Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Anakku ...


__ADS_3

Usai mengantar Ammar ke Tadika Ceria, Zubaedah pun segera melajukan mobilnya ke kantor polisi pusat Kuala Lumpur, tempat dimana Yuri dibawa setelah ditangkap kemarin sore. Gadis itu selaku tersangka pembunuhan Tengku Yahya Nirwan diboyong ke Balai Polis Central (pusat).


Selain karena korban pembunuhan adalah salah satu tokoh penting, yaitu founder N-one Geocery, perusahaan retail terbesar di Malaysia, juga dikarenakan dalam kasus itu pun saat dilakukan penggerebekan di rumah tersangka, ditemukan berbagai macam obat-obatan terlarang yang belum bisa dikonfirmasi dengan jelas apa jenisnnya. Namun polisi menduga obat-obatan itu termasuk dalam golongan berbahaya dan ilegal karena tidak ditemukan kode produksi dan merek di kemasannya dan memutuskan untuk mengirim barang bukti ke laboratorium untuk mengetahui kandungan apa saja yang ada di dalam obat-obatan dan tembakau yang mereka temukan di rumah itu.


Dan di sinilah Zubaedah saat ini. Di depan Balai Polis Central, menatap ragu apakah dia harus meneruskan langkahnya masuk ke dalam atau hendak mengurungkan niatnya. Zubaedah pun tak tahu apa yang harus dilakukannnya atau dikatakannya jika sudah melihat gadis itu nanti. Andininya, bayi kecilnya yang telah lama hilang dan kini tumbuh sebagai seorang pembunuh berdarah dingin.


Ahhh, Zubaedah kembali merasa sesak di hatinya. Andai kejahatannya hanya sampai merampok apartemen Ilham saja, dia mungkin akan berlapang dada memaafkannya. Tetapi ini membunuh! Membunuh, garis bawahi! Dia membunuh tak hanya seorang manusia. Tetapi juga Atoknya sendiri. Ya Allah! Ampuni saye! jerit hati Zubaedah.


Zubaedah rasanya sudah memutuskan untuk mengurungkan niatnya bertemu dengan Yuri. Toh meski bertemu pun dia juga tidak tahu harus mengatakan apa pada gadis itu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang Zubaedah mengutuki dirinya sendiri kenapa bisa sampai berada di tempat ini. Apa yang dipikirkannya? Apa juga yang diharapkannya? Dia tidak mungkin berharap mereka akan saling berpelukan sebagai ibu dan anak kan? Meski pun benar Yuri adalah darah dagingnya sendiri, dia tidak sudi punya anak seorang pembunuh. Lebih baik lupakan saja. Anggap saja Andini telah mati. Begitu lebih baik. Toh hidupnya sudah bahagia dan sempurna hanya dengan memiliki keluarga kecilnya saat ini. Ilham, Hafiz, Yola dan Ammar, juga bakal cucunya yang tidak akan lama lagi akan lahir di dunia.


Yola pun sudah dianggapnya sebagai pengganti anak perempuannya Andini dari semenjak lama. Dan kalau Yola masih kurang, dia masih bisa mendapatkan anak perempuan lainnya sebagai menantu yang akann dipersunting Hafiz nanti. Putri misalnya? Lalu dimana kurangnya?


Baiklah, pergi dari sini secepatnya dan lupakan semua yang telah terjadi!


Zubaedah memutar balik langkahnya dan akan kembali ke parkiran. Tetapi sepertinya jalan hidup memang tak selalu semudah yang kita kira. Di parkiran Zubaedah bertemu dengan Leon.


"Makcik!" panggil pria itu.


Zubaedah tergagap dan hendak buru-buru masuk ke mobil seolah dia tak mendengar panggilan dari Leon, namun sekali lagi sial! Lelaki itu malah berlari kecil mendatanginya setelah dia turun dari mobil.


"Makcik! Makcik kat sini nak jumpe Yuri ke?" tanya Leon begitu ia sampai di dekat Zubaedah.


Zubaedah yang sibuk mencari kunci mobil yang terlanjur dimasukkan ke dalam tas, kini mau tidak mau terpaksa harus meladeni Leon dulu, sahabat putranya yang kini juga telah menjadi ketua pengarah N-one.


"Ah, Leon. Kau ade kat sini pagi-pagi sekali, tak ke N-one ke?" Zubaedah berusaha menutupi kegugupannya.


