
"Ape tak ade supermarket yang lebih jauh dari ini?" sindir Ilham pada Yola.
Selepas sholat maghrib di rumah Datuk Abidin tadi sebagaimana permintaan Yola, lelaki itu pun membawanya ke supermarket N-one. Ilham masih tak dapat memahami apa yang sebenarnya ingin dicari Yolanda. Katanya sesuatu yang telah lama hilang. Apaan?
Namun Ilham terkekeh sendiri akan sikap misterius sang istri dan juga ibu dari anaknya itu.
"Abang bawel deh. Kalau nggak ikhlas temanin Yola ke sini, bilang aja. Kan Yola udah bilang tadi. Yola bisa diantar sama Pakcik driver," kata Yola tak terima dengan sindiran Ilham itu.
"Bukan tak ikhlas. Abang hanya rasa penasaran, apa yang membuat Yola untuk datang kat sini. Di sepanjang jalan tadi, ada banyak mini market, dan supermarket di pinggir jalan. Ada cabang N-one pula, tetapi kenapa kite harus ke sini?" protes Ilham sambil meminggirkan mobil di area parkir.
"Pokoknya ini untuk kebaikan kita bersama," jawab Yola.
"Kebaikan ape?" tanya Ilham semakin tak mengerti.
Dan mereka masih ada dalam mobil meski mesinnya sudah dimatikan Yola sedari tadi.
"Aku mau nyari Andini, Bang. Abang nggak ingat aku pernah cerita? Pas kita ke sini beberapa bulan yang lalu, aku ketemu dengan gadis itu, orang yang telah dua kali mencoba mencopet aku dan selalu membuatku sengaja atau pun tidak sengaja jatuh dan terluka. Ingat?" tanyaku.
Ilham hanya menggeleng spontan.
"Abang nggak seru ah, itu pun lupa. Padahal abang waktu itu udah janji loh, mau selidiki. Tapi nyatanya sampai sekarang pun tak ada kabar apa-apa, alias abang memang nggak nyariin palingan," omel Yola.
"Abang bukan tak carilah. Abang nih sibuk dengan meninggalnya Atok dan dengan segala permasalahan di N-one. Yola tak mungkin lupa akan hal itu kan?" balas Ilham tak mau kalah.
"Alasan aja terus," ledek Yola yang terus memojokkan Ilham.
Ilham geleng-geleng kepala. Untuk urusan berdebat dengan Yola, dirinya memang tidak akan pernah bisa menang apalagi sejak Yola hamil. No debat pokoknya. Dijamin kalah!
"Udah ah, keluar sekarang. Aku mau nemuin anak itu. Soalnya waktu itu gerak-geriknya memang mencurigakan. Waktu ketemu sama aku di sini, kelihatan banget kalau dia menghindar dari aku. Kalau memang nggak ada apa-apa, nggak mungkin kan dia sampai menghindar kayak gitu? Sialnya aja waktu itu perutku lagi keram. Dia langsung manfaatin itu untuk kabur. Apes banget dah," kenang Yola sambil membuka pintu mobil di sebelah tempat duduknya.
__ADS_1
Ilham ikut membuka pintu mobil dan di saat yang bersamaan, ponselnya berdering dan menunjukkan kalau Hafiz sedang melakukan panggilan telepon padanya.
"Abang, cepetan!" ajak Yola.
"Hmm, tunggu sekejap, Yola. Ada Hafiz talipon abang," kata Ilham sambil menunjukkan layar ponsel padanya.
"Iss, nelepon Hafiz mulu dari tadi siang. Masalah apaan sih?" tanya Yola sebal.
Sedari tadi siang suaminya itu sangat disibukkan dengan telepon dari Hafiz, dari Leon dan entah dari siapa. Tetapi Ilham sama sekali belum menjelaskan padanya ada masalah apa yang terjadi Kuala Lumpur sehingga dia harus sesibuk itu.
Ilham memberi kode "sebentar" dengan telapak tangannya dan terus berbicara di telepon dengan Hafiz.
