Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Jangan Pernah Tinggalkan Aku


__ADS_3

"Iya, Ma?" sapa Yola saat menerima panggilan telepon dari Mama Ratih.


Dalam hitungan detik, Yola sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinganya demi menghindari omelan sang mama.


"Yola!! Kamu hamil, haa? Kamu rujuk lagi dengan lelaki itu? Itu yang kamu bikin di KL sana?" tanya Ratih terdengar marah.


"Mama .... jangan marahin Yola," rengek Yola dengan manja.


"Gimana nggak marah? Kamu ke KL demi merebut Ammar dari mereka. Ini papa kesana buat ngejemput kamu, juga katanya kamu nggak mau ikut. Mau dengan Ilham! Kamu lupa waktu dia kawin lagi dengan perempuan itu? Mencampakkan kamu setelah kamu hamil?" omel Mama makin menjadi-jadi.


"Mama, itu sudah jadi masa lalu kok, Yola juga udah lupain. Dan lagi pula abang udah menceraikan Sonia. Dan Abang juga sudah ngomong sama Papa soal kami yang memutuskan untuk rujuk kembali. Yah, walaupun papa belum merestui tapi papa juga ga terlihat menghalangi Yola lagi dan abang. Jadi please ... Mama juga tolong ya, Ma. Restui Yola dan abang. Kalau mama nggak kasih restu, gimana hidup Yola bisa bahagia nanti? Jalan hidup Yola menyedihkan terus donk nanti ... " keluh wanita yang sedang berbadan dua itu.


Sesaat Ratih sempat terdiam. Kalau dipikir- pikir sebenarnya Ilham baik. Ratih juga tahu alasan kenapa Ilham harus menikah lagi dengan Sonia. Tapi kalau dia ingat lelaki itu yang telah menyentuh putrinya di luar kesepakatan keluarga Nirwan dan keluarga Gunawan, ditambah lagi dengan menikahnya pria itu, rasanya darahnya mendidih kembali.


Dia masih ingat bagaimana putrinya yang polos dan lugu itu terlihat pucat saat tau kalau dia hamil di umur semuda itu. Belum lagi Yola yang mengurung diri di kamar selama berhari-hari saat dibully oleh teman satu sekolahnya karena dia tetap datang ke sekolah dengan perut besarnya yang sedang mengandung Ammar itu. Ratih ingat semuanya. Makanya tak mudah baginya untuk memaafkab Ilham.


"Jadi sudah berapa minggu usia kehamilan kamu saat ini?" tanya Ratih lirih.


Sepertinya sebentar lagi dia akan memiliki dua cucu. Tapi cucu sulungnya saja tidak pernah ditemuinya lagi semenjak keluarga Nirwan membawanya saat bayi.


"Enam minggu, Ma. Jalan tujuh mungkin," jawab Yola ragu.


"Kamu memang gampangan sekali! Itu artinya kamu masih belum sebulan di KL, tapi kamu udah takluk dan luluh dengan Ilham?" omel sang Mama lagi di telepon. "Kamu itu sebenarnya anak mama atau bukan?"


"Hehehe ... anak mama donk. Anak mama Ratih yang cantik!" gombal Yola.


"Kalau kamu anak mama kamu nggak mungkin segampang itu takluk oleh lelaki," kata Mama Ratih meremehkan.


"Mama juga. Buktinya Mama juga bisa takluk ke papa. Anaknya disuruh kawin di bawah umur aja dibolehin," sindir Yola.


"Eeh, ngejawab lagi," balas Ratih sebal.


Yola tertawa ringan.


"Nggak, Ma. Nggak. Yola mana berani melawan Mama," jawab Yola masih cengengesan.


"Kalau nggak berani, terus kenapa kamu rujuk lagi dengan Ilham?"


"Biar Mama ada cucu lagi. Yola mau bikin Mama tambah tua!" ledek Yola.

__ADS_1


"Kalau mau memberi mama cucu, nggak harus dari dia juga. Dari Hafiz juga bisa," balas Mama.


Kata- kata Mama mengingatkan lagi Yola pada Hafiz. Apa dia sudah pulang ke apartemen ya? Batin Yola dalam hati.


"Mama, nanti aja lagi Yola telepon ya. Yola mau lanjutin lagi kerjaan Yola dulu," kata wanita itu.


"Ta- tapi Yola ... mama masih belum selesai ngomong," kata Mama menolak mengakhiri telepon.


"Nanti malam lagi deh Yola telepon. Janji. Beneran," kata Yola berjanji.


Mama menghela napas kecewa.


"Ya sudah deh," kata Mama Ratih pada akhirnya.


