
Ilham baru pulang ke rumah hampir pukul 10 malam, karena sibuk mengikuti Hafiz dan Yola. Dia tak bisa menahan rasa cemburu di hatinya melihat wanita itu terlihat sangat dekat dengan adiknya. Meski bukan adik kandung, tapi dalam hati Ilham dia sangat menyayangi Hafiz. Namun dalam hal wanita dia tak bisa berkompromi meskipun itu adiknya sendiri terlebih-lebih Yola adalah istrinya. Dia tak pernah menjatuhkan talak pada Yola. Semua yang terjadi di masa lalu memang sangat mengorbankan Yola. Tapi itu di luar kendalinya. Dia tak berdaya pada waktu itu karena Sonia memegang kunci dari kelemahan keluarga Nirwan.
"Hi, Dad!" sapa Ammar saat melihat Ilham masuk ke ruang keluarga.
Ilham duduk di ambal, di samping Ammar yang sedang asyik bermain play station motorcross. Dia ditemani pengasuhnya. Ilham mendesah melihat anaknya belum juga tidur di jam selarut ini. Ilham memberi kode pada pengasuh itu untuk meninggalkan mereka berdua saja di sana.
"Hey, boleh Daddy ikut main?" tanya Ilham sambil mengacak- acak rambut putranya itu.
"Boleh sahaja kalau Daddy mampu ...." jawab Ammar santai.
"Tentu Daddy mampu. But, i think it a hundred times more funny if we bet," pancing Ilham.
Dia sedang mengajak Ammar bertaruh.
"What should we bet?" tanya Ammar mulai tertarik. Dia bertanya apa yang akan jadi taruhan mereka.
Ilham berdecak sebelum menjawab,
"If I win, kamu mesti tidur, mase ni juga. It so simple right?"
"Oke. Then if you lose?" tantang Ammar lagi.
"Kau pun mesti tidur juga," jawab Ilham sambil tertawa.
"Daddy itu tidak adil!" protes Ammar.
"Ammar dengar Daddy dulu. Kalau daddy kalah, kamu mesti tidur sekarang juga but .... Daddy akan bawa kamu bertemu your Mommy, tomorrow! Macam mana?" tanya Ilham.
"No. Aku tak nak berjumpe Mommy medusa." tolak Ammar
"Medusa?" tanya Ilham heran.
"Atok kate Mommy adalah perempuan berhati ular. Dan medusa itu dewi ular, Dad."
"Medusa berambut ular, Kid. Not snakes heart. By the way maksud Daddy bukan Mommy Sonia, you know what I mean ..."
Ilham memperhatikan seksama perubahan wajah putranya yang tak percaya. Namun kemudian anak itu melompat girang padanya.
"Mommy Yola? Really?!!!"
Ilham mengangguk puas dengan reaksi Ammar. Anak itu meski belum pernah bertemu Yola sejak bayi, tapi dia selalu merindukan dan menginginkan ibu kandungnya. Dan keluarga Nirwan juga selalu menjaga citra baik Yola di depan putranya. Mereka tak pernah mengatakan pada Ammar kalau Yola yang selama ini tidak menginginkan putranya.
"Really, but kamu harus bantu Daddy untuk membuat Mommy Yola kembali pade kite." bujuk Ilham.
"Why? Kenape Mommy Yola tak nak balik dengan kite? Mommy tak rindu dengan Ammar ke? Daddy dan grandma kate Mommy Yola pergi school ke luar negeri supaye boleh bantu Daddy uruskan N-one. Macem mana Mommy tak nak balik dengan kite?" tanya Ammar dengan serius. Dia terlihat sedih sekarang.
"Ammar, listen to Daddy. Daddy dah bikin Mommy kau marah dengan Daddy. Mommy marah dengan Daddy bukan pade Ammar. But, jika Ammar tak bantu Daddy. Kite mungkin tak akan boleh bersama- sama. Mommy nak bawa Ammar sahaja pergi dari sini. Tapi Daddy ditinggal di sini sendiri. Kau tak sayang dengan Daddy? Kau mahu dengan Mommy kamu sahaja?" tanya Ilham dengan mimik wajah sedih. "Macam manalah aku kalau ditinggal anak kesayangan aku ni? Siape lagi yang sayangkan aku?"
