Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Abang Mahu Kahwin Lagi


__ADS_3

Ilham mendorong pintu apartemennya agar terbuka setelah dia menggesek kartu aksesnya. Hari ini cukup melelahkan. Setelah pulang dari bekerja di N-one, pria beria 30 tahun itu menyempatkan diri untuk bertemu sahabatnya yang berprofesi sebagai pengacara untuk membicarakan rencana perceraiannya dengan Sonia.


Ilham hampir tak menyadari kalau ada yang lain di rumahnya saat ini. Hatinya dipenuhi kekhawatiran mengingat Yola yang tinggal satu atap dengan Hafiz. Meski di sana ada kakaknya tak berarti tak punya mereka tak punya kesempatan untuk saling dekat satu sama lain, kan? Bisa saja kakak kandungnya Hafiz itu sengaja masuk ke dalam kamar dan membiarkan Yola dan Hafiz hanya berdua- duaan satu sama lain.


Ah, tidak, tidak! Yola tak mungkin seperti itu, bantah kata hatinya.


Tapi meski dia berusaha menenangkan hati dan pikirannya sendiri, hatinya tetap tak tenang. Dengan mengabaikan rasa lelahnya lelaki itu menuju balkon.


Di balkon itu Ilham berusaha mencuri- curi dengar suara- suara dari apartemen sebelah siapa tahu ada yang mencurigakan. Tapi tak terdengar suara apa pun. Apartemennya Yola sepi.


Ilham pun akhirnya menempelkan telinganya ke dinding pembatas antara balkonnya dan balkon Yola agar bisa lebih mendengar lagi suasana di apartemen sebelah.


"Hayooo!!! Lagi mau nguping apaan?!!"


Ilham terlonjak kaget karena tiba- tiba saja Yola kini telah berada di belakangnya. Wanita itu mengagetkannya.


"Yo- Yola?!! Kau bikin ape di sini?" teriak Ilham kaget sambil mengelus dadanya.


Yola yang hanya memakai daster itu tertawa tawa melihat reaksi Ilham.


"Hahaha ... Abang, abang lucu banget ekspresinya kalau begitu. Bikin aku makin sayang, tau!" gombal Yola masih dengan tawa


Ilham menatap Yola dengan pandangan memicing.


"Lucu? Kalau abang mati kena serangan jantung macam mana?" omelnya.


Yola tersenyum usil.


"Nanti jantung Yola kita bagi dua," rayunya lagi.


Ilham berdecak tak habis pikir. Apa Yola salah makan obat?


"Kau bikin ape di sini? Macam mana kau boleh masuk?" tanya Ilham curiga.


"Aku di sini mau ngintip orang yang lagi nguping," olok Yola lagi pada suaminya.


Ilham sampe merona dibuatnya. Ketahuan kan jadinya kalau dia telah berpikir yang tidak- tidak terhadap Yola.


"Habis tu macam mana pula kau boleh masuk kat sini?" tanya Ilham. "Jangan cakap kau lewat situ!"


Ilham menunjuk dinding balkon tempat beberapa waktu lalu dia sempat menyeberang dari apartemennya ke apartemen Yola.


"Ya, nggaklah. Ngapain aku lewat situ, nanti aku jatuh ada yang menangis seumur hidup lagi karena jadi duda," goda Yola.


"Kalau macam tu darimana pula?" tanya Ilham.

__ADS_1


"Dari pintu depanlah," jawab Yola singkat.


"Kau tak punya access card-nya, kan?"


"Memanglah. Tapi aku tahu kalau suamiku sangat mencintaiku. Aku masuk pakai password. Dan siapa yang sangka tebakanku kalau tanggal pernikahan kita adalah password apartemen ini ternyata benar," jawab Yola.


Ilham manggut- manggut kemudian berjalan beberapa langkah dan memeluk Yola.


"Bahagia hati abang tengok Yola datang sendiri kat sini," kata Ilham.


Yola balas memeluk pinggang pria itu.


"Abang udah makan?" tanya Yola.


Ilham mengangguk.


"Yaaaa ...." Yola merengut kecewa. "Percuma donk aku bawa makanan ke sini," keluhnya.


"Percuma? Maksudmu kau datang kat sini bawakan abang makan, lalu abang bayar? Begitu ke?" tanya Ilham mengernyitkan keningnya seakan tak tahu apa maksud Yola.


"Iss, abang. Maksud aku tuh sia- sia. Di Indonesia itu percuma itu berarti sia- sia. Kalau percuma di sini berarti gratis alias free. Itu pun tak tahu," omel Yola.


Ilham tertawa melihat istrinya yang semakin cerewet dari waktu ke waktu. Apakah ini efek dari perubahan hormon karena Yola mengandung?


"Dahlah tu. Usah merajuk. Kau bawa makanan ape? Abang tak keberatan kalau harus makan lagi," kata Ilham berusaha menyenangkan hati istrinya itu.


