Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
The End


__ADS_3

Hai reader! Karena view-nya udah kurang, like dan komentarnya juga hiks 😢, author anggap rasa penasaran kalian sama cerita ini udah hilang ya, kalau gitu saatnya author tamatin cerita ini genap di episode 300 sesuai permintaan kalian kemarin. Happy reading!


.


.


.


.


"Nggak apa-apa nih kalau Ammar ditinggal berdua aja dengan Andini di rumah?" tanya Yola ketika Mamah Zubaedah tiba di Phnom Penh siang itu bersama seseorang.


"Tak ape. Di rumah ada banyak pembantu rumah yang dapat uruskan dia. Selain Dini ada Hafiz juge," kata Zubaedah.


"Sebenarnya aku juga rindu sama Ammar, kenapa Mamah nggak bawa dia kesini?" tanya Yola.


"Kau macam tak tahu, dia mesti sekolah, Sayang. Mamah pun kat sini cuma nak hantar dia," kata Zubaedah sambil menunjuk seseorang yang dibawanya dari Malaysia.


"Kakak ini siapa, Mamah?" tanya Yola sambil melihat wanita yang dibawa Mamah Zubaedah.


"Ini masih kerabatnya Datuk Abidin dari Pulau Pinang. Ilham kate korang berdua perlu orang untuk berganti menjaga Ruby," kata Zubaedah.


"Betul lah, kalau tak ade yang ganti jaga macam mana Ammar dapat lil bro nanti?"celutuk Ilham usil.


Mata Yola langsung melotot dengan lebarnya sementara Zubaedah langsung menjewer telinga Yola,


"Ilhaaam, pikiran kau tu!"


"Isss, abang!!" Yola ikut mencubit pinggang suaminya itu.


Sementara itu Ilham malah tertawa terbahak-bahak, melihat dua wanita yang disayanginya itu uring-uringan karena selorohnya.


"Ya ampun, Mamah! Yola! Habis badan abang dicubit!" gerutu pria itu.


"Habis, ngomong kayak gitu! Nggak sopan tau!" cecar Yola.


"Iyalah, Sayang. Usah marah-marah. Abang hanya bergurau je," bujuk Ilham.


Zubaedah sendiri segera ingin menggendong cucunya itu, namun dia bingung dengan kecilnya tubuh Ruby.


"Macam mana Mama boleh timang dia, kalau macam ni? Kecil sangat, takut Mamah jatuh," keluh Zubaedah.


"Mamah istirahat dulu aja, nanti kalau udah fit badannya Yola kasih Ruby deh ke Mamah," kata Yola.


Dan seperti yang dijanjikan Yola, mertua dan calon baby sitternya Ruby itu pun menyempatkan diri untuk istirahat. Dan saat sore barulah Zubaedah menuntut kembali ingin menggendong Ruby. Dengan senang hati Yola pun mengajari Zubaedah untuk menggendong bayi dengan metode KMC.


"Gini caranya, Mah! Sebenarnya sih bagusnya kalau kita jangan pakai baju, biar suhu tubuh kita yang hangat bisa menular ke Ruby," kata Yola memberi tahu.


"Hah? Macam tu?" Zubaedah tampak heran dengan penjelasan Yola.


"Iya, Mah. Dan Ruby nggak usah pakai baju dianya," jawab Yola. "Tapi kalau Mamah pakai baju juga nggak apa-apa sih, asal baji yang dipakai benar-benar nggak kering dan bebas lembab kayaknya nggak apa-apa," lanjutnya.


Dan setelah menjelaskan lagi lebih detail tentang metode KMC, Yola pun membantu Zubaedah untuk menggendong Ruby dalam balutan gendongan instan khusus KMC.


"Nah gini, aman kalau sudah begini," kata Yola.


Zubaedah terlihat sangat bahagia, akhirnya bisa juga menggendong cucunya yang terlihat imut dan menggemaskan ini.


"Sayang, cucu grandma. Sampai bila korang ade kat sini. Dah tak sabar grandma nak bawa Ruby ke KL," celotehnya pada Ruby.


"Nantilah, Grandma! Ruby pun dah tak sabar pengen ketemu abang Ammar, ya Sayang? Pengen ketemu Grandpa, uncle Hafiz, aunty Dini, Aunty Putri, Nenek Uti, Kakek Abi. Tapi Ruby belum boleh naik plane. Badan Ruby belum kuat, Grandma," kata Yola seolah yang menjawab omongan Zubaedah itu adalah Ruby.


