Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Bertemu Eva


__ADS_3

"Are you ready, Aunty?" tanya Ammar sambil beberapa kali memutar, mengacak sisi-sisi rubik 5×5 itu hingga warna-warnanya menjadi acak dan tidak beraturan.


Andini menatap rubik yang berada di tangannya dengan dilema.


"Aunty usah merasa risau, Ammar akan pilihkan rubik yang paling senang untuk dimainkan," kata Ammar sambil memilah dan memilih salah satu rubik miliknya yang paling gampang untuk dimainkan. "Ini untuk pemula, Aunty," kata Ammar.


Andini mengangguk.


"Kita mulakan sekarang, aunty?" tanya Ammar lagi. Begitu melihat Andini mengangguk, Ammar pun segera menghitung. "One ... two ... three!!"


Lalu Andini pun segera memutar-mutar sisi rubik mencoba untuk mengelompokkan warna di masing-masing sisi rubik. Dirinya tak pernah berhasil melakukan ini sedari dulu.


Lima menit berlalu, tujuh menit, delapan menit, belum ada tanda-tanda Andini akan berhasil menyusun rubik itu kembali ke pola semula, sebelum Ammar mengajaknya.


"Aunty macam mana? Dah sepuluh minit ni," kata Ammar mengingatkan.


"Sepuluh menit? Ahh, nggak mungkin. Masa ini udah sepuluh menit. Ammar bohong ahh,"respon Andini sambil tangannya masih memutar-mutar rubik itu.


"Aihh, betul lah. Kalau Aunty tak percaya, tengoklah," kata Ammar sambil menunjukkan jam tangan multifungsi yang melekat di pergelangan tangannya.


"Ck!" Andini berdecak melihat apa yang dikatakan keponakannya itu memang benar adanya.


"Hanya tersisa dua minit lagi, Aunty!" Lagi-lagi Ammar memperingatkan. Padahal keringat telah bercucuran di pelipis hingga lehernya.


"Oke. Waktunya dah habis, Aunty!!"


"Haah?" Andini membelalakkan matanya tak percaya. Hingga kemudian dengan sebal ia mengembalikaan rubik itu pada Ammar.


"Kalau begini taruhannya nggak fair, donk! Yang main cuma aunty, kamunya nggak," katanya sebal.


"Aunty usah khawatir, Ammar pun akan ikut pula susun rubik ni. Aunty sendiri pilihkan yang mana," kata Ammar sambil mengeluarkan lagi rubik yang lain.


Sumpah Andini tak habis pikir kenapa anak sekecil Ammar memiliki rubik sebegitu banyak.


"Kamu yakin bisa nyusun ini? Yang beneeer?" tanya Andini tak percaya.


"Hu uh. Aunty pilih sahaja rubik yang mana. Kalau Ammar kalah, berarti kite seri. Tetapi kalau Ammar menang, Aunty mesti berjanji ikut Ammar dan Mommy berjumpa dengana grandma, hmm?" desak Ammar.


Andini terlihat meragu.Dia belum siap bertemu wanita yang telah melahirkannya itu. Bagaimana ini? Mungkinkah Ammar memang bisa menyusun rubik ini? Apa dia secerdas itu?


"Macam mana, Aunty?" Lagi, Ammar mendesak Andini.


"Oke, deh." katanya dengan nada tidak tulus.


"Kalau macam tu Aunty sila pilih rubik mana yang mahu Ammar susun," kata Ammar.


Andini manggut-manggut melihat setidaknya ada sekitar lima atau enam jenis rubik yang dibawa oleh Ammar dalam tasnya.


"Yang paling susah yang mana?" tanya Andini memilah-milih satu di antara semuanya.


Ammar menunjukkan pada Andini dua buah rubik warna warni.


"Ini aunty. Ini master cube, seperti aunty tengok dia punya sisi 4×4×4. Ini lebih sulit dari pada standar cube yang tadi aunty mainkan. Habis tu yang ini lagi susah. Namanya Professor cube, atau Professor rubik. Kalau ni dia punya sisi 5×5×5," kata Ammar jujur.


Andini meraih dua rubik itu dan memperhatikannya dengan seksama. Benar saja. Yang tadi yang dia mainkan sisi 3×3×3 aja sulitnya tak ketulungan apalagi rubik yang model ini. Seketika Andini menjadi tersenyum licik.


