Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Jabatan Kecemasan Dan Trauma (IGD)


__ADS_3

Ilham masih saja sibuk menelepon sepanjang mereka menuju ruang perawatan Sonia. Ada seorang perawat yang menunjukkan jalan ke mana mereka harus pergi. Di sepanjang jalan dari ruang administrasi ke ruang perawatan VVIP, perawat itu menjelaskan pada Yola kalau Sonia kemungkinan perlu melakukan CT Scan dan beberapa tes lain untuk mengetahui situasi dan kondisi yang dihadapi tubuhnya saat ini. Yola sendiri hanya mengangguk-angguk tanda paham, dan akan bertanya jika ada yang kurang dia mengerti.


Hingga sampailah mereka di depan ruang perawatan VVIP ini. Ruangan Sonia ini berada di lantai bawah, di ruang paling pinggir gedung rumah sakit ini. Benar-benar ruang yang nyaman dengan fasilitas wah yang tak akan membuat para keluarga pasien merasa tidak nyaman.


"Sila Puan, Tuan! Tunggu sekejap ada yang akan bawa pakaian ganti untuk pesakit (pasien) kat sini," kata perawat itu.


Yola mengangguk. Namun matanya tetap memperhatikan Ilham yang masih belum selesai menelepon dengan Hafiz. Pria itu tampak sangat serius. Entah apa yang mereka bicarakan.


Tak lama seorang perawat wanita lain membawakan baju pasien untuk dipakai Sonia.


"Dokter Tan, baru sahaja menyuruh saye sampaikan untuk membawa kakak pesakit ni ke bilik radiology," kata perawat yang baru datang tadi pada perawat yang mengantar mereka ke ruang rawat Sonia. Dia memberikan sebuah catatan kecil dan memberinya pada perawat pria itu.


"Oh, macam tu?" sahut perawat pria itu sambil memeriksa cacatan dr. Tan.


"Itu untuk diberikan pada Dr. Ranveer." Perawat wanita menegaskan.


"Hu um, saye paham," jawabnya.


Yola memperhatikan kedua perawat yang saling memperjelas tugas antara satu dengan yang lain itu sekilas. Tetapi memperhatikan Ilham lebih menarik baginya. Dia penasaran apa yang dibicarakan kakak beradik itu di telepon.


"Puan, tolong bantu pesakit (pasien) untuk memakai baju ni," pinta perawat itu. "Kakak ni mesti melakukan CT Scan mase ni juge. Dr. Tan yang menyuruh," kata perawat pria itu. "Saye tunggu di luar."


Yola tersentak.


"Oh... Ganti baju, ya? Baiklah, baiklah," sahutnya dan beralih pada Makcik Saripah. "Makcik, tolong bantu Kakak Sonia untuk ganti bajunya dengan baju yang baru dibawakan oleh abang perawat ini, ya!"


Asisten rumah tangga itu dengan manut pun segera meraih baju pasien itu dari tangan Yola. Ilham sendiri memutuskan keluar dari dalam kamar perawatan itu ketika tahu Sonia akan mengganti bajunya. Yola mengikuti dari belakang.


"Kami tunggu di luar, Makcik!" kata Yola lagi sembari menutup pintu ruang rawat itu.


Di luar Yola dengan rasa ingin tahu yang tinggi mengikuti suaminya itu dari belakang mencoba mencerna kata-kata yang percakapan Ilham dan Hafiz di telepon.


"Kau tak dapat tunggu kami balik dari Penang ke?" tanya Ilham pada Hafiz di telepon.


Ilham membalikkan badannya dan tatapannya bertemu dengan Yola.


"Ada apa?" bisik Yola.


ilham menggeleng dan memberi kode pada Yola untuk diam dulu.


Itu membuat Yola benar-benar penasaran dengan alasan Hafiz menelepon Ilham saat ini. Bukankah mereka baru bertemu semalam dan dia tak mengatakan apa pun? Apakah ada masalah di rumah saat ini? Atau justru masalah di N-one? Tetapi pada akhirnya dia tidak punya pilihan lain selain diam, menunggu sampai setidaknya Ilham selesai menelepon.