Ilham pura- pura meratap dan melirik Ammar. Dia tak sepenuhnya berpura- pura. Dia mungkin tak akan bisa hidup lagi kalau sampai kehilangan Ammar juga.
"Dad, don't be sad. Ammar promise nak bantu Daddy buat Mommy Yola balik pade kite. Tapi sekarang kite akan main satu kali, Dad. Ammar mestilah menang. Usai tu barulah Ammar tidur, oke! Are you ready, Dad?!!!" tantang Ammar dan menyerahkan satu lagi stik play stasion pada Ammar.
"Ready!!!!"
Lalu jadilah sepasang bapak dan anak itu bermain play station dengan serunya. Dan tentu saja dalam hal ini Ilham akan pura- pura kalah.
"Yippiiiii, yes! Yes! Yes! I win. Ammar menang! Dad, jangan ingkar janji! Tomorrow, bring me to Mommy Yola!!!"
"Huhuuu .... I'm lost! You're amazing, Boy! Sekarang lekaslah tidur sana! Esok Daddy bawa kamu berjumpa dengan Mommy kau!"
"Thank you, Dad!" kata Ammar sembari mencium pipi Ilham dan segera berlari ke kamarnya.
"Jangan lupa sikat gigi dan baca do'a terlebih dahulu sebelum tidur!" seru Ammar.
"Yaaa ...." sahut anak kecil itu.
******
"Dimana direktur kalian yang baru?" tanya Ilham saat berkunjung ke departemen pemasaran.
"Oh, puan Direktur dan wakil direktur sedang berkunjung ke supermarket pinggir utara kota," Kata Juli.
"Bukannya katanye semalam saat meeting, akan pergi sore?" tanya Ilham.
Ilham memang sudah bertanya hasil rapat pada salah satu staf tadi malam.
"Iya. Tapi puan direktur memutuskan untuk berangkat pagi ni saje," jawab sekretaris itu.
Ilham mengangguk- angguk. Dalam hati kecilnya dia mengagumi wanita yang telah dinikahinya lebih dari 10 tahun silam itu. Yola pastilah sengaja merubah waktu berkunjungnya ke supermarket itu agar para staf dan pegawai di sana tak ada persiapan akan kedatangannya untuk menutupi cela kinerja mereka. Benar- benar wanita yang menarik! Yola bahkan menunjukkan bakat bisnisnya di sini.
__ADS_1
"Baiklah. Jangan cakap padanye kalau saye datang mencarinya," kata Ilham.
Ilham segera meninggalkan Juli yang kebingungan. Baru kali ini ketua pengarah utama datang ingin melihat seseorang tapi tak ingin orang itu tahu kalau dia mencarinya. Di benak polos Juli, dia mengira Ilham mungkin sedang menyelidiki sesuatu tentang direktur baru itu.
Tak lama Ilham kembali ke kantornya, Leon segera datang dan memberikan surat serah terima unit apartemen gold century serta access card pada Ilham.
"Kau puas ke?! Aku bernegosiasi sepanjang malam dengan pemilik apartemen di sebelah apartemen Yolanda. Dia setuju menjual apartemennya sebesar 3,5 juta RM," kata Leon.
"Oke. Tak de masalah dengan tu. Kau pun boleh dapat tambahan bonus 50% dari salary kau bulan ni," jawab Ilham.
"Tapi menurut pemikiran ku, kau ini tak berlebihan ke sampai membeli apartemen hanye untuk boleh dapatkan hati isteri kau kembali? Kau dah pun ade rumah dengan dia, kan?" tanya Leon.