"Oke deh! Kamu pakai rubik master cube ini saja. Kasihan kalau pakai yang ini," katanya sambil menunjuk rubik Professor. Kemudian dia pun sambil menunjuk rubik master mulai mengacak rubik warna warni itu. "Aunty acak ya!"


Tak menunggu lama lagi Andini pun memutar rubik itu beberapa kali hingga warna-warni di kubus rubik itu menjadi acak dan tidak beraturan satu sama lain dengan warna lain.


Hehehe, dengan begini tak mungkin Ammar bisa menyusun kembali warna rubik itu seperti pola semula, kan? Kecuali dia jenius dan IQ-nya di atas rata-rata .


"Oke. Ini! Kamu susunlah. Aunty akan lihat, kamu bisa susun rubiknya atau nggak," lanjut Andini lagi. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Tapi ingat janjimu ya," pesannya pada Ammar. "Kamu kalah, mommy-mu nggak boleh lagi datang lagi ke sini!"


Yola yang mendengar kata-kata Andini mencibir.


"Kamu belum tahu Ammar. Keponakanmu jenius, dia tak mungkin kalah," jawab Yola.


Andini mencebik tak percaya. Jenius? Anak sekecil itu? Tak mungkin.


"Oke, kita lihat nanti!" balas Andini.


Lalu, Andini pun melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa apa yang dikatakan Yola itu sepertinya benar adanya. Ammar terlihat sangat serius memutar-mutar rubik itu. Dan Andini bahkan Yola hampir tak percaya kalau Ammar menyusun rubik itu hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh menitan.

__ADS_1


"Okay, aunty! Dah selesai!" katanya sambil menyerahkan rubik itu pada Andini.


"Ya Tuhan, kamu bisa mengerjakan ini dalam waktu segitu singkat? Aku nggak percaya ini mah, pasti curang!" tuding Andini.


"Hey!!!" Yola menanggapi dengan marah tudingan Andini. "Enak aja nuduh anakku curang. Kamu tuh yang curang! Kamu kan lihat sendiri kalau Ammar menyusunnya dengan sportif!"


"Tapi kamu bilang dia jenius. Berarti nggak fair donk permainan ini. Aku kan nggak pernah main rubik ginian. Sementara Ammar mungkin udah terbiasa main ini, udah latihan berkali-kali," dengus Andini sebal.


"Nggak kok!" bantah Yola. "Aku nggak pernah lihat Ammar main rubik sebelumnya. Baru ini."


"Kalau gitu kenapa dia punya banyak rubik?" tanya Andini.


Yola terdiam. Dia memang sengaja mengajak Ammar kesini tadi sengaja ingin memanfaatkan keimutan Ammar yang menggemaskan untuk menarik perhatian adik iparnya yang keras kepala itu. Tetapi siapa yang sangka kalau di perjalanan menuju kemari, Ammar ternyata meminta dibelikan rubik.


"Oh, dia baru membelinya tadi," jawab Yola apa adanya.


"Aku nggak percaya," kata Andini.


Yola mengangkat bahunya.


"Terserah padamu. Aku sudah bilang keponakanmu punya kecerdasan yang tidak biasa, yah kalau kamu nggak percaya terserah kamu," jawab Yola.


"Kalau macam tu, Aunty ikutlah bersama Ammar dan Mommy Kat rumah hmm?" bujuk Ammar lagi pada Andini.


"Nggak mau. Kecuali kamu susun ulang rubik yang Professor, bukan master. Kalau kamu bisa baru aunty mau!" tuntutnya pada Ammar.


"Huh? Sama anak-anak aja kamu kok gitu sih? Sama keponakan sendiri aja tuh, dasar tante-tante!" ledek Yola pada Andini.


"Hey!! Jaga mulutnya ya, siapa yang tante-tante? Aku ini aunty tau? Aunty! A-U-N-T-Y!" katanya sambil mengeja huruf-huruf pada kata Aunty.


Yola mengangguk-angguk.


"Kalau begitu, kamu udah ngakuin donk kalau Ammar itu keponakanmu? Kalau gitu pulang ke rumah grandma yuk, Aunty?" bujuk Yola


"Hanya Ammar. Aku nggak mengakui yang lainnya!" bantahnya.


"Diih kekanakan! Kamu kira kalau bukan karena aku dinikahkan dengan Abang, bakal ada Ammar. Aneh deh, ngakuin anaknya sebagai ponakan tapi nggak mau ngakuin mommy sama daddy-nya sebagai orang tua ponakannya. Aneh!"