Hingga Sonia selesai mengganti bajunya dengan baju pasien, Ilham tetap tak kunjung selesai menelepon.


"Puan, kite mesti bawa sekali lagi kakak pesakit ni ke front office untuk didaftar ke departement radiology. Ikut saye," ajak perawat pria itu lagi. Sementara perawat wanita suruhan dr. Tan tadi, telah pergi lebih dahulu.


Makcik Saripah mendorong kursi roda Sonia, di sepanjang koridor rumah sakit, mengikuti perawat itu. Sementara Yola berjalan bersisian dengan Ilham yang masih sibuk menelepon.


"Kalau memang kau takut dia melarikan diri bolehlah kau lakukan planning kau tu. Tetapi kau mesti berhati-hati ..."


Yola masih mendengarkan, sambil tangannya menggenggam telapak tangan besar milik Ilham. Lelaki itu balas menggenggam tangannya dan meremasnya, meski dia masih fokus pada teleponnya dengan Hafiz.


Dan, di sinilah mereka lagi, berada di front office, Healthy World Hospital. Hanya Ilham yang masih berada di luar karena sibuk dengan telepon pentingnya dengan Hafiz.


Perawat yang disuruh dr. Tan untuk memandu mereka melakukan prosedural rumah sakit, menyerahkan secarik kertas formulir pada Yola.


"Tolong borang (formulir) ini diisi, Puan," kata juru rawat itu pada Yola.


"Oh, iya." Yola menerimanya dan membacanya.


Pada akhirnya Yola bingung dengan bahasa melayu yang tertera di atas kertas itu. Dia tak bisa mengisinya. Hingga akhirnya dia meminta bantuan Makcik Saripah untuk menerjemahkannya untuknya, tetapi tetap saja Ilham yang lebih tahu data-data diri Sonia, dan mau tidak mau dia memutuskan untuk mengajak Sonia dan Makcik Saripah keluar dulu, karena di dalam sepertinya banyak yang tidak kebagian tempat duduk. Rumah sakit itu benar-benar ramai.


"Kita keluar aja dulu deh, Makcik! Suruh abang aja yang isi formulir ini. Aku kurang tahu data-data diri Sonia," keluhnya.


Dan sepertinya sang perawat tidak keberatan dengan ide Yola. Dia hanya berpesan, jika formulir itu sudah selesai diisi, Yola harus memberikannya pada salah seorang staf di front office itu dan segera menemuinya di ruang radiology. Dia akan menunggu katanya. Dan Yola langsung menyetujui.


Yola geleng-geleng kepala melihat pembicaraan di telepon antara Hafiz dan Ilham yang berlangsung cukup lama itu.

__ADS_1


"Abang!" Yola menepuk pundak Ilham.


Ilham menoleh, mengangkat bahunya seolah ingin bertanya ada apa.


"Isiin formulir ini. Aku nggak tahu apa pun tentang data-data Sonia," kata Yola memberi tahu.


Ilham menerima selembar formulir itu dan bolpoin dari tangan Yola. Masih sambil menelepon, dia memilih duduk di anak tangga di depan rumah sakit sambil mengisi formulir itu di lantai dengan kepala yang menunduk.


Yola ikut memperhatikan apa yang ditulis Ilham di sana. Dia sungguh merasa cemburu saat ini, saat dia tahu kalau lelaki itu, suaminya sangat tahu dengan persis segala hal tentang Sonia, termasuk tanggal lahir perempuan itu.


"Duuuh, hapal banget ya si bapak sama tanggal lahir mantan bini," cibir Yola tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.


Ilham tersenyum dikulum mendengarnya. Tak ingin konsentrasinya mengisi formulir dan mendengarkan Hafiz di telepon buyar seketika karena istri penggodanya itu.


