
"Yu-Yuri!!!" pekik Hafiz.
Pekikan itu membuat Yuri terbangun dam membuka matanya.
"Akhhhppp!!!!" Yuri membekap mulutnya sendiri saat melihat kondisi Hafiz yang sedang bertelan*ang bulat di hadapannya.
Hafiz yang kaget dan sadar kondisi dirinya langsung mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Demikian juga Yuri yang langsung menggulung selimut ke tubuhnya dan juga memunguti pakaiannya di lantai.
"Arghhhh!!! Aw ...." Yuri tampak mengaduh kesakitan.
Hafiz menyadari sesuatu. Ya Tuhan, apa yang dia lakukan di sini? Kenapa dia bisa bersama Yuri?
Lalu dengan matanya pria itu pun mencari- cari sesuatu di seprai. Dan dengan meremas rambutnya dia beteriak frustasi saat melihat ada bercak darah di atas seprai. Dia menodai Yuri!
"Arggggghhh!!!!" teriaknya kesal.
Yuri masih meringis kesakitan sembari membungkuk memunguti bajunya. Sebelah tangannya mencengkram selimut yang melilit tubuh polosnya.
"Yuri!!! Kau cakap padaku ape yang terjadi! Kenape kite ada kat sini? Kau mahu menjerat aku ke??!!!" bentak Hafiz gusar.
Dengan kasar Hafiz menarik tubuh Yuri yang sedang membungkuk dan menggoncang- goncangkan bahu gadis itu.
Hafiz merasa gelap mata sekarang. Bagaimana bisa mereka melakukan itu? Dia tidak percaya!
Dia dan Yuri sejak masa sekolah di Indonesia tidak pernah dekat, karena Yuri adalah antek-anteknya Yola dalam misi membullynya. Sejak lulus SD pun mereka sudah mulai jarang bertemu walaupun ketika SMP mereka masih satu sekolah beda kelas. Dan setelah tamat bangku Sekolah Menengah Pertama itu, mereka malah tak pernah lagi berjumpa hingga mereka bertemu lagi di bandara ketika Hafiz di antar oleh Yola sampai bandara ketika dia menuju Serawak.
"Yuri!!!" bentak Hafiz lagi.
Yuri masih saja tak menjawab, mimik wajahnya yang meringis terlihat dia tampak lebih fokus pada kesakitan yang dia rasakan.
"Jawab aku! Ki- kite tak lakukan apa pun, kan?" tanya Hafiz dengan nada yang melunak. Tangannya masih mencengkram pundak Yuri.
"Lepaskan aku, bren*sek!!!" makinya kemudian. "Kau pikir apa? Tak melakukan apa- apa katamu? Menjeratmu katamu? Enak banget itu mulut ngomong seenak jidat, ya? Kau kira aku akan kesakitan begini kalau kita tidak melakukan apa- apa, haa? Kita? Maaf, kita memang tidak melakukannya! Tapi kau yang memperk*saku, bajing*n!!!"
Yuri kini mengamuk dan melampiaskan kekesalannya pada Hafiz. Dia memukul- mukul dada pria berbadan tegap yang dulunya gemuk itu dengan sekuat tenaga.
__ADS_1
"A-- ape?!! Yu- yuri! Stop! Hentikan ... Ahhh! Stop it!!!!" teriak Hafiz yang berusaha menghindari pukulan Yuri itu.
Yuri menghentikan pukulannya yang membabi buta itu pada Hafiz. Dan dengan tertatih dia kembali berjalan ke ranjang dan duduk di sana dengan wajah frustasi.
"Kau merusak masa depanku, bre*gsek! Sekarang siapa lagi yang mau menikahiku? Aku sudah tidak suci lagi. Kamu memang siala*!!!!" teriaknya sambil melempar bantal ke arah Hafiz.
Hafiz menangkap bantal itu. Dan kini dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia merasa bersalah? Haruskah? Dia tak ingat kejadian apa pun tadi malam kecuali saat melihat Yuri berada di pub. Lalu mereka .... minum? Terus pulang? Dan berlanjut di hotel?
Hafiz memijat- mijat pelipisnya. Mencoba mengingat lebih detail kejadian tadi malam.
"Kau harus tanggung jawab! Kau harus menikahiku, Gendut!!!" teriak gadis itu tiba- tiba.
"A- ape?" tanya Hafiz shock.
Tak pernah terpikirkan di benaknya akan menikahi perempuan lain selain Yolanda.
"Nikahi aku!!! Aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja dari kejadiaan ini! Kalau tidak aku pasti akan melaporkanmu ke polisi!!!" teriak Yuri.
Hafiz menggeleng frustasi.
"Tengku Hafiz Nirwan!!!!" jerit Yuri memanggil nama lengkap Hafiz yang masih diingatnya semenjak masa sekolah.
