
"Abang buat ape kat sini?" tanya Hafuz.
Haiss, orang tua ni ganggu sahaja, batin Hafiz. Kini dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Buat ape? Buat menyaksikan pernyataan cin ..."
Hafiz buru-buru membungkam mulut sang abang sebelum pria berusia 31 tahun itu mengatakan hal-hal lain yang mungkin bisa membuatnya malu di depan Putri. Tertangkap basah saja sedang mengungkapkan cinta saja sudah memalukan, apalagi ditambah ledekan dari Ilham? Mau ditaruh dimana wajahnya?
"Putri masuk saja dahulu, hmm? Pintunya mesti terbuka," kata Hafiz lagi.
Putri mengangguk canggung. Saat ini dia juga merasa malu pada Ilham. Haisss, mana tadi Hafiz sampai mencium keningnya lagi. Untung tidak di bibir seperti di hotel tadi. Bisa-bisa dia tak bisa mengangkat kepalanya lagi kalau sampai itu terjadi.
"Baiklah. Bang, Putri ke dalam dulu ya!" pamit Putri pada Ilham dan tanpa menunggu jawaban dari pria itu, Putri cepat-cepat memegang gagang pintu dan menekannya.
Betul saja, pintu itu tidak terkunci sedari tadi. Haiiss, kalau tahu begitu dari tadi dia langsung masuk saja, sehingga hal seperti ini tidak perlu terjadi.
Ah, tidak, tidak! Dia tentu saja menginginkan ini terjadi. Entah pernyataan cinta Hafiz tadi benar atau tidak, tetapi yang jelas Putri merasa berbunga-bunga saat ini.
Hafiz melepaskan bekapan tangannya dari mulut Ilham, setelah Putri dipastikannya sudah pergi dan tak akan mendengarkan dia dan Ilham lagi berbicara.
"Abang niiii!!!" gerutu Hafiz dengan gemas pada Ilham yang sedang tertawa-tawa mengolokinya.
"I love you, Putri. I love you. Hahahaha ..." gelaknya.
Hafiz menggeram sebelum kemudian menghempaskan b*kongnya duduk di kursi teras rumah keluarga itu.
"Haah! Tertawakan sahaja adik kau ni! Bukan mendukung malah nak buat kacau sahaja," omel Hafiz.
"Hahaha, maaf, maaf. Kau dan Putri tu terlihat lucu dan comel abang tengok, tak tahan rasa hati abang untuk tidak mengganggu. Hahaha!" gelak Ilham.
"Ck ..." Hafiz berdecak sebal. "Kau ni macam tak pernah muda sahaja lah, Bang! Dah pun kite susah payah, memberanikan diri nak katakan rasa dihati, diganggu pula.Ckckck, tak patut, tak patut. Abang macam ape suke lihat adik sendiri susah, cih!" gerutunya lagi.
"Siape suruh kau lama balik? Dah pun berani bawa anak gadis orang pergi, lama pula balik. Untung sahaja Yola dah tidur, kalau dia tahu kau bawa Putri balik jam seperti ni, kau akan dapat ceramah hingga esok pagi," kata Ilham lagi.
__ADS_1
"Yola dah tidur?" tanya Hafiz, tanpa bermaksud menunjukkan perhatian sebagai seorang pria.
"Dah. Dia agak rasa penat, oleh kerana itu dia tidur lebih awal," jawab Ilham sekedarnya.
Yang sebenarnya adalah Ilham sendiri yang membuat Yola merasa kelelahan akibat pertempuran panas mereka yang membuat Yola seketika tumbang dan tak bisa menahan kantuknya untuk berlayar ke pulau mimpi segera. Pertempuran panas? You know what I mean. hahaha..
"Jadi, kau bawa Putri kemana?" tanya Ilham.
"Royale ..." jawab Hafiz singkat.
"Hotel?!" pekik Ilham terkejut.
"Haisss, tak payah pasang muka macam tu lah, aku hanya bawa Putri dinner sahaja kat Sky Resto," jawab Hafiz sebelum Ilham menuduhnya macam-macam.
"Dengan pakaian macam tu?" Ilham kelihatannya kurang percaya, mengingat Hafiz dan Putri hanya memakai baju rumahan.
"He um, memangnya kenape? Aku bayar pakai wang lah, siape-siape keberatan?" katanya dengan nada sok sombong, padahal aslinya rendah hati, oh bang Hafiz ...
"Baiklah, kau ingin cakap ape tadi waktu ditalipon?" tanya Hafiz bersiap mendengarkan.
"Tunggu sekejap! Sebelumnya aku juga nak bagi tahu abang, kalau aku bertemu Tuan Imran kat Royale. Dia agaknya sengaja nak hindarkan aku, Bang!"
"Imran?"
"He em, notary-nya Atok," kata Hafiz membenarkan.
