
"Coba tengok! King Devil dan Queen Devil datang bersama," seru salah seorang karyawan N-one pada teman- temannya.
Yola dan Ilham memang datang berbarengan ke N-one hari ini setelah mereka selesai mengantar Ammar ke sekolahnya. Mereka agak sedikit terlambat datang ke kantor.
"Duo devil itu!! Mari cepat- cepat balik kat tempat masing-masing! Kalau kau tak nak disembur api!" sahut karyawan N-one yang lain.
Dan jadilah para karyawan dan karyawati itu berlarian kembali ke posisi mereka masing- masing. Sebagian karyawan yang bekerja di lantai atas juga berlarian menuju lift. Mereka harus sampai lebih dulu ke atas daripada dua bos mereka yang mendapat julukan king dan queen devil itu.
"Matilah kite! Aku kire king dan queen devil tak hadir hari ni," keluh salah seorang dari mereka.
"Siapa sangke, mereka cuma terlambat!"
"Mereka berdua sedang berkencan ke? Mereka nampak serasi sangatlah!"
"Hussss!!! Hati- hati! Jangan cakap sembaranglah! King devil dah punya isteri pun. Kalau king devil dan queen devil tau kau sebarkan kabar angin, matilah kau ...." kata temannya memperingatkan.
Salah seorang dari mereka baru akan menuju lift saat Yola terlihat berjalan setengah berlari menuju lift.
"Tunggu, tunggu!" serunya.
Semua staf yang berada di lift itu merinding melihat orang yang baru mereka bicarakan sedang berjalan menuju lift. Ada Ilham juga yang berjalan mengikutinya dari belakang.
"Liftnya sudah penuh pun, kita ikut lift berikutnya saje," kata Ilham.
"Tidak. Kau saja yang ikut lift berikutnya. Ini masih muat. Aku akan ikut mereka," tolak Yola sembari memaksa masuk ke dalam.
Yang benar adalah dia tidak mau hanya berduaan saja di lift berikutnya dengan Ilham. Dan Ilham pun sepertinya tidak mau begitu saja mengalah dengan keadaan. Segera dia juga masui ke dalam lift yang semakin sesak karena kehadiran mereka.
Sialan! Benar- benar cari kesempata ini orang, gerutu Yola dalam hati.
Yola begitu mepet di dinding, sementara Ilham dengan gaya yang protektif seakan berusaha melindungi kekasihnya dengan memposisikan tubuhnya merapat pada Yola dengan posisi berhadapan. Benar- benar posisi yang intim, membuat para karyawan dan karyawati yang ada di dalam lift itu tak bisa menarik napas melihat keduanya. Yola terlihat risih dengan situasi itu sementara Ilham sebaliknya terlihat tak peduli pada pandangan para bawahannya.
Hingga akhirnya lift itu sampai di lantai yang mereka tuju barulah Yola bisa bernapas lega saat Ilham mulai melonggarkan posisinya yang merapat pada Ilham.
"Wow, kebetulan sekali Puan pengarah marketing dan Ketua pengarah datang bersamaan. Apa hal ni?" goda Leon.
"Tidak apa- apa. Hanya kebetulan bertemu saja di jalan. Lalu Ketua pengarah yang baik hati pun memberikan tumpangan pada bawahannya," kata Yola.
"Oh, begitu ke?" Leon pura- pura percaya namun mengedipkan matanya pada Ilham.
Dari semua orang mungkin baru Leon yang tahu kalau Yola dan Ilham tinggal bersebelahan apartemen. Bahkan Nadira pun belum tahu.
Ilham pura- pura tak melihat kedipan mata Leon yang jelas-jelas menggoda padanya. Sementara itu Yola segera meninggalkan keduanya dan masuk ke ruangannya.
"Macam mana, Bro? Success tak planning kau untuk boleh dapatkan hati isteri kau tercinta tu?" ledek Leon.
Ilham mendelik kesal pada Leon.