"Yola, Ilham!" panggil Makcik Saripah, hingga kedua orang itu menoleh. "Agaknya talipon bimbit makcik, tertinggal kat bilik rawatan sonia. Makcik jemput sekejap ya? Bilik tu tak ade kuncilah. Makcik takut, talipon tu hilang di ambil orang. Sekejap sahaja. Lepas tu Makcik balik kat sini."


"Oh, iya Makcik. Nggak apa-apa.Jemput aja dulu hpnya.Kakak Sonia biar kami yang jaga," sahut Yola yang langsung paham pada maksud si Makcik.


Lalu tanpa menunggu apa pun lagi, Makcik Saripah pun segera pergi menuju ruang rawat Sonia yang tadi setengah berlari-lari. Yola kembali memperhatikan tiap goresan tinta yang dicoret di atas kertas formulir itu.


Yola merasa Sonia aman di belakang mereka. Mereka bahkan tak memperhatikan dua orang anak kecil yang saling bercanda, dorong mendorong kini tanpa sengaja membuat kursi roda Sonia bergeser ke arah pilar samping bangunan itu, dan roda pada kursi roda itu menggelinding, membuat kursi roda itu meluncur bebas menuruni jalan beraspal khusus pasien dan ambulance yang tidak bisa menaiki undakan tangga di depan gedung rumah sakit.


Yola dan Ilham baru sadar saat terdengar bunyi pekikan orang-orang di belakang mereka. Yola langsung berdiri dan menatap ke arah dimana perhatian orang-orang tertuju saat ini.


"Astaghfirullah!Abang, Sonia!" pekik Yola terkejut.


Yola diikuti Ilham tergopoh-gopoh ingin menghampiri Sonia.


Di sana, di bagian bawah jalan menurun, Sonia dan kursi rodanya kini berada. Dengan seorang pria yang berusaha menahan kursi roda itu agar tidak semakin meluncur ke bawah. Lelaki itu dengan sebelah tangannya memegangi dadanya. Apakah lelaki itu menolong Sonia?


"Kakak Sonia, kakak Sonia! Kakak nggak apa-apa?" tanya Yola khawatir begitu dia sampai di tempat itu.


Sonia mengangguk. Kalau boleh jujur, jantungnya juga hampir copot saat ia merasakan kursi rodanya meluncur ke bawah tadi.


"Yola, pelan sikit! Tak payah lari-lari macam tu," omel Ilham begitu dia berhasil mengejar Yola.


Yola tak menjawab, melainkan tertegun melihat orang yang baru saja menolong Sonia itu.


"Abang, lihat!" Yola menunjuk pada lelaki itu.


"Astaghfirullah!" Ilham sampai memekik melihat lelaki itu yang kini memegangi dadanya dengan susah payah karena kesulitan bernapas. Lelaki ini sepertinya mengalami sesak napas.


"Ya Tuhaaan, tolooong!" Kini panik mendera Yola setelah ia sempat syok karena kejadian ini.


Ilham segera membantu pria itu berdiri dan memapahnya.


"Mari, Bang! Sini saye tolong!" kata Ilham. "Yola tolong jagakan Sonia, sepanjang makcik belum datang! Abang bawakan abang ni dahulu ke atas."


Yola mengangguk gugup. Gedung rumah sakit ini memang dibangun dari sananya sudah seperti ini. Berada di tempat yang sedikit agak tinggi dari lahan parkir. Dari depan teras gedung, ada undakan 5 anak tangga. Sementara dari samping teras gedung, ada jalanan beraspal miring untuk ambulance dan kursi roda agar memudahkan pasien masuk ke dalam gedung. Dan Sonia jatuh tadi bersama kursi rodanya di jalanan menurun ini.


Ilham dengan dibantu oleh seorang bapak, ikut membantu pria itu. Dari sang bapak, Ilham tahu kalau lelaki yang menolong Sonia tadi adalah pasien juga. Terbukti kursi rodanya saja masih berada di atas teras rumah sakit. Berarti tadi dia nekad menghambur untuk mengejar kursi roda Sonia yang jatuh dari teras menuju jalanan menurun.