"Dah tak sabar, cepatlah besar, Sayang!" kata Zubaedah itu sembari memeluk Ruby dengan sayang dalam dekapannya


Yola hanya tersenyum melihatnya. Lalu sambil mengobrol dan bercerita banyak hal, malam pun datang. Mereka pun bergantian lagi menggendong Ruby agar bisa sholat, menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim.


"Yola, malam ni Ruby Mamah yang akan urus, hmm?" Mamah Zubaedah menawarkan.


"Eh, nggak usah, Ma. Ruby biar aja tetap sama Yola. Nanti susah kalau dia mau nen, ganggu istirahat Mama juga," tolak Yola pula.


"Tak lah, tak ganggu. Yola boleh buat breast pumping, kan?" tanya Zubaedah sang mertua.


Yola mengangguk mengiyakan.


"Iya, tapi jarang. Soalnya Yola disini nggak kemana-mana juga, Mah. Paling kalau lagi kebanyakan ASI-nya baru pumping," jawab Yola.


"Kalau macam tu, tak ape. Selagi Mamah ade kat sini, Ruby biar Mamah yang jaga, tak ape."


"Tapi ...."


"Usah pikir banyak hal lah," sela Zubaedah. "Kau dan Ilham sebulan ni mesti jarang rehat, kan? Berkebetulan Mamah ade kat sini, nikmati mase berdua dahulu, nanti kalau Mamah dah balik KL, korang akan balik disibukkan dengan Ruby."


Yola tersipu mendengarnya. Zubaedah memang sangat pengertian dalam hal yang begini hingga akhirnya Yola tak mampu lagi menolak keinginan Zubaedah. Karena semakin ia menolaknya, semakin ia akan merasa malu karena akan terlihat dengan sangat jelas apa yang menjadi alasan sang Mama Zubaedah menawarkan diri menjaga Ruby.


"Gara-gara abang, nih!" omel Yola.


Ilham yang sedang asyik ber-chat ria dengan Leon mengernyitkan keningnya.


"Gara-gara abang ape?" Ilham menjadi bingung.


"Aku nggak enak sama Mamah kan jadinya. Mamah minta Ruby untuk tidur bersamanya, Bang! Kalau Nanti Ruby rewel, dan mamah capek gimana?" keluh Yola.


Ilham terkekeh.


"Kau usah pikirkan hal tu. Mamah sengaja bawa kerabat kite dari Penang untuk bisa berganti jaga Ruby. Mamah ni memang best sangatlah! Sangat pengertian, Abang makin love, love Mamah! Tahu sangat ape yang abang perlukan!"


Mendengar Ilham yang cengengesan seperti itu, malah membuat Yola semakin membelalak.


"Abang, ihhh! Apaan? Bukannya larang mamah kek, malah kesenangan. Heran aku tuh!" omel Yola.

__ADS_1


"Dah lah sayang, usah risaukan tu. Mamah mungkin masih nak bersama cucu dia, tak ape lah. Biarkan sahaja. Nanti kalau Mama dapat kesulitan, pasti Mamah akan datang ketuk bilik kite untuk uruskan Ruby. Usah risau, oke?"


Yola masih dengan kekhawatirannya, hingga membuat Ilham meraih Yola ke dalam peluknya.


"Yola tak rindu dengan abang ke?" tanya Ilham dengan ekspresi pura-pura memelas.


"Rindu apaan? Aku tuh rindu sama Ammar," cibir Yola.


"Dengan ini tak rindu ke?"


Sebelum Yola sempat menjawab, lagi Ilham telah melabuhkan sebuah ciuman yang manis untuk Yola.


"Is! Abang!" Yola memukul dada suaminya itu pelan.


"Ape?" bisik Ilham mesra, seperti yang selalu dilakukannya saat Yola hendak protes kalau mereka hendak berlanjut ke tingkat yang lebih panas.


"Genit!" Yola mencubit kecil perut Ilham.


Ilham terkekeh mendengar tudingan istrinya itu.


"Kalau tak genit macam mana ada Ammar dan Ruby?" Ilham membalas tudingan itu.


"Iya, iya. Abang bener deh. Tapi biarkan aku bersih-bersih dulu. Lepek banget ini, keringatan abang!" Yola memperlihatkan penampilannya yang kucel pada Ilham. Hingga akhirnya Ilham pun mau melepaskannya untuk sekedar membersihkan mempersiapkan diri untuk malam panas mereka nanti.


