Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Menyingkirkan


__ADS_3

"Kamu pulang?" tanya Eva begitu Yola tiba di unitnya.


Yola mengiyakan dengan mengangkat alisnya. Dia sungguh lelah dengan perjalanan pulang ini.


Matanya menjelajah ke sekitar ruangan di apartemen itu.


"Astaga!!! Kau membawa laki- laki ke sini saat aku nggak ada?" tanya Yola gusar.


"Ahhh, nggak kok!" bantah Eva.


"Nggak gimana? Kalau gitu kenapa disini ada puntung rokok?" tuding Yola sembari menunjuk ke arah meja di ruang tamu.


"Oh, itu ... Itu aku yang merokok," akunya membuat mata Yola membelalak.


"Kamu?? Kamu merokok?! Nggak boleh, ya! Nggak boleh ada yang merokok di apartemenku!" tandasnya berapi- api.


"Aku merokok nggak banyak, kok!"


"Tetap nggak boleh," kata Yola sewot.


Dirinya tidak hamil saja dia benci rokok, apalagi kalau sudah hamil seperti ini?


"Diiihh ... galak amat sih kamu Yol, kayak emak- emak bunting aja," kata Eva.


Yola hampir saja gelagapan mendengar balasan Eva.


"Apaan sih kamu! Ngomong kok seenak jidat," kata Yola kesal. "Udah ah, aku capek. Aku mau tidur!"


Yola langsung mendorong Eva yang menghalangi jalannya.


"Oh, iya. Aku udah ngomong sama bagian personalianya N-one agar kamu bisa kerja di sana. Kamu tungguin aja kabarnya dalam beberapa hari," kata Yola sebelum l kemudian masuk ke dalam kamar.


***


"Jadi, kau punya nama Eva Callista?" tanya Nadira pada Eva yang kini tengah berada di ruangannya.


"Iya benar," jawab gadis itu.

__ADS_1


Nadira mengambil sebuah map dari tumpukan map lainnya yang berada di rak.


"Kau diterima sebagai pegawai N-one Grocery mulai mase ni. Dan ape- ape yang menjadi peraturan dan ketentuan perusahaan N- one telah tertera semua dalam surat perjanjian kontrak ini. Sila dibaca dahulu!" kata Nadira mempersilahkan Eva untuk membacanya.


Eva membolak- balik lembaran- lembaran kertas itu sesaat namun kemudian memutuskan untuk menandatangani kontrak itu tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Kau yakin tak nak membaca isinya terlebih dahulu?" tanya Nadira.


Eva mengangguk. Tujuan utamanya berada di sini adalah demi Yolanda. Dan untuk masalah pekerjaan dan lainnya, Eva tidak terlalu memperdulikannya.


Nadira menerima kembali surat kontrak itu setelah Eva menandatanganinya. Dia mengeceknya kemudian manggut-manggut.


"Baiklah, kalau macam tu. Proses administrasi dah pun selesai, kalau macam tu, kau pun bolehlah berkemas- kemas untuk bertolak ke N- one Cabang Alor Setar. Untuk segala perongkosan dan keperluan di sana, N-one yang akan menanggung. Kau boleh berangkat besok," kata Nadira menjelaskan.


"A- apa? Kemana tadi? A- alor apa namanya tadi .... Aku bekerja di sana? Bukan di sini??!" pekik Eva terkejut, tak menyangka dia akan dipekerjakan di tempat yang bagkan dia sendiri tidak tahu itu dimana.


"Alor Setar," kata Nadira. "N- one sana kekurangan staf administration. Jadi berkebetulan kau adalah lulusan administrasi perkantoran, itu sangat sesuai dengan yang kite perlukan untuk Cabang N- one Alor Setar."


"Tapi aku butuh pekerjaannya di N- one sini. Aku tak bisa kemana- mana. Aku tak tau daerah itu!" kata Eva setengah berteriak.


"Tapi aku ke sini direkomendasikan oleh Yola, direktur marketingnya N- one. Aku sepupunya. Dia tak mungkin membiarkan aku bekerja di tempat jauh yang aku sama sekali nggak kenal!"


"Yolanda Gunawan di sini hanya Pengarah Pemasaran. Dia bahkan bekerja kat sini, lewat jalur seleksi dan aku sendiri yang melakukan prosesi interview kepadanya. Akulah Pengarah Personalianya di sini. Direktur HRD, Nadira Humaira. Kau berada di sini tanpa seleksi dan wawancara semata- mata kerana permintaan Puan Pengarah Marketing Yolanda Gunawan. Dia meminta saye untuk mencarikan kau satu posisi di N- one Grocery. Dan aku telah menemukan satu jawatan yang sesuai untuk kau di Cabang Alor Setar. Sebaiknya jangan kau sia- siakan," kata Nadira memperingatkan.