Sesampai di atas, Ilham dan bapak tadi pun segera mendudukkan lelaki itu kembali di atas kursi rodanya. Tangan lelaki itu masih memegangi dadanya yang terasa sakit dan sesak.


"Abang! Abang patient juge ke kat sini?" tanya Ilham panik. "Tunggu, tunggu sekejap. Saye cari juru rawat dahulu!"


Ilham mendorong kursi roda pria tak dikenalnya itu ke IGD, yang di Malaysia di sebut dengan Jabatan Kecemasan dan Trauma. Pintu ruangan itu berada di samping front office rumah sakit itu. Sementara itu Yola yang masih berada di bawah, terus melihat ke atas berharap makcik Saripah segera datang.


"Makcik, sini! Tolongin bantu dorong kursi roda kakak Sonia ke atas! Aku nggak kuat dorong!" serunya begitu melihat orang yang tunggunya celingak-celinguk mencari keberadaan mereka.


Makcik itu pun segera tergopoh-gopoh turun ke bawah.


"Ilham kat mana? Macam mana korang berdua ni boleh ade di bawah macam ni?" tanya Makcik itu heran.


"Nggak tau, Makcik. Jangan banyak tanya dulu. Buruan kita dorong kursi roda Kakak Sonia ke atas. Aku nggak kuat dorong sendirian," rengek Yola.


Makcik Saripah pun menurut dan mendorong kursi roda Sonia, hingga kini mereka berada bersama-sama di atas.

__ADS_1


"Makcik tunggu di sini. Jagain Sonia! Aku cari abang dulu.Oh ... iya, jangan lupa tolong pungut formulir itu dulu dari sana. Sebentar lagi aku sama abang balik buat lanjutin daftar CT Scan Sonia!"


Lalu Yola pun buru-buru mencari Ilham ke ruang Jabatan Kecemasan dan Trauma rumah sakit itu setelah bertanya sana sini, kemana mereka melihat Ilham dan lelaki yang menolong Sonia tadi.


Yola masuk ke ruangan itu bersamaan dengan sepasang suami istri yang kelihatannya sudah mulai memasuki usia senja, seperti Mama dan Papanya mungkin.


"Dimaaaas!!!" seru sang ibu, melihat putranya yang kini berbaring di ruang Emergency Departement, sedang ditangani oleh dokter dan dua orang perawat.


Ilham menghembuskan napas kasar. Ape hal ni? Belum selesai perkara di KL, sekarang ade lagi problem kat sini, keluhnya dalam hati.


"Ya Tuhan, cuma ditinggal sebentar saja kamu sudah begini. Kamu ... apa yang terjadi?" Sang Ibu terlihat panik.


"Ah, maaf Makcik, ini semua kerana kesalahan kami yang lalai menjaga saudara kami. Tadi kerusi roda saudari kami jatuh dan berjalan sendiri meluncur kat bawah, anak makcik tolongkan dia. Tetapi kami tak sangke kalau malah abang ini akan sakit macam ni," tutur Ilham.


Ibu dari pria bernama Dimas itu nampak serba salah, antara ingin marah atau fokus pada anaknya. Tetapi kemudian dia lebih memilih untuk tidak memperpanjang hal ini, toh lelaki di hadapannya ini sudah meminta maaf dan menjelaskan kalau itu bukanlah kesalahan yang disengaja. Dan terlebih-lebih istri pria ini sedang hamil pula. Mengingatkannya pada menantunya Lyra yang saat ini pasti sedang harap-harap cemas menunggu kabar keberhasilan pemasangan ring pada jantung Dimas, anaknya.


"Ibu orang Indonesia?" tanya Yola.


Mendengar nama Dimas tentu saja dia bisa langsung tahu kalau itu nama orang asli pribumi Indonesia.


Wanita itu menatap Yola dengan mata bertanya.


