
Pov Yola
"Jadi, kau datang kat sini hanya nak bawa Ammar balik ke Indonesia?" tanya Atok.
Aku mengangguk sembari membuang napas.
"Sungguh mengecewakan," kata Atok geram.
Aku tak bisa berkata apa- apa lagi. Bagaimana pun juga aku harus tetap berusaha. Ini semua demi Mama. Aku tidak peduli pada anak itu. Sama sekali tidak.
"Yola, kau masih cucu menantu Atok. Ape tak pernah terpikir olehmu untuk merebut Ilham dari wanita itu? Bagaimana bisa kau datang kat sini hanya kerana untuk mengambil Ammar sahaja? Selama ini kau tak pernah sekalipun peduli padanya, tak pernah menjenguknya apalagi memperhatikannya. Macam mana atok boleh percaya kau akan jagakan dia?"
"Mama yang akan jaga Ammar, Atok. Mama sedang sakit. Mama ingin kali ini biar Mama yang merawat dan mengasuh Ammar," kataku.
"Sudah atok duga. Kau ke sini pastinya bukan karena kemauanmu sendiri. Mama kau yang suruh! Kalau begitu tak de lagi yang boleh kita perbincangkan. Pulanglah! Jangan ke sini, kalau tujuanmu hanya membuat Atok marah," kata Atok Yahya muram.
Lagi- lagi aku menghela napas. Yah, gagal! Maafin Yola, Mama!
"Baiklah, Atok! Kalau begitu Yola permisi dulu!
Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju pintu keluar.
"Baiklah! Kau boleh bawa Ammar untuk tinggal dengan Mamah kau namun dengan syarat dari Atok!"
Aku segera menoleh kembali pada Atok. Wajahku kembali gembira.
"Baiklah, Atok! Syarat apa itu?" tanyaku buru- buru kembali duduk di dekat Atok.
"Ada jawatan kosong sebagai pengarah pemasaran di N-one grocery. Direktur Marketing, interview dan wawancara akan dilangsungkan dalam dua hari lagi. Atok nak Yola mengambil kesempatan ini untuk menduduki jawatan itu." kata Atok Yahya.
Aku terperangah, apa maksud Atok?
"Maksudnya Atok?"
"Maksud Atok, kalau memang kite tak boleh dipesatukan dalam hubungan keluarga. Atok mau kite dalam hubungan bisnis yang saling menguntungkan. Atok nak kamu jadi ketua pengarah bagian pemasaran di N-one grocery Kuala Lumpur."
Aku tersenyum kecut.
"Yola tak bisa atok. Lagi pula jabatan itu rasanya terlalu tinggi untukku. Yola cuma seorang sarjana bukan magister atau pun doctorol ekonomi," tolakku.
Atok tersenyum dan memandangku penuh arti.
"Cucu menantu Atok dari dari dahulu memang senang sangat merendah. Yolanda Gunawan, B.B.A. Bachelor of Business Administrasion. Lulusan Warthon School of The University pennsylvania. Semasa kuliah Yolanda juga adalah seorang trader saham di wall street Amerika Serikat. Dan selepas balik Indonesia, hingga saat ni masih menjabat sebagai seorang trader di Bursa Efek Indonesia. Ape Atok salah?"
Aku tercengang selama beberapa menit. Sampai sebegitunyakah Atok menggali informasi tentang aku?
"Jadi Atok nak Yola menjabat sebagai Direktur Marketing di N- one grocery. Selama 1 tahun, pabile Yola bisa menaikkan omset N- one sebanyak 30%, hak asuh Ammar akan Atok berikan pada Yola. Ilham pun tak kan boleh nak ganggu gugat hal tersebut. Macam mana? Yola bisa tak?"
"Atok, apa hubungannya Yola sebagai trader dengan menjadi direktur marketing? Yola rasa itu tidak ada korelasinya, Atok," bantahku.
