
"Aku rindu," ucap Hafiz di telepon.
Gadis di seberang sana yang sedang menerima panggilan teleponnya terdiam. Hafiz tau gadis itu pasti sedang merasa berbunga-bunga saat ini. Sedang yang dia rasakan sendiri saat ini adalah perasaan berapi-api. Tetapi dia harus berusaha menahannya demi mengungkapkan kebenaran.
"Yuri?" panggil Hafiz, membuyarkan lamunan Yuri yang sedang melambung tinggi di awang-awang.
"Hmm?" sahutnya dengan nada bingung dan canggung.
"Kau bagi tahu sekarang alamat rumah kau kat Setiawangsa ade dimana? Aku ade depan kedai ... hmmm ape tuh namanya?" Hafiz membaca nama toko tempat dia menghentikan mobilnya. "Kedai Mak Samsyul."
"Serius kamu mau kesini?" tanya Yuri lagi, masih tak percaya.
"Hmmm, dia tak ade kan? Maksudku ... Lucas," ujar Hafiz.
"Nggak ada sih. Tapi ..."
"Share loc, now!" Hafiz tak sabaran.
"Aku ..."
"Kalau macam tu aku balik sahaja," pancing Hafiz mencoba mengetahui reaksi gadis itu.
"Eh, tunggu, tunggu! Sebentar aku share lokasiku, oke?"
"Hmmmm, tetapi tak lama ya ...." sahut Hafiz.
Dan hanya butuh kurang satu menit bagi Yuri untuk mengirimkan lokasinya sesuai alamat yang terdeteksi GPS pada Hafiz. Dan ...
Triiiing!
Lokasi yang dikirim Yuri pada Hafiz berhasil masuk pada aplikasi ponsel milik pria itu
"Oke, dah masuk! Aku on the way kat sana, sekarang," kata Hafiz.
__ADS_1
"Oke, aku mandi dulu. Nanti kalau kamu pencet bell, aku belum selesai, kamu tunggu sebentar di teras depan, ya?" kata Yuri.
"Hmm ... oke." Lagi-lagi jawaban itu terdengar datar.
Dan tak menunggu lama, Hafiz pun meluncur menuju alamat yang dibagikan Yuri melalui aplikasi chat yang memiliki fitur share location. Hafiz mengecek benar-benar apakah alamat yang berada di depannya ini sesuai dengan yang diberikan Yuri. Alamat yang diberikan Yuri berada di sebuah komplek perumahan biasa. Rumah yang tidak terlalu besar dan terlihat sepi. Sepertinya Lucas tak menempatkan penjaga di sana. Sama halnya dengan sang Atok yang tak pernah mempekerjakan security untuk menjaga rumah. Atok orang yang cukup sederhana dan low profil.
Perlahan Hafiz memarkirkan mobilnya di depan rumah itu dan turun dari mobil. Lalu dengan hati-hati, Hafiz membuka pagar dan masuk ke dalam pekarangan rumah hingga menuju teras. Suasana sepi, dan Hafiz memperhatikan sekitar. Dia belum berniat membunyikan bel. Dia masih ingin mengetahui situasi dan kondisi area sekitar rumah ini. Di ujung teras, terdapat sebuah rak sepatu. Berkebetulan sekali, ini adalah sesuatu yang ingin dilihat oleh Hafiz, selain kemungkinan yang lain nanti.
Dengan hati-hati dia menghampiri rak sepatu itu dan menemukan beberapa pasang sepatu dan sandal di sana. Hafiz memeriksa satu persatu sol sepatu dan sandal itu. Beberapa di antaranya hanya sandal harian yang solnya sudah mulai menipis, hingga Hafiz mencoret kemungkinan kalau sandal itu yang meninggalkan jejak di tembok bawah jendela kamar Sonia. Dan Hafiz juga mengabaikan sepatu besar yang sepertinya adalah milik Lucas, karena jejak sepatu di dinding itu harusnya tidak sebesar sepatu besar yang berada di rak ini.
Kini perhatian Hafiz beralih pada sepatu kets berwarna hitam dengan kombinasi putih yang berada di susunan rak paling bawah. Dilihat dari ukurannya harusnya itu adalah sepatu milik Yuri. Dan sepatu itu terlihat masih baru, meski nampak bekas tanah berdebu di pinggiran solnya.
Dengan berdebar, Hafiz mengangkat sepatu itu dan melihat bagian bawah solnya. Dan, Hafiz hanya bisa terhenyak saat melihat motif sol sepatu itu, berikut lingkaran nomor yang menjadi ukuran size-nya sama persis dengan jejak sepatu di bawah tembok jendela Sonia. Hafiz menghela napas berat menahan geram.