Sejak dia hamil dan melahirkan, penampilannya yang dulu selalu modis dan stylish, kini berubah drastis. Dia bahkan jarang bisa menyisir rambutnya, meski selalu ia ikat cepol. Baju yang ia kenakan selalu baju rumahan yang longgar atau berkancing depan yang bisa ia pakai untuk menyus*i Ruby. Dan tak jarang baju itu juga basah dan berbau amis akibat dirembesi ASI. Sungguh nikmat mana lagi yang harus dia dustakan dalam hal mengurus putrinya yang terlahir prematur. Untungnya Ammar ada mertuanya yang bisa mengurus. Dan dia juga tak kekurangan ekonomi untuk membiayai perawatan Ruby. Ada juga suaminya yang siaga menemani. Andai semua nikmat itu tidak ia miliki, bagaimana ia bisa menghadapi ini semua sendirian?


Hingga menunggu beberapa saat, suara pintu kamar mandi pun berdecit, terlihat Yola keluar dengan hanya memakai handuk.


"Nggak ada pakaian tempur, Abang!" bisiknya.


Ilham mengangguk, mengiyakan sambil memberi kode untuk Yola mendekat.


"Tak ape, kau pakai ape pun mesti cantik, Honey," gombal Ilham sambil menarik Yola hingga duduk di pangkuannya.


Yola mencibir," gombal. Nggak percaya aku."


"Tapi ...." Ilham tak melanjutkan kata-katanya.


"Tapi?" Yola penasaran.


"Tapi lebih cantik kalau tak pakai apa pun ..." Ilham tertawa terkikik melihat Yola yang melotot padanya dengan mulut mangap.


"Is! Abang! Vulgar banget ngomongnya!"


"Hahaha .... hanya bergurau je. Jadi, Yola macam mana kalau kite program lil bro untuk Ammar mulai dari sekarang?"


Mata Yola semakin membelalak, lalu kemudian dia mencubit perut Ilham lagi dan mencoba berdiri.


"Abang jangan macam-macam, ya? Aku itu baru secar Ruby sebulan yang lalu. Dan Ruby juga masih rempong gitu ngurusnya. Kalau gitu mending nggak usah jadi deh! Malas kalau entar aku sampai melendung lagi!" katanya sambil cemberut.


Lalu, lagi-lagi Ilham tertawa. Kemudian menarik kembali Yola ke pelukannya.


"Maaf, abang hanya bergurau je, begitu pun dah merajuk," cibir Ilham.


"Taklah. Abang pun tahu macam mana keadaan kite dan Ruby saat ni. Tak mungkin abang buat Yola susah, percaya dengan abang, kan?"


Yola mengangguk.


"Kalau macam tu bo ..."


Sebelum Ilham menyelesaikan omongannya, Yola telah menempelkan bibirnya di bibir Ilham dan memberi ciuman yang dalam di sana. Tangannya pun dirangkulkannya ke leher suaminya itu.


Lama mereka larut dalam sebuah ciuman memabukkan, dan saling memberikan sentuhan-sentuhan menyenangkan terhadap pasangan mereka satu sama lain sehingga akhirnya keduanya saling melepaskan diri untuk mengambil jeda agar bisa bernapas.


"Boleh kite mulai ke?" tanya Ilham dengan napas yang masih memburu.


Yola mengangguk.


"I'm yours!" bisiknya sebelum kemudian kembali mengambil inisiatif untuk bersikap agresif terlebih dahulu, memberikan sesuatu yang menyenangkan pada suaminya, Ilham.


Yola tahu Ilham telah lama bersabar, dia juga telah banyak berusaha untuk membuktikan kesungguhannya untuk menebus kesalahan-kesalahan yang terjadi di masa lalu dan melakukan banyak hal untuk mengganti waktu mereka yang hilang. Untuk itu ia perlu diberi penghargaan, kan?


Meski awalnya Yola cukup khawatir dengan bekas luka persalinan SC-nya, dan Ilham juga harus berhati-hati karenanya namun malam itu keduanya sukses saling membahagiakan satu sama lain, istri memberi kepuasan batin pada suaminya, begitu pun sebaliknya.


Hingga waktu subuh datang, dan Mamah Zubaedah mengetuk pintu untuk mengatakan, kalau persediaan ASIP Ruby telah habis, wanita itu pun dengan senang hati menyambut Ruby kembali meski dia kurang tidur semalaman.


catatan othor: Ini Part ending gini amat yak 😂. Ini gara-gara kalian minta yang manis-manis ini. 🤭


Lanjuuut!!!


