Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Dejavu


__ADS_3

#Cinta_Dua_Negara/Jodoh dari Malaysia


Part 23


Prang!!!!


Suara pecahan gelas yang dibanting oleh Ilham mengalihkan semua perhatian orang- orang yang sedang berada di aula hotel tersebut. Sebagian dari mereka ada yang terkejut dan sebagian lagi menghindari pecahan beling agar tidak sampai terinjak oleh mereka. Tak terkecuali Yola dan Victor yang sampai menghentikan tarian mereka begitu mendengar gelas itu dibanting. Pihak panitia pun sampai mengarahkan untuk menghentikan musik. 


Mereka tahu kalau saat ini Tengku Ilham Nirwan, direktur utama N-one Grocery sedang dalam suasana hati yang tidak baik, entah karena apa. Atok Yahya sendiri yang ikut menghadiri perhelatan itu sebagai presiden directur N-one sampai geleng- geleng kepala melihat kelakuan cucu sulungnya itu. Begitu pun Zubaedah, bahkan Ammar kecil. Tetapi mereka semua yang tahu tentang hubungan Ilham dan Yola pastilah mengerti apa sebab lelaki berusia kepala tiga itu kehilangan kesabarannya. Hatinya panas melihat istrinya menari dengan lelaki lain bahkan tangan lelaki itu menyentuh istrinya.


Mata Yola membelalak tak mengerti saat Ilham dengan wajah berapi- api sedang berjalan ke arahnya dan menatapnya dengan pandangan tak berkedip. Begitu sampai di hadapannya, lelaki itu tanpa basa basi langsung meraih tangannya dan ingin menarik Yola pergi dari situ. Namun tangan Victor menahannya membuat dia yang telah berbalik badan kembali berbalik menghadap Victor.


"Lepaskan tangan kau!" perintahnya gusar.


Lalu tangannya yang sedari tadi menggenggam pergelangan tangan Yola beralih mencengkram lengan Yola dan menariknya kasar dari Victor.


"Tahu diri sikit kalau nak inginkan isteri orang!" katanya memperingatkan Victor.


Perkataannya itu spontan membuat grasak grusuk suasana pesta malam itu. Di saat yang sama Hafiz pun kembali dari luar hotel yang sedari tadi sibuk mencari Yola. Dia ingin sekali mendatangi Ilham dan melayangkan satu pukulan pada kakaknya itu andai saja tangan sang ibu tidak tiba- tiba menarik lengannya untuk mencegahnya. Zubaedah menggelengkan kepala pertanda dia dilarang ikut campur. Wanita itu sepertinya sedikit puas akan situasi malam ini walaupun sedikit banyak itu akan membuat keluarga Nirwan diterpa badai gosip keesokan harinya.


Victor sebenarnya masih ingin melakukan perlawanan andai dia tidak memikirkan posisi Yola yang pastinya akan sulit dengan keadaan ini. Oleh karena itu ia membiarkan begitu saja gadis itu dibawa paksa oleh Ilham. Beberapa wartawan juga turut mengejar mereka dan mengabadikan moment langka itu. Besok mereka benar- benar akan masuk dalam berita utama, keluhnya.


Setengah menyeret Yola, Ilham dengan tak sabar membawa Yola keluar hotel. Wanita itu bahkan sampai terpeleset dikarenakan tidak berjalan dengan seimbang karena high heelsnya yang tak mampu mengimbagi langkah kaki Ilham.


"Astaga! Berhenti! Kamu mau bawa aku kemana??" tanya Yola panik tatkala Ilham menariknya ke arah parkiran.


Ilham masih tak menjawab melainkan mendorong gadis itu merapat ke sebuah mobil yang terparkir dan menciumnya dengan paksa di sana. 


Yola mencoba mengatur napasnya begitu ciuman itu terlepas. Ini kedua kalinya Ilham memperlakukannya kasar sejak kejadian di apartemennya waktu itu.


