
"Bang Ilham?" tanya Putri begitu panggilan telepon itu mati.
"He em," jawab Hafiz.
"Kenapa? Ada urusan penting ya?" tebak Putri.
"Abang cuma suruh kite segera balik kalau kite dah selesai," jawab Hafiz lagi.
"Ya udah, kita pulang sekarang aja. Lagi pula selesai ngapain? Kita juga dari tadi cuma disini doank, nggak ngapa-ngapain kan?" tukas Putri cemberut.
Sedari tadi, Hafiz memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Sementara Hafiz hanya sibuk membalas pesan chat dari ponselnya. Entah dari siapa. Dalam hatinya Putri dia yakin orang yang berbalas chat dengan Hafiz sedari tadi pastilah Yuri.
"Udahan donk chatnya. Kita pulang aja! Ngapain juga kita berhenti di pinggir jalan begini, kalau kamunya cuma main HP terus dari tadi. Di rumah aja kan enak main HP, sambil rebahan bisa, sambil nonton bisa. Ini apaan berhenti di sini? Nggak jelas!" omel Putri.
"Sabar, Sayang!" jawab Hafiz sambil senyum-senyum.
"Idiiih apaan! Sayang, sayang!"
Putri melotot mendengar Hafiz memanggilnya begitu, membuat Hafiz tertawa terbahak-bahak. Hafiz tidak menyangka kalau Putri yang dikiranya kalem itu bisa galak juga ternyata.
"Dibilangin makin ketawa," sungut Putri.
"Baiklah, baiklah! Jom kite pergi sekarang! Let's goooo!!" Hafiz memutar kembali kunci mobil untuk menyalakan mesin mobil.
"Pergi kemana? Pulang?" tanya Yuri lega setelah mobil itu kembali berjalan.
"Kau tengok sahaja nanti," jawab Hafiz misterius.
Lalu mobil kembali melaju di jalanan ibu kota Malaysia itu. Putri menatap sekitarnya. Sepertinya itu bukan jalanan yang sama dengan jalan yang mereka lewati tadi.
"Kita mau kemana sih?" tanyanya mulai cemas.
Hafiz tak menjawab. Dia fokus menyetir hingga dalam beberapa menit kemudian, sampailah mereka di depan sebuah gedung tinggi bertuliskan "ROYALE INTERNATIONAL HOTEL". Mata Putri langsung membelalak melihatnya.
Hotel??
Deg!
Kini Putri memandang takut pada Hafiz dan meringkuk di kursi tempat dia duduk.
"Kenape kau tengok aku macam tu?" tanya Hafiz.
"Ki-kita mau ngapain di sini?" tanya Putri terbata.
Hafiz berpikir sejenak, apa yang salah dengan gadis itu. Kenapa Putri kelihatannya sangat gelisah.
"Kau kenape?" tanyanya lagi.
Putri hanya menatapnya dengan pandangan menuduh. Dan Hafiz akhirnya mengetahui alasan kenapa Putri melihatnya dengan tatapan seperti itu.
"Ahhh, kau mesti takut aku melakukan sesuatu, hmmm?" godanya. "Tak payah takut. Aku tak kan berani melakukan hal macam tu. Yang ade Yola akan bunuh aku kalau berani berbuat macam tu pada sepupunya," katanya dengan tergelak.
"Jomlah keluar!" ajak Hafiz.
"Tapi ..."
Hafiz tak menghiraukan keraguan Putri. Dia langsung keluar mengitari mobil dan membantu membukakan pintu di sisi tempat duduk Yuri.
__ADS_1
Putri pun mau tak mau terpaksa keluar. Apalagi dengan lagak Hafiz yang sudah bersusah-susah membukakan pintu untuknya bak seorang gentleman sejati.
"Mari ikut, Tuan Puteri!" kata Hafiz mempersilahkan. Dia membuka lengannya agar Putri menggandeng tangannya.
"Nggak ahh, apaan?" tolak Putri ngotot.
Dia memandang gedung hotel berbintang 5 itu.
"Dah pun abang kate, abang tak kan betbuat macam-macam," kata Hafiz meyakinkan.
"Habis kita mau ngapain disini?" tanya Putri lagi.
"Makan," jawab Hafiz singkat.
Putri mendelik tak percaya.
"Makan? Beneran makan? Hanya itu? Masa?"
Hafiz mengangguk yakin.
Putri menatap Hafiz dengan pandangan mata memicing.
"Kok aku nggak percaya ya?"
"Hahaha ... sungguh! Abang nih tak berani berdusta," jawab Hafiz. "Percaya dengan abang. Abang nak ajak Putri makan malam kat hotel paling bagus kat sini. Menikmati indahnya panorama malam kat sini. Putri mesti suke."
"Ihhh, apaan? Makan kan bisa di rumah aja. Katanya tadi lagi bakar-bakar ayam di rumah. Kenapa kita nggak makan di rumah aja tadi?" gerutu Putri.