Yuri tak terima perkataan Hafiz yang ingin mengganti rugi berupa uang atas hilangnya kehormatan gadis itu.
"Kau kira aku pel*cur apa? Makan saja uangmu itu. Kalau kau tak mau tanggung jawab, aku akan laporkan ini ke polisi!" ancam Yuri.
Hafiz mengkancing restleting celananya yang berarti dia telah usai berpakaian.
"Sila sahaja kau report kat office polis sana. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatan yang kulakukan. Tapi maaf aku tak nak berkahwin dengan kau. Hanya Yolanda satu- satunya yang akan berkahwin dengan aku," katanya sembari memasang sepatu dan berlalu dari sana.
"Baik kalau begitu akan kulaporkan ke polisi tunggu saja kamu!!!" teriaknya sambil melempar bantal ke arah pintu yang telah tertutup itu.
Sambil menahan geram, Yuri mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya di atas nakas. Lalu menghubungi salah satu kontak baru yang tertera di sana.
"Hallo, Kak Diana ... Aku sudah lakukan apa yang kakak perintahkan, tapi kayaknya nggak berhasil deh. Dia bilang dia nggak mau bertanggung jawab nikahin aku. Dia lebih suka dilaporkan ke polisi daripada harus menikah dengan wanita lain selain Yola," adu gadis itu.
__ADS_1
"Tak ape, sabar sikit. Tak lama pun dia akan merasa bersalah juge," kata Diana di seberang sana.
Ya. Ini semua adalah siasat dari Diana, kakak Hafiz. Saat tadi pagi- pagi sekali Yuri menelepon Yola, dan melaporkan Hafiz ada bersamanya di sebuah hotel, Diana langsung kepikiran sebuah ide yang bisa membuat adiknya itu menjauh dari Yola, wanita yang telah bersuami itu.
Dengan berdalih akan melihat Hafiz sendiri di hotel itu, Diana buru- buru menyuruh Yola untuk segera bersiap berangkat bekerja ke N-one dan meminta nomor ponsel Yuri.
Sesuai dengan alamat hotel yang diberikan oleh Yuri, Diana segera meluncur ke sana meskipun harus membawa kedua anaknya. Mereka sempat berbincang- bincang cukup lama di cafe sebelah hotel itu dan dari percakapan itu, Diana akhirnya tahu kalau Yuri adalah teman masa sekolah Hafiz dan Yola semasa kecil di Indonesia. Dan dia pun melihat Yuri sepertinya adalah gadis baik- baik meskipun cara berbicaranya agak terkesan blak-blakan. Diana langsung menyukai gadis itu meski pun mereka baru pertama kali bertemu.
"Kau suke pade Hafiz?" tanya Diana pagi itu.
Yuri dengan jujur mengangguk.
"Siapa yang nggak suka dengan pria seperti Hafiz? Dia baik, tampan dan ka ...."
Yuri hampir kelepasan bicara dengan mengatakan "kaya". Tapi memang benar, kan? Siapa yang tak suka pria kaya? Munafik namanya kalau tak suka.
Namun Diana malah tertawa melihat sikap polos gadis itu. Terlalu jujur. Tapi setidaknya dia tidak terlihat seperti tipikal seorang gadis yang diam- diam akan melakukan sesuatu yang buruk.
"Kalau macam tu, kau berminat berkahwin dengan adik aku tu?" tanya Diana lagi.
Yuri bingung. Mimpi apa dia semalam? Tadi malam dia memang tidur di ranjang yang sama dalam hotel tapi dia tak menyangka kalau dia akan berkesampatan menikah dengan pria itu. Pria yang dikaguminya saat berbaring di sebelahnya malam itu.
"Mahu tak? Kalau mahu cakap sahaja, usah malu. Kakak akan aturkan siasat agar dia mahu berkahwin denganmu. Tapi kalau kau tak nak, juge tak ape. Kalau macam tu Kakak ucapkan terimakasih kerana dah antarkan Hafiz dengan selamat kat sini dan juga bagi tahu kami kalau dia ade di tempat yang aman," kata Diana.
Sesaar Yuri masih bimbang. Tapi saat Diana berpamitan untuk kembali ke hotel, Yuri menangkap tangan wanita itu.
"Aku mau!" katanya spontan. "A-aku maksudku ...."
Diana tersenyum melihat Yuri yang salah tingkah.
"Kalau macam tu, jomlah! Ikut Kakak!" ajak Diana.
***
Hai-hai reader, dari malam hingga sekarang author udah update 3 Bab loh. Kalian udah like dan koment belum? Kalau belum, like dan koment dulu yg banyak. Kalau banyak yg like dan koment, insyaAllah nanti malam update lagi 1 bab lagi...
__ADS_1