"Yolanda! Kau betul- betul membuat abang hilang kesabaran," kata Ilham dengan geram.


"Hey! Apa yang salah denganmu? .... Embbb ...."


Sekali lagi ciuman Ilham membungkam mulutnya dan membuatnya hampir kehabisan oksigen.


"Kau minum alkohol lagi?"


Rupanya Ilham menyadari bau mulut Yola saat menciumnya.


Belum sempat Yola menjawab, terdengar seruan dari beberapa wartawan dan reporter yang kelihatannya mengejar mereka hingga ke parkiran.


"Kemana mereka? Kite tak boleh melewatkan berita ni. Ini mesti jadi headline di surat kabar kite esok hari. Skandal ketua pengarah N-one Grocery dengan Pengarah Pemasaran N-one Grocery," kata seseorang dari mereka.


"Aduh bagaimana ini?" keluh Yolanda gelisah.


Dia tak menyangka malam ini dia terlibat skandal dengan mantan suaminya sendiri. Mereka kini bersembunyi di balik sebuah mobil.


"Nanti saat abang berhitung satu sampai tiga, pegang tangan Abang, kite berlari ke kereta bersama-sama. Kereta abang ada kat sana," tunjuk Ilham. 


Yola mengangguk. Dan begitu Ilham berhitung dan mulai memberi aba-aba. Keduanya segera berlari menuju mobil Ilham yang berada kurang lebih 10 meter dari mereka. Meski kaki Yola terasa sakit karena lecet akibat terpeleset tadi tapi dia juga tak mau dikerubungi wartawan seperti ini. 


"Itu mereka di sana!" seru wartawan itu.


Ilham semakin mengencangkan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Yola dan memaksanya terus berlari. Hingga akhirnya mereka sampai juga di mobil Ilham. Segera Ilham membukakan pintu mobil dan memaksa Yola masuk. Tepat begitu pintu mobil tertutup, wartawan- wartawan itu juga sampai dan mengerubungi mobilnya. Ilham tak peduli pada gedoran mereka pada kaca mobilnya. Segera ia memundurkan dan mengeluarkan mobil itu dari gedung parkir tepat pada waktunya.


Ilham membawa mobilnya menuju ke green house. Sesekali dia melirik ke spion apa ada dari wartawan itu yang mengikuti mereka. Sementara itu sepanjang perjalanan Yola hanya banyak terdiam dan memandang ke luar jendela. Ia bahkan tak sadar kalau mobil Ilham melaju berlawanan arah dengan arah apartemen mereka. Yola baru tersadar saat mobil yang mereka kenderai memasuki wilayah perbukitan green house, rumah mereka hadiah pemberian Atok.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Yola penuh selidik.


Ilham tak menjawab melainkan menambah laju kecepatan mobil itu dan akhirnya sampailah mereka di depan rumah ini.


"Kita mau ngapain di sini? Aku nggak mau ke sini! Antar aku pulang sekarang!" tolak Yola gusar. Terbayang masa-masa dulu, kenangannya dengan Ilham di rumah ini.


Ilham mematikan mesin mobilnya dan keluar. Setelah itu ia membukakan pintu untuk Yola.


"Keluar!" titahnya sambil memaksa Yola keluar dari mobil.


Tak peduli dengan ocehan Yola, pria itu menarik Yola dan membukakan pintu rumah dengan kunci yang juga tergantung di kunci mobilnya. Begitu masuk Ilham segera menyalakan lampu depan, dan lampu di dalam rumah sambil sebelah tangannya tetap menggenggam tangan Yola.


Dan sampailah mereka di depan kamar utama rumah ini. Kamar mereka berdua dan memadu kasih dulu. Tapi itu dulu. Yola membalikkan badannya dan ingin kabur dari situasi ini. Tapi Ilham lagi- lagi menahannya dan memaksanya masuk ke dalam kamar itu. Ilham mengunci pintunya dan menyalakan lampu setelah itu ia melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Yola.


