
"Ya, tentu saja transaksi jual beli saham yang saya lakukan dengan Yahya adalah legal. Bagaimana dengan semua 44,7% saham yang kau katakan telah jadi milikmu? Apakah ada legalitasnya?" tantang Lucas.
Yola tersenyum kecil dan menyerahkan map berisi surat pemindahan saham atas nama Ilham pada dirinya.
"Surat balik nama saham 27% atas nama Tengku Yahya Nirwan pada Yolanda Gunawan," kata Yola sembari mengeluarkan secarik kertas dari map.
Secarik kertas yang ternyata adalah surat penyerahan 27% saham yang diberikan Ilham pada Mama Ratih atas namanya itu pun diberikannya untuk diperiksa oleh peserta rapat pemegang saham yang berada di sebelahnya. Kemudian oleh peserta rapat itu surat itu pun digilir pada semua anggota rapat secara bergantian.
"Yang ini saham 11% yang diberi oleh almarhum president direktur Tengku Yahya Nirwan pada saya," kata Yola lagi sembari memberi bukti secarik kertas lagi. "Untuk pembelian saham 5% dan 1,7% secara online itu juga dibubuhi tanda digital saya. Semua sah dan legal di mata hukum. Hanya saja kepemilikan saham-saham itu didaftarkan di platform N-one dengan menggunakan akun yang berbeda. Namun sayangnya untuk saham 27% yang diberikan oleh suami saya, Tengku Yahya Nirwan, kemarin mungkin belum sempat terpikir untuk memindahkannya dalam akun atas nama saya pribadi."
Semua peserta rapat yang juga adalah para pemilik saham di sana mengangguk-angguk paham setelah Yola menjelaskan.
"Sampai di sini saya rasa sudah jelas, ya. Dan ... walaupun sebenarnya saya masih janggal atas kepemilikan saham 42% dari Presiden Direktur yang katanya dijual pada Tuan Lucas, mari kita kesampingkan itu sejenak dan melanjutkan kembali rapat ini sesuai dengan tujuan awalnya," kata Yolanda.
Semua terdiam oleh sikap Yola yang tegas. Tak sedikit pun dia gugup menjadi fokus dalam rapat itu. Sikapnya mendominasi dan terkesan mengintimidasi orang-orang yang berada di sana. Yolanda Gunawan ini bahkan lebih menyeramkan dari pada Ketua Pengarah N-one, Tengku Ilham Nirwan.
__ADS_1
Kini Yola berdiri dari duduknya dan berjalan mengitari meja panjang berbentuk oval.
"Jadi, sebagaimana hasil dari pemungutan suara yang telah diperoleh dari rapat ini bisa disimpulkan bahwa yang menjabat menjadi presiden direktur N-one Grocery sebagaimana harusnya adalah Tengku Ilham Nirwan dengan suara yang mewakili saham sebanyak 44,7 %, ditambah dengan perolehan hasil pungutan suara dari peserta meeting sebanyak 8% hingga jika diakumulasikan total dukungan yang Tuan Tengku Ilham Nirwan peroleh adalah sebanyak 52,7% dari 100% saham dari keseluruhan yang dimiliki N-one Grocery. Itu artinya Tuan Tengku Ilham Nirwan unggul sebanya 5,4% saham dari Tuan Lucas. Jadi bagaimana? Bisa kita mengesahkan jabatan ini untuknya sekarang?" tanya Yola begitu kakinya berhenti melangkah tepat di belakang kursi Hendra yang bertindak sebagai moderator rapat sedari tadi.
Nyali Hendra menciut saat wanita sang pemilik saham terbesar itu kini tengah memegang kursi yang dia duduki. Sungguh dia merasa terintimidasi saat ini.
"Bisa tidak?" tanya Yola dengan nada yang dalam dan tajam.
"I-iya, bisa!" jawab pria itu gugup.
Sungguh sekarang Hendra merasa hidupnya tidak akan lama lagi akan segera tamat.
"Ba-baik," kata Hendra lagi-lagi tergagap.
Ekor matanya menangkap tatapan geram Lucas dan kini berganti menatap Yola yang kembali berjalan perlahan mengitari meja rapat dengan perutnya yang sudah mulai kelihatan sedikit membuncit di balik baju semi formal yang dikenakannya. Hendra tak punya pilihan lain selain menuruti Yola. Dia tak punya alasan untuk menolak
__ADS_1
"Seperti yang kita ketahui bersama bagaimana penjelasan Puan Yolanda Gunawan, maka dapat kita simpulkan bersama bahwa rapat pemilihan presiden syarikat N-one Grocery dimenangkan oleh Tuan Tengku Ilham Nirwan sebagai calon yang memiliki jumlah saham pendukung terbesar dalam syarikat ini. Oleh karena itu, Tuan Ilham mulai hari ini resmi menjadi presiden direktur syarikat N-one Grocery. Sila kita ucapkan tahniah pada Tuan Ilham! Tahniah Tuan Ilham!" ucap Hendra dengan berat hati.
Leon, Nadira senyum-senyum dengan hasil keputusan rapat.
"Tahniah, Bro!" Ucap , sembari menepuk-nepuk punggung Ilham.
Dengan niat yang sama Nadira juga mengacungkan jempolnya pada Ilham, mereka hampir saja tak bernapas tadi saat Ilham hampir saja kehilangan N-one di depan hidungnya sendiri oleh pria pemilik perusahaan besar dari Kamboja ini.
Ilham mengangguk-angguk. Yola memang tak bisa diremehkan untuk urusan ***** bengek semacam ini. Dia piawai dalam hal bersilat lidah dan urusan bisnis semacam ini. Terutama dalam urusan saham. Bukankah dia adalahseorang trader?
"Jadi bagaimana, Tuan Lucas? Sudahkah Tuan Lucas bisa menerima keputusan rapat ini? Saya mengerti godaan jabatan Presiden direktur syarikat N-one Grocery sangat menggiurkan. Tetapi harus bagaimana? Jabatan presiden direktur memang harusnya ada pada orang yang seharusnya. Hanya Tengku Ilham Nirwan yang boleh ada di jabatan itu. Sejujurnya saya tidak tahu siapa anda. Kita hanya pernah bertemu satu kali di acara resepsi pernikahan kami. Dan tiba-tiba anda datang bersama seseorang yang saya sangat kenal. Dia sahabat saya dan juga ternyata orang yang menikam saya dari belakang. Jadi, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Yola sambil menunduk mencondongkan badannya di antara Yuri dan Lucas.
Yuri merasa jantungnya hampir copot mendengar kata-kata Yola. Padahal dia sudah mempersiapkan moment ini. Tetapi tetap saja gadis yang pernah menjadi temannya itu mendominasinya.
"Yuri, aku tidak menyangka kau akan seperti ini," kata Yola kecewa.
__ADS_1
****
Hai reader! Jangan lupa like dan komentnya ya.