"Udah diam! Pokoknya aku nggak mau ketemu sama siapa-siapa! Titik!" Andini tetap bersikeras.


Andini berpikir-pikir lagi.


"Ok. Tapi sekarang nggak 15 menit, tapi hanya 5 menit. Kalau kamu bisa susun rubiknya yang Professor tapinya, aunty ikut. Tapi hanya lima menit loh ya!"


"Tapi ..."


"Mau nggak?"


Ammar terdiam. Butuh waktu tujuh menit baginya untuk selesai menyusun rubik master yang tingkat kesulitannya berada di bawah rubik Professor. Lima menit akan butuh waktu lebih banyak harusnya untuk menyelesaikan rubik itu.


"Bisa nggak? Kalau nggak bisa lupain aja deh! Kamu boleh main disini tapi aunty nggak mau pulang ke rumahmu," kata Andini.


"Hmm ... oke," jawab Ammar meragu.


Lalu dia pun kembali menyusun rubik itu dari awal. Dan persis seperti dugaannya, Ammar tak mampu menyelesaikan rubik itu dengan waktu sesingkat itu. Ammar terlihat murung, membuat Andini jadi sedih melihatnya.


"Ammar sayang, udah donk! Kamu main ke sini tiap hari nggak apa-apa, tapi Aunty nggak bisa balik ke rumahmu. Itu bukan rumahnya Aunty!" kata Andini.


Ammar menghela napas kecewa.


"Aunty pun bukan aunty-nya Ammar. Nak buat ape datang Kat sini. Mom, jom kite balik kat rumah. Ada grandma yang tunggu kite," kata bocah itu.


Lalu tanpa menunggu apa pun lagi, dia segera turun dari ranjang Andini dan segera beranjak lebih dulu ke luar.


"Eh, Ammar ..." panggil tertahan Andini.


Yola pun menghela napas.


"Aku nggak tahu bagaimana lagi cara membujukmu agar mau pulang. Sebenarnya mama mendesak untuk mempertemukan kamu dengan dia sekarang, tapi aku bersikeras untuk membujukmu lebih dahulu. Aku khawatir dengan sikapmu yang seperti ini kamu akan menyakiti dia, Andini. Kamu tahu, dia kehilangan anaknya dan menanggung banyak derita sudah 24 tahun lebih lamanya. Aku tidak ingin saat bertemu denganmu kamu menambah kembali luka hatinya dengan melakukan penolakan seperti ini," kata Yola lagi.


Andini terdiam. Dia pun bingung dengan sikap kekanak-kanakannya ini, namun yang pasti dia tak bisa, lebih tepatnya belum bisa menerima kehadiran keluarga kandungnya ini.


"Ya sudah sih kalau kamu nggak mau pulang. Aku juga nggak tahu bagaimana lagi cara membujuk kamu, yang pasti kamu bukan lagi anak kecil, Andini. Kamu sudah dewasa. Kamu tahu bagaimana harusnya bersikap," kata Yola.


Andini membuang mukanya mendengar kata-kata Yola.

__ADS_1


Sebelum Yola memutuskan untuk pergi, Yola kembali berbalik.


"Minggu ini aku akan mengadakan acara 7 bulanan di rumah kita, rumah keluarga Nirwan, datanglah, dikpar!" katanya.


Andini menatapnya tanpa minat sama sekali.


"Aku benar-benar mengharapkan kedatanganmu," kata Yola.


"Aku nggak sempat," jawab Andini datar.


Dan Yola lagi-lagi hanya bisa membuang napas dan meninggalkan tempat itu.


****


"Yola menatap wanita di hadapannya ini dengan rasa yang sulit dijelaskan. Mereka saling tatap untuk waktu yang cukup lama tanpa berbicara sama sekali.


"Jadi, kamu ngapain panggil aku kesini?" tanya wanita itu.


Dia Eva, mulai merasa jengah saat Yola menatapnya tanpa kata sejak beberapa menit yang lalu dia sampai di N-one Grocery. Eva tak menyangka kalau akhirnya dia akan dipanggil kembali ke Kuala Lumpur oleh Pengarah Personalia, Nadira. Katanya dia ingin dimutasi di N-one Grocery pusat atas perintah wakil presiden direktur N-one Grocery yang dijabat oleh Yolanda Gunawan sekarang. Dan wanita itu sekarang ada di hadapannya. Orang yang selama ini dia benci.


"Jadi ..." kata-kata Yola terhenti sampai disitu.