"Berpakaian seksi macam ni, kau nak tunjukkan pada siape di pesta sana? Hafiz? Victor?" katanya sinis.


Dress yang dipakai Yola memang tidak seseksi yang dipakai oleh Sonia tapi tetap saja bagi Ilham itu seksi karena mengundang mata orang- orang untuk melihatnya. Dress berwarna merah scuba dengan bagian pundak dan bahu terbuka. Itu bahkan memperlihatkan sedikit belahan dada bagian atasnya. Belum lagi panjang dress itu yang hanya selutut dan ketika dia menari tadi membuat roknya itu jatuh dan memperlihatkan bagian pahanya yang menurut Ilham itu tidak selayaknya bisa dilihat sembarangan oleh orang lain.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu, Ketua Pengarah. Sebaiknya antar aku pulang. Aku tak ada waktu bermain- main denganmu," jawab Yola kesal.


"Maksud abang, kalau kau nak pertontonkan tubuh kau tu, kau tunjukkan saje dengan abang. Kite halal satu sama lain," kata Ilham penuh arti.


Sejujurnya hasratnya sedang memuncak saat ini. Tapi dia sadar dia tak boleh gegabah. Bisa- bisa Yola akan semakin membencinya.


"Uhh, tingkat kepercayaan diri Ketua Pengarah saat ni makin tinggi, ya. Tapi sayang, aku tidak ingin memamerkan tubuhku pada siapa pun terlebih-lebih pada Ketua Pengarah. Ini memang styleku. Kau tak berhak mencampuri itu," kata Yola ketus.


"Abang berhak menegurmu. Kerana kau isteri abang, Yola!"


"Please deh! Berhenti menganggapku istrimu. Kita udah bercerai!" kata Yola jengkel.


Ilham menghela napas frustasi. Entah sampai kapan Yola akan memaafkannya.


"Baiklah, kamu minum wine lagi tadi?" tanya Ilham. Oke saat ini dia harus banyak mengalah pada Yola.


"Sedikit," jawab Yola singkat.


"Bersama Victor?"

__ADS_1


"Sendiri."


Ilham sedikit menarik napas lega. Dari dalam lemari dia mengeluarkan sebotol wine dan meletakkannya di nakas.


"Temani abang minum sedikit. Abang dah lama tak minum ini," kata Ilham.


Lalu, Ilham keluar sebentar untuk mengambil gelas di dapur. Sementara Yola melihat- lihat situasi kamar itu. Sudah 7 tahun sejak dia tidak pernah kemari lagi. Terakhir adalah saat itu, saat Ilham membawanya kemari untuk menghabiskan malam pertama mereka. 3 hari yang manis namun membawa kepahitan di hidupnya. Tak banyak yang berubah di kamar itu, selain bertambahnya lemari es kecil di situ. Dan sepertinya kamar ini bersih dari debu. Artinya sering didatangi oleh Ilham. Apa dia membawa Sonia kemari? Terbersit di pikiran Yola seperti itu, dan itu sedikit membuatnya merasa sakit hati.


Tak lama Ilham kembali dengan membawa dua buah gelas. Lalu ia pun menuangkan wine itu sebanyak setengah gelas pada masing-masing gelas. Lalu beranjak ke lemari es yang ternyata menyala itu dan mengambil sebuah kotak cetakan es batu.


"Dengan ice, ini akan semakin sedap," kata Ilham sembari menyerahkan gelas berisi wine yang telah diberi beberapa bongkahan es batu itu pada Yola.


"Kau sering ke sini?" tanya Yola tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.


"Ya, kalau tiba- tiba abang rasa penat, stress atau rindukan Yola abang datang kat sini," jawab Ilham jujur.


Yola berusaha untuk tidak terlalu mengambil hati jawaban Ilham itu.


"Bersama Sonia?" 


