
Selepas Yola keluar dari ruang kerjanya sendiri itu, Ilham dan Abimanyu pun duduk saling berhadapan terhalang oleh meja kerja Yola. Ilham menatap Abiamanyu bimbang antara ingin menggunakan senjata terakhirnya atau tidak.
"Jadi pembicaraan antar pria seperti apa yang kau ingin bicarakan?" tanya Abimanyu remeh.
Ilham mendengus menahan jengkel. Rasanya dia tidak ingin bersikap curang memanfaatkan masalah ini untuk mendapatkan restu dari mertuanya itu. Tapi sepertinya dia tidak punya pilihan lain lagi.
"Nampaknya Papa benci sangat dengan Ilham, sampai bercakap Ilham ni b*natang. Betul ke?" kata Ilham memrulai menjajal kemampuannya dalam menaklukkan pria berhati es ini.
Dia bukanlah Ilham, jika tak mampu membalikkan suatu keadaan. Dia tak akan dijuluki King Devil di N- one Grocery jika dia bisa dengan mudah ditaklukkan oleh lawannya. Dan dalam hal ini Papa Abimanyu adalah lawannya yang menghalangi dia dan Yola bisa bersatu.
Abimanyu tersenyum.
"Katakan dengan jelas maksudmu sebenarnya. Tidak usah berbasa- basi. Aku kesini ingin menjemput putriku," kata Abimanyu tak senang.
"Kalau ditengok dari cara Papa menghina Ilham macam tu, mestilah Papa ni orang yang bersih sangat. Jauh dari dosa. Tapi Papa yang suci lagi bersih ni saat melakukan dosa dan membuat anak gadis orang lain mengandung benih Papa dan meninggalkannya begitu sahaja tanpa dikahwini, ape tak merase berdosa ke?" tanya Ilham tajam.
Abimanyu terperanjat mendengar kata- kata itu dari Ilham. Dia terkejut, tentu saja.
"Apa maksudmu?" tanya Abimanyu tak kalah tajam.
"Tak payahlah Papa kura- kura dalam perahu. Ketika Papa boleh sahaja mencari tahu pasal perkahwinanku dengan Sonia, kenapa Ilham tak boleh mencari tahu mase lalu mertua sendiri? Kakak sepupu Yolanda yang Papa kirim untuk mengawasi aku dan Yola di sini, Eva, dia anak gadis papa yang lahir dari hubungan di luar perkahwinan, kan?" tanya Ilham santai.
Abimanyu terlihat sangat geram dengan informasi tentang dirinya itu yang dijabarkan Ilham langsung padanya. Dia ingin membantahnya, tapi sayangnya semua itu memang benar apa adanya.
"Apa maumu?" tanyanya tajam.
Ilham tersenyum. Di merasa ikan sudah termakan umpan.
"Ilham bukan b*natang, yang sampai hati tinggalkan anak isterinya. Papa pun tahu sendiri pasal tu," kata Ilham. "Kalau sahaja dahulu Papa tak menghalangi Ilham berjumpe Yola di mase dia mengandung tu, tak mungkin Ilham akan biarkan dia sendiri. Dan kali ini, Papa, aku tak akan mengalah dan menyerah terhadap Yolanda. Aku akan jagakan dia dan anak- anak kami nantinya. Yang kuinginkan dari Papa saat ini adalah restu. Biarkan kami melanjutkan perkahwinan kami sebagaimana mestinya. Seperti yang diharapkan oleh Atok Yahya dan Atok Salim."
Sesaat pria itu sempat diam dan memain- mainkan bolpoin yang berada di atas meja kerja Yola dengan tangannya.
"Kalau keinginanmu itu tidak terpenuhi, bagaimana?" tanya Abimanyu.
Dia tak boleh kalah dari pria kecil yang telah menikahi putrinya itu. Kemana harga dirinya jika dia mengalah pada menantu yang jelas- jelas telah menoreh luka di hati keluarganya selama ini.
__ADS_1
"Pemegang saham di PT. Guna-1 tak akan suke kalau reputasi pemimpin Guna-1 hancur kerana skandal Tuan Abimanyu Gunawan yang ternyata memiliki anak di luar ikatan perkahwinan," ancam Ilham dengan bahasa yang sangat halus. Halus tapi tepat sasaran.
Gigi Abimanyu gemeretak mendengar ancaman Ilham.
"Kau sedang mengancam siapa, anak muda?" balas Abimanyu mencoba mempertahankan posisinya sebagai orang yang tak gampang digertak.
Ilham tersenyum mendengar intonasi penuh amarah namun tetap berusaha untuk tetap bersikap tenang itu.
"Papa mertuaku tak suke dirayu, mungkin jika dengan sedikit ancaman, dia akan mahu memberikan aku restu untuk bersama dengan anak perempuannya?" tantang Ilham pula.
Untuk beberapa saat keduanya saling bersitatap tajam dengan mulut terkunci saling diam. Hingga akhirnya Abimanyu memutuskan setelah berpikir dalam waktu singkat.