Atok Yahya ini sepertinya membuatku bingung. Jelas sekali antara trader dan marketing adalah sesuatu yang berbeda. Apa hubungannya coba?
"Jelas ada. Keberuntungan dan keberhasilan kau sebagai trader akan membawa keberuntungan pula pada N- one grocery. Bagaimana menurut Yola. Mahu tak?" tanya Atok.
"Atok .... Sepertinya Yola tak bisa," kataku dengan berat hati. Terbayang di pikiranku sosok lelaki itu. Lelaki yang telah membuatku terpuruk di masa 7 tahun lalu.
"Soal Ilham, Yola usah khawatir. Ilham tak de di KL. Die tinggal di Johor mengurus perusahaan cabang N-one di sana," kata Atok menenangkanku.
Berulang-ulang kali aku menarik dan membuang napasku. Meski dia tidak tinggak di Kuala Lumpur, tetapi tetap saja dia bisa datang sewaktu-waktu. Aku sungguh tidak ingin bertemu dengannya.
"Macam mana Yola?" desak Atok.
"Hanya setahun kan, Atok?"
"Iye. Setahun je. Atok perlu seseorang yang boleh menaikkan omset N- one. Yola pun tahu sendiri. Mase ni banyak sangat saingan. Beberapa tahun terakhir ni, N- one Johor banyak sangat merugi. Perusahaan mengalami defisit. Oleh karena tu Ilham Atok kirim ke Johor. Tetapi lepas tu pula N- one KL yang kena dampaknya, ikut merugi pula," keluh Atok.
"Tapi selama setahun itu, apa boleh Yola bawa Ammar sesekali ke Jakarta untuk berlibur? Mama sangat ingin bertemu Ammar," pintaku.
"Boleh. Asal kau bawa balik kat sini. Lepas setahun, bukan hanya bisa bawa holiday. Hak asuh pun akan Atok beri," jawab Atok.
Yola mengangguk- angguk paham.
"Baiklah Atok. Tapi Yola punya permintaan," kataku.
"Ape tu?" tanya Atok.
__ADS_1
"Yola akan mengikuti permintaan Atok sesuai prosedur perusahaan, melalui jalut tes dan wawancara. Yola nggak mau masuk N- one grocery karena bantuan orang dalam. Walaupun ini permintaan Atok tetap saja Yola ingin mendapatkan jabatan itu dengan kehormatan dan kemampuan Yola," pintaku.
"Baiklah," kata Atok dengan berat hati. "Tapi macam kalau kamu tidak lulus wawancara?"
Aku tersenyum.
"Itu artinya, Yola tidak sehebat yang Atok bangga- banggakan tadi," kataku.
Mata Atok mengerling padaku.
"Macam mana Atok tau kamu tak curang dengan hal ni? Macam mana kalau Yola tak sungguh-sungguh serius dalam wawancara?"
"Itu artinya Yola tak akan bisa mengambil Ammar kembali. Tenang saja Atok. Yola sungguh- sungguh serius dengan hal ini," kataku meyakinkan.
Atok Yahya mengangguk- angguk. Lalu dengan helaan napas yang terasa berat Atok menatapku.
"Sebenarnya kau taklah mesti susah payah macam ni demi mendapatkan Ammar kembali. Yola cuma perlu berbaikan dengan Ilham. Ilham dan Sonia tak juge punya anak. Apa nak Yola risaukan. Sedih hati Atok melihat kalian cucu dan cucu menantu Atok hidup macam ni," kata Atok. Sepertinya beliau memang benar- benar sedih.
Bukan cuma Atok, dalam hatiku yang terdalam ini jauh, jauh lebih sesak mengingat kenyataan hidup ini.
"Atok, Yola dan Abang sudah berpisah," kataku mengingatkan.
"Setahu Atok Ilham tak pernah menjatuhkan talak pada Yola," kata Atok menegaskan.
