Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Pak Aya dan Bu Aya


__ADS_3

"Kamu melihat dia di rumah ini?" tanya Yola sekali lagi.


Sonia mengangguk.


Kali ini, Ilham yang tadinya memilih mojok karena tidak sabar denga Sonia, memilih untuk mendekat lagi. Ini sangat menarik baginya karena berkenaan dengan Atok.


"Apakah saat kebakaran?" tanya Yola lagi dengan lembut, seakan dia sedang menanyai seorang balita.


Sonia menggeleng lemah, membuat Yola menghela napas. Tadinya Yola berpikir mungkin saja Sonia melihat Yuri ada saat kebakaran. Tetapi katanya bukan? Lalu kapan?


Rasanya Yola merasa janggal dengan hal ini. Seingat Yola baru dua kali Yuri datang ke rumah ini. Yang pertama kali saat mereka sedang mencari makan bersama Hafiz, Ilham, Yuri dan dirinya dan tak sengaja bertemu rombongan Mamah Zubaedah dan teman-temannya. Ketika itu mereka mendapat kabar kalau rumah Atok Yahya kebakaran, hingga mereka memutuskan untuk kembali dan Yuri ikut waktu itu. Waktu itu harusnya Yuri juga telah pernah melihat Sonia, kan? Dan kenapa dia berpura-pura belum pernah melihat Sonia sebelumnya? Sonia wajar jika merasa belum pernah melihat Yuri sebelumnya karena pada waktu itu pun dia sedang tidak sadarkan diri akibat terlalu banyak menghirup asap saat kebakaran. Tetapi Yuri?


"Kalau macam tu bila kau tengok dia ade kat sini?" Kali ini Ilham yang bertanya dengan penuh harap pada Sonia.


Rasanya sudah lama sekali Sonia tak melihat ekspresi wajah seperti itu dari Ilham. Andai Ilham memasang wajah memohon seperti itu untuk mengharapkan cintanya, hfffft ... andai ...


"Sonia, tolong jawab aku, kau jangan takut!" Ilham berkata dengan sungguh-sungguh pada Sonia. "Ape kau berjumpa dia kat rumah ni di hari majlis perkahwinan aku dan Yola? Apekah ketika ... atok ..."


Rasanya Ilham tak sampai hati melanjutkan pertanyaannya.


"Saat atok ... meninggal?"


Yola terkejut mendengar pertanyaan Ilham. Tadi dia hanya asal menebak tentang pertemuan Sonia dan Yuri yang mungkin terjadi di rumah ini. Tetapi tak disangka tebakannya benar. Dan kini tebakan Ilham lebih sangat-sangat jauh dari apa yang mungkin berada di pikirannya.


Sonia terlihat gelisah walaupun pada akhirnya dia mengangguk.


"Sonia, kau tak bergurau, kan? Kau tak berdusta, kan? Betul ke yang kau cakap tu? Kau tengok dia ade kat mana rumah ni? Ape kau tengok dia lakukan sesuatu pada Atok?" Ilham dengan tak sabar menghujani Sonia dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Sonia kini bingung. Dia tak tahu bagaimana harus menjawab satu-satu pertanyaan itu.


"Abang, pelan-pelan tanyanya. Kakak Sonia bingung kalau abang tanyanya sekali banyak kayak begitu," tegur Yola.


Ilham kembali menghela napas berat. Benar juga apa kata Yola, Sonia bukan hanya bingung menjawab kata-katanya nanti. Mungkin bisa-bisa dia akan tertekan kalau Ilham menginterogasinya seperti itu.


"Baiklah, kalau macam tu aku nak tanya. Kau tengok dia melakukan sesuatu pada Atok? Maksudku, kau tengok dia tutupkan bantal ke muka Atok?" tanya Ilham dengan getir, membayangkan saat-saat sang Atok meregang nyawa, kekurangan oksigen. Pasti sangat menyakitkan saat atok yang disayanginya itu menghadapi sakaratul mautnya.


