanya gamber je. Kapan kau nak pertemukan kami? Saye ingin bertemu anak perempuan kami langsung dengan mata kepala saya sendiri! Kau tak boleh kan?" tanya Zubaedah geram.
Sonia semakin menciut dengan kata- kata Zubaedah.
"Kalau nanti orang tu ade hubungi aku, aku akan desak dia untuk bagi tahu keberadaan Andini...." bujuk Sonia.
"Kau bagi tahu saje siape orang tu! Biar kami yang bertanya langsung pada die!" kata Mamah Zubaedah.
"Aku tak tahu siape dia, Mah. Die selalu datang sendiri secara tiba-tiba, Mah. Aku pun tak tahu siapa dia, dia berduduk di mana, aku tak tahu. Tapi kali ini aku janji, aku pasti akan dapatkan informasi tentang dia. Aku janji Mamah!" kata Sonia setengah memohon.
Mamah Zubaedah tak bergeming dengan permohonan itu. Sudah terbiasa mendengar janji- janji tak terbukti seperti ini. Tapi ini hanya untuk sekali ini dia memberi kesempatan.
"Saye beri kau kesempatan sekali lagi untuk pertemukan kami dengan Andini dalam bulan ni. Bilamana kau tak juga boleh pertemukan saye dengan anak saye, kau sila keluar dari keluarga Nirwan. Secepatnya saye akan suruh Ilham mengucapkan talak pada kamu Sonia!"
Sonia terhenyak lemas mendengarnya.
"Dan kau mestilah dah tahu, kalau Yolanda ada di KL. Saya nak menantu saya Yola dan anak saye Ilham yang telah bertahun- tahun berpisah kerana kau rujuk kembali. Oleh kerana itu, jangan mencari pasal yang menimbulkan kekacauan. Kau paham tak?" kata Zubaedah mengintimidasi.
Sonia menelan ludah bagai menelan pil pahit. Meski hatinya berontak, tapi entah kenapa kepalanya hanya bisa mengangguk sekali tanda mengiyakan.
Sepeninggalan Zubaedah, Sonia pun hanya bisa menangis. Dia tak rela kehilangan Ilham ataupun berbagi Ilham dengan wanita lain, walaupun wanita itu adalah isteri pertama Ilham sendiri. Jika Yola bersama kembali dengan Ilham, sudah sangat jelas kalau kehadirannya semakin tak akan ada artinya di mata Ilham. Yola bahkan telah melahirkan Ammar untuk Ilham. Sementara Sonia jangankan untuk melahirkan, lelaki berstatus suaminya itu bahkan tak pernah sama sekali ingin menyentuhnya. Di tambah lagi dengan skandalnya dan Victor beberapa tahun lalu.
Sonia bangkit dan mengambil laptopnya. Masih terisak dia mengirim pesan pada seseorang melalui sebuah email.
[Tolong aku, tolong pertemukan Andini dengan Nirwan family. Aku tak tahu lagi mesti macam mana. Ilham nak rujuk dengan Yolanda. Aku mesti macam mana. Tolong aku, Tuan Y. Balas pesanku secepatnya!]
*****
__ADS_1
hai reader, jangan lupa untuk selalu dukung author ya lewat lime dan komentar yang membangun. Jangan lupa Follow author dan beri vote juga agar author lebih semangat up-nya