
Malam tradisi berinai curi yang telah disiapkan keluarga Nirwan untuk Yola dan Ilham pun diselenggarakan sehari setelah mereka kembali pulang ke Kuala Lumpur.
Sebenarnya tradisi ini dilakukan umumnya hanya pada mereka yang masih perawan dan perjaka. Tidak untuk mereka yang telah dan pernah menikah seperti Yola dan Ilham. Tetapi rasa sayang Ilham pada Yola dan keinginannya untuk melengkapi semua moment kebersamaan mereka berdua sebagai pasangan membuatnya tetap bersikukuh melakukan adat ini.
"MasyaAllah, cantiknya menantu Zubaedah ni," puji seseorang wanita cantik yang kira-kira usianya tidak terpaut jauh dari Zubaedah.
Yola tersenyum. Hari ini dia bertemu dengan banyak tamu. Entah siapa-siapa. Tetapi Yola tahu semuanya masih ada hubungan keluarga dengan Atok Yahya walaupun tidak terlalu dekat.
"Mestilah. Sama dengan mertuanya, kan?" gurau Zubaedah.
"Hahaha ... Betul, betul sangat tu. Yola, namamu Yola, kan? Mertuamu Zubaedah ni dulu adalah kembang di kampung kami. Cantiknya tersohor hingga ke kampung-kampung jiran. Tetapi hanya Ismail pula yang dapatkan hati dia. Maka tak heiran kalau anaknya pun suke dengan yang cantik-cantik nan elok macam Yolanda ni," kata wanita itu lagi.
Mama Zubaedah tertawa kecil.
"Tak macam tu lah. Ilham tu tak pandang Yola dari cantiknya. Dia tu memang cinta dengan puteri Gunawan dari Indon ni," kata Zubaedah membelakan sang putra. "Yola kau usah dengarkan ape kata Makcik ni lah. Dia hanya bergurau je."
Yola lagi-lagi cuma tersenyum meski dalam hatinya merengut pada Ilham. Oh, Abang suka yang cantik-cantik makanya mau sama aku? Awas ya, Abang! batin Yola dalam hati.
"Nggak apa-apa, Makcik. Abang memang suka yang cantik-cantik. Tapi Mamah pula suka membela Abang. Lihat aja mulai sekarang, Yola nggak akan membiarkan abang mata keranjang lagi," kata Yola membalasnya dengan gurauan pula.
"Wahahaha ... betul sangat tu. Kau tak boleh kalah dengan lelaki," kata Makcik itu dengan nada gurauan pada Zubaedah.
__ADS_1
"Dahlah tu, tak payah menjadi tungku untuk panaskan hati menantu aku," kata Zubaedah. "Jom kau kerjakanlah tugas kau sekarang!"
"Tugas?" Yola bertanya bingung.
"He em. Yola, makcik ni bernama Saripah. Dia ni mak andam yang terkenal kepandaiannya dalam merias pengantin dan menolak bala saat ade majlis perkahwinan macam ni. Mamah sengaja panggilkan dia khusus nak merias kamu agar lebih berseri waktu perhelatan nanti. Rumah ni pun dihias olehnya juge. Semua yang pasang pelaminan ini, mak cik inilah yang mempersiapkan. Macam mana? Bagus, kan?" kata Mama Zubaedah.
Yola mengangguk penuh rasa kagum. Tak bisa dipungkirinya, dekorasi khas melayu yang menghiasi rumah Atok Yahya ini memang berhasil membuat suasana dan aura di rumah Atok Yahya menjadi berbeda.
"Oh begitu. Baiklah Tante, eh Makcik, Yola terima kasih duluan ya, karena makcik dah meluangkan waktu untuk datang merias Yola," kata Yola.
Saripah yang menjadi Mak Andam untuk perkawinan Yola dan Ilham mengangguk sambil tersenyum.
"Tetapi macam mana pengantin perutnya dah ade isi macam ni?" godanya sembari mengelus perut Yola.
"Haiss... usah buat menantuku malulah. Jom lekas siapkan inainya," kata Mama Zubaedah.
Berinai curi merupakan prosesi malam berinai untuk kedua mempelai, kegiatan ini dilakukan selama satu atau dua hari sebelum perhelatan dilakukan. Kegiatan ini dipersiapkan oleh mak andam. Bisa disebut dengan berinai curi karena peralatan yang digunakan untuk berinai calon pengantin laki-laki menggunakan peralatan calon pengantin perempuan yang diambil secara diam-diam (dicuri) pada malam hari.