"Memanglah. Tapi untuk dapatkan dia kembali tak ade kate berlebihan. Aku nak bawa dia dan Ammar kembali ke green house, saat dia menerima aku kembali." kata Ilham.
"Kalau begitu lekaslah kau pindah hari ini juga sebelum dia kembali ke apartemen," saran Leon. "Kau bawa je yang perlu. Tak usah bawa barang banyak sangat kerana pembelian apartemen itu satu unit dengan isinya."
Ilham mengangguk.
"Oke."
Sementara itu di supermarket N-one cabang pinggir utara kota, Yola tengah melakukan kunjungan dadakan. Hal itu membuat seluruh karyawan dan staff merasa panik di sana. Yola memeriksa seluruh supermarket menyeluruh dari produk- produk yang dipajang sampai ke gudang.
"Setelah berkeliling ada arahan apa dari direktur Yola?" tanya manager itu.
Ia terlihat berkeringat karena gugup akan keseriusan Yola memeriksa semuanya.
"Saya tidak akan memberi arahan. Tapi yang saya tau di sini ada beberapa masalah," kata Yola sembari meneliti lagi catatan yang dibuatnya sedari tadi.
"Sila dijelaskan! Masalah ape yang puan direktur maksudkan?" tanya manager itu.
"Yang pertama, barang yang sejenis kenapa harga di supermarket ini, lebih mahal daripada di toko kecil? Bahkan harganya pun tidak sama dengan cabang N- one lain?" tanya Yola.
"Oh .... Itu ... Itu ...." manager itu terlihat gugup dan panik.
"Yang kedua, kenapa stok barang bukan hanya tak dibereskan namun juga dibiarkan bertumpuk dengan produk baru?" tanya Yola.
"Oh, itu .... Itu semua demi profit. Barang- barang kite adalah barang dengan good quality. Tentu saje harga pun lebih mahal sedikit. Soal barang bertumpuk, Kite kekurangan karyawan sehingga seringkali barang- barang itu terabaikan," kata manager itu memberi alasan.
"Oke. Saya mengerti," kata Yola sembari mencoretkan tanda silang pada tabel penilaian staf yang dia bawa. Manager itu tidak menyadari kalau Yola memberikan penilaian pada satu- satu dari mereka. Yola mewawancarai satu- satu karyawan di supermarket itu secara acak untuk menilai kinerja mereka.
Hingga saat informasi yang dirasanya cukup. Yola menyuruh wakilnya untuk menyuruh semuanya berkumpul di ruang rapat.
Lalu saat semua berkumpul di ruang rapat, Yola pun telah menyiapkan tabel penilaiannya itu dengan bantuan infokus sehingga table itu tertera jelas di dinding ruang rapat.
"Nama- nama dengan tanda silang yang tertera di tabel yang saya buat, kalian dipecat. Dan sekarang juga silahkan kemasi barang kalian dan pergi!" kata Yola tegas.
Nama manager itu juga ditandai silang di sana.
"Direktur Yola, walaupun kami ade kesalahan. Tetapi anda juga tidak boleh langsung ...."
"Siapa bilang saya tidak boleh? Tentu saja saya bisa! Perusahaan tidak memerlukan karyawan yang tidak disiplin dan tidak bisa bekerja. Perusahaan perlu karyawan yang selalu ingin maju dan lebih maju lagi.ini adalah tempat bekerja. Bukan dinas sosial atau pun panti jompo! Kalau ada pertanyaan atau ketidakpuasan dari anda, silahkan naik banding ke perusahaan. Tapi sekarang juga mohon anda pergi! Termasuk anda juga, manager!" perintah Yola tegas.
Lebih dari 10 orang dari staf yang Yola nilai tidak becus pergi meninggalkan ruang rapat setelah diusir oleh Yola. Mereka meninggalkan N-one dengan hati yang tidak terima.
Sepeninggalan mereka, Yola kembali melanjutkan rapat.