"Ape? Jadi Yuri telah berhasil ditangkap? Hmm .... baiklah. Di stasiun televisyen ape? Oh ... macam tu. Pantas sahaja sedari tadi siang kau tak dapat abang talipon. Syukurlah kalau macam tu. Untuk sementara kau dan Leon dapat handle kan?"
Ilham terdiam sejenak dan melirik Yola.
Sampai panggilan telepon itu selesai, Ilham dan Yola memutuskan belum masuk ke dalam mini market. Yola sendiri sengaja menunggu Ilham selesai menelepon dulu. Dan saat ponsel itu akhirnya masuk kemballi ke dalam kantong celana Ilham barulah akhirnya Yola buka suara.
"Udah nelponnya? Sekarang cerita, ada masalah apa sebenarnya? Siapa yang ditangkap? Abang jangan bikin aku penasaran ya ... dari tadi siang aku sudah mencoba untuk sabar," serang Yola.
"Yuri ditangkap," kata Ilham sambil meraih tangan Yola, mencoba menjaga agar sang bumil tidak erlalu terkejut dengan berita yang akan dikatakannya.
Dan, Yola memang terkejut. Dia berharap dia hanya salah dengar tadi, tetapi ternyata semuanya benar-benar terjadi. Itu Yuri temannya, atau lebih tepatnya mantan temannya yang tertangkap polisi.
"Ditangkap karena masalah penggelapan sahamnya Atok oleh dia dan Lucas?" tebak Yola.
Ilham menggeleng. Sesungguhnya Ilham tak mau Yola terlalu banyak berpikir.
"Yuri sepertinya terlibat atau mungkin dialah pelaku sebetulnya kasus pembunuhan Atok tu." Ilham menjelaskan pelan dengan harapan semoga istrinya ini tidak terlalu terkejut.
__ADS_1
Tetapi tetap saja itu membuat Yola merasa kaget dan syok. Yola geleng-geleng kepala.
"Nggak, itu nggak mungkin kan, Bang?"
Yola mencoba meyakinkan dirinya kalau itu hanyalah ilusinya. Dalam hatinya Yola ingin sekali membantah hal itu. Bagaimana pun Yuri, dialah yang membawanya masuk ke dalam keluarga Nirwan. Bahkan pernah hendak dia jodohkan dengan Hafiz yang syukurnya tidak bersedia sampai akhir dan kini malah lebih condong tertarik pada Putri.
"Itu memang betul adanya, Sayang. Yuri tak sesederhana yang kau pikir. Dia tu berbahaya. Dan untungnya Allah masih lindungi kita dari orang macam tu," hibur Ilham saat melihat raut wajah sedih Yola mendengar berita itu.
Untuk sejenak niatnya datang ke sini dan mencari Andini yang bekerja sebagai karyawan N-one dan Yola kira ada harapan kalau dia adalah anak keluarga Nirwan yang asli, berhenti begitu Ilham mengajaknya duduk di emperan swalayan mini market N-one itu dan menonton dari ponselnya berita ditangkapnya Yuri.
Pasutri itu nampaknya sangat fokus menonton berita itu tanpa sadar orang yang mereka ingin cari baru saja melintas dari belakang mereka. Gadiz itu berjalan ke arah area parkiran dan melewati keduanya.
***
Kuala Lumpur,
Zubaedah baru saja hendak tidur, memejamkan matanya dan kembali membuka mata melirik sang cucu Ammar yang kini tertidur pulas di sampingnya. Sebuah senyum tersungging di bibirnya manakala mengingat kalau tak lama lagi dia akan menimang satu orang cucu lagi dari pernikahan Ilham dan Yola.
Senyum mengembang itu tiba-tiba hilang berganti dengan dahi mengerut saat ponselnya berbunyi. Nomor baru.
"Zubaedah ..." Suara lelaki seperti orang tua sama hal dengan dirinya itu terdengar tak biasa.
"Ya? Ini siapa?" tanya Mamah Zubaedah heran dan merasa tak kenal dengan suara orang yang menyapanya itu
"Kamu masih ingin bertemu dengan Andini?"
****
Hai, update lagi othor... Jangan lupa like dan komentarnya donk beib ...
__ADS_1