Bagaimana pun Hafiz sangat yakin kalau Yuri adalah orang yang menyelinap ke kamar Atok Yahya pada hari itu, sekaligus yang telah menghabisi nyawa pria yang telah memberinya nama keluarga Nirwan selama lebih dari 24 tahun hidupnya. Hafiz yakin 100%.
"Hafiz, kamu ngapain? Kamu sampai udah lama?" Yuri tertegun melihat Hafiz sedang berjongkok di depan rak sambil memegang sepatunya.
Dia baru selesai mandi dan masih menggunakan bathrobenya. Gadis itu khawatir kalau Hafiz mungkin akan tersesat, atau tak berani masuk ke pekarangan orang sembarangan, sehingga Yuri merasa perlu mengecek Hafiz ke depan, meski dia belum berpakaian.
"Ketahuan apa?" tanya Yuri, sedikit curiga ia mengernyitkan dahinya.
Hafiz segera berdiri tetapi masih memegang sepatu itu di tangannya.
"Aku nak belikan kau selipar (sandal) wanita. Aku tengok kau selalu sahaja pakai kasut macam lelaki seperti ni," kata Hafiz sambil menunjukkan sepatu kets milik Yuri di depannya. "Tadi aku nak buat surprise untuk beri kau hadiah. Tetapi sayang, dah pun tertangkap basah ketika aku nak tengok ukuran kasut kau punya."
Yuri dengan senyum mengembang merasa sangat senang mendengar hal itu. Sudah beberapa hari tak bertemu, akhirnya pria itu mendatanginya lebih dulu. Dan kini katanya dia ingin membelikannya sandal wanita? Oh Yuri, kau sangat beruntung! Mimpi apa aku semalam? batinnya.
Dalam hati Yuri, dia tidak menyangka kalau Hafiz akan seperhatian itu padanya.
"Tetapi tetap jadi kan?" tanya Yuri penuh harap.
Bukan karena dia tidak punya uang membeli sepatu, tetapi ini pemberian Hafiz. Hafiz yang membelikan. Tentu itu akan menjadi barang spesial untuknya.
__ADS_1
Hafiz berpikir sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk.
"Beneran? Beneraaan?!" pekiknya girang.
Kesekian kalinya Hafiz mengangguk. Lalu tanpa diduganya Yuri langsung menghabur memeluknya. Membuat Hafiz sedikit risih dengan perlakuan itu, ditambah lagi keadaan Yuri yang hanya memakai bathrobe dan tak mengenakan apa-apa di dalamnya.
"Kalau macam tu, kau lekaslah berpakaian. Aku akan menunggu," kata Hafiz sambil berusaha melepaskan pelukan Yuri di tubuhnya.
"Baik, baik. Aku akan ganti baju sekarang. Makasih ya, Ndut!" ucap Yuri senang.
Hafiz mengangguk dengan senyum terpaksa. Setalah itu Yuri kembali masuk ke dalam rumah. Hafiz ikut melongok ke dalam.
"Kamu masuk aja, Ndut!" kata Yuri menawarkan.
"Terima kasih. Aku tunggu kat sini sahaja," tolak Hafiz.
Bukan tanpa alasan dia menolak tawaran Yuri untuk masuk ke dalam rumah. Sesaat setelah Yuri masuk, Hafiz mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, setelah dia menjauh dari teras rumah.
"Sekejap lagi kami nak pergi keluar. Sila tuan-tuan semua periksa rumah ni selagi kami tak ade kat sini. Saye akan berlama-lama sikit membawa dia pusing-pusing di mall," kata Hafiz dengan nada pelan agar Yuri yang berada di dalam rumah tak sempat mendengarnya.
Setelah berbicara beberapa saat dengan orang di telepon, Hafiz pun kembali ke teras.
"Yuri!!!" serunya. "Abang tunggu kat kereta!"
Baru Hafiz akan berbalik menuju mobilnya lagi, Yuri sudah selesai berdandan dan berlari tergopoh-gopoh.
"Udah, udah. Aku udah selesai! Ndut! tungguin!" serunya sambil mengunci pintu rumah.
Keduanya berjalan bersebelahan menuju mobil Hafiz. Yuri begitu senangnya sampai dia tak mengetahui ada beberapa pasang mata yang mengawasi kepergian mereka.
Tepat setelah mobil Hafiz hilang dari pandangan, sekitar empat orang pria berjaket kulit keluar dari dalam mobil jeep yang terparkir sejak tadi di depan rumah tetangga Lucas di seberang jalan.
Keempatnya tanpa buang-buang waktu segera masuk ke dalam rumah Lucas dan menggeledah semuanya.
__ADS_1
***
Hai guys... jangan lupa like dan komentarnya ya...