Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Will You Marry Me Again?


__ADS_3

"Ape yang tak sempat kamu dapatkan di waktu silam, pinangan yang layak, majlis perkahwinan yang megah dan penyambutan kau di keluarga Nirwan sesuai adat, kau akan dapatkan semua itu, Sayang," kata Mama Zubaedah sembari mengelus-elus pundak Yola.


Yola terharu mendengarnya. Dia sendiri tak menyangka di rumah keluarga Gunawan tempat dia dilahirkan dan dibesarkan ini akhirnya akan ada acara seperti ini juga. Yola mungkin berpikir kalau dia tidak akan pernah lagi mendapatkan pengalaman seperti gadis lainnya yang dilamar secara layak oleh suaminya karena dia dan Ilham menikah dulu hanya menikah dengan persiapan seadanya.


"Mungkin itu tak akan dapat menebus luka yang terlanjur menganga. Tetapi dengan datangnya kami kemari dengan seluruh keluarga Nirwan itu menandakan ketulusan hati kami untuk menyunting kau putri keluarga Gunawan untuk putra kami Tengku Ilham Nirwan," lanjut Mamah Zubaedah.


Yola melihat pada banyak kotak seserahan yang telah diletakkan bersusun di tengah para anggota keluarga yang membentuk lingkaran di ruang tamu keluarga Gunawan itu. Baju, sepatu, tas, perhiasan dan bahkan bingkai berisikan uang yang disusun dan membentuk rangkaian bunga yang entah berapa jumlahnya kini semua ada di hadapan Yola.


"Daun selasih kami larutkan


Dimasak untuk buat santapan


Sedikit antaran kami sertakan


Lengkap dengan semua persyaratan


Baju kurung teluk belanga


Terbuat dari kain cita


Yang kami antarkan tidak seberapa


Terimalah dengan sukacita"


Perwakilan dari keluarga Nirwan kembali lagi melantunkan pantun pemberian barang antaran untuk Yola. Sambil perwakilan dari keluarga Gunawan menerima barang seserahan itu, Paman Hatta tetap menjalankan tugasnya untuk membalas pantun dari keluarga Nirwan.


Putra raja duduk digeta


Memakai mahkota kebesarannya


Seperti pesan yang tuan minta


Kami sampaikan kepada yang punya


Buah pauh di tepi pantai


Diambil anak yang sedang mandi


Tidak harta yang kami nilai

__ADS_1


Budi baik pengikat hati


Acara pinangan sekaligus mengantar barang hantaran itu, berlangsung hingga medekati sore. Semua yang ada di sana nampaknya sangat menikmati moment itu apalagi moment saat Ilham mengungkapkan langsung isi hatinya terhadap Yola di hadapan semua.


"Karena hantaran sudah diterima oleh ananda Yolanda Gunawan, kini ananda Tengku Ilham Nirwan ingin pula sepatah dua patah kata pada Yolanda. Mari kita dengarkan bersama-sama. Apa gerangan yang akan dikatakan oleh calon pengantin baru stok lama ini," gurau sang Paman yang disambut oleh tawa dari seluruh hadirin yang ada di sana.


Terasa lucu memang, saat sepasang sejoli yang sudah menikah lama bahkan telah menikah dan akan memiliki dua anak melakukan lagi prosesi lamaran. Hal ini semata-mata direncanakan Ilham untuk menunjukkan betapa berharganya Yola di hidupnya. Dan dia tidak ingin wanita yang penting baginya itu melewatkan satu moment pun dalam hidupnya yang didapatkan oleh wanita lain namun tidak dimiliki istrinya itu.


Perlahan Ilham bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di lingkaran para keluarga, tetamu, undangan, dan kerabat dekat Yola itu.


Paman Hatta memberikan microphone pada Ilham.


Setelag cek sound beberapa kali, Ilham mulai membuka suaranya.


"Yola sini dekat, Abang!" pinta pria itu dengan lembut di microphone.


Yola terkejut mendengar namanya di sebut malu. Seketika wajahnya menjadi merona saat orang disekitarnya bersuit-suit menggodanya.


"Cieeeee ...." goda sebagian orang yang ada di sana. Termasuk Putri sepupunya yang rese itu.


"Ihhh, apaan?" gumamnya malu-malu.


"Sana udah. Dipanggil tuh, bilangnya mau nurut sama suami," cibir Mama Ratih sekaligus meledek Yola.


"Udah buruan gih, sana!" suruh sang Mama lagi.


Meski malu Yola akhirnya berdiri dibantu oleh Mama Ratih. Sedikit merapikan baju kebayanya di bagian perut, agar perutnya tidak terlalu menonjol, wanita itu pun kemudian mendekat ke tengah arena lingkaran di mana Ilham menunggunya.