Pertanyaan itu sesungguhnya dia tak ingin melontarkannya tapi entah kenapa mulut kurang ajar ini sepertinya tak mau sinkron dengan apa yang logikannya pikirkan.


Ilham tersenyum mendengar pertanyaan itu.


"Kau jealous?" godanya.


"Hah? Aku jealous? Cemburu gitu? Sorry. Nggak ya!" sangkalnya sambil buru- buru meneguk minuman wine-nya itu karena gugup.


Mulut jahannam!!! Kenapa kau tak bisa mengontrol perkataanmu? batinnya dalam hati.


"Abang dah ucapkan talak pada Sonia. Abang dah ceraikan dia. Tunggulah, abang akan urus berkas- berkasnya agar perceraian ni, boleh dapat persetujuan dari pengadilan!" kata Ilham.


Yola terkejut mendengar berita itu dari Ilham. Ilham sudah menceraikan Sonia?Ah, Yola nggak percaya.


"Itu masalah rumah tanggamu. Sama sekali bukan urusanku," kata Yola.


Dan lagi mengatakan itu membuatnya sesak dan menenggak kembali minuman itu. Ilham membiarkannya sesaat seperti itu. Dia memang sengaja membawa Yola minum di sini, untuk mengetahui isi hati Yola yang sebenarnya. Ilham bukan pemabuk tapi sesekali kalau hatinya kalut dan rindu pada Yola dia bisa datang ke rumah ini dan minum di sini. Karena itu dia selalu menyiapkan beberapa botol untuk stok.


Tak lama efek minuman itu mulai terlihat pada Yola. Tiba- tiba, Yola menangis tersedu-sedu. Sepertinya dia mulai sedikit mabuk.


"Abang! Kenapa abang jahat pada Yola? Yola salah apa sama abang? Yola begitu sayang dan cinta pada Abang tapi apa? Abang mengkhianati Yola! Huhuhuuuu.... "


Tak cuma menangis. Sekarang Yola malah mencengkram kerah baju Ilham dan memukul- mukul dada bidang lelaki itu.


"Iya, maaf. Abang salah," jawab Ilham lembut sambil mengelus punggung Yola. Ini benar-benar Yola-nya yang dulu. Terdengar manja memanggilnya abang.


"Kenapa abang harus menikahi Sonia? Aku kurang cantik apa dari dia? Apa karena dia lebih dewasa? Abang! Abang lihat aku! Aku pun sekarang sudah jadi wanita dewasa! Kenapa abang nggak sabar nunggu aku dewasa? Kenapa selingkuh di belakangku?" cecarnya dengan air mata yang berderai.


Ilham membelai rambut Yola dan mengusap air matanya.


"Iya, abang tahu. Maafkan abang Yola! Itu abang yang punya salah. Abang khilaf pada mase tu. Tetapi sungguh abang tak pernah khianati Yola. Cinta abang hanya untuk Yola," bujuk Ilham.


"Lupakan!" Yola mengusap air matanya. "Kau tak cinta padaku. Kau mencintai Sonia dari dulu. Aku tahu abang! Kau ini jahat! Hanya karena Sonia tak bisa lagi memberikan keturunan padamu, kau ingin meninggalkan dia dan kembali padaku!" tuduh Yola.


Astaga! Jadi itu  yang ada di pikirannya? Batin Ilham.


"Kau salah paham lagi dengan abang," keluh Ilham. "Selama ini abang tak pernah pun menyentuh Sonia. Abang tak pernah pun memadu kasih dengan dia. Jadi macam mana dia boleh mengandung anak abang? Kau satu-satunya yang abang harapkan menjadi ibu dari anak- anak abang," kata Ilham.


Yola tertegun. Apa maksudnya itu? Dia tak pernah berhubungan intim dengan Sonia?


"Kau berbohong! Jelas- jelas Sonia keguguran ...."


"Sonia mengandung anak Victor, bukan anak abang," jawab Ilham.