Leon tertawa kecil.


"Makcik ni lupa ke? Hari ini masih cuti bersama lah, saye datang nak urus persoalan pasal Yuri. Makcik macam tak tahu Ilham je. Dia tu tak suke lihat saye berpangku tangan. Cuti macam ni pun saye nih masih disuruh bekerja yang lain Nasib ... nasib ..." seloroh Leon.


Zubaedah hanya mengangguk mendengar selorohan Leon. Sedikit pun dia tak tertarik membalas gurauan pria itu. Itu juga sempat membuat Leon heran. Biasanya jika dia bergurau dan memojokkan Ilham seolah Ilham menindasnya, wanita yang sudah dianggapnya ibu sendiri itu pasti akan mengikuti permainannya dengan membelanya.


"Oh, macam tu. Tengok sahaja nanti, makcik akan balaskan dia!"


atau,


"Leon, kau usah khawatir. Makcik akan terus membela kau. Bagi tahu makcik kalau dia masih degil padamu!"


Harusnya Makcik Zubaedah dalam keadaan normal akan bersikap seperti itu. Tetapi kali ini berbeda. Makcik Zubaedah kelihatannya terlihat tegang dan tidak terlalu tertarik membalas gurauannya. Ahh, tentu saja. Makcik Zubaedah ke sini pasti ingin melihat dan bertemu sendiri dengan Yuri, orang yang telah membunuh mertuanya sendiri. Tentu saja dia akan merasa kaku dan tidak rileks dengan sekitarnya, begitu pikir Leon.


"Makcik, makcik ni sihat ke? Kenape kat sini tak meminta dihantar oleh Hafiz?"tanya pria itu, terdengar khawatir.


Zubaedah menggeleng.


"Makcik tak ape," jawabnya dengan pikiran kalut.


Leon mengangguk-angguk kecil.

__ADS_1


"Makcik nak berjumpa dengan Yuri ke?" tanya Leon memberanikan diri.


Tanpa perlu bertanya harusnya Leon sudah menebak itu, kan? Tetapi instingnya mengatakan kalau Zubaedah awalnya memang ingin membesuk Yuri namun akhirnya memutuskan untuk tidak jadi menemuinya karena tak sanggup bertemu dengan pembunuh mertuanya itu. Makanya Leon merasa perlu untuk menanyakan itu terlebih dahulu.


Zubaedah tak menjawab. Sungguh dia kembali bingung sekarang. Antara dia ingin berjumpa dengan perempuan yang katanya adalah anaknya itu, atau tidak perlu menemuinya dan anggap tidak ada hal apa pun yang terjadi semalam, anggap dia tidak pernah mendengar berita itu sebelumnya. Yuri bukan anaknya. Ya bukan!


Di antara peperangan batin yang dia rasakan, Zubaedah tak sengaja melihat sepasang orang tua yang baru saja turun dari mobilnya di parkiran. Kedua orang itu nampak berdebat. Sang suami terlihat sangat kesal karena harus mengantar sang istri untuk menjenguk anak mereka yang baru saja tertangkap oleh polisi tadi malam sedang pesta narkoba di sebuah hotel.


"Anak cilaka macam tu tak payah untuk diurus, sampai bila pun dia tak akan berubah!" kata sang suami berusaha menghalang-halangi istrinya yang sudah tidak sabar untuk menjenguk anak mereka ke dalam.


"Ayah! Ini tak hanya salah Risa. Jika sedari awal kita lebih perhatikan dia, tak akan mungkin dia mencari kesenangan di luar dan berakhir macam ni kat balai polis!" balas sang istri sambil berusaha melepaskan tangannya yang dicegat oleh suaminya itu.


"Kau selalu belakan dia. Oleh kerana itu dia menjadi manja dan tak hargai kedua orang tua dia. Kau tengok? Kau tengoklah sendiri hasil dari didikan kau ni!" kecam sang suami.


"Ya! Ini salahku juge. Tetapi ayah pun salah! Kite terlalu sibuk nak uruskan usaha, sampai-sampai tak sempat uruskan anak sendiri. Kite tak perhatikan pergaulan dia macam mana. Sekarang macam mana kalau kite tak perhatikan dia pula? Risa darah daging kite sendiri. Aku tak mungkin membuang dia di mase-mase dia terpuruk macam ni. Dia anak kite, darah daging kite. Macam mana pun hidup dia, kite sebagai orang tua yang mesti bertanggung jawab. Dia bersalah masa dan akan diadili di pengadilan dunia, tapi kite yang akan diadili di pengadilan akhirat bila tak uruskan anak sendiri! Sebab kite orang tua dia. Dia anak kite bukan anak orang lain!" kata sang istri dengan nada marah yang mulai meninggi.