Eva menunggu Yola melanjutkan kata-katanya.


"Kau adalah anaknya papa dan Tante Mira, betul?"


Eva begitu shock mendengarnya. Bagaimana, dan sejak kapan Yola mengetahui itu? Apa papa Abi yang akhirnya memberi tahunya? Atau Tante Ratih? Ibu dari gadis kecentilan ini?


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," jawab Eva dengan dusta.


"Jadi sebenarnya apa yang kamu inginkan dengan datang ke KL? Karena papa menyuruhmu mengawasi ku? Atau karena memang keinginanmu sendiri? Kau ingin balas dendam padaku?" tanya Yola dengan pertanyaan beruntun.


"A-apa maksudmu? A-aku tak mengerti," jawab Eva tergagap.


"Jawablah, kakak! Haruskah aku memanggilmu seperti itu mulai dari sekarang?"


Eva menebak-nebak kemana arah Yola berbicara ini. Apa sebenarnya yang diinginkan Yola? Apa perempuan ini marah padanya? Bukankah harusnya dia yang marah?


"Kau marah karena aku merebut namamu? Kau ingin balas dendam padaku hanya karena itu?" tanya Yola.


Eva masih tak bergeming.


"Jawaaabbb!!!" teriak Yola. "Kenapa kau ingin mencelakaiku, Kakak? Apa salahku padamu? Apa yang terjadi pada orang tua kita di masa lalu, kenapa kau ingin melampiaskan semua itu padaku? Aku mana tahu kalau papaku ... maksudku papa kita pernah menjalin hubungan dengan tante Mira sampai punya anak kamu. Mana kutahu orang yang selalu kutahu sebagai sepupu yang memusuhiku ternyata adalah saudara kandungku sebapak tapi beda ibu? Lalu kapan kamu tahu tentang semua ini? Kenapa kau tidak bicara padaku. Kenapa malah menyusun rencana ingin membalas dendam padaku?"


"Apa maksudmu? Balas dendam padamu? Huh! Kamu terlalu banyak nonton sinetron atau apa?" sinis Eva.


Yola mendengus kasar.


"Martin, dia pacarmu, kan?" tanya Yola.


Eva terdiam dalam kagetnya. Darimana Yola tahu tentang Martin.


"Kau pernah membawanya ke apartemenku waktu aku tak ada di sana. Kalian merencanakan sesuatu yang buruk padaku, kan?"


Eva merasa tercekat. Dia mengingat-ingat lagi percakapannua dengan Martin waktu itu di balkon apartemen milik Yola. Dia benar-benar tahu semuanya.


"Darimana kamu tahu?" tanya Eva. "Kamu memasang kamera tersembunyi di apartemenmu? Atau kamu sengaja memasang alat penyadap di situ agar kau dapat memata-mataiku?" tuduh Eva lagi dengan nada marah.


"Astaghfirullah!! Bukannya kebalik kamu yang berniat memata-mataiku, hmm?" balas Yola tak kalah marahnya.


"Iya, aku memang ingin balas dendam padamu! Kau menyebalkan! Hidupmu selalu beruntung! Harusnya aku yang berada di posisimu saat ini!Kau merebut semuanya dariku! Tak cuma posisi mama direbut oleh mamamu, posisiku sebagai anak kandung papa direbut juga oleh kamu. Aku anak tidak diakui, kehadiranku di keluarga Gunawan bak sampah! Tak cuma itu bahkan namaku Yolanda Gunawan saja, kau ambil brengsek!! Kenapa harus aku yang berganti nama padahal aku lebih dulu yang memakai nama itu, kenapa bukan kamu saja yang cari nama lain? Kamu memang parasit yang hadir di hidupku!!"


Plakkk!!!


Dengan emosi Yola menampar Eva.


"Sudah? Sudah cukup ngomongnya? Terus kamu maunya gimana sekarang? Mau balas dendam yang gimana? Ayo balas dendam lah sekarang! Lakukan di depanku jangan kayak pengecut begitu!!"


***


Maaf nggak update kemarin reader. Btw, ini kalau memungkinkan akan tamat besok atau lusa. 1 atau 2 bab lagi mungkin. Tetap semangat nunggu ya... Btw, kalian punya aplikasi ******* nggak? Jangan lupa mampir di karya baru author ya ... Gratis untuk waktu yang belum bisa author tentukan!


Jangan lupa like dan komentarnya ya ...


__ADS_1


__ADS_2