Apa? Bagaimana bisa? Anaknya Victor? Yola ingin memikirkannya lebih dalam lagi. Tapi sepertinya otaknya mulai ngeblank. Pengaruh wine itu mulai merusak akal sehatnya. 


Bolehkah dia menganggap pengakuan Ilham itu sebagai suatu kejujuran? Apa benar Ilham sesetia itu padanya? Hatinya tiba- tiba merasa meleleh sekarang. Apalagi saat Ilham membelai rambutnya lembut. Ilham pun bisa melihat perubahan suasana hati Yola.


"Yola, abang tak tahan bila kite terus begini ...."


Dan tanpa permisi, bibir Ilham kembali menyapu lembut bibir Yola. Dan entah keberanian dari mana, Yola kini membalas ciuman itu. Tangannya bahkan memeluk leher lelaki itu. Entah karena pengaruh alkohol atau apa tapi Yola menjadi lebih berani.


Selang beberapa waktu mereka berdua larut dalam aktivitas panas yang semakin menuntut itu, sejenak Ilham memberi jeda untuk dia mempertanyakan kesiapan Yola melakukaan hal yang lebih dari itu. Dia tak ingin saat dia merasa bahagia, sebaliknya Yola malah menyesalinya nanti.


"Yola, kau masih cinte dengan abang ke? Kalau iya abang akan teruskan ni. Tapi bile pun tak, abang akan menunggu sampai hati Yola kembali lagi pada abang," kata Ilham.


Yola dalam pikirannya yang setengah mabuk, merasa dejavu akan pertanyaan itu. Ia pun lalu mengangguk.


"Iya, Yola cinta Abang."


Dan malam yang sunyi itu pun menjadi saksi menyatunya kembali raga kedua insan itu. Yola yang telah dewasa dan Ilham yang telah lama tak merasakan kehangatan dari sang istri, keduanya hampir tak bisa mengontrol diri. Andai ada orang lain di rumah itu, pastilah akan turut merasa malu mendengar suara- suara penuh hasrat dan cinta yang berasal dari kamar utama rumah itu.


                             ******


"Sepertinya Daddy dan Mommy tak ade di apartemen Mommy, Grandma," kata Ammar setelah sekian lama mereka memencet bel apartemen Yola.


Zubaedah mengernyitkan keningnya. Kemana mereka? Setelah membawa pergi Yola dari pesta tadi malam, Ilham sama sekali tak pulang ke apartemen, dia juga tak pulang ke rumah Atok. Padahal ada banyak pihak yang butuh penjelasannya terkait pengakuannya di depan publik tentang istrinya semalam. Dan dia bahkan tak ada di apartemen Yolanda. Kemana mereka?


Ah, ya betul. Mereka pasti ke rumah di atas bukit yang sering disebut Ilham green house. Dan dengan mengenderai mobil sendiri dan membawa Ammar bersamanya, wanita berusia kepala lima tersebut pun segera melaju ke sana setelah sebelumnya menyempatkan diri membeli roti dan susu untuk mereka sarapan di sana.


Sesampai di sana, benar saja. Ada mobil Ilham di sana.


"Grandma, look! Kereta punya Daddy!" tunjuk Ammar.


Zubaedah mengangguk. Hatinya berdebar saat hendak masuk. Semoga seperti yang diharapkannya. Perlahan dia membuka gagang pintu.

__ADS_1


Ceklek!!!


Ceroboh sekali! Pintu bahkan tidak dikunci! Bagaimana kalau ada pencuri yang masuk?


Zubaedah mematikan semua lampu di rumah karena memang hari sudah menunjukkan pukul setengah sembilan pagi. Matahari telah bersinar terang.


Sementar Grandmanya mematikan lampu, Ammar segera mencari Ilham dan Yola ke kamar utama. Dia membuka pintu dan astaga! Dunia orang dewasa memang tak bisa dimengerti oleh akal anak- anaknya. Mommy dan Daddy-nya sedang tidur berpelukan di bawah selimut yang sama. Baju dan semua pakaian dalam mereka berserakan begitu saja di lantai. 