"Perkenalkan saya adalah Yolanda Gunawan, Direktur Marketing baru dari seluruh cabang N-one Kuala Lumpur. Bulan ini kami dari departemen pemasaran akan melakukan beberapa perubahan pada supermarket ini bersama kalian. Dan merubah keuntungan supermarket ini menjadi surpluss," kata Yola.
Semua hening mendengar Yola memimpin rapat. Mereka tak mengira kalau direktur marketing baru ini adalah orang yang sangat sadis.
"Dari hasil kunjungan kami kali ini, saya dapat menyimpulkan beberapa masalah yaitu beberapa sistim di sini SOP-nya tidak terstandarisasi dan normalisasi. Dan juga rasa kemanusiaan yang terlalu berlebihan, sehingga membuat para staf tidak tahu tanggung jawab dan tugas mereka yang sebenarnya. Belum lagi managemen supermarket yang berantakan, disiplin karyawan yang longgar dan tanggungjawab pekerjaan yang tidak jelas satu sama lain," kata Yola. "Untuk kalian yang masih duduk di sini terhadap masalah tadi apa ada pertanyaan dan saran?" tanyanya.
Seseorang dari staff laki- laki muda mengangkat tangannya dan Yola pun mempersilahkannya berbicara.
"Saye rase jika nak ubah kebiasaan saat ini ade 3 poin yang harus kie perhatikan. Yang pertame, harga harus lebih rendah dari kedai- kedai kat sini. Kite mesti menjual kuantitas banyak dengan profit maksimal." kata pria itu.
Yola mengangguk- angguk.
"Oke. Lanjutkan!"
"Yang kedua, barang- barang stok yang menumpuk, mungkin boleh kite bereskan melalui discoun." lanjutnya.
"Ya, itu ide bagus," puji Yola.
"Dan yang terakhir, maaf puan direktur! Mungkin bolehlah kami mengajukan permintaan bonus karyawan yang berprestasi dengan pekerjaannya. Dengan begitu, karyawan pun akan menjadi semangat." katanya yang disambut dengan anggukan setuju peserta rapat lain.
Yola mengangguk.
"Itu ide dan pemikiran yang sangat bagus. Soal bonus saya akan memperjuangkan itu untuk kalian, asal kalian tidak mengecewakan saya. Dan karena kamu adalah pencetus ide dari perombakan ini, maka mulai sekarang saya menunjukmu sebagai manager penanggung jawab utama yang akan mengurusi segala hal pengelolaan supermarket ini untuk waktu ke depannya. Jangan kecewakan saya!"
__ADS_1
"Terimakasih, Puan Direktur! Saye akan berusaha sekuat tenage saye!"
*****
Saat Yola kembali kembali ke apartemen sepulang dari bekerja di depan apartemen dia melihat seorang anak lelaki berumur 6 tahunan yang sedang menangis tak jauh dari pos satpam. Anak itu memakai seragam sekolah berwarna hijau muda kota- kota dengan kombinasi putih.
Naluri keibuan Yola tergerak lagi. Siapa anak ini? Kenapa rasanya dia begitu familiar?
"Hai sayang, kenapa kamu menangis? Mana orang tuamu?" tanya Yola.
"Hiks .... Aunty. Aku nak bertemu Daddy. Daddy tinggal di apartemen ini. Tapi aku tak tahu Daddy tinggal di apartemen nomor berapa," katanya tersedu sambil memeluk Yola.
Yola terkesiap dapat pelukan tak terduga dari anak itu. Sesuatu yang hangat direlung hatinya seakan meleleh.
Yola melihat manik di mata anak polos itu. Lucu dan tampan sekali anak ini. Dia memiliki bulu mata yang lentik dan panjang seperti punya Yola.
"Terus kamu ke sini sama siapa?" tanya Yola. "Kok kamu bisa nggak tahu apartemen daddy kamu?" tanya Yola serius.
"Aku tinggal dengan Atok. Daddy tinggal sendiri di apartemen." jawab bocah itu lagi.
"Terus Mama kamu?"