"Di rumah tak romantis. Abang kan ade niat terselubung," jawab Hafiz dengan senyum menawannya.
"Apa?" tantang Putri.
Bugggh!!
Sebuah tinjuan Putri melayang ke dadanya. Tak sakit, hanya membuat Hafiz menjadi lebih gemas lagi pada target pedekatenya.
"Niat terselubung tu nggak usah dibilang-bilang kali. Lagi pula tau-taunya aja pedekate. Emang di Malay ada istilah PDKT juga?" omel Putri dengan wajah merona merah.
Bagaimana ya mengungkapkannya. Dia merasa sangat senang saat ini. Tapi maluuu ...
"Putri pun tadi yang bertanya," jawab Hafiz ngeles.
"Ya nggak usah dijawab," balas Putri dengan nada sok-sok ketus. Padahal hatinya bertabur bunga-bunga.
"Kalau macam tu Putri tak percaya dan akan salah paham terus dengan abang. Abang ni tak ade hubungan spesial dengan Yuri. Nanti abang jelaskan. Sekarang mahu makan tak? Abang lapar ni," tanya Hafiz.
"Benar cuma makan?"
"Iya."
"Hmmm ...."
Putri berpikir sejenak. Dia baru sadar kalau saat ini dia hanya menggunakan piyama dan juga sandal jepit. Sementara tempat mereka akan dinner adalah hotel berbintang lima.
"Kenape?"
"Kita pulang dulu ke rumah. Ganti baju."
__ADS_1
Hafiz tertawa.
"Tak payah. Abang pun hanya berpakaian macam ni je," jawab Hafiz sambil menunjuk pada dirinya sendiri yang hanya memakai kaos oblong, celana pendek dan juga sandal jepit.
"Sekali-sekali kita anti mainstream macam ni, makan di hotel mewah tak ape, kan?" katanya dengan tawa kecil.
"Nanti kita diusir, dikira gembel gimana?"
"Hahaha, tak akan ade yang berani berbuat macam tu. Jomlah kite masuk. Nanti terlalu malam pula. Kau pasti tak nak kite sekalian bermalam kat sini, kan?" goda Hafiz lagi.
Bughhh!!
Tinjuan kecil melayang lagi di dada Hafiz.
"Sembarangan!" omel Putri dan wajahnya semakin semerah tomat.
Itu membuat Hafiz semakin tergelak.
"Padahal seronok bermalam kat sini kata kawan abang. Tapi tak ape, kelak sahaja kite datang kat sini lagi untuk bermalam dengan paket honeymoon," goda Hafiz lagi.
"Idiiih siapa yang ..." Jangan tanya semerah apa lagi wajah Putri mendengarnya.
Dan sekarang bukan pukulan kecil lagi yang diterima oleh Hafiz dari Putri, melainkan pukulan bertubi-tubi.
"Ampun, ampun!" Sambil berjalan masuk Hafiz berusaha menghindari pukulan Putri.
Saat melewati staf hotel yang berjaga di luar, Hafiz menyempatkan memberikan kunci mobil pada staf itu agar diparkir di tempat yanh disediakan.
"Makanya bercandanya jangan kelewatan," kata Putri judes.
"Abang tak bergurau," jawab Hafiz.
"Tuh kan masih ngeyel. Tak lapor sama Yola ni. Kamu bercandanya jorok ihhh, Hafiiizz!" tuding Putri.
Keduanya kini masuk ke dalam lobby hotel, dan Hafiz segera ke resepsionis untuk menyelesaikan pembayaran reservasi meja di Sky Restaurant dan Cafe yang berada di lantai paling atas hotel ini.
Penampilan Putri yang hanya memakai baju tidur sempat menarik mata semua pengunjung di lobby, membuat Putri merasa risih karenanya. Tetapi Hafiz sebaliknya. Dia malah menggenggam tangan Putri makin erat. Seakan Putri sudah resmi menjadi kekasihnya.
Tak lama urusan mereka selesai dan kini mereka masuk ke dalam lift untuk bisa ke lantai atas. Lift itu kebetulan hanya ditempati mereka berdua.
"Pasal tadi, abang tak bergurau lah," tutur Hafiz membuka kembali percakapan di antara mereka.
"Apa?" Putri tak mengerti.
"Pasal honeymoon ..."
"Kan mulai lagi. Tak pukul ni ...."
Putri akan memukul lagi, tetapi Hafiz buru-buru menangkap tangannya.
"Putri, dengar! Abang serius. Lepas problem di N-one selesai, abang mahu meminang Putri secara resmi ke rumah Putri kat Indo. Mahu tak?"
Putri melongo tak percaya.
Oh My .....
****
__ADS_1
Hai, hai reader. Beberapa part ke depan kita othor bikin part yang sweet sweet dulu ya... sebelum lanjut ketegangan penyelasaian konflik dengan Lucas. Jangan bosan ya ... Tetap dukung author dengan like dan komentnya.... ya ya ya? Iya donk ...