"Lupakan je, aku tengok mata kau yang seakan mahu telan aku bulat-bulat, nampaknya kau belum pula beruntung. Jangan menyerah! Aku percaye kau pasti boleh taklukkan hati pengarah pemasaran kita yang cantik sangat tu," kekeh Leon masih dengan nada mengolok.
"Leon ...." panggil Ilham dengan nada lirih.
"Ya, ape?" tanya Leon yang telah berjalan di depan.
"Kalau kau bosan di N-one KL, cakap sahaja. Aku bisa kirim kau ke cabang N-one Kuching atau Serawak ...." Ancam Ilham.
"Hahaha .... Ampun, ampuni saye Ketua Pengarah. Aku hanya bergurau je! Janganlah Ketua Pengarah masukkan dalam hati. Ketua Pengarah Ilham ni, baik sangatlah ...." tawa Leon mencoba menjilat Ilham dan merangkulnya.
\*\*\*\*\*\*
Pagi ini pun Yola ada jadwal mengunjungi supermarket N-one pinggir utara kota. Yola dan wakil direktur pemasaran pun bersama kesana. Beberapa meter sebelum sampai di supermarket cabang N-one itu, Yola menyuruh wakil direktur pemasaran itu untuk menghentikan mobilnya sejenak.
Dia memandang pada sebuah hotel tak jauh dari supermarket itu. Hotel Victoria.
"Ade ape, Puan pengarah suruh saya hentikan kereta kat sini?" tanya lelaki yang usianya jauh lebih tua dari Yola ini.
Yola mengernyitkan keningnya.
"Saya cuma heran, Pak. Hotel ini tak jauh dari supermarket kita, menurut bapak kenapa para tamu hotel ini tidak membawa keuntungan buat supermarket kita? Para tamu di hotel ini apa tidak tertarik berbelanja di supermarket N-one?" tanya Yola penasaran.
"Oh, itu. Bertahun-tahun silam supermarket N-one memang bekerja sama dengan Hotel Victoria. Namun beberapa tahun belakangan ini tak lagi. Saye pun tak paham dengan jelas penyebabnya ape. Tapi yang saye dengar itu dikeranakan Ketua Pengarah Ilham memiliki persoalan yang tak seorang pun tahu dengan anak dari pemilik hotel Victoria," kata wakil direktur itu.
"Masalah apa?" tanya Yola penasaran.
"Kalau itu saye pun tak tahu, Puan Direktur," jawab lelaki itu.
Melihat hotel itu, Yola akhirnya memiliki ide yang dituangkan dalam rapat para staf supermarket N-one cabang pinggir utara kota.
"Selama dua kali mengunjungi supermarket ini, saya telah melihat hotel Victoria yang berada hanya beberapa meter dari supermarket kita ini. Jadi saya punya pemikiran dan berharap kalian semua yang ada di sini memberi tanggapan atas pemikiran saya. Saya tidak akan berbelit-belit, pemikiran saya adalah bagaimana jika kerja sama antara supermarket N- one dan hotel Victoria, kita tumbuhkan lagi seperti masa lampau? Pihak N-one bisa menjadi penyuplai barang yang dibutuhkan oleh tamu hotel Victoria, dan keuntungan hotel Victoria adalah, pelayanan yang maksimal bagi para pelanggan sehingga tamu hotel mereka bisa puas dikarenakan adanya fasilitas lengkap dari pihak hotel. Tentu saja dalam hal ini yang saya maksud salah satunya adalah layanan delivery. Tanpa perlu keluar kamar hotel para tamu bisa mendapatkan belanja mudah dan murah dan bisa dijemput di depan pintu kamar masing-masing," kata Yola.
"Tapi, Puan! Sepertinya itu akan sedikit sulit," sela manager yang diangkat oleh Yola kemarin.
"Apanya yang sulit?" tanya Yola.
"Pemilik hotel itu Victor Alexander tidak akan mau melakukan kerja sama apa pun dengan N-one ...."jawab managet itu.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa dia tidak mau?” tanya Yola.
"Ini semua kