
Oh My God!
Demi apa Putri harus mendengar hal seindah ini malam ini? Di lift?
Sekarang apa yang harus dilakukannya? Bagaimana seharusnya dia bersikap? Ya Tuhaaan, sudah ah! Pura-pura nggak dengar aja, batin Putri.
Kemudian detik berikutnya, Hafiz masih menunggu jawaban dari Putri. Putri sendiri hanya bisa berharap di lantai berikutnya akan ada orang lain yang masuk ke dalam lift untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka.
"Put ...." panggil Hafiz karena kini Putri malah membelakanginya.
Putri sedikit lega karena lift berhenti di lantai berikutnya dan ada tiga orang staf hotel yang masuk ke dalam. Pikirnya dengan adanya orang lain disitu, setidaknya Hafiz tidak akan mendesaknya untuk menjawab sekarang. Meskipun sekitar 80% hatinya pasti akan memberi jawaban iya. Tapi dia harus sedikit jual mahal, ya kaaan? Setidaknya dia tidak akan membuatnya semudah itu, karena lelaki memang harus berjuang dulu untuk mendapatkan cinta dari seorang wanita. Terlebih-lebih masih ada wanita itu, Yuri, yang Putri bahkan belum tahu bagaimana sebenarnya hubungan Hafiz dengannya.
"Putriii ..." panggil Hafiz lagi dengan nada lembut merayu
"Ih, apaan? Jangan panggil-panggil ahh," sahut Putri. "Berisik!"
Ketiga staf hotel wanita yang masuk tadi tersenyum-senyum memandang keduanya.
"Jangan macam tu, Honey. Abang ni tak ade niat buat Putri marah-marah lah," kata Hafiz. "Eh, maaf kakak-kakak! Saye sedang bujuk isteri saye yang tengah merajuk. Boleh bagi tahu macam mana cara membujuk wanita ke? Pasalnya isteri saye ni anggap saye tak romantis."
Perkataan Hafiz itu sontak membuat Putri melotot, sementara para karyawan hotel itu tertawa cekikikan mengira perkataan Hafiz itu benar adanya.
"Diiih isteri siapa?!" pekik Putri sewot.
"Hahaha ... adik berdua ni nampak comellah, adik berdua ni pengantin baru ke?" tanya salah seorang dari mereka.
"Bu-bukan! Kami bu ..."
Putri ingin membantah tebakan para staf hotel tetapi Hafiz menyelanya.
"Jangan cakap macam tu lah, nanti orang salah sangke pada kite, kalau kite ni pasangan zina macam mana? Marah boleh tapi tak macam tu juge," sela Hafiz dengan senyum liciknya.
"Isss ..." Putri mendesis.
__ADS_1
Tetapi benar juga kata Hafiz. Kalau orang-orang berpikir mereka pasangan zina bagaimana? Apalagi saat ini mereka sedang berada di hotel. Dengan dia hanya mengenakan pakaian tidur pula. Kalau bukan pasutri apaan donk situasi yang bisa lebih menjelaskan hubungan mereka saat ini? Teman? Teman macam apa yang datang ke hotel malam-malam begini, khusus untuk makan malam saja? Siapa yang percaya itu Marimar?
Hafiz tertawa melihat Putri yang kini nampak menurut tapi bersungut-sungut tak jelas.
"Ambooi, masih pun pengantin baru dah pun begaduh macam ni, macam mana nak harungi bahtera rumah tangga hingga puluhan tahun lamanya?" komentar salah satu staf itu. Nampaknya usianya lebih tua dari pada Hafiz dan Putri.
"Macam tu lah, Kak! Macam mana ya, kami ni berkahwin kerana accident. Dia ni tak cintakan saye. Segala macam upaya dah pun saye cuba lakukan, tetap sahaja isteri saye ni tak nak buka hati dia untuk saye," kata Hafiz dengan mimik sedih.
Putri melotot pada Hafiz sebelum kemudian dia memutar bola matanya malas. Karena accident? Accident apaan? Yang di kamar mandi ketika di rumah Yola itu?
"Ya Tuhan, jadi korang berdua ni married by accident? Astaghfirullah ..."
Salah seorang dari mereka sampai menutup mulutnya dan memandang ke perut Putri. Kedua temannya yang lain juga ikut-ikutan menatap ke arah yang sama. Dan Putri juga jadi ikut melihat ke arah perutnya sendiri.
Apakah mereka mungkin mengira kalau dia sedang mengandung Hafiz saat ini?