"Mommy dah pergi pun tinggakan aku. Dia tak sayangkan aku, aunty. Hanya Daddy yang sayang padaku," katanya sedih.
Oh, kasihan, pikir Yola. Dan kini pikirannya jadi teringat pada putranya Ammar.
"Siapa namamu? Kamu tau nomor telepon Daddymu?"
Anak itu menggeleng.
"Namaku Ammar, aunty. Aku tak hapal pun nomor telepon Daddy."
Nama yang disebutkan anak itu semakin membuat Yola terkesiap. Tak mungkin ini Ammar anaknya. Ini pasti hanya kebetulan dan lagi pula anak ini bercerita kalau tak ada ya g memperdulikannya selain ayahnya. Itu tak mungkin kan Ammarnya. Ammar pasti disayangi di keluarga Nirwan. Ammar adalah cucu satu- satunya Mama Zubaedah. Tak mungkin mereka menyia-nyiakannya. Lagi pula Ilham tak mungkin tinggal di apartemen ini, kan?
"Oke. Kalau nomor telepon Atok, kamu punya?"
Lagi- lagi anak itu cuma menggeleng.
Yola mendesah, "Ya sudah, kamu ikut aunty," ajaknya pada anak itu.
Melakukan hal yang sama pada anak yang ditemukannya beberapa hari lalu di N-one, kali ini pun Yola membawa anak itu ke pihak announcement. Tapi kali ini tak ada yang menjemput anak itu. Hingga akhirnya Yola mengalah dan membawanya ke dalam unitnya setelah terlebih dahulu menitupkan pesan pada staf jika ada yang mencari anak itu, segera menghubunginya di unitnya.
Sesampainya di dalam apartemennya, Yola segera melepas sepatunya dan kemudian membantu Ammar melepaskan juga sepatunya. Itu membuat Ammar tak berhentu menatapnya.
Oh, jadi ini Mommy Yola? pikirnya. Dia sangat lembut dan perhatian.
"Apa kamu lapar? Are you hungry, Boy?" tanya Yola sembari meraih celemek dan memasangkan di tubuhnya tanpa mengganti bajunya kantornya terlebih dahulu.
Tadi malam untunglah Hafiz mengingatkan dia untuk berbelanja keperluan dapur setelah mereka selesai mengantar barang- barang Yola ke apartemen.
"Hmmm ... I think, ya!"
"Kamu sepertinya fasih berbahasa Inggris. Kamu blasteran ya?" Tanya Yola iseng.
"Ya. Mommy orang Indonesia, Daddy Malaysia."
"Oh yeah???" Yola terperanjat. Dalam hatinya bertanya- tanya kenapa kebetulan anak ini punya nama yang sama dengan anaknya dan dengan latar belakang yang sama. Tapi dia segera menepis kemungkinan itu.
"Ya." jawab Ammar singkat.
Yola tak ingin membahas ibu anak itu karena takut membuatnya tersinggung.
"Btw, sayang. Antara Malaysia dan Indonesia, masih satu rumpun. Sepertinya itu tidak disebut blasteran, you know .... Aunty juga orang Indonesia," kata Yola bangga.
"Tapi tetap berbeza negara."
"Oke. You right, dear! But, kita adalah saudara. Saudara berarti keluarga," kata Yola.
Ammar mengangguk senang.
"Kalau begitu aunty akan memasak dulu. Tapi di sini cuma ada telur. Kamu suka omelet?" tanya Yola.
"Ya, i love it."
"Kalau begitu tunggu sekejab, aunty masakin dulu," kata Yola. "Kamu bisa menonton televisi dulu sepanjang aunty memasak, oke?"
Yola segera masuk ke dapur begitu Ammar mengangguk. Dan saat Yola diyakininya tak lagi akan mendengarnya karena sibuk mempersiapkan makanan, Ammar segera menghubungi Ilham melalui jam tangan multifungsi miliknya.
"Hallo, Dad! Misi pertame! Success!!"
__ADS_1