"Itu benar Atok, tapi kami sudah berpisah selama 7 tahun. Menurut hukum agama pun kami sudah bisa dikatakan bercerai jika lebih dari 3 bulan kami berpisah tanpa ada nafkah lahir dan batin." kataku.
"Atok rasa kite semua sangat tahu, kalau Yolalah yang selama ini sangat ingin menghindar dari Ilham serta menolak semua pemberian bahkan bertemu dengah dia. Bukan Ilham tak nak kasih Yola nafkah," kata Atok membela cucunya.
"Betul Atok, tapi Yola tak ingin berbagi suami dengan orang lain. Hanya itu. Abang sudah ada Sonia sekarang. Atok harusnya tidak egois pula menginginkan Yola lagi. Cukup pernikahan dini yang keluarga Nirwan dan Gunawan mengorbankan Yola. Yola tentu tidak bisa menyalahkan pihak keluarga Nirwan saja. Papa dan Mama juga salah. Karena itu Yola sudah ikhlas akan semuanya. Kecuali Mama, beliau sangat menginginkan Ammar. Yola tak bisa mengabaikan perasaan orang tua Yola sendiri. Jadi Atok, Yola akan menerima syarat dari Atok. Tapi setelah satu tahun ke depan jika Yola sanggup menaikkan omset N- one, mohon Atok tak ingkar janji," kataku.
\*\*\*\*\*\*
Pertemuan dengan Atok mengingatkanku lagi pada luka lama itu. Luka yang ditorehkan lelaki itu terhadapku. Luka yang teramat dalam.
Ilham 7 tahun lalu, meminta ijin pada orang tuaku dan membawaku kembali ke "rumah". Rumah yang kami namai "green house" karena berada di wilayah perbukitan yang hijau. Selama di sana Ilham telah mengikrarkan cintanya padaku sekaligus membujukku untuk menjalani rumah tangga yang sesungguhnya dengannya. Dia teramat pandai merayuku hingga jatuh ke pelukannya sehingga selama 3 hari yang singkat itu kami hanya menghabiskan waktu untuk berdua memadu kasih, bercinta dan bercumbu layaknya pasangan suami istri lainnya.
Hanya 3 haru setelah mengantarkanku pulang dengan selamat ke Indonesia, Ilham pun bertolak kembali ke Berlin.
"Yola, dalam masa 3 bulan ni, abang nak selesaikan pendidikan abang. Abang pun sekejab lagi akan yudisium. Itu artinye, Abang akan balik pada Yola. Kite akan bersama bila mase tu tiba. Abang akan bekerja di perusahaan papah Abi, agar bisa tinggal dekat dengan Yola. Lepas Yola lulus school, abang nak bawa Yola ke Berlin. Kite kuliah sama- sama di sana. Yola ambil program sarjana, abang pula ambil magister. Macam mana? Yola mahu tak?" tanyanya sambil memelukku dengan sayang.
Namun belum 3 bulan, sesuatu terjadi. Papa entah bagaimana mendapat berita kalau menantunya satu- satunya itu telah menikahi wanita lain. Sonia, dia gadis yang abang Ilham temui waktu di mall. Dan parahnya lagi mereka adalah benar pasangan kekasih. Mereka menjalin hubungan di belakangku saat mereka di Berlin. Dan yang lebih parah dari itu, mereka terlibat skandal.
Keluarga Sonia menuntut Ilham menikahi putri mereka secara hukum agama dan negara. Apalah dayaku yang hanya dinikahi secara hukum agama saja. Aku tak punya dokumen legal untuk membuktikan pernikahanku karena sejatinya negara memang memandang usiaku belum cukup umur untuk menikah.
Papa dan Mama membawaku ke keluarga Nirwan meminta penjelasan pada Ilham tepat di hari pernikahan mereka. Namun Ilham tak dapat menjelaskan apa- apa padaku dan keluargaku.
"Yola, maafkan abang. Abang tak kira macam ni ...."