"Tapi tak ape, usah malu. Selama korang berdua ade niatan untuk bertaubat dan tak mengulanginya lagi, percayalah, Allah Maha Pengampun, Dik!"
Gedubraaaak!!!
"Bukan, bukan! Ini tidak seperti yang kalian pikirkan!" Putri mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengekspresikan maksud perkataannya. "Hafiz! Kamu ini! Jelasin donk ke mbak-mbak ini, kalau aku nggak ..."
Triiiing!!!!
Lift berhenti lagi di entah lantai ke berapa. Dua orang masuk lagi. Kali ini seorang pria dan wanita yang tampaknya sedang menginap di hotel itu juga. Kelihatannya mereka pasangan suami istri.
"Hafiiz?!"
"Nizam?" Hafiz terkejut.
Sungguh suatu kebetulan, Hafiz dan temannya bertemu di sana.
"Ape kau buat di sini?" tanyanya.
__ADS_1
Hafiz cengar-cengir sambil garuk-garuk kepala. Dia tak menyangka akan bertemu temannya yang juga member sanggar gym dan fitnes miliknya itu di sini. Harusnya dia sudah mempertimbangkan hal ini sebelum dia datang membawa Putri ke sini. Bukankah Nizam memang terkenal sebagai lelaki playboy yang suka keluar masuk hotel dan gonta ganti perempuan?
Nizam memperhatikan satu persatu penghuni lift sebelum mereka masuk tadi. Dari lima orang yang ada di sana, selain ia dan pasangannya, tiga di antaranya memakai seragam hotel. Dan selain Hafiz masih ada seorang wanita dengan piyama. Melihat penampilan Hafiz yang juga hanya memakai pakaian santai, kaos oblong dan kemeja, lelaki itu menyimpulkan Hafiz dan wanita itu pasti datang bersama.
"Huhuyyy! Hafiiz ...." seru Nizam menggoda sambil merangkul leher Hafiz dan memberatinya hingga Hafiz hampir kehilangan keseimbanngan. "Kau tak maksud perkenalkan aku dengan kekasih kau ni ke? Aku tak sangkelah kalau Hafiz ni rupanya pandai juge memilih wanita."
"Ah, Nizam, tak macam tu! Dia ni ..."
Hafiz melihat Putri yang kini berlipat tangan di depan dada menatapnya dengan pandangan menantang. Hoho! kita lihat seperti apa dia memperkenalkan aku pada orang yang mengenalnya, batin Putri.
"Emmm ... dia ..."
"Yola macam mana?" bisik Nizam di telinga Hafiz. Tetapi Putri rasanya masih bisa mendengarnya. "Kau dah move on ke?"
Hafiz melirik pada Putri. Perempuan itu membuang muka. Sial, kenapa Nizam harus ada di saat seperti ini? Putri mendengarnya, Hafiz tahu itu. Terlihat dari ekspresi wajah Putri yang tiba-tiba berubah sendu.
"Hey, Dik! Kau kekasihnya Hafiz ke? Perkenalkan saye Nizam, kawannya Hafiz. Seronok berjumpa dengan korang berdua kat sini. Korang berdua duduk di bilik mana? Korang ni hendak ke Sky juga ke?" Nizam memperkenalkan dirinya pada Putri sekaligus mengulurkan tangannya.
"Putri," jawab Putri singkat sembari menyambut uluran tangan Nizam
"Indonesia?" tebak Nizam.
Putri tersenyum kecut mengiyakan.
"Tau dari mana?"
"Mestilah saye tahu. Hafiz ni memang suka sangat dengan wanita Indon," jawab Nizam. "Tapi usah khawatir, saye jamin Hafiz ni setia. Betul kan, Bro?"
Putri mengangguk-angguk. Speechless. Setia? Tentu saja. Hafiz memang terlihat seperti lelaki yang seperti itu. Setia ... apakah juga termasuk pada Yola? Apakah hingga kini kesetiaan lelaki ini masih berada pada sepupunya itu? Apakah usaha Hafiz mendekatinya yang notabene adalah sepupu Yola, hanya sebagai tameng untuk melindungi kesetiaannya pada orang yang dia cinta?
Ahhh ... tiba-tiba Putri merasa meragu.
***
__ADS_1
Hey, hey, hey... Maaf agak sore updatenya beib ... Dari pagi ngetik digangguin mulu sama bocah twin, nggak bisa konsen othor. Maaf ya. Kalau sempat entar malam lanjut lagi. Jangan lupa suportnya ya ...