Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Go To Penang


__ADS_3

"Jadi abang tak boleh ikut naik ke atas?" tanya Ilham begitu mereka tiba di depan apartemen Gold Century.


"Jangan, abang! Aku takut Eva tahu kalau kita tinggal bersebelahan. Dia bisa ngelapor ke Papa nanti," kata Yola cemas.


"Iyalah, iyalah. Abang balik ke rumah Atok je," kata Ilham kecewa.


"Ya sudah Yola masuk dulu, Abang. Nanti malam Yola mau packing untuk kita ke Penang besok. Tapi Ammar ikut, kan?" tanya Yola.


"Taklah. Abang rencana travelling dengan Yola dengan tujuan honeymoon. Macam mana Ammar boleh ikut? Kite akan terganggu nanti," kata Ilham.


"Abang .... Ammar anak abang. Nggak boleh merasa gitu ah sama anak sendiri. Masa anak sendiri dianggap pengganggu?" kata Yola keberatan dengan sikap Ilham


"Tak begitu maksud abang. Abang hanya ingin kite mengganti mase- mase yang telah hilang di antara kite. Selama abang berkahwin dengan Yola, abang belum pernah membawa Yola kemana pun. Belum pernah membuat Yola bahgia. Dan kite belum pernah honeymoon. Ape salahnya kite manfaatkan moment ni untuk pergi holiday bersama. Berjalan berdue sambil bergandeng tangan, melewatkan beberapa hari romantis bersama. Pasal Ammar, nanti ade pula masanya kite bertiga sekeluarga melancong bersama," kata Ilham mencoba menjelaskan untuk menghindari buruk sangka Yola.


"Ya sudah kalau begitu, Yola keluar sekarang," kata Yola sambil bersiap- siap keluar dari mobil.


"Eits ..eits... Tunggu sekejap! Masih ade yang lupa," kata Ilham.


"Apa?" tanya Yola tak mengerti.


Ilham mengetuk bibirnya beberapa kali untuk membuat Yola mengerti agar menciumnya.


"Oh, my God ...." keluh Yola melihat tingkah suaminya itu.


Tadi pun saat di parkiran hampir saja mereka mereka kebablasan melakukan hal itu di dalam mobil andai Eva tak keburu menelepon Yola untuk menanyakan berapa lama lagi dia akan pulang.


"Jom ...." desak Ilham masih menunjuk bibirnya.


Dan akhirnya mau tak mau, Yola terpaksa menarik kepala Ilham untuk mendekat padanya. Ingin segera menuntaskan tugasnya Yola pun menempelkan bibirnya lekat- lekat ke bibir Ilham.


"Emmmuuuachhhh ...."


Dan kecupan yang dalam itu dibalas Ilham dengan kecupan ringan. Dia masih ingin melanjutkan kemesraan mereka di gedung parkir tadi. Tapi Ilham sadar dia harus bisa bersabar. Toh di Penang nanti dia bisa melakukannya sebanyak yang dia mau tanpa takut terusik oleh orang lain.


"Sudah kan? Yola keluar sekarang," kata Yola.


"Eh, masih ada ...." tahan Ilham.


"Apalagi sih, Abang??" sungut Yola.


"Salim tangan abang dulu," perintah Ilham sembari menyodorkan tangannya ke Yola.


Dengan patuh Yola meraih tangan Ilham dan menempelkannya di keningnya.


"Yola pergi dulu," pamitnya.


Ilham menatap kepergian pujaan hatinya itu sampai masuk ke dalam gedung apartemen. Setelah itu barulah dia menyalakan mobil dan pergi dari sana.


Yola sendiri segera bergegas pergi agar sampai di unitnya. Di dalam lifr dia sibuk memikirkan alasan apa yang akan diberikannya pada Eva untuk dapat pergi besok. Eva pastilah akan melaporkan hal ini juga pada Papa. Dan Papa tentu saja tidak akan semudah itu membiarkannya. Yola takut Papa mengirim mata- mata dan mengetahui kalau kepergiannya ke Penang bukan untuk masalah pekerjaan melainkan untuk pergi bersama Ilham.

__ADS_1


Lama merenung, akhirnya tanpa sadar Yola sampai juga di depan flatnya. Segera dia mengambil kartu akses dalam tas dan menggeseknya.


Klakkkk


Yola memutar knop pintu dan masuk ke dalam. Di dalam sepi. Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah mencari sepupunya yang menyebalkan itu.


"Sekarang aku lagi di rumah, Pa. Yola? Yola belum pulang kerja. Iya tenang aja, Pap. Aku bisa atur semuanya. Yang penting aku di sini dulu."


Sayup- sayup suara Eva terdengar saat berbicara di telepon dengan seseorang. Apa dia sedang menelpon papanya?


Yola mengernyitkan keningnya heran. Setahu Yola, Papanya Eva yang juga merupakan adiknya Papa Abimanyu, dan juga berarti om dari Yola, memiliki persaingan yang tak biasa di antara mereka. Mereka bersaing dalam memperebutkan harta keluarga Gunawan yang jumlahnya tidak main- main. Meski pun di depan khalayak mereka selalu terlihat tampak akur, namun kenyataannya tidak demikian.


Hal itu membuat Yola jadi bertanya-tanya, apa mungkin kedatangan Eva kesini untuk merencanakan sesuatu terhadapnya? Berpikiran seperti itu, Yola semakin mendekat ke dalam kamar. Dia ingin mengetahui lebih banyak apa rencana ayah dan anak itu, kemudian melaporkannya pada Papa, dan si Eva itu disingkirkan dari sini.


