
Akad nikah Putri dan Hafiz berjalan dengan lancar. Hafiz dengan satu kali tarikan napas mengucapkan ijab qobul atas Putri dengan sangat fasih dan lancar hingga para tamu dan undangan tak henti-hentinya memuji mempelai pria yang dengan ketampanan maksimal dan tak sedikit pun merasa gugup dan canggung seperti kebanyakan mempelai pria di hari pernikahannya.
"Helleh ... orang indo ni pun nampak macam tak punya mata yang bagus ye ..." gumam Ilham uring-uringan.
"Ih, abang kenapa? Uring-uringan sendiri, ngomel-ngomel sendiri. Nggak punya mata yang bagus macam mana maksudnya tu?" tanya Yola keberatan.
"Macam tu lah. Macam si gendut tu pun dikata ganteng, handsome. Macam mana kalau handsome-nya macam abang ni?" katanya sambil mengusap rambutnya ke belakang yang ditata rapi dengan pomade.
"Ya Tuhan, abang! Abang ni cemburu sama Hafiz?" Yola geleng-geleng kepala. "Hafiz itu adiknya abang loh."
Yola tak habis pikir dengan suaminya itu. Bagaimana mungkin Ilham bisa-bisanya membanding-bandingkan dirinya dengan Hafiz? Sungguh sangat lucu!
"Pa, Eva nggak bisa datang apa?" tanya Yola pada Abimanyu yang kini bergantian dengan Ratih menimang cucu bungsunya, Ruby.
"Nggak bisa, Eva banyak kerjaan di kantor," jawab Abimanyu sambil masih terus momong Ruby.
Ruby yang kala itu menggunakan gaun pesta bayi berwarna peach dengan bahan brokat kombinasi satin, senada dengan Yola begitu menarik perhatian sang kakek.
"By, Ruby ...." panggil Abimanyu pada cucunya itu di tengah musik instrumental pesta pernikahan Hafiz dan Putri.
Baby Ruby melihat pada sang kakek yang mengatup-ngatupkan mulutnya untuk membuat bocah kecil itu menirukannya.
"Lucu ya si kecil. Bikin gemas deh," kata salah seorang tamu undangan entah dari pihak keluarga yang mana.
"Dedeeek ... mama lihat! Lucu dedeknya. Aku mau dedek yang kayak gituuuu," rengek anak dari tamu undangan itu menunjuk Ruby.
Ilham menggamit lengan Yola hingga Yola melihat ke arahnya dan mendongakkan dagunya untuk bertanya apa maksud Ilham memanggilnya.
"Kau tengok? Semua orang puja puji Ruby dengan paras cantik, comel tu. Itu mestilah kerana abang. Abang pun yang buat," bisik Ilham bangga di telinga Yola.
Yola mendelik kemudian memutar bola matanya dengan malas. Kesambet apa sih si Abang sampai pengen dapat pengakuan kayak gitu?
"Iya, iya. Yola tahu abang yang handsome, tampan lagi kacak. Terus?"
"Bolehlah kite turut serta honeymoon macam Hafiz dan Putri tu. Kite bersama-sama melancong ikut mereka macam mana? Lepas tu kite bolehlah tengok siape yang boleh buat baby paling comel tahun depan," seloroh Ilham sambil menaik-naikkan alisnya untuk menggoda Yola.
"Isss!! Abang ni!" Yola mencubit perut Ilham dengan sebal yang langsung disahuti Ilham dengan mengaduh kesakitan.
__ADS_1
"Aww!! Yola, sakit tau!"
"Makanya ngomongnya jangan sembarangan!" omel Yola. "Ruby masih kecil kayak gitu aja abang udah mau produksi lagi. Capek deeeh!"
Ratih yang ada di dekat mereka sedang memeluk-meluk Ammar dengan sayang langsung geleng-geleng kepala melihat tingkah putri semata wayang dengan menantunya itu.
"Nggak apa-apalah," celutuk Abimanyu."Papa senang punya banyak cucu."
Mata Yola dan Ratih langsung membulat sempurna. Kesambet apa papanya ini? Tumben-tumbenannya mendukung Ilham. Biasanya Yola sangat tahu Abimanyu selalu berbicara ketus setiap kali berbicara pada Ilham.
"Ih, Papa! Papa kok malah ngedukung abang sih? Disogok abang dengan apa lagi Papa sekarang?" selidik Yola dengan mata mendelik curiga pada suaminya.
"Sogok ape? Kenapa Yola tengok abang macam tu. Abang tak tahu ape pun lah," kata Ilham membela diri.
