
"Syarat apa?" tanya Yola agak sedikit keberatan.
Kenapa harus pakai syarat- syaratan segala sih? Dia dan Ilham kan sudah dewasa. Bisa memutuskan mana yang terbaik buat kehidupan mereka. Mama kelihatan banget ingin mempersulit, pikir Yola.
"Syarat apa sih, Ma? Mama jangan gitu deh," protes Yola. "Yola tau nih. Mama masih dendam dengan abang, kan? Makanya Mama bikin syarat- syaratan segala. Mama pleaseee ... Jangan aneh- aneh deh!"
"Eeh, Mama ngasih syarat bukan sama kamu tapi sama laki-laki itu. Kamu mah apaan? Diajakin balikan langsung mau aja. Langsung deh kamu ngelempar dirimu sendiri ke pelukan dia. Ckckck ... bener- bener ...," cibir Mama Ratih tak peduli pada rengekan manja putrinya itu.
"Mama ihhh, jahat banget deh ngomongnya," jawab Yola tak terima.
"Lah, memang bener kan? Kalau bukan karena kamu yang terlalu gampang nyerahin diri, apa mungkin saat ini kamu hamil lagi anak dia? Mama heran deh, sebenarnya kamu ini anak mama atau bukan sih?" omel sang Mama.
"Mama!!!" protes Yola merasa keberatan.
"Kenapa sih Mama mesti sinis gitu kalau Yola hamil? Mama nggak senang punya cucu? Ya sudah, balikin Ammar ke sini aja gih. Besok antarin Ammar pulang ke sini atau Yola yang jemput," jawab Yola sebal.
"Mama bukannya ga senang punya cucu. Tapi Mama masih ingat masa- masa sulitmu saat mengandung Ammar dulu. Cih, waktu itu dia kemana? Sekarang aja kamu bela- belain dia. Dulu maka hmmm ..." sindir Ratih.
"Mama apaan sih ... Mama ingat donk, Ammar juga anaknya abang. Kok segitunya amat ngata- ngatain mantu sendiri," kata Yola merajuk.
"Idiiiih, Mama lagi yang dingambekin. Memang dasar bumil! Sensian amat! Kamu kalau merajuk sama Mama kayak gitu, Ammar nggak Mama balikin lagi loh. Kamu disana aja, sama suami kesayangan kamu itu. Kan udah ada juga gantinya Ammar, kan?"
"Maaaa .... udah napa gangguin Yola. Usil amat Mama nih. Memang syaratnya apa sih biar Mama bisa terima Abang lagi jadi mantu Mama?" rengek Yola.
"Nanti mama kasih tau. Tapi mama nggak yakin sih dia bisa memenuhi syarat dari Mama," kata Mama Ratih menyepelekan.
"Apa memangnya?" tanya Yola penasaran.
"Mamah cakap sahaja ape syarat yang Mamah minta. Ilham pasti akan turutkan ape pun permintaan Mamah," kata Ilham yang tiba- tiba telah duduk dan berada di samping Yola.
Yola spontan menoleh ke arah Ilham.
"Ini. Minumlah, selagi hangat."
__ADS_1
Ilham menyodorkan segelas susu bumil hangat untuk Yola dan segera diterima oleh istrinya itu.
Sementara Ilham kini mengambil alih ponsel Yola dan fokus bicara dengan Ratih.
"Ape yang Mamah nak inginkan agar Mamah ijinkan Ilham kembali membina bahtera rumah tangga dengan Yola?" tanya Ilham lagi dengan wajah serius.
Dia sesegera mungkin ingin mengetahui apa keinginan sang ibu mertuanya ini. Semakin cepat dia tahu, semakin cepat dia usahakan untuk mengabulkannya. Semakin cepat juga hubungannya dengan Yola berjalan sebagaimana mestinya dengan restu dari Mama Ratih dan Papa Abimanyu.
"Di masa lalu kamu banyak menyakiti hati Yola. Dan kamu ingin kembali padanya sekarang. Asal kamu tahu, ini tidak akan mudah, Ilham. Syarat dari saya tidak akan semudah itu," kata Mama Ratih membuka pembicaraan dengan Ilham setelah sekian tahun dia tak pernah lagi bertemu ataupun berbicara langsung dengan pria itu.
"Senang atau pun susah saye akan usahakan untuk penuhi persyaratan dari Mamah," kata Ilham.
"Kamu yakin?" Senyum meremehkan dilayangkan Ratih untuk Ilham.
Ilham mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan memberikan kamu kesempatan untuk membali dengan Yola dengan 3 persyaratan dari saya," kata Mama Ratih.