***


Delapan bulan kemudian,


"Put, tolong mengerti abang sekali ini. Abang bukan sengaja nak batalkan planning perkahwinan kite, Sayang. Tetapi abang mahu, semua keluarga abang lengkap ada di acara perkahwinan kite. Dan kau tahu sendiri, Ruby belum dapat dibawa terbang menggunakan plane," bujuk Hafiz di telepon.


Putri mendengus jengkel.


"Ya udah, sih batalkan aja!" jawabnya begitu saja.


"Bukan macam tu. Put ... Put!" masih terdengar suara Hafiz sebelum pada akhirnya Putri mematikan panggilan telepon itu.


Bukan, bukan dia tidak mengerti yang menjadi ingin dari Hafiz selaku calon suaminya dan mertuanya. Rencana pernikahan mereka telah lama dibicarakan. Dia juga paham kalau Yola dan Ruby belum bisa pulang dari Phnom Penh, terkendala kesehatan Ruby yang belum memungkinkan untuk bisa melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Tetapi kalau hanya untuk sekedar lamaran masa sih harus menunggu Yola dulu?


Putri bukannya kebelet ingin kawin secepatnya, tetapi mamanya bukanlah orang yang bisa diberi janji sesukanya. Beberapa kali Sang mama menanyakan padanya kapan Hafiz dan keluarganya akan datang untuk melamar.


"Katanya Hafiz serius mau ngelamar kamu? Mana buktinya?" cibir Mamanya yang tiba-tiba saja kini telah berdiri di ambang pintunya.


Putri sontak terdiam. Apakah tadi Mama mendengarkan dia saat menelepon dengan Hafiz tadi?

__ADS_1


"Yola sama Ruby ... masih ada di Phnom Penh, Mah. Belum bisa pulang." Putri berusaha mencari alasan agar sang Mama tidak mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan memojokkan.


"Hubungannya Yola sama lamaran apa? Kan cuma perlu dia sama Mamah dan Papahnya yang datang ke sini? Atau jangan-jangan dia memang belum bisa move on kali dari Yola," sindir sang Mama.


"Mamah, apaan sih berburuk sangka begitu?" balas Putri merengut. Suasana hatinya benar-benar buruk saat ini. Benar-benar buruk, you know?


"Udah deh, jangan manyun gitu. Mending ikut Mama turun ke bawah yuk sekarang? Kali aja teman-teman pengajian Mamah udah datang. Siapa tahu salah satu dari mereka kecantol untuk jadikan kamu menantunya loh?"


Putri semakin menekuk wajahnya. Hari ini katanya Mama ada pengajian di rumah.


"Mama apaan sih? Udah deh, Mama ke bawah aja. Putri malas ikutan," tolak Putri.


"Ayo donk, Sayang ...ikut ke bawah. Mamah kan pengen juga pamerin kamu ke teman-teman Mama. Punya anak cakep gini masa disembunyiin terus?"


"Malas, ah ..."


Mamanya tak perduli. Wanita itu malah membuka lemari pakaian putrinya dan mencari satu setelah baju terusan yang bagus untuk berhijab.


"Pakai ini bagus. Ayo pakai, kamu baru aja mandi, kan?"


"Apaan sih, Ma? Malas ahh ..."


Setelah berdebat dan ada drama tarik menarik lebih dahulu, akhirnya dalam hitungan kurang dari 15 menit, gadis itu sudah memakai baju terusan muslimah dan hijab di kepala.


"Ma, kok aku ngerasa dejavu, ya?"


"Dejavu apaan?"


"Kayak pernah merasa di situasi ini, tapi bukan aku yang mengalami," kata Putri bingung, mencoba mengingat-ingat.


"Kamu ngomong apaan? Mama nggak ngerti. Yuk ikut Mama ke bawah," kata Mama Putri.


"Tapi ..."


"Ayo!! Kamu udah ditungguin dari tadi. Kelamaan bujukin kamu!" gerutu Mamanya.


Putri semakin bingung. Dia ditungguin? Sama teman-teman pengajian mamanya? Kok?


Kebingungan Putri segera terjawab saat dia sudah menuruni separuh anak tangga. Di sana, di ruang tamu mereka yang luas dan hanya digelar ambal merah, telah berkumpul banyak orang.


Di bawah sudah ramai. Tunggu dulu! Tak hanya teman sepengajian Mama. Tante Ratih, Om Abi ... Oh Tuhan... ada Yola juga? Bang Ilham? Mamah Zubaedah, ups sorry, masih makcik Zubaedah? Dan yang dia sempat kenal sebagai ayahnya Hafiz dan mertuanya Yola juga ada. Jangan lupakan Andini yang sedang memangku Ammar duduk.