***


Yola kembali dari N- one kali ini agak kemalaman dan hanya diantar oleh Nadira dan Leon. Berkebetulan Ilham sore ini juga ada janji dengan seorang temannya yang juga merupakan pengacara untuk mengurus masalah perceraiannya dengan Sonia. Ilham merasa tak perlu mengkhawatirkan Yola yang akan pulang sendirian ke apartemennya. Karena Ilham yakin Yola dan Hafiz tak akan berduaan di sana. Ada Diana yang akan membatasi ruang gerak mereka. Setidaknya mereka akan segan pada Kakaknya Hafiz, begitu pikir Ilham.


Yola menggesek kartu aksesnya, dan masuk ke dalam apartemen begitu pintu terbuka. Suasana dalam apartemen gelap seperti tidak ada orang. Hingga Yola agak kesulitan mencari saklar lampu dalam kegelapan.


"Kak Diana! Hafiz ...." panggil Yola.


Kemana mereka? pikir Yola.


Namun akhirnya dia berspekulasi dengan dirinya sendiri bahwasanya memang tak ada orang di rumah itu. Mungkin mereka sedang jalan- jalan mumpung Kak Diana ada di KL, pikir Yola lagi.


Lalu begitu dia membuka sepatunya, Yola pun segera ke dapur ingin mengambil minum. Yola melihat pintu menuju balkon terbuka sehingga dia berniat untuk menutupnya.


"Hafiz?"


Dalam keremangan malam, Hafiz duduk sendiri di dinding balkon sambil merokok. Kakinya dibiarkan bergelantungan di pinggir balkon. Membuat Yola jadi gamang melihatnya.


"Kau baru sahaja balik?" sapa Hafiz begitu melihat wanita yang dicintainya itu berdiri di depan pintu balkon.


"Hmmm ... " Yola mengiyakan. "Ada rapat akhir bulan tadi di N- one makanya aku agak lamaan pulangnya."


Hafiz mematikan puntung rokoknya dan melompat dari dinding balkon ke teras balkon.


"Kau dah makan?" tanya Hafiz.

__ADS_1


"Belum sih. Kamu ada masalah, ya?" tanya Yola balik.


Hafiz menggeleng.


"Tak ade," jawabnya singkat. "Aku akan bikinkan kau makanan."


Hafiz melewati begitu saja Yola di pintu dan masuk ke dapur. Yola mengikutinya. Yola tahu Hafiz bukan perokok. Jika dia sampai merokok pastilah karena dia memiliki banyak masalah.


Dari dalam kulkas Hafiz mengeluarkan sayur- sayuran. Dia juga mengeluarkan ayam dari freezer lemari es.


"Wow .... tiba- tiba lemari esku penuh. Hafiz, siapa yang belanja Kakak Diana, ya?" tanya Yola merasa excited.


"Hmmm ...." jawab Hafiz dengan gumaman.


Dan tak menunggu lama Hafiz pun mulai memotong sayuran dan juga mencuci bersih potongan ayam itu.


Yola menatapnya dengan kagum. Mengingatkannya juga pada Ilham yang memasak untuknya di green house.


"Hafiz, masak yang gampang- gampang aja. Nasi goreng, misalnya?" sarannya begitu melihat Hafiz sepertinya memilih memasak sesuatu yang lebih rumit.


Padahal dia bisa bikin nasi goreng yang instan atau sekedar menceplok telor mata sapi.


"Tak payahlah mesti bising sangat, Yola. Ini pun senang je cara membuatnye. Hanya sop ayam dengan sayuran sahaja. Ini selain nampak sedap. Ada banyak sangat gizi dan nutrisi padenya. Ini sangat sesuai untuk kau yang seorang pekerja wanita," kata Hafiz.


Yola tersenyum.


"Yang jadi istrimu, pastilah akan bahagia nanti," kata Yola tak sadar.


Hafiz yang mendengar perkataan itu menjadi tak senang karenanya dan mematikan keran air.


"Dan engkaulah orang tu, Yola, yang akan jadi isteri aku selamanya. Aku berjanji akan buat kau selalu bahagia," kata Hafiz.


Lalu entah secepat apa kaki Hafiz melangkah kini pria itu telah berada di hadapannya. Dia menunduk dan memeluk tubuh Yola.


"Jangan pernah tinggalkan aku, hmmm?"


****


Ngeri author hari ini, bikin 4 bab dari malam ketemu malam. Biasanya cuma 2 bab loh.

__ADS_1


Maka buat kalian yang suka JDM berikan apresiasi untuk author melalui like dan koment ya.. Bantu author naikin level donk...


__ADS_2