
"Dik Ratih ade urusan penting ape dengan Ilham?" tanya Zubaedah pada Ratih.
Yola spontan langsung memegang lengan mamanya , berharap wanita yang telah melahirkannya itu tidak mengatakan hal apa pun tentang permintaannya mengalihkan saham Ilham atas nama Yolanda pada mertuanya itu.
Zubaedah sontak menjadi bingung atas tingkah ibu dan anak itu. Terlebih- lebih Yolanda yang terlihat menjadi gelisah dan cemas pada apa yang akan dikatakan mamanya itu.
"Hmmm? Dik Ratih?" tegur Zubaedah lagi pada wanita yang usianya masih berada jauh di bawahnya itu.
"Ma ...." Yola berusaha melarang sang Mama untuk tidak mengungkapkan keinginannya. Setidaknya tidak di depan Mama Zubaedah.
Tapi nampaknya Ratih tidak perduli lagi. Dia malah melepaskan pegangan tangan Yola pada lengannya.
"Saya ingin menagih janji Ilham," kata Ratih pada akhirnya.
"Janji? Janji ape?"
"Pengalihan saham Ilham di N- one Grocery atas nama Yolanda," kata Mama Ratih santai.
Mama Ratih spontan terkejut atas perkataan Ratih.
"A- ape? Ilham berjanji macam tu?" tanyanya tak percaya.
Yola menjadi lemas seketika melihat ekspresi mertuanya yang terlihat sangat terkejut dan tidak percaya pada apa yang di dengarnya.
Ratih mengangguk membenarkan.
"Ya, dia ingin kembali pada Yolanda dan saya memberi syarat itu. Apa ada masalah dengan itu, Kakak?" tanya Ratih dengan menekankan panggilan "kakaknya" pada Ratih.
Zubaedah hampir tak dapat berkata apa- apa lagi. Dalam hatinya dia mengutuki Ilhan yang sangat begitu ceroboh menuruti keinginan mertuanya itu. Zubaedah sendiri yakin Yola bahkan tidak meminta hal seperti saham ini untuk dimilikinya. Zubaedah yakin penghasilan Yola dalam bekerja lebih dari cukup untuk menghidupi dirinya sendiri meski harus hidup mewah sekalipun. Lalu untuk apa Ratih meminta saham anaknya untuk diberikan pada Yola?
__ADS_1
"Maaf, Dik Ratih, untuk ape kiranya Dik Ratih sampai meminta hal demikian pade Ilham? Mereka menjalani perkahwinan ini lagi, tentu ape yang Ilham punya akan menjadi kepunyaan Yolanda juge. Tak payahlah mesti ade balik nama atas saham N- one tu, kan? Atau kalau memang Yola menginginkan Ilham pun boleh sahaja nak bagi berapa- berapa untuk Yolanda. Tak payahlah mesti balik nama. Betul tak?"
Zubaedah berusaha untuk mempengaruhi pikiran besannya ini untuk membatalkan keinginannya membalik nama saham Ilham atas ama Yolanda.
Ratih tersenyum penuh makna mendengar kata- kata besannya itu.
"Justru itu, jika Ilham memang sungguh- sungguh ingin mempersunting Yola menjadi istrinya, apa yang salah kalau Yola yang memegang semua aset yang dimiliki oleh Ilham sebagai suaminya. Saya rasa Yola juga pintar mengelola keuangan. Putriku dibesarkan tidak sama dengan gadis lainnya seperti menantu kakak Zubaedah yang hanya bisa merebut suami orang lain itu misalnya? Yola tumbuh dan berkembang hingga dewasa dia sudah terbiasa melihat dan menghitung nominal uang besar. Hanya melihat saham N- one sebanyak 27%, itu tidak akan membuat dia gelap mata dan berpikir akan membawa uang Ilham kabur. Benar kan, sayang?" kata Ratih pada putrinya itu.
Yola yang ditanya seperti itu oleh mamanya langsung merasa tak enak hati karenanya
"Mama ... mama apaan sih?" bisik Yola sebal sambil melirik Zubaedah.