"Saya juga asli Indonesia, Bu!" ujar Yola. "Nama saya Yolanda, perkenalkan ini suami saya, Bang Ilham. Maaf beribu maaf, kami benar-benar tak menyangka akan ada kejadian seperti ini hari ini. Kami juga ke sini ingin membawa kakak berobat."


Ibunya Dimas menyambut uluran tangan Yola. Dia senang, bertemu dengan sesama orang Indonesia di Penang ini. Percakapan mereka berlanjut dengan saling bertukar nomor ponsel setelah dokter memastikan bahwa kondisi Dimas tidak terlalu mengkhawatirkan pasca menolong Sonia tadi. Dia hanya sedikit terkejut dan butuh sedikit istirahat sebelum operasi pemasangan ring jantung itu dilakukan.


"Oh, jadi anak ibu mau pasang ring jantung?" tanya Yola.


"Hm ..." Ibunya Dimas mengiyakan. "Hmm Iya. Dengan dokter Abraham Yusuf. Dia dokter bedah jantung terbaik di Penang ini katanya. Rekomendasi dari dokter pribadi keluarga kami."


"Oh begitu?" Yola mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ibunya Dimas tersenyum sambil mengangguk.


"Ya, kalau kamu mau, saya bisa memberi kontak teleponnya. Siapa tahu ada dari keluarga atau keluarga suamimu yang berkebetulan perlu berobat jantung? Tak ada salahnya mencoba berobat padanya. Dan dia juga dokter yang ramah dan baik," kata Ibu Dimas meyakinkan.


Yola berpikir-pikir. Sonia saat ini kan mengalami komplikasi tak hanya di satu organ tubuh. Mungkin nanti dia perlu dokter bedah jantung? Apa salahnya menyimpan kontak dokter itu, terlebih-lebih dia mendapat nomor sang dokter tenar dari orang yang berobat langsung dengan beliau.


Yola mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Okelah, Bu. Saya minta nomor telepon dokter itu, siapa tadi namanya?"


"Abraham Yusuf," jawab sang Ibu tadi.


Dan jadilah Yola mencatat nomor itu di kontak teleponnya. Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi saat dia mengecek aplikasi Line dan WA-nya yang otomatis terdeteksi begitu kontak dokter itu tersimpan.


Di foto profil kedua sosial media dokter itu, ada foto sang dokter dengan gadis yang sangat familiar di matanya. Dan yang ingin dia cari keberadaannya hingga ke sini.


Andini Y?


Yola hampir tak fokus lagi dengan percakapan sang ibu dengan dirinya. Bahkan hampir tak lagi mendengar pertanyaan sang ibu tentang usia kehamilannya. Di benaknya saat ini hanya pertanyaan tentang orang itu yang menggema-gema di pikirannya.


Siapa sebenarnya gadis itu?


Apa hubungannya dengan dokter itu?


Kenapa gadis itu seolah selalu mengincarnya?


Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang belum masuk di nalarnya.


****


Hai,hai,hai reader! Tokoh Dimas dan Ibunya ini, adalah tokoh dalam novel Takdir Cinta Lyra punya temannya author ya... Jadi author kali ini collab lagi dengan seorang teman sesama alumni noveltoon writing academy. Buat kalian yang mau kepoin novelnya dipersilahkan ya beib. Nanti bang Ilham juga ada di sana. Dan yang paling penting alur collabnya masih nyambung sama jalan cerita JDM.


Kisah ini menceritakan seorang buruh pabrik yang cintanya terbentur hidayah. Seru pastinya. Buat kalian yang mau coba baca silahkan langsung ke novelnya aja ya..


Btw, kalian tau nggak sih, biasa author post 1 bab isinya cuma 1000 kata per bab, makanya babnya jadi banyak padahal isinya pendek. Kali ini babnya sampai 2400 kata lebih loh. Kasih apresiasi like dan koment yang banyak donk biar author semangat up....

__ADS_1



__ADS_2