Sonia menggeleng lemah. Dia sungguh tak tahu apa-apa. Dia hanya melihat Yuri mencoba masuk melalui jendela kamarnya ketika itu. Soal prasangka kalau gadis itu yang membunuh atok Yahya, sekali pun saat ini dia bisa bicara normal dan mengatakan pada Ilham kalau dia melihat Yuri pada hari itu, apakah pernyataannya itu bisa membantu mewujudkan terungkapnya misteri Atok Yahya?


Ilham agak sedikit kecewa dengan jawaban Sonia. Tadinya dia berharap akan dapat info penting yang bisa membuatnya menjebloskan wanita itu secepatnya ke penjara. Tetapi mengetahui jawaban Sonia juga masuk akal. Bagaimana mungkin gadis itu bisa melihat apa yang terjadi dalam kamar Atok sekali pun dia melihat ada Yuri di sana? Kecuali jika pembunuh Atok sengaja membawa Sonia untuk melihatnya sendiri. Tetapi itu tidak mungkin kan?


"Lepas tu kau tengok dia ade kat mananya rumah?" tanya Ilham.


Sonia menatap ke arah jendela dan mengangkat telunjuknya yang gemetar ke arah jendela.


"Jen ... de ... la ...."


"Jendela?" Ilham mengulangi perkataan Sonia untuk meyakinkan.

__ADS_1


Sonia mengangguk.


Ilham mengerutkan keningnya dengan heran. Jendela? Sonia melihat Yuri di jendela? Jendela mana maksudnya? Jendela kamar Sonia atau jendela kamar Atok?


Ilham dengan inisiatifnya kini bangkit dan berjalan menuju jendela. Dia membuka jendela kamar Sonia dan melihat ke luar ruangan. Nampak taman samping rumah tempat mereka memanggang ayam tadi. Tak ada yang aneh harusnya. Kamar Atok Yahya ada disisi samping rumah sebelah timur rumah ini. Sementara Sonia, ada di samping rumah sebelah barat.


Tak menemukan ide atau jawaban apa pun di sana, Ilham pun kembali menutup jendela itu agar tidak banyak nyamuk yang masuk ke kamar ini. Nampaknya dia harus berdiskusi lagi dengan Hafiz Soal ini.


Ilham merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya dari sana. Setelah mencari kontak Hafiz di ponselnya, lelaki itu pun segera mendial pria itu.


"Hafiz! Kau ade kat mana?" tanya Ilham tak sabar begitu panggilan telepon itu terhubung.


"Aku sedang bawa pusing-pusing Putri, kenape?" jawaban ketus dari Hafiz terdengar di seberang sana.


Tentu saja dia merasa terganggu acara quality time-nya dengan Putri terganggu oleh Ilham. Sungguh abang yang tidak pengertian.


"Oh, macam tu? Baiklah! Jangan lama-lama, Ndut! Kalau kau dah selesai langsung balik. Abang ade yang nak dirundingkan dengan kau!" tukas Ilham.


"Ape?" tanya Hafiz penasaran.


"Nanti sahaja kalau kau dah balik," jawab Ilham lagi.


"Baiklah kalau macam tu." kata Hafiz. "Yuri dah balik?"


Pertanyaan Hafiz tentang Yuri itu pun sempat didengar oleh Putri dan membuat batin gadis itu langsung mencelos.


"Dah pun sedari tadi. Justru yang abang mahu rundingkan ade kaitannya dengan Yurilah," kata Ilham.


"Kau balik dulu, baru abang bagi tahu," kata Ilham.


Panggilan telepon itu berakhir setelah Hafiz berjanji akan segera pulang setelah acara pedekate-nya malam ini dengan Putri selesai di babak pertama.


"Baiklah, kite balik kat bilik dahulu, biarkan Sonia rehat dulu," ajak Ilham pada Yola.


Yola menatap Sonia dengan kasihan. Wanita itu memang agak lelah dengan yang terjadi malam ini.


"Baiklah, kami balik dulu ke kamar, Kakak Sonia! Nanti aku suruh ART untuk temani kakak di sini, Oke?" pamit Yola seraya mengikuti Ilham keluar dari kamar Sonia.