Zubaedah terpukau melihat pertengkaran suami dan istri itu. Ada kata-kata dari wanita itu yang masuk ke dalam hatinya.


"Makcik?" tegur Leon.


Zubaedah tidak menjawab. Dia masih larut dalam pikirannya.


"Makcik? Makcik nak balik rumah ke?" tanya Leon untuk kesekian kali hingga wanita itu menjadi tersentak dari lamunannya.


"Hum? Ke-kenape, Leon?" tanyanya tergagap.


"Oh, ah, ehmm ... Leon, makcik nak berjumpe dengan dia. Boleh kau tolong makcik supaya dapat bercakap dengan dia? Hanya sekejap sahaja," pinta Zubaedah pada Leon.


Pria itu manggut-manggut melirik Zubaedah. Di benaknya tentu Zubaedah ingin melampiaskan kemarahannya pada gadis itu. Leon dapat memahami itu.


"Baiklah, saye akan berbicara pada petugas polis dahulu supaya kite dapat berjumpa dengan Yuri," kata pria itu.


Zubaedah segera menggeleng dengan cepat.


"Bukan kite, Leon. Hanya makcik dan Yuri sahaja. Hanya berdua sahaja!" sela wanita itu.


"Hmm?" Leon terlihat kebingungan.


Dia juga ingin bertemu dengan Yuri, untuk menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan Lucas dan saham atok yang mereka dapatkan dengan cara yang tidak wajar tentunya. Tetapi sekarang makcik Zubaedah ingin membesuk Yuri sendirian. Bagaimana dengan dirinya nanti? Sementara jam kunjungan hanya diberikan satu kali saja. Itu pun hanya dibatasi untuk beberapa menit saja. Apalagi Yuri termasuk tahanan penting, saksi kunci penting dan baru masuk kemarin. Dia tentu tak bisa bertemu dengan orang yang membesuk berlama-lama.


"Biarkan makcik berjumpa dan berbicara berdua sahaja dengan dia. Boleh?"


"Tapi, Makcik ... saye pun ade yang mesti ditanyakan pada Yuri. Saye perlu berjumpa dengan dia untuk ...."


"Tolong .... lakukan itu esok sahaja, humm?" Zubaedah memegang pundak Leon seakan memberi pengertian kalau dia sangat membutuhkan berbicara dengan gadis itu berdua saja.


Leon tak kuasa menolak, hingga pada akhirnya dia pun menolong makcik Zubaedah mengatur jam kunjungan Yuri untuk mereka berbicara berdua saja.

__ADS_1


****


Yuri diantar oleh seorang petugas ke ruang besuk. Tangannya di borgol. Dia sudah menebak kalau yang datang kali ini menjenguknya pastilah salah satu dari anggota keluarga Nirwan. Tentu saja, siapa lagi?


"Wah, ada Nyonya Nirwan," sapanya dengan nada sinis.


Yuri tentu tak akan melupakan apa yang menjadi penyebab dia berada di sini. Keluarga Nirwan. Bahkan Yuri semakin membenci keluarga Nirwan karena Hafiz yang telah mempermaikannya, memanfaatkan dan akhirnya menjebloskannya ke dalam penjara walaupun sampai saat ini, kasusnya masih berada dalam tahap penyelidikan.


"Duduklah!" suruh Zubaedah sambil menatap lekat-lekat Yuri.


Mereka kini ada dalam ruang besuk dengan pembatas.


Zubaedah memandang Yuri dengan perasaan berkecamuk di dalam dadanya. Inikah bayi yang pernah dikandungnya selama sembilan bulan hingga dia lahirkan dari rahimnya sendiri? Inikah sosok bayi yang hilang itu hingga ia tumbuh menjadi sebesar ini. Ya Allah ... Mata Zubaedah kini berkaca-kaca.


Yuri duduk di hadapan Zubaedah. Menurut pemikirannya, Zubaedah saat ini pasti sedang mengingat Tengku Yahya Nirwan yang telah dibunuhnya dengan tangannya sendiri, hingga wanita tua itu menjadi sedih dan menangis karenanya. Seulas senyum sinis tersungging di bibirnya.