Berinai tidak hanya memberikan warna pada tangan dan kuku saja, melainkan dipercaya oleh masyarakat Melayu memiliki makna tertentu yait menolak bala, mencegah calon pengantin dari segala macam bentuk kejahatan dan untuk membuat aura pengantin terlihat lebih berseri dan bercahaya.
Inai yang dipakai di tangan dan kuku ini juga berguna sebagai pemanis dan dipercaya sebagai penolak bala sehingga pengantin terhindar dari gangguan makhluk halus, dan inai ditelapak tangan sebagai penjaga diri, sedangkan ditelapak kaki sebagai pertanda tidak boleh berjalan jauh, dan pemakaian inai di sekeliling telapak tangan dan kaki bermakna sebagai pembangkit seri pada pengantin.
__ADS_1
Saripah sebagai mak andam pun mulai mempersiapkan kelengkapan berinai yang telah dibawanya ke rumah keluarga Nirwan. Tepak sirih lengkap, inai yang sudah digiling halus, lilin lebah untuk menutup kuku (dihias/dibentuk), bedak sejuk, kain lap, serbet dan kertas tisu. Selain itu Saripah juga membawa lilin untuk dinyalakan, sabun mandi, yang ditata dalam piring beralas serbet.
"Dah! Jomlah kite mulai malam berinai curi ni," kata Saripah setelah mempersiapkan semua peralatan yang dibutuhkan.
"Terus kapan abang mencuri inainya?" tanya Yola polos yang disambut oleh gelak tawa Saripah.
"Tak payah kamu pikirkan hal tu, Sayang. Bukan dia sendiri yang akan curi inai tu, melainkan perwakilan dari keluarga dari pihak mempelai pria juge. Nanti ade di antara mereka yang akan hantarkan barang-barang ni ke tempat Ilham. Di sana Ilham pun akan dipakaikan inai macam kamu ni," kata Mak Andam itu.
"Oh, begitu?" Yola mengangguk-angguk tanda paham.
Acara berinai curi itu berlangsung lancar malam itu dengan diiringi pembacaan ayat-ayat suci dan sholawat oleh perkumpulan ibu-ibu pengajian teman-teman dari Zubaedah.
Rumah Atok Yahya ramai malam itu. Semua berkumpul di ruang depan. Bahkan para asisten rumah tangga ikut memakaikan inai di kuku-kuku dan tangan mereka. Para kaum lelaki sendiri, Atok Yahya, Ismail, dan Hafiz dan beberapa anggota keluarga lain malam ini berada di green house untuk ikut serta menyaksikan acara malam berinai curi untuk Ilham
Di salah satu kamar di rumah ini ada dua orang yang nampak tak mencolok untuk diperhatikan. Tak ada yang mengingat keberadaan mereka di rumah ini. Mereka adalah Sonia dan Melisa.
Sonia bisa mendengar dengan sangat jelas bagaimana berisiknya suasana di depan rumah itu. Suara sholawatan dan suara beberapa anak kecil yang saling berlarian di sekitar rumah. Mungkin mereka anak-anak dari kerabatnya Atok Yahya, pikirnya.
Teringat oleh Melisa perkawinannya 7 tahun silam dengan Ilham. Dia menginginkan agar Ilham memberinya acara seperti ini layaknya gadis lain, pinangan, lamaran dan acara adat melayu lainnya. Tetapi pria itu menolak. Ilham berkata, menikah berupa ucapan ijab qobul dan resepsi sudah cukup membuat mereka menjadi suami istri seperti yang dimau oleh Sonia. Tetapi lihatlah apa yang dilakukannya saat ini demi Yolanda? Sebegitu cintanya ke kau pada Yolanda, Ilham??? jerit hati Sonia.
Di saat Sonia sedang meratapi kesedihannya dalam hati berbeda bagi Melisa. Melisa berpikir ini adalah sebuah kesempatan. Malam ini dia harus mencoba lagi menyelinap ke kamar Atok Yahya. Harus!
__ADS_1
****
Hai gengs... Jangan lupa absen like dan komentarnya ya beib ...