Usai menitipkan Sonia pada ART dan memberikan wejangan pada mereka agar lebih memperhatikan Sonia, Yola pun segera menyusul Ilham yang telah lebih dahulu kembali ke kamar.


Tapi saat dia membuka pintu kamar, pria itu telah menunggunya di atas ranjang. Lelaki itu sedang berbaring sambil menonton televisi dengan bertelanjang dada dan hanya memakai boxer.


"Abang ngapain?" tanya Yola dengan mata memicing curiga pada Ilham.


"Pak Aya tengah tunggu Bu Aya datanglah," jawab Ilham sambil mengedipkan matanya, nakal.


"Cih, apaan?" Yola langsung bergidik melihat tingkah Ilham.

__ADS_1


"Kenape, Sayang? Yola takut dengan buaya darat ke?" Ilham menaik-naikkan alisnya genit.


Yola mengingat-ingat kembali apa yang salah dengan Ilham dan upps!!! Yola menutup mulutnya, dia ingat ...


"Abang, hehehe ... jangan marah soal yang tadi ya... aku cuma mau bujuk Sonia aja kok," Yola cengengesan sambil memasang wajah imut menggemaskan.


"Tak de alasan. Kau dah cakap kalau abang ni buaya darat, jadi abang ni mesti tunjukkanlah kejan*anan abang sebagai buaya darat sejati."


Ilham kini berdiri dan bangkit dari ranjang, hendak menghampiri Yola.


"Eh, nggak usah, nggak perlu, tak payah. Aku tau kok kalau abang memang buay ...eh, maksudku pejantan tangguh, tapi abang, aku kayaknya capek deh malam ini." Yola mengusap tengkuknya, merasa bulu kuduknya merinding.


"Kenape? Kan abang yang bekerja? Bukan Yola lah," goda Ilham.


Kini langkahnya semakin mendekat pada Yola, membuat wanita itu mundur dan semakin terpojok ke dinding. Hingga akhirnya dia tak bisa lagi bergerak di ujung dinding.


"Abaaang ..." rengek Yola.


Telah cukup lama keduanya tak melakukan hubungan pasutri. Seminggu? Dua minggu? Entahlah Yola lupa. Sejak dia merajuk pada Mama Ratih mungkin, juga Ilham kena getahnya. Dan dia tahu kali ini pun Ilham pasti ingin menuntut haknya. Tidak masalah sebenarnya. Tetapi kondisinya yang sedang hamil dan memasuki trisemester ketiga dan stamina Ilham yang tak ada habisnya itu membuat dia merinding sendiri.


"Kenape?" Ilham mengelus-elus pipi Yola lembut sebelum melabuhkan ciumannya pada wanita itu, istrinya.


Yola yang semakin terpojok hanya bisa pasrah dan menerima perlakuan Ilham padanya.


"Hey, rileks!" Ilham menyentil kening Yola dengan lembut.


"Takuut ..."


"Amboi, amboi, macam anak gadis sahaja," ledek Ilham.


Yola memukul dada Ilham pelan.


"Bukan begitu, abang suka nggak kira-kira soalnya!"


"Abang akan perlakukan Yola lembut," bujuk Ilham.


"Tunggu, tunggu, kayaknya aku familiar sama kata-kata itu. Katanya sih bakal lembut, ujung-ujungnya? Ahhh sudahlah ..." cibir Yola mengingatkan Ilham akan malam pertama mereka.


Ilham tertawa sebelum kemudian menggendong sang bumil ke ranjang.


"Ya Tuhan, berat sangat!" oloknya.


"Nggak usah digendong makanya. Aku bisa jalan sendiri!"


"Tak romantis, Sayang ..."


"Is ... abang! Yang kuat donk gendongnya, kalau aku jatuh sampai kenapa-kenapa gimana?" jerit Yola.

__ADS_1


***


Dan selanjutnya biarkan saja pasangan gokil itu dengan aktivitasnya. Reader yang jomblo gigit jari aja dulu. Wkwkwk... lama nggak bikin part mesra-mesraannya Yola sama Ilham. Jangan lupa like dan komentnya beib...


__ADS_2