"Apaan apanya?" balas Ratih tak kalah sebal. "Mamah hanya mengatakan yang sebenarnya. Yola, kau perlu jaminan yang kuat yang membuat Ilham berpikir untuk meninggalkan kamu ke sekian kalinya. Kamu itu lagi hamil anaknya dia, kan? Mama nggak mau ya kalau sampai nanti kejadian seperti waktu kamu SMA terulang lagi. Waktu kamu hamil Ammar, dia ninggalin kamu, Sayang. Kamu nggak pernah kepikiran kalau nanti kejadian waktu dulu akan terulang lagi, hmmm? Mama sudah dengar berita tentang penembakan saat kalian konferensi pers itu. Dan istri keduanya j*lang itu tertembak, iya kan? Itu artinya apa? Rencana perceraian mereka akan tertunda! Dan nasibmu akan kembali terombang- ambing tanpa kejelasan. Mama nggak mau ya kalau sampai hal itu terjadi. Kalau memang Ilham nggak bisa memenuhi keinginan Mama, ya sudah! Tak perlu lanjutkan pernikahan ini! Masih ada Hafiz yang bersedia menikahi kamu. Bahkan kalau pun itu bukan Hafiz, masih ada banyak pria yang rela antri untuk menjadi menantu keluarga Gunawan!!!" kata Mamah dengan intonasi yang lagi- lagi semakin meninggi.
Yola sampai mengelus- elus punggung Ratih yang kini agak tersengal- sengal kesulitan bernapas. Ratih memang tidak boleh terlalu terbawa emosi.
Perawat itu pun langsung sigap memeriksa keadaan Ratih.
"Mamah, istirahat di kamar Yola, ya ..." ajak Yola pada Ratih yang kini terlihat memegangi dadanya.
Ratih langsung menepis tangan Yola.
"Nggak usah. Kamu kalau nggak mau Mama kumat di sini, kamu telepon Ilham, suruh ke sini!" kata Ratih keras kepala.
"Iya, iya. Yola teleponin tapi Mama istirahat dulu sebentar di kamar Yola, ya ..." bujuk Yola lagi pada sang Mama.
Yola tak habis pikir sejak kapan Mamanya berubah menjadi orang yang keras kepala seperti ini.
Meski harus berkali- kali membujuk Ratih, akhirnya nenek utinya Ammar itu pun mau juga diajak untuk istirahat di kamar putrinya itu. Dan Yola juga terpaksa meminta pengertian pada Zubaedah untuk membahas masalah saham itu setelah Ilham pulang saja. Dan Zubaedah tak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaan menantunya itu.
__ADS_1
"Jadi Ilham cuma bisa ngasih kamu kamar gini doank?" cibir Ratih sesaat setelah kesulitannya bernapas agak membaik.
Yolla geleng- geleng kepala melihat sikap Mama Ratih yang terlihat sangat- sangat ingin mencari cela kesalahan menantunya itu.
"Hmmm ... iya," jawab Yola seadanya. Tak ingin berdebat yang membuat tekanan darah sang Mama kembali naik.
"Bahkan kamar kamu di Jakarta lebih bagus dari ini. Kamar istri direktur utama N- one gini doank?" lagi- lagi mencibir membuat migrain Yola terasa kumat.
"Ma, Yola dan abang baru aja pindah sekitar dua harian ini ke sini. Dan ini kamar abang pas Yola dan abang masih pisah. Jadi ya kayak kamar bujangan gitu. Kamar kita di apartemen masih agak mendingan dari ini kok. Apalagi kamar di rumah green house hadiah dari Atok pas Yola baru nikah sama abang. Ranjangnya besar kali, Ma. Ukuran King size, kayak di suite room hotel, gitu. Nanti deh kalau Mama mau, Yola bawa Mama nginap di situ. Di situ enak, Ma. Daerah perbukitan ...."
"Sudah, sudah. Nggak usah diterusin. Pasti Ilham dulu ngerayu kamu di situ, kan? Mama udah bisa tebak. Makin sebal Mama dengarnya," omel Ratih.
"Mamaaaa ...."protes Yola sambil memeluk mamanya manja.
Ratih masih memasang raut sebal meski Yola kini bergelayut manja di pundaknya.
"Mama, udahan donk marahnya sama, abang. Ya?" bujuk Yola.
"Hanya kalau Ilham nurut sama permintaan Mama!" Ratih masih tetal kekeuh pada pendiriannya.
"Maaaa ...."
"Ilham mestilah menepati janji pasal saham tu. Tetapi Ilham ade syarat pula yang mesti Mamah penuhi."
Yola dan Ratih menoleh pada suara yang tiba- tiba terdengar familiar itu. Ilham kini berdiri di ambang pintu.
***
Likey, likey dan komentarnya jangan lupa reader- reader kesayangan akoe ... Ini author usahakan update 3 x sehari loh. Masa kalian masih pelit like koment? Hiks ... sedih aku tuh ...
__ADS_1