Keduanya pun masuk ke dalam tanpa tahu ada seseorang yang mendengarkan kemesraan mereka dengan nelangsa di balik tembok pembatas balkon.


Hafiz bersandar di sana dan menghembuskan asap rokoknya perlahan.


Sementara itu di dalam unit Ilham, Yola menyiapkan makanan untuk Ilham layaknya istri yang baik. Dan dia sudah memutuskan untuk pindah ke unit Ilham mulai malam ini setelah dia meluruskan hubungannya kembali dalam ikatan persahabatan.


"Gimana? Enak nggak?" tanya Yola antusias.


Ilham menyesap kuah sop ayam yang baru saja dipanaskan Yola itu.


"Hmm, sedap. Tapi abang tak percaye kalau kau yang bikin. Ini mestilah Hafiz yang masak," kata Ilham.


"Kok abang tau?" tanya Yola terheran- heran.


"Mestilah abang tahu. Dia adik abang," jawab Ilham. "Dulu lagi hubungan kite baik dia memang suke memasak. Abang suke masakan dia."


"Oh ..." Yola menjadi takjub mendengarnya. Ini seperti ikatan batin yang kuat rupanya.


"Jadi macam mana? Dia dah berikan restu untuk kite boleh bersama?" tanya Ilham.

__ADS_1


Yola mengangguk.


"Tapi dia titip pesan katanya kalau abang berani kawin lagi, dia pasti akan pukul abang sampai masuk rumah sakitndan aku tidak boleh keberatan dengan itu," kata Yola.


Ilham mencibir.


"Tapi macam mana? Abang memang dah ada niat pun kawin lagi," kata Ilham dengan senyum liciknya.


Yola menatap Ilham dengan sengit.


"Jangan bercanda, ya! Perkataan itu adalah do'a. Nggak lucu tau abang becandanya kayak gitu," kata Yola merajuk.


"Tak bercanda. Abang serius pun. Seriously, very- very seriously," kata Ilham.


"Abang, nggak lucu ah. Dikira kali bercanda begitu bisa bikin aku terhibur. Nggak, ya! Itu sama sekali nggak lucu. Ahh, Yola jadi malas mau tinggal di sini. Aku tidur di sebelah aja kalau begitu," kata Yola jengkel seraya bangkit dari duduknya.


Yola benar- benar kesal dengan Ilham. Dia tahu Ilham tak serius. Kalau memang dia mau menikah lagi dengan orang lain, tak mungkin Ilham memberi tahunya dengan segamblang ini kan?


Tapi mendengar kata kawin lagi apalagi dari mulut Ilham sendiri yang menganggap itu sebagai suatu candaan, tiba- tiba membuatnya jadi sensitif dan ingat lagi kesakitannya di 7 tahun belakangan ini. Seakan kesakitannya itu dibuat candaan oleh pelaku yang membuat dia merasakan hal pedih itu.


Yola segera pergi meninggalkan ruang makan dan mengambil ponselnya di kamar Ilham dan berencana untuk balik ke apartemennya di sebelah. Dan ketika dia ingin keluar dari kamar Ilham, Ilham sudah mengejarnya dan berada di depan pintu kamar.


"Mrs. Nirwan senang sangat merajuk, ye?" ledeknya


"Abang, awas! Yola mau lewat! ku mau balik ke sebelah," kata sambil mencoba menggeser tubuh Ilham yang menghalangi jalannnya.


"Kalau abang tak mahu, macam mana?" goda Ilham semakin membuat Yola kesal.


"Iss, minggir nggaaaak ...."


Yola mendorong tubuh Ilham sekuat tenaga tapi Ilham kini malah memeluknya erat.


"Hahahaha ... Mrs. Nirwan sensitif sangat. Ape yang bikin kau marah, sayang?" tanya Ilham sambil tergelak.


Yola berusaha berontak dan melepaskan diri dari pelukan Ilham tapi gagal. Lelaki itu terlalu kuat.


"Abang! Aku tahu abang nggak serius tapi abang nggak harusnya mempermainkan perasaanku kayak begini. Abang jahat tau, nggak?" cecar Yola sambil masih berusaha lepas dari Ilham.


Ilham melepaskan pelukannya dari Yola tetapi sebelah tangannya menggenggam pergelangan tangan Yola. Lalu setelah menutup pintu kamar, Ilham pun menarik Yola ke ranjang dan mendudukkannya di sana.


"Siape cakap abang tak serius pasal berkahwin tadi. Abang sangat- sangat serius," kata Ilham.


Yola memutar bola matanya malas. Namun saat dia melihat Ilham mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, Yola membelalakkan matanya. Apakah mungkin Ilham ...


***

__ADS_1


Oooo, apakah itu yang sedang dikeluarkan si abang dari kantongnya...


Like dan komentnya jangan absen beib... Biar othor lebih semangat updatenya...


__ADS_2