"Abang jahat tau nggak sama Yola? Abang bilang abang akan kembali pada Yola dan ingin menjalani hubungan pernikahan yang sebenarnya dengan Yola. Tapi ini apa, abang?" tanyaku sedih waktu itu.
"Ape pula kau salahkan Ilham? Perkahwinan antara kau dan Ilham tak lebih dari perkahwinan yang berdasar pada kesepakatan sahaja. Ape yang kau nak harap dari perkahwinan ini? Cinta? Aku dan Ilham saling mencintai. Bukan kau! Aku dan Ilham telah lama bersama, lagi kami masih sekolah menengah. Kau Yola, sadar dirilah sikit! Budak kecil je mahu berkahwin." katanya mencelaku.
"Abang, benarkah yang dia bilang? Abang dan Sonia pacaran di belakangku?" tanyaku masih tak percaya. Sekuat mungkin aku menahan air mataku.
"Bukan hanya menjalin kasih. Tapi aku dan Ilham pun ...."
"Sonia!!!" bentak Ilham.
"Ape? Aku nak kate sebenarnya pada budak ni. Kau tak boleh menyembunyikan ini selamanya dari dia Ilham. Ayolah, kamu telah berjanji pada aku. Tapi kalau Yola tak nak dicerai pun tak ape. Kakak Sonia tak keberatan pun Yola jadi madunya Abang Ilham. Hanya saje, pikirlah, macam mana perasaan kau punya orang tua mendengar orang menggunjing tentang kau yang jadi ... Hmmm ape bahasa di Indon tu ye? Pelakor? Perebut laki orang, hmm?"
Sonia menyentuh daguku dengan telunjuknya.
"Cantik- cantik pelakor. Macam mana orang tua kau sanggup mendengar hal macam tu?" tanyanya dengan intonasi yang antagonis.
Aku menepis tangan sonia dari daguku.
"Aku bukan pelakor! Kau yang pelakor!" kataku tajam. "Aku menikah dengan abang sudah 4 tahun lamanya. Dan kau yang merebut dia dari aku!"
"Siapa nak percaya itu? Nyatanye, akulah isteri yang berkahwin dengan Ilham resmi secara hukum dan negara. Tapi kalau kau nak keluargamu dan keluarga Nirwan dapat getahnya dari negara kerana mengawinkan anak di bawah umur, bolehlah kau perjuangkan sahaja kau punya hak." balasnya
Aku terdiam. Aku mengerti masalah ini. Di Indonesia pun ada komnas perlindungan anak. Di Malaysia pun pasti ada kan? Aku tak mau mama dan papa mendapat masalah.
"Abang ...." panggilku pada Ilham.
Aku ingin dia setidaknya membelaku. Tidak, aku ingin setidaknya dia menyuruh wanita ular itu diam.
__ADS_1
Ilham tetap tak bergeming. Dia membuang muka dariku.
"Abang ...." Aku mulai meneteskan air mata.
"Kenape pula mesti menangis? Tinggal cerai je. Habis tu bolehlah kau cari lelaki lain, lanjukan sekolah kau, lanjutkan hidup kau." katanya remeh.
Andai segampang itu, pikirku.
"Hmm .... Jangan cakap kau dan Ilham telah ....? Haah? Kau dan Ilham telah melakukan "itu"? Ilham! Kau dah berseng*ama dengan budak ni?" tanyanya pada Ilham. Terdengar marah yang sangat berapi- api. Aku juga merasa ada kecemburuan yang tak bisa dijelaskan di sana.
"Ilham!!!" Sonia menggoncang- goncangkan bahu Ilham. Sementara Ilham kini menatapku. Terlihat penyesalan di mata itu.
Kau menyesal telah melakukan itu denganku, abang? Apa kau merasa itu telah mengkhianati Sonia? batinku bertanya.
Air mataku semakin deras saja.
"Hey budak kecil! Tak payahlah kau menangis macem tu! Salahkan dirimu sendiri begitu bodoh sampai tak boleh menjaga kau punya badan! Sekecil ni dah pun tau rasanya surga dunia? Kau tak merase kau begitu murah ke?" cacinya.