"Yola ..." panggil Ilham lembut dan penuh cinta, membuat yang mendengarnya menjadi senyum-senyum tak bisa menahan diri melihat betapa manis dan serasinya dua sejoli itu.


Seseorang datang dan memberikan Yola satu microphone lagi.


"Yola ...." panggil pria itu lagi.


"Hmmm?" sahut Yola tersipu.


Rasanya dipanggil begitu oleh Ilham di tengah banyak orang membuatnya merasa sangat malu dan tergelitik.


"Tengok abang kat sini!" katanya dengan nada merayu, membuat semua yang ada di sana semakin blingsatan mendengar kelembutan yang ditunjukkan Ilham pada Yola.

__ADS_1


Yola melihat Ilham dengan wajah semerah tomat.


"Yola ...." panggil pria itu lagi.


"Hmmm?" sahut Yola lagi.


"Kenape jawabnya macam tu? Biasanye kalau tak de orang, kalau abang panggil Yola jawabnya macam ni, 'Ape, Abang?', 'ape, Sayang'?" kata Ilham menggoda Yola hingga wanita itu semakin tersipu-sipu malu.


"Huuuuu .... malu-malu kucing, nih yeee?!!" olok Putri dari gerombolan emak-emak dapur di belakang.


Gadis itu semakin merona merah di antara sekeliling orang yang tersenyum mesem-mesem mendengar rayuan Ilham padanya.


"Apa, Abang?" jawabnya pada akhirnya walaupun lagi-lagi dia harus menahan malu.


Ilham maju dua langkah hingga kini wanita tepat berada sangat dekat di hadapannya.


"Yola, kite telah berkahwin semenjak lama. Semenjak kau masih belia, ibarat bunga yang baru berupa kuncup, belum merekah, kau telah dipetik paksa untuk jadi pengharum di keluarga Nirwan. Untuk abang dan keluarga abang yang telah merenggut masa kecilmu, maafkan abang, ya? Maafkan juge Mamah, Papah dan Atok yang telah memaksakan kehendak untuk mempersunting kau di usia belia untuk keluarga kami, Sayang. Mungkin mereka hanya takut kau akan diambil orang lain, jika menunggu kau dewase. Mungkin juge mereka lupa kalau jodoh tak akan kemana. Seperti kite yang sempat terpisah selama 7 tahun lamanya, pada akhirnya kite akan bersatu kembali di pelaminan yang sama. Kerana kite saling cinte, saling sayang satu dengan yang lain," kata Ilham dengan penuh penghayatan dan keseriusan di tiap kata-kata yang diucapkannya itu.


Para undangan dan tetamu yang sedari tadi senyum-senyum, kini mendengarkan dengan penuh hikmad dan haru atas setiap pengungkapan kalimat yang diucapkan oleh Ilham.


"Yola, mungkin abang tak dapat berbuat dan berlaku yang lebih romantis lebih dari ini, seperti yang Yola harapkan selama ini. Tetapi dengarkanlah kata-kata dari abang ni, Dik. Kau satu-satunya wanita yang benar-benar abang ingin kahwini dan ingin abang jaga selamanya, hingga raga ini suatu saat terlepas dari tubuh abang ni."


Dengan tangan kirinya yang tak memegang microphone, Ilham meraih tangan Yola dan menggenggamnya.


"Oleh kerana itu abang nak bertanya dengan sungguh-sungguh padamu, bukan kerana desakan atau perantara orang lain. Yola, kau mahu tak berkahwin dengan abang lagi? Abang meminang kau saat ni bukan untuk menjadi menantu keluarga Nirwan. Bukan pula kerana kau Mommy dari Ammar dan anak-anak abang. Tetapi abang meminang kau sebagai dirimu sendiri untuk abang miliki untuk diri abang sendiri.Abang bertanya macam ni sebagai seorang pria yang cinte dengan wanitanya. Yola, will you marrry me again?"


"Duuuuh so sweeeet-nya... jawab donk, jangan lama-lama!" desak para orang-orang yang di sana tak sabaran.


Tepuk tangan di dalam rumah keluarga Gunawan itu semakin meriah mana kala mendengar jawaban Yola terhadap lamaran Ilham pada dirinya secara pribadi itu.


"Yes, I will marry you, Abang!" jawab Yola.


Dan tak lama, tak sempat berpikir apakah itu memalukan, Yola telah berada di dalam pelukan suaminya itu.


"Thank you, Honey!" ucap Ilham di telinga sang istri.


Mungkin tak ada yang memperhatikan sepasang mata sedang mengintip prosesi pinangan itu dari balik jendela samping rumah itu.


Dia Ibunya Eva.

__ADS_1


****


Hai, hai, hai .... Manisnya segitu aja atau lanjut? Like dan koment dulu yak reader beib beib akoe ....


__ADS_2