"Yang pertama. Saya tidak mau anak saya dimadu, apa pun alasannya. Tidak ada perempuan lain selain Yola dalam hidupmu sampai ajal memisahkan. Jadi perempuan yang kamu nikahi kemarin dan melukai Yola dan keluarga Gunawan, ceraikan dia!" pinta Ratih.
Ilham mengangguk. Tak perlu menjelaskan masalah itu pada Ratih, dia dan Sonia memang sedang dalam proses perceraian. Dia tidak ingin terlalu banyak bicara, kalau pada akhirnya nanti dia tak bisa menepatinya. Lebih baik dia langsung melakukan tindakan nyata menceraikan Sonia dan memberikan bukti berupa surat cerai pada Ibu mertuanya itu.
"Baik, saye paham. Ape permintaan Mamah selanjutnya?" tanya Ilham lagi.
"Berikan Yola status yang resmi sebagai istri kamu, dan menantu di keluarga Nirwan. Sah secara agama dan diakui di mata negara. Dan tentu saja di hadapan publik. Saya tidak mau ada yang menganggap anak saya perebut suami orang atau pun sejenisnya. Keluarga Gunawan tak pernah berbuat serendah itu. Jadi apa pun kabar yang beredar di luar sana. Kamu harus bereskan itu. Dan kamu harus mengakui kalau Yola adalah istrimu yang sah!" kata Mama Ratih tegas. Lebih tepatnya setengah emosi.
Ilham mengangguk- angguk. Sementara Yola yang duduk di sampingnya menggenggam erat tangan Ilham di bawah. Seolah wanita itu menyuruh Ilham untuk manut saja mengiyakan apa kata Mamanya yang cerewet itu.
"Ya. Mesti. Ilham akan lakukan apa sahaja untuk mendapatkan restu dari Mamah. Kalau soal tu Mamah usah risau. Ilham dah suruh pun pegawai Ilham untuk aturkan konferensi pers untuk meluruskan kabar tak sedap yang beredar tentang hubungan Yola dan Ilham yang sedang bermain belakang di balik perkahwinan Ilham dan Sonia. Mama usah khawatirkan tu," kata Ilham mencoba meyakinkan.
"Baguslah. Saya yakin untuk permintaan pertama dan kedua, kamu bisa memenuhinya sesuai keinginan saya dan Papanya Yola. Tetapi untuk syarat saya yang terakhir, saya kurang yakin kamu bisa memenuhinya," kata Ratih dengan nada meragukan.
"Saya takkan tahu kemampuan saya, kalau Mamah tak bagi tahu pada saya. Sedapat mungkin saye akan lakukan yang terbaik yang dapat saya lakuka. Jom, Mama sebutkan je ape syarat Mamah yang berikutnya. Tak hanye satu, sebanyak yang Mama mahu pun Ilham akan berusaha penuhi asal Ilham mampu," kata pria itu.
__ADS_1
Setelah apa yang dilakukannya 7 tahun silam dan menyakiti Yola dan keluarganya Ilham berpikir adalah hal yang wajar kalau orang tua Yola kehilangan keyakinan padanya dan memberi persyaratan macam- macam untuk menguji atau pun membalas rasa sakit hati pada dirinya.
"Jadi ape persyaratan Mamah berikutnya?" tanya Ilham lagi
Yola meski tak ikut menimpali percakapan menantu dan mertua itu tapi dia juga tertarik mendengar persyaratan terakhir dari sang Mama.
"Kamu punya saham berapa persen di N- one?" tanya Ratih yang membuat Ilham dan Yola langsung mengernyitkan kening heran.
Apa maksud Mama menanyakan itu?"
"Berapa?" desak Ratih.
"Buat apa Mama nanya itu?" Kali ini Yola yang keberatan atas pertanyan sang Mama.
"Kamu diam aja, Yola!" kata Ratih. "Kenapa? Kamu nggak mau jujur?"
Sekarang Ratih benar- benar mendesak Ilham. Ilham tak paham apa tujuan Ratih menanyakan hal itu. Tatapi dia tak punya alasan untuk tidak jujur.
"Ilham hanye punya 27% sahaja. Kenape Mamah tanyakan hal tu?" tanya Ilham ingin tahu.
Ratih mengangguk- angguk.
"Kau beri dan pindahkan kepemilikan saham itu atas nama Yolanda. Semuanya. Itu persyaratan terakhir dari Mama," kata Ratih.
Tentu saja hal itu tak urung membuat Yola dan Ilham menganga. Apa maksud Mama?
"A- ape?"
***
Waaah, apa yang terjadi ya guys? Apa maksud Mama Ratih memberikan syarat seperti itu? Kira- kira Ilham mau nggak ya memberikan sahamnya?
Tetap nantikan kelanjutannya ya... Dan jangan lupa like dan komentarnya.
__ADS_1