"Nyonya Nirwan, katakan apa yang ingin anda katakan secepatnya. Ingin memaki-maki saya? Silahkan saja! Lalukan apa yang ingin anda lakukan secepatnya. Jangan membuang waktuku!" katanya dengan raut wajah acuh.


Zubaedah menyeka air mata yang menggenang di pipinya.


"Katakan kenapa kau lakukan itu pada Atok?"


Yuri mengernyitkan keningnya. Apa dia tidak salah dengar? Intonasi yang seharusnya keras dan penuh amarah, kenapa dia mendengarnya sangat lembut? Seolah wanita ini adalah ibunya yang sedang bertanya dengan amarah namun ada kasih sayang di dalamnya.


"Maaf, Nyonya Nirwan. Bisakah anda bersikap biasa saja. Jangan memandangku seperti itu. Aku jadi takut!" katanya.


Ya, dia tidak berbohong. Dia merasa takut akan sikap Zubaedah yang seperti ini. Akan lebih baik kalau saat ini Zubaedah bersikap marah, memakinya dan menyumpah serapahinya dengan kata-kata hinaan daripada bersikap lembut dan jugamenangis yang dia tidak tahu dan mengerti apa maksudnya. Apakah ini sandiwara untuk menjebaknya lagi seperti yang dilakukan Hafiz terakhir kali? Apa nyonya besar Nirwan ini sedang ingin bermain akting agar dia mau membocorkan salah satu rahasianya dengan Lucas?


"Kau ... apakah mereka memperlakukanmu dengan baik di sini? Kau sudah makan?"


Yuri memandang Zubaedah dengan tatapan tak percaya. Sumpah demi apa, keluarga dari orang yang telah dia bunuh dengan tangannya sendiri hari ini datang ke sini dan menanyakan keadaannya seakan mereka peduli? Lagi-lagi Yuri merasa sepertinya ada yang salah dengan pendengarannya. Ini tidak normal!


Zubaedah sendiri yang berangkat dari rumah dengan penuh amarah di dada tak menyangka kalau akhirnya hatinya bisa melembut setelah bertemu dengan Yuri. Gadis yang kata pria bernama Lucas atau Mr. Y itu adalah Andini. Inikah yang dikatakan darah lebih kental daripada air?


"Nyonya Nirwan, jangan berbasa-basi padaku. Katakan apa niat anda datang padaku seperti ini? Dengar! Percuma anda datang ke sini dengan banyak strategi. Aku bersumpah, aku tidak akan membuka mulutku untuk menolong keluarga anda. Meski pun harus aku sendiri yang berakhir di penjara. Aku tidak peduli! Aku tidak akan melupakan rasa sakit hatiku dipermainkan dan dimanfaatkan oleh Hafiz hingga sampai seperti ini. Padahal aku sudah banyak membantunya untuk mengalahkan Lucas, tapi lihatlah! Dia menikamku dari belakang!" oceh Yuri.


Zubaedah tak menanggapi omelan Yuri. Dia hanya terlalu fokus memperhatikan gadis itu.


"Kemarikan tanganmu!" pinta Zubaedah sambil mengulurkan tangannya lebih dahulu pada lobang di bawah kaca pembatas.


Meja besuk ini mirip dengan kaca loket. Lobang pada pembatas dibuat untuk narapidana dan pembesuk untuk saling bersalaman jika dibutuhkan. Tentu saja sebelumnya pembesuk dan narapidana telah diperiksa terlebih dahulu untuk mengantisipasi tidak akan ada perlawanan atau kecurangan yang bisa dilakukan untuk membantu narapidana melakukan hal-hal di luar batas, misalkan menyelundupkan benda-benda ke luar masuk tempat itu.


Yuri tercengang melihat sikap Zubaedah yang tak biasa itu. Namun entah bagaimana Yuri secara spontanitas mengulurkan tangannya menyambut tangan Zubaedah. Segera tangan itu ditangkap oleh Zubaedah, membuat Yuri menjadi kaget. Dan rupanya keterkejutannya belum ada apa-apanya sama sekali. Dia lebih terkejut lagi saat melihat Zubaedah menangis sesenggukan dan menggenggam tangannya erat melalui lubang pembatas.


"Anakku ...."


****

__ADS_1


Hai reader like-like dan komentarnya donk. Terima kasih karena masih setia baca ya ...


__ADS_2