"Betul ke? Abang kira dia sedang study profesi kat ..."
"Aku pun berpikir macam tu, sebelum tengok dengan mata kepala sendiri dia tengah berada kat Royale, bersama seorang wanita. Isteri dia ade kan? Masih hidup kan?" tanya Hafiz pada Ilham.
"Husss! Masihlah, isteri dia ade masih muda pun," jawab Ilham.
"He um, aku tahu. Aku pernah berjumpa sekali dengan isteri dia lagi dulu dia sering ke Gym," kata Hafiz mengingat-ingat. "Haiss, kalau macam tu wanita tu mestilah wanita panggilan. Haiss, orang tua tu, tak tahu umur, tak tahu usia."
__ADS_1
"Habis tu kau tak cuba ajak dia bicara ke?" tanya Ilham, lebih tertarik pada kelanjutan saham Atok yang dipindah tangan terhadap Lucas.
"Dah ku cuba kejar, aku ajak berunding, dia tak nak, dia cakap berbicara di lain masa sahaja, haiis sungguh membuat pening!" keluh Hafiz. "Tetapi aku dah ada rancangan untuk ikuti dia. Kerana itu lepas ni aku nak balik kat royale. Aku nak bermalam kat sana dalam beberapa hari."
"Macam mana kalau dia dah balik?"
"Usaha dahulu, hasil boleh dilihat nanti. Yang penting kite mesti berbicara dahulu dengan dia," kata Hafiz meski dia sendiri tidak yakin dengan rencananya.
Ilham manggut-manggut. Banyak yang dia pikirkan saat ini. Termasuk kemungkinan kalau sang notaris kemungkinan juga punya andil dalam usaha licik Lucas untuk mengalihkan saham Atok Yahya pada dirinya. Lalu, apakah mungkin dia juga telah disuap oleh Lucas?
Ilham mengusap wajahnya kasar membayangkan kemungkinan itu.
"Ape yang mesti kite perbuat selanjutnya?" tanya Hafiz melihat kegalauan di wajah sang abang.
Ilham menghela napasnya dalam-dalam.
"Kite mesti selidiki Imran juga, pasti. Tetapi selain itu Hafiz, abang juga nak bagi tahu kau sesuatu. Tadi selepas korang berdua pergi, kite nak lanjut makan bersama kat dapur, bersama Yuri, abang dan Sonia. Yola yang ajak dia. Tetapi entah macam mana Yola tu, bertanya pada Sonia, ape dia mengenal Yuri sebelumnya. Yola juge memperkenalkan Yuri sebagai anak angkat Lucas. Dan kau tahu ape reaksi Sonia?" tanya Ilham pada Hafiz.
Hafiz menggeleng pelan, meski dia bisa mengerti maksud dari Yola menanyakan hal itu pada Sonia. Sonia dan Yuri sama-sama terhubung dengan Lucas sebagai orang yang sama-sama bisa diperintah pria itu.
"Dia menjerit-menjerit, berteriak macam orang ketakutan padahal sebelum Yola membagi tahu pada Sonia bahwasanya Yuri adalah anak Mr. Y, Sonia nampak terlihat biase meski sebelumnya dia sempat berucap sesuatu yang kami tak paham," kata Ilham memaparkan.
"Ape? Dia cakap ape?" tanya Hafiz penasaran.
"Jen-de-la. Dia cakap jendela begitu dia berjumpa Yuri pertama kali, lalu setelah dia histeris, menangis menjerit dan tak nak tenang, Yola menyuruh Yuri balik diantar driver. Hebatnya Yola dia berhasil mengajak Sonia bercakap tentang banyak hal seperti di mana Sonia berjumla Yuri? Ape Yuri pernah sakiti dia, hingga pada akhirnya, Sonia dengan isyarat memberi tahu kalau pertama kali dia berjumpa dengan Yuri di jendela bilik dia. Kau tahu, bila hal itu terjadi?" tanya Ilham lagi.
Hafiz menggeleng. Yuri ada di jendela kamar Sonia? Untuk apa?
"Itu hari ketika Atok meninggal, Hafiz! Yuri ade kat rumah ini. Di jendela Sonia!" Ilham memperjelas kata-katanya.
Hafiz mulai mencerna perkataan Ilham satu persatu. Hari kematian Atok ... Jendela ... Dia mengulang kata-kata berkali-kali di pikirannya. Hingga dia teringat saat Yuri keceplosan tak sengaja mengatakan tentang kata-kata terakhir Atok yang menyebutkan Montha Somnang masih ada di kapal. Bukankah saat itu tak ada orang di kamar Atok? Harusnya hanya mereka berdua. Kecuali saat itu ada Yuri di sana.
Di jendela!
__ADS_1
***
Hai, hai, hai... Othor hadir update ke dua hari ini. Jangan lupa like dan koment ya...