"Aku akan kabari perkembangannya kalau aku sudah dapat celahnya. Papa doakan aja aku biar berhasil. Hmmm ...? Yola !!!???"


Yola terkejut begitu pun Eva. Yola tak menyangka kalau Eva tiba- tiba akan keluar dari dalam kamar. Sementara Eva sendiri tidak tahu kalau Yola berada di luar kamar karena dia sama sekali tak mendengar suara pintu dibuka.


"Yola??? Kamu ngapain di sini? Nguping?" teriak Eva.


"Heuh??? Nguping? Ini apartemenku. Aku bebas pergi ke mana pun aku mau. Lagi pula emang kamu ngomongi apa sama Om Septian? Takut banget aku nguping ...." tanya Yola penuh curiga.


Eva tersenyum sinis. "Ternyata memang benar nguping," katanya sinis.


"So what kalau memang begitu? Lagi pula aku perlu waspada sama kamu. Kamu dikirim Papa ke sini kan memang buat mata- matain aku, ya kan? Jadi aku perlu cari tahu apa yang kamu lakukan," kata Yola jengkel.


"Kalau memang nggak ada yang kamu sembunyikan, jadi kenapa harus takut diawasin?"a


***


"Kamu mau kemana?" tanya Eva heran saat melihat Yola mendorong kopernya ke luar kamar.


Dari semalam dia memang sengaja berkurung di kamar untuk packing baju yang akan dibawanya ke Penang bersama Ilham.


"Aku ada tugas keluar kota beberapa hari. Jadi kamu di rumah aja. Selama aku pergi jangan hancurin apartemenku. Saat aku kembali semua harus seperti waktu aku tinggalin," kata Yola mengingatkan.


"Tapi kenapa mendadak? Aku juga baru datang. Dan kamu nggak ngomong apa- apa sebelumnya," kata Eva kaget.


"Pertama- tama aku bilang ini sama sekali nggak mendadak. Tugas ini telah terplanning sejak lama dan yang kedua aku nggak merasa perlu ngomongin ini sama kamu, oke?!"


Eva tak kuasa lagi membantah saat Yoka menarik kopernya ke luar.


"Aku antar ke bawah," kata Eva sembari meraih koper itu dari Yola.


Di bawah telah menunggu Nadira yang memang ditugaskan Ilham menjemput Yola. Ini untuk mengelabui semua orang seolah- olah Yola dan Nadira akan berangkat bersama.


"Kite berangkat?" tanya Nadira yang dari penampilannya terlihat sangat mendukung akting mereka untuk bepergian ke tempat jauh.


Yola mengangguk dan masuk ke dalam mobil yang akan dikemudikan oleh Leon setelah memasukkan koper ke bagasi.

__ADS_1


"Aku pergi dulu!" pamit Yola pada Eva.


Sepeninggalan Yola, gadis itu kembali mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kontak yang ada disitu


"Papa, Yola udah pergi," lapornya.


***


Di bandara, Nadira melepas kepergian Yola.


"Aku hantar sampai sini sahaja, ya ..."


"Terima kasih, Nadira," jawab Yola.


"Hmmm, nikmati mase honeymoon kau dan Ilham di Penang, oke?"


Yola mengangguk-angguk sambil tersenyum.


Nadira menggenggam tangan Yola.


"Yola, kau mesti tahu. Ilham tu sangat, sangat, mencintai kamu. Terlepas dari ape pun kesalahan yang die buat padamu di mase lalu. Kerana itu jangan sia- siakan moment kebersamaan kalian ni, kembalilah mencintai satu sama lain dan aku berharap sepulang dari sana kau akan berikan kabar bahgia untu kami," kata Nadira.


Yola tertegun tak mengerti.


"Kabar bahagia apa?" tanyanya bingung.


"Pregnantlah. Aku berharap kau segera mengandung adiknya Ammar. Dengan begitu kau dan Ilham akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk bersama, oke?"


Nadira mengelus rambut Yola seolah Yola adalah adiknya. Tapi mendengar hal itu Yola bukannya senang seperti pasangan lain yang sedang honeymoon, melainkan menjadi gelisah karenanya.


Yola bukannya tidak mau, hanya saja di situasi rumit begini, apa yang akan terjadi kalau dia sampai hamil? Apalagi selama beberapa kali dia berhubungan suami istri dengan Ilham dia sama sekali tak pernah menggunakan pengaman. Itu membuatnya tiba- tiba membuatnya menjadi tidak bersemangat lagi.


Hingga Yola masuk ke dalam pesawat sendirian, dia tak berhenti memikirkan itu.


"Kau pasti sedang risau, takut abang tak datang ye?"


Tiba- tiba saja Ilham telah duduk di sebelahnya.


"Abaaang????"


"Ape macam tu ekspresi orang yang nak pergi honeymoon. Wajahmu bermuram durja, hai isteriku," goda Ilham dengan puitis. "Katakan pade abang ada persoalan apa?"


Yola menggeleng. Tidak tepat rasanya kalau dia membahas soal kehamilan yang dihindarinya di dalam pesawat yang bahkan belum terbang ini.


"Yola kira Abang nggak datang," katanya manja seraya memeluk tubuh lelaki itu.


Ilham tertawa kecil melihat tingkah manja istrinya itu.


"Eihhhh .... Mana mungkin abang tak datang. Nanti kau honeymoon dengan siape?" jawabnya yang dibalas cubitan kecil oleh Yola.

__ADS_1


***


Hai Reader!!! Jangan lupa like, koment dan voting author ya... Biar author rajin updatenya...xwd


__ADS_2