Opps! Ammar menutup mulutnya dan membalikkan badannya. Dia tak mengerti tapi dia paham seharusnya dia tak boleh melihat pemandangan itu.


"Ammar, Kenape? Mana Daddy?"


Zubaedah segera datang dan melihat situasi di kamar itu.


"Astaghfirullah!" segera ia menutup pintu kamar itu lagi dan membawa Ammar ke ruang keluarga.


"Ammar menonton televisi sahaja, Grandma akan siapkan breakfast untuk kite, oke?"


Ammar mengiyakan dan segera mengambil posisi yang nyaman untuk menonton film kartun kesukaannya di televisi.


Sementara itu Yola yang mendengar suara- suara berisik di luar kamar dari televisi yang ditonton Ammar, perlahan terbangun. Dan ya Tuhan, apa yang terjadi?


Lalu tanpa usaha yang keras, bayangan- bayangan kejadian semalam berkumpul di memorinya. Dia mengingat dengan sangat jelas percintaannya semalam dengan Ilham. Dan dia sendiri yang kali ini memberikan tubuhnya dengan sukarela pada lelaki di sebelahnya ini. Astaga, Yola! Apa yang kau lakukan? Sesalnya dalam hati.


Segera ia bangkit dari tidurnya dan mencari pakaiannya. Sial! Nggak mungkin dia pakai dress itu lagi kan? Masih dengan membalutkan selimut pada tubuhnya dia beranjak menuju lemari dan membukanya. Ada handuk dan tetapi hanya ada pakaian Ilham di situ. Yola buru- buru mandi sebelum Ilham keburu bangun dan membuatnya tambah malu. Usai mandi, Yola memakai kemeja putih yang dia temukan dalam lemari. Lalu tangan bajunya pun dia lipat agar tidak terlalu kebesaran. Ketika dia kembali ke kamar, ternyata Ilham telah bangun dan menatapnya dengan penuh cinta. Yola memalingkan wajah, tak berani menatap lelaki itu. Dia sungguh malu saat ini.


"Kau dah bangun?" sapa Ilham.


"Ya."


Ilham tersenyum. Dia tahu isterinya itu pasti merasa canggung sekarang. Dan dia tak ingin mengganggunya


Berbeda dengan Yola, Ilham memilih untuk tidak langsung mandi, melainkan memakai celana boxernya dan kemudian mengajak Yola keluar.


"Sepertinya, ada yang datang. Mungkin Mamah, ayo keluarlah!"


Dengan ragu, Yola mengikuti langkah kaki Ilham. Rambutnya yang basah membasahi kemeja putih yang dipakainya. Dia malu keluar dengan kondisi seperti itu.


"Tak ape. Kau terlihat cantik memakai itu," kata Ilham seolah tahu apa yang ada di pikiran Yola.


Ilham menggenggam tangan Yola dan membawanya ke luar kamar. Dan benar saja, saat melewati ruang keluarga, ada Ammar di situ. 


"Morning, Mom! Dad? Dah bangun?" sapa Ammar.


Kapan dia ada di sini? Pikir Yola.


"Sudah sayang, kamu sama siapa ke sini?" tanya Yola.


"Mamah," jawab Mama Zubaedah yang tiba-tiba datang dari dapur.


Yola menjadi canggung karenanya. Dia jelas- jelas menolak rujuk dengan Ilham tapi sekarang mantan ibu mertuanya itu memergokinya telah tidur dengan Ilham. Yola tahu pasti Zubaedah telah melihat semuanya.


"Mamah bawa breakfast roti je. Sila dimakan! Lepas tu kite bicarakan rencana perkahwinan kalian berdua," kata Zubaedah.


"Haa? Mamah, siapa yang ingin berkahwin? Mamah sepertinya salah paham ...." Yola lagi- lagi ingin menolak kembali dengan Ilham.