"Baiklah, kali ini aku akan mengalah dan tak membawa Yola, tapi di lain waktu, jika aku mendengar kau menyakitinya aku tidak akan pernah membiarkan putriku menghabiskan waktu sedetik pun dengan dirimu," kata Abimanyu dengan intonasi tegas dan juga mengintimidasi
Dia tak punya pilihan lain untuk bersikeras melawan Ilham jika itu menyangkut perusahaan Guna-1. Mendirikan perusahaan sebesar itu bukan hal mudah. Mendiang ayahnyalah yang mendirikan perusahaan itu dengan modal yang dia dapat dari mempertaruhkan nyawanya sendiri.
"Papa usah khawatir. Tak akan ada lain kali untuk menyakiti hati Yola, aku boleh pastikan hal itu. Dan aku anggap pernyataan Papa tadi bukti bahwa Papa juga telah merestui perkahwinan kami," kata Ilham.
Abimanyu lagi- lagi tersenyum sinis.
"Jangan cepat menyimpulkan. Aku pergi kali ini tak berarti aku telah merestui hubungan kalian. Dan aku harap kau memegang kata- katamu dan memastikan kalau Yola tak perlu tahu tentang hubungannya yang sebenarnya dengan Eva," kata Abimanyu yang segera bangkit dari kursi.
"Aku akan jagakan Yola," katanya.
Abimanyu tak menanggapinya lebih lanjut. Namun saat dia sudah membalikkan badannya dan bersiap untuk pergi, Ilham menahannya lagi dengan sebuah pertanyaan.
"Satu pertanyaan lagi, Papa!"
Abimanyu kembali membalikkan badannya dan menoleh pada menantunya itu.
"Eva .... Apa dahulu Papa memberikannya nama Yolanda juga?"
Abimanyu mengernyitkan keningnya. Darimana Ilham tahu? begitu pikirnya.
"Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu itu?"
__ADS_1
"Sangat. Perlu sangat! Mungkin Papa tidak tahu, tapi Eva punya kebencian dan dendam khusus terhadap Yola. Khususnya dikeranakan nama itu, Yolanda. Dan aku takkan membiarkan dia mencelakakan isteri aku. Meski pun itu adalah saudara kandungnya Yola, jika dia menyakiti isteri aku, aku takkan bermurah hati membiarkannya tenang," kata Ilham setengah memperingatkan.
"Kau tidak kenal Eva, dia tak seburuk yang kau pikirkan," bantah Abimanyu.
"Baiklah, kalau macam tu. Aku akan coba untuk percaye. Tapi berani dia menyentuh Yolanda, Papa jangan salahkan kalau aku tak segan berbuat kasar," kata Ilham lagi.
Abimanyu tak menjawab lagi kata- kata Ilham. Dia segera pergi, meskipun di hatinya menyimpan ragu, apakah anaknya dari Mira itu akan setega itu mencelakai Yola. Apakah mungkin rasa sakit hatinya karena perlakuan tidak adil Abimanyu dan Keluarga Gunawan membuatnya merasa kebencian dan sakit hati pada Yola? Mungkinkah Eva cemburu?
Yola masih ada di luar menanti dengan cemas saat Abimanyu keluar dari ruangannya.
"Papa ...." gumam gadis itu.
Abimanyu tak menjawab. Dia meninggalkan Yola tanpa penjelasan. Namun Yola cukup lega karena Abimanyu terlihat tidak terlalu marah lagi.
"Atoooookkkk!!!"
Abimanyu menghentikan langkahnya heran dan menoleh pada suara itu.
Ammar keluar dari ruangan Daddy-nya dan berlari melewati Yola dan menghampiri Abimanyu.
Abimanyu dan Yola mengernyitkan keningnya. Juga Ilham yang sudah keluar dari ruangan Yola.
"Atok, Ammar minta maaf kerana dah pukul atok tadi. Grandma kate, tak baik kalau bukak kecil lawankan orang tua macam tu. Tak boleh dapat syurga nanti. Durhaka. Ammar tak nak masuk nerake ...." kata bocah itu menyesal.
Rupanya tadi dia telah menelepon Zubaedah saat berada di ruang kerja Ilham untuk melaporkan kalau di N-one ada atok yang jahat pada mommy dan daddy-nya.
"Maafkan Ammar, Atok ..." ucap bocah itu.
Abimanyu menatap Ammar dengan wajah marah sehingga membuat nyali Ammar menciut. Dan Yola pun tampak khawatir melihat ekspresi ayahnya.
Kemudian rasa khawatir itu pun berubah menjadi suatu kelegaan saat Abimanyu membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah mungil Ammar.
"Kau akan dimaafkan, kalau kau datang bermain ke rumah kakek di Jakarta. Di sana ada nenek Uti juga yang sangat merindukanmu. Bagaimana? Mau dimaafkan tidak?" tanyanya pada bocah itu.
***
__ADS_1
like, koment yang banyak dulu guys... Dan jangan lupa follow author juga genks...
Kalau like dan komentnya banyak, hari ini update 1 bab lagi deh ...