"Sonia!!!!" bentak Ilham. "Cukup!! Aku diam saje bukan berarti aku tak boleh ...."
"Ape? Ape? Kau dah pun mengucapkan akad atas aku Ilham. Kenape aku tak boleh berucap sesuatu pada wanita lain yang datang nak ambil aku punya husband. Memang betul dia bodoh. Salah ape aku cakap pasal tu? Memang bodoh pun!"
Aku menghapus air mataku dan menegakkan kepalaku.
"Abang, jangan bertengkar dengan istri baru abang. Apa yang dikatakannya benar. Aku memang bodoh. Kalau tidak bagaimana bisa aku tertipu oleh semua kebohongan ini? Sumpah, janji dan pernyataan cinta itu? " kataku sambil tersenyum miris. "Selama 16 tahun kehidupanku, selain papa, laki- laki yang kukenal dekat hanya abang. Aku jatuh cinta padamu karena kalian tidak membiarkan aku memiliki kesempatan mengenal dan mencintai orang lain. Bahkan sebelum aku mendapatkan menstruasi pertamaku, aku telah tahu kalau aku hanya boleh dan hanya akan menikah dengan putra keluarga Nirwan. Namun setelah semua itu pun, kenapa Abang berbohong padaku? Kenapa bilang mencintaiku kalau ternyata yang abang cintai orang lain? Aku tidak keberatan mencintai abang dalam diam meski tak terbalas, meski abang hanya menganggapku adik atau cuma istri boneka. Bahkan kalau pun kau hanya melampiaskan nafsumu padaku. Aku tak akan bisa menolak dan berkata apa- apa. Tapi kenapa .... Kenapa berbohong padaku? Kenapa bilang kau mencintaiku?"
"Yola ...." Ilham terlihat tertekan sekarang. Dia pasti merasa bersalah.
Tapi siapa yang peduli. Rasanya ini sangat menyakitkan. Aku yang paling tersakiti daripada semua orang ini.
"Cukup sampai di sini Abang. Mulai sekarang Yola tak akan lagi punya hubungan dengan abang. Yola akan meminta papa memutuskan hubungan pernikahan ini. Dan lagi seperti Sonia bilang kita tak terikat pernikahan resmi secara negara. Ini tidak akan sulit memutuskannya. Hanya berpisah saja, cukup kan? Ke depannya semoga aku tak akan pernah bertemu dan berhubungan dengan abang lagi. Semoga Abang dan Sonia bahagia."
Aku meninggalkan kamar pengantin tempat kami dibiarkan bicara bertiga dengan hati yang perih. Hatiku sakit.
Dan kesakitan itu tak cukup sampai di situ, selang beberapa minggu, aku mengalami demam dan muntah- muntah yang teramat parah. Mama membawaku ke dokter. Dan hasilnya mengejutkan. Dokter bilang aku hamil. Membuat mama marah besar padaku.
"Yola, kenapa ini bisa terjadi? Kapan kamu dan Ilham melakukan itu?!" desak Mama.
Mungkin andai masalah pernikahanku tak rumit seperti ini, Mama tak akan terlalu semarah ini.
"Jawab Yola!! Kenapa kamu bisa hamil? Kamu dan Ilham .... apa saat dia mengajakmu ke Malaysia?" tebak Mama.
Aku mengangguk tersedu- sedu.
"******** itu!!! Mama sudah duga dia nggak bisa dipercaya. Katanya kalian hanya ingin berlibur karena dipanggil Atok. Tapi kamu! Kenapa kamu nggak minum obat yang biasa mama kasih, Yola??"
Aku menggeleng.
"Yola lu- pa ba- bawa, Ma. Dan ... Dan abang bilang nggak apa- apa. Abang suaminya Yola dan dia pasti tanggung jawab. Huuu.... hiks..." jawabku.