"Salah paham macam mana? Mamah bahkan Ammar tengok sendiri, macam mana kau boleh tidur berdua dengan Ilham di kamar tadi? Salah paham macam mana? Coba jelaskan pada Mamah macam mana kalian boleh tidur seranjang tanpa memakai busana apa pun. Dan sekarang kau kate salah paham? Kalian ini mau mengajarkan hal buruk macam apa pada Ammar? Free s** boleh terjadi tanpa perkahwinan? Ape itu yang kalian mahu?" omel Mamah Zubaedah.


Ilham menatap Yola tajam.


"Semalam abang dah jelaskan pasal Sonia, abang pun dah ceraikan dia pula. Kenape kau masih berat terima abang kembali, Yola?"


Yola ingin menjawab tapi Zubaedah telah mendahului.


"Kau belum boleh bercerai dengan Sonia, Ilham!"


Ilham terkejut mendengar kata- kata Mamanya.


"Kenape? Aku dah ucapkan talak pun pada dia semalam. Mamah juga kan suruh Ilham bercerai dengan die?"


"Ya. Tapi itu masih talak satu. Kalian masih boleh rujuk. Dan tak ade siapa- siapa yang tahu pasal tu," kata Zubaedah.


"Mamah tak boleh macam tu. Aku hanya inginkan Yola jadi isteri aku!" tegas Ilham.


"Mamah paham, kau berkahwinlah lagi dengan Yola. Sonia juga tak keberatan akan hal itu. Coba tengok ni!"


Zubaedah mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah vidio dan menjukkannya pada Ilham. Dalam vidio itu, Sonia tengah dicegat para wartawan. Mereka menghujaninya dengan pertanyaan- pertanyaan terkait kasus semalam.


"Puan Sonia! Ape pendapat anda pasal perbuatan Tuan Ilham selaku suami anda? Ape wanita itu selingkuhannya?"


"Ape direktur marketing itu ada affair di belakang anda dengan Tuan Ilham?"


"Puan Sonia tolong dijawab!"


Sonia dalam vidio itu terlihat tersenyum sabar.


"Kawan-kawan terlalu berlebihan. Wanita itu Yolanda Gunawan. Dia calon isteri kedua suami saya. Mereka tak selingkuh pun, kami dah kenal lama. Yola dah saye anggap macam adik sendiri,"jawab Sonia.


"Ape? Macam mana boleh hal semacam ni dapat terjadi? Maksud Puan, Tuan Ilham akan berkahwin lagi? Dan Puan Sonia rela dimadu?" tanya mereka tak percaya.


"Ya. Apa yang salah kalau saya dimadu? Itu sah dan halal untuk dilakukan. Dan yang terpenting suami saya boleh adil perlakukan saye dengan adik Yolanda. Kami saling mencintai dan mengerti satu sama lain. Tolong yang lain boleh mengerti tentang pasal ni. Ini semua adalah urusan internal keluarga Nirwan," kata Sonia.


Sampai disitu vidio itu terhenti. Membuat Yola dan Ilham tak habis pikir.


"Mamah dah bicara dengan Andini melalui vidio call. Tolong bantu Mamah Ilham. Kau jangan ceraikan Sonia dahulu sebelum kite bertemu Andini. Dan Yola, jangan gusar dengan problem ini. Di hati abang Ilham dan Mamah cuma kamu isteri dan menantu keluarga Nirwan. Tolong berkahwinlah lagi dengan Ilham meski hanya demi Ammar. Kau tak perlu khawatir dengan Sonia. Dia hanya akan jadi isteri dan menantu keluarga Nirwan hanya di atas kertas sahaja. Kaulah isteri Ilham yang sesungguhnya," bujuk Zubaedah.

__ADS_1


"Maaf, aku tak berminat," kata Yola.


Baru saja dia hendak luluh, dan akhirnya dia harus mendengar hal seperti ini.


__ADS_2