Ada apa ini? Putri menutup mulutnya takjub, dia cari-cari sosok laki-laki itu, hingga matanya terpaku pada sosok dengan pria berbaju khas melayu berwarna abu rokok dengan kain diselempangkan di pinggang, sedang tersenyum menatapnya. Hafiz! Dia ada di sana!


Hafiz memegang microphone dan mengetuk-ngetuknya dengan jari untuk mengetes suara yang keluar. Lalu pria itu pun mendekatkan microphone itu ke mulutnya.


"Assalamualaikum, Putri," sapa Hafiz.


Putri masih melongo. Bukannya tadi Hafiz masih meneleponnya dan berkata dia tak bisa menepati janji untuk datang ke rumah Putri melamarnya? Apakah dia sedang di-prank?


Meski begitu, dia tetap menjawabnya, meski dengan suara tak keras.


"Waalaikumsalam."


Sama sederhananya dengan acara pinangan Yola tempo hari, Hafiz beserta keluarga Nirwan datang ke Palembang datang istimewa untuk melamar Putri.


"Putri, saye Tengku Hafiz Nirwan datang kemari sengaja berhajat datang kemarin untuk meminangmu, untuk kujadikan isteri. Bersediakah kamu Putri menerima jodoh dari Malaysia ini sebagai pendamping hidup hingga kelak kite menua bersama?"


Kata-kata lamaran Hafiz itu sontak membuat Ilham dan Yola juga saling pandang, kemudian tersenyum penuh arti tanpa berkata apa pun. Ilham menggenggam tangan Yola sementara sebelah tangannya menggendong Ruby di pangkuannya. Bayi itu sudah mulai bisa duduk.


Kemudian keduanya dan seluruh yang ada di sana spontan mengucap hamdalah saat Putri menjawab kata-kata lamaran itu dengan anggukan malu-malu.


"Iya, Abang! Putri bersedia!"


"Cieee!!! Yang udah mau kawiiin ...."


Yola tak dapat menahan mulutnya untuk menggoda Putri hingga wajah gadis itu semakin memerah. Sementara yang lain senyum-senyum sendiri mendengar Yola menggoda Putri.


"Husss!!! Yola!" tegur Ilham sambil menggamit lengan istrinya.


"Biarin! Kemarin dia juga gangguin aku," kekeh Yola.


****


Acara pinangan itu selesai dan yang lain pun membubarkan diri.Ada yang pulang, ada yang menginap di rumah Putri, ada juga yang menginap di hotel seperti keluarga Nirwan. Namun Yola, Mama dan Papanya menginap di rumah Putri untuk beberapa hari.


"Jadi kita sama-sama mendapatkan jodoh dari Malaysia donk?" goda Yola.


Putri hanya mengangguk malu.


"Cie ... yang udah mau kawiiin ...." goda Yola lagi.


"Yola, gangguin aku mulu!


"Kamu juga kan pas kemarin-kemarin godain aku mulu? Kamu harusnya terima kasih donk, berkat aku kamu jadi kenal dan berjodoh dengan Hafiz?" tuding Yola.


"Mana ada, author Ema yang jodohin kami, weeekkk!!" balas Putri. "Makasih Mak othor!"


Author pun menjawab," sama-sama ya, Put!"


"Tuh, lihat aku ini tau terima kasih. Kamu apaan? Udah terima kasih belum sama author?" cerca Putri pada Yola.


"Nggak ah, malas! Author Ema itu kejam, udah nikahin aku masih SD, aku dipisahin lagi lama sama si abang lama banget. Ogah, terima kasih sama author! Aku terima kasih sama reader aja deh."


Author geleng-geleng kepala. Tega, kamu Yol, membatin dalam hati.


Makasih ya reader JDM yang ketce-ketce. Khususnya yang dari awal ngikutin kisah ini. Udah bersama-sama selama hampir 8 bulan di aplikasi ini, terima kasih juga yang udah mau download app demi bisa baca JDM. Tengkyu so much 😘😘 Semoga kalian sehat-sehat aja ya reader. Nantikan ekstra part-nya tapi nggak buru-buru ya, soalnya othor banyak project novel yang harus dikerjain.


Pokoknya big hug buat kalian semua reader aku. Kalian yang setia pantengin JDM ini kesayangan banget deh buat othor... Maaf othor jarang balas komentar, padahal othor yang minta diberi like dan komentar. Semua bukan karena disengaja, melainkan terkait kesibukan othor juga sehingga hanya bisa membalas satu-satu saja.

__ADS_1


Sekian dulu untuk JDM, terima kasih 😘


The End


__ADS_2