"Tanggung jawab? Jadi maksudnya dengan menikahi orang lain begitu?" kata Mama dengan geram.
Aku terdiam beberapa saat. Lama sampai aku berbicara lagi.
"Mama, aku nggak mau anak ini. Kita gugurkan saja ya Ma ...." pintaku.
Mama tersentak mendengar kata- kataku, tak menyangka itu keluar dari mulutku. Kemudian dengan berang beliau menggoncang- goncangkan badanku.
"Apa katamu, Yola? Gugurkan?!! Anak yang di perut kamu itu cucu mama!!! Anak kamu!" teriaknya. "Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu? Tidak bisa seperti ini? Mama akan bicara dengan keluarga Nirwan. Bagaimana pun Ilham harus tanggungjawab!"
Aku menarik tangan Mama.
"Nggak, Ma. Nggak boleh." kataku sambil geleng-geleng kepala." Yola nggak mau ada urusan apa- apa lagi dengan mereka. Kalau memang Mama ingin Yola melahirkan anak ini, Yola akan lahirkan untuk Mama. Tapi jangan bawa aku ke sana lagi, Ma. Itu terlalu sakiiit .... Yola nggak kuat, Ma ...."
Mama terpaku melihat aku yang menangis.
"Sayang, Yola anak Mama yang kuat. Kamu pasti bisa bertahan, Sayang. Mama dan Papa akan selalu ada di samping kamu," Kata mama sembari memelukku.
Hari- hari menyakitkan pun ku alami sejak saat itu. Perutku yang semakin membesar membuatku menjadi bahan gunjingan di sekolah. Hanya Hafiz yang selalu setia menemaniku. Berkat koneksi dari Papa, pihak sekolah masih mengijinkan aku untuk bersekolah setelah papa menjelaskan situasi kalau aku telah menikah sejak lama dengan bukti- bukti foto- foto saat akad nikahku dengan Ilham. Pihak sekolah mentoleransi hal itu, namun tidak dengan siswa- siswinya. Semua mencemoohku, bahkan mengatakan segala hal yang buruk padaku. Hafiz biasa ada untuk membelaku. Sehingga terkadang dia pun dituduh sebagai ayah dari anak yang ku kandung.
Mama Zubaedah, mengetahui kalau aku hamil hanya berjanji akan membuat Ilham kembali padaku meski aku tak membutuhkan janji itu. Dan nyatanya bagaimana pun dia berjanji Ilham tak pernah datang atau sekedar menanyakan bagaimana kondisi kehamilanku. Yang ku dengar, dia dan Sonia selepas menikah, kembali lagi ke Berlin untuk mengambil program pendidikan magister.
Hingga aku melahirkan anak dari lelaki itu Atok dan Mama Zubaedah datang ingin mengambil anakku. Mama sangat keberatan sebenarnya, Mama ingin mengasuh cucu pertamanya itu tapi lagi- lagi papa yang egois menyetujui hal itu dengan syarat mereka tak akan mengganggu kehidupan kami lagi dan mengungkit masa lalu tentang anak mereka yang tidak sengaja "hilang" di kediaman keluarga Gunawan. Papa bilang itu juga demi kebaikanku. Aku perlu meneruskan pendidikan dan menata hidupku lagi dan tak mau aku dibebani oleh predikat seorang ibu yang telah memiliki anak. Papa ingin membersihkan masa laluku.
Dan aku menyetujui hal itu. Lulus SMA papa mengirimku kuliah ke negeri paman SAM. Mengambil kuliah jurusan bisnis administrasi di universitas swasta terkemuka di sana.
__ADS_1
Namun beberapa lama ini, mama jatuh sakit. Jantungnya lemah, beliau ingin aku membawa Ammar kembali ke pelukannya. Sebagai cucu keluarga Gunawan. Karena itu aku menemui Atok. Sebab hanya Atok yang bisa mengabulkan keinginanku, tanpa harus bertemu lelaki itu.