"Kalau begitu kenapa Papa minta tambah cucu lagi? Ini mah pasti abang yang mengajak papa sekongkol ini. Tidak mungkin tidak!"
"Ya Tuhan, Yola asuudzon dengan abang?"
"Iya, emang!"
"Eh, Yola, abang tu tak payah bersekutu lasal macam tu dengan siape pun. Tak payah susah kalau abang nak tambah budak kecil mase ni. Abang pun yang bu ..., emmmh!" kata-kata itu tak sempat terucap sepenuhnya karena Yola keburu membekap mulutnya.
Pun saat dia menimang-nimang Ruby, rasa bahagianya sebagai seorang kakek dia tak bisa mengungkapkannya. Sangat membahagiakan. Dan ia ingin menikmati masa tuanya seperti ini dengan para cucunya-cucunya. Banyak lebih baik.
Kita tinggalkan dahulu keluarga Gunawan itu dengan segala kekocakannya. Di pelaminan tampak Hafiz dan Putri yang dengan malu-malu duduk bersanding dengan pakaian pengantin khas palembang.
"Tadi Yola nanya, abang mau kita honeymoon kemana?Bang Ilham mau ngasih sebagai kado katanya," ujar Putri pada Hafiz.
"Putri pula nak kemana? Tak payah tunggu pemberian dari orang lah. Abang pun boleh bawa Putri kemana pun putri mahu pergi," kata pria itu.
Putri tersipu malu, membuat Hafiz menjadi gemas dan semakin ingin menggodanya.
"Putri! Lekaslah Putri cakap nak kemane. Lepas dari majlis ni pun abang pun boleh lah nak bawa Putri kemana pun yang Putri mahu," katanya.
"Putri nggak mau kemana-mana kok, Bang," jawab Putri. Dia tentu tak ingin dianggap istri banyak maunya.
"Yang betul?" Hafiz meragukan.
__ADS_1
Putri mengangguk.
"Emm ... kalau macam tu macam mana kalau lepas majlis ni kite berlayar ke pulau surgawi sahaja?" bisiknya Hafiz dengan nada menggoda di telinga Putri.
Spontan Putri langsung menarik dirinya. Sementara itu Hafiz malah tergelak melihat reaksi Putri. Sungguh dia sangat menikmati menggoda istrinya ini. Menurutnya melihat Putri yang malu-malu seperti ini terlihat lucu dan menggemaskan.
Sementara itu Putri dengan wajah merona mengumpati Hafiz dalam hati. Dia kesal melihat lelaki yang baru saja resmi jadi suaminya itu meledeknya. Dalam hatinya dia bersumpah akan memberikan Hafiz kejutan malam ini.
****
"Yola!" panggil Hafiz yang sedang menimang Ruby dan memberikan bayi itu ASIP dengan bantuan botol dot.
Suasana kediaman Putri sudah jauh lebih sepi. Hanya ada keluarga inti saja dan keluarga jauh yang masih ada di rumah itu. Begitu pun dengan keluarga Nirwan, sedari tadi mereka telah kembali ke hotel. Sementara Yola dan orang tuanya masih menginap di rumah keluarga Putri.
"Hafiz?"
"Kau tengok Putri tak?"
"Udah di kamar pengantinlah. Emang dimana lagi? Hadeeh ...."
"Oh macam tu? Aku pikir tadi Putri masih ade kat sini."
"Ya nggaklah, makannya buruan susulin sana. Cie ... cie.... yang mau MP-an." Yola tertawa terbahak-bahak yang langsung kepalanya ditoyor oleh Hafiz.
"Hafiz!!! Jangan lupa minum jamu dulu!!" teriak Yola dengan nada mengejek pada Hafiz yang kini sudah berada di anak tangga paling atas.
"Ih Yola!!!" tegur mamanya Putri. "Ngegangguin aja kamu tuh, kayak nggak pernah aja."
Yola tertawa, habis dia sama Putri lucu tante. Coba bisa dilive streaming, pengen lihat entar siapa yang menang, hahaha."
"Ih, kamu tu ya!" omel Ratih kali ini.
Sementara itu Hafiz sudah berada di depan pintu kamar pengantin. Ia sudah tak sabar ingin menggoda istri lucunya itu. Perlahan dia membuka kenop pintu. Dan ... pemandangan di sana membuatnya terpana.
"Put ... Putri?"
****
__ADS_1
wkwkwk cie... cie... yang nungguin si Putri sama Hafiz mesra-mesraan ...