Eva tak terima. Dia membutuhkan pekerjaan di N-one bukan karena uang tentunya. Kalau hanya karena uang dia tak akan repot- repot sampai sejauh ini


"Kalau aku minta kontraknya dibatalkan saja gimana?" tanyanya pada Nadira.


"Tak boleh. Kau dah tanda tangan. Stamp dan blanko kontrak N- one bukan sesuatu yang boleh dipermainkan begitu sahaja. Kami punya dasar hukum. Jadi kalau nak cancel kite punya kontrak, kite boleh berjumpa di pengadilan sahaja. Kami akan melayani tentunya," jawab Nadira.


Eva tak percaya pada yang didengarnya.


"Ayolah, Bu HRD! Aku hanya baru menandatanganinya. Aku bahkan belum menerima apa pun dari N- one. Aku bahkan belum mulai bekerja, masa iya kontraknya nggak bisa dibatalkan?"


"Memang macam tu aturannya. Jadi silahkan persiapkan diri untuk ke Alor Setar. Kau dah harus ada di sana dua hari dari sekarang. Sekarang kau dah boleh keluar. Saye masih ade banyak job yang mesti dikerjakan," kata Nadira menutup pertemuan mereka.


Eva keluar dari ruangan Nadira masih setengah linglung. Bagaimana bisa rencananya berbelok dari yang telah dipersiapkannya jauh- jauh hari? Apa ini rencana Yola untuk menyingkirkannya?

__ADS_1


Sementara itu sepeninggalan Eva, Nadira menghubungi Ilham lewat ponselnya.


"Keinginanmu menyingkirkan orang tuh dah kulaksanakan sesuai planning. Dia kukirim ke N-one Alor Setar dengan kontrak," lapornya pada atasannya yang juga merupakan sahabatnya itu.


Di seberang sana Ilham tersenyum puas. Sepupu Yola yang dia tahu juga adalah mata- mata yang dikirim Abimanyu untuk mengawasi Yola telah berhasil disingkirkannya. Dan ini berarti dia juga telah menabuh genderang perang untuk mertuanya yang arogan dan diktator itu.


"Baiklah, Nadira. Pastikan dia sampai di sana seperti yang aku mahu," titahnya.


"Oke. Kamu tenang sahaja Ilham. Aku akan pastikan dia tak ada di KL lagi."


***


"Jadi kamu akhirnya mencarikan aku pekerjaan di N-one untuk menyingkirkanku?" tanya Eva gusar.


"Kau boleh menganggapnya begitu kalau kau suka," kata Yola acuh.


"Papamu tak akan senang mendengar ini," kata Eva memperingatkan.


"Papa memang nggak pernah senang kok pada apa pun yang kulakukan," jawab Yola sinis.


"Bagaimana dengan tante Ratih? Kau tetap tidak peduli?" tantang Eva.


"Sejak kapan kau sangat peduli pada Mamaku?" tanya Yola sinis. "Saranku sebaiknya kau pulang sekarang, kemasi barang- barangmu untuk ke Alor Setar besok. Terus terang saja, Kakak Sepupu, aku tak bisa menyewa pengacara untukmu kalau kau terkendala kasus hukum dengan N-one."


Yola mengatakan itu dengan senyum. Entah bagaimana reaksi Papa nanti kalau tahu Yola menyingkirkan Eva seperti ini. Tapi Yola sudah bersiap dengan segala kemungkinan. Dia akan mempertahankan perkawinannya dengan Ilham walaupun Papa tak merestui. Ada Ammar dan calon anak dalam perutnya yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tua mereka.


Eva dengan geram meninggalkan Yola di ruangannya. Dari dalam tasnya dia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Ini tidak sesuai dengan rencana. Sekarang tunggu aku di depan N-one!" perintahnya pada orang yang dia telepon.


Lalu tak menunggu lama Eva segera turun ke bawah untuk mendatangi orang yang dia telepon tadi.


"Martin!!" panggilnya pada lelaki yang sedang menunggunya di sepeda motor gede itu.


Lelaki yang dipanggil Martin itu menoleh. Pada saat yang bersamaan Sonia yang datang N-one untuk menemui Ilham, terkejut melihat pria itu. Dari dalam mobilnya dia hisa melihat dengan jelas wajah itu pria itu. Rahang yang kokoh, serta sebelah anting di telinga pria itu. Sonia mengenalinya. Itu adalah lelaki yang menemuinya 7 tahun lalu di taman Tiergarten, Berlin.


Dia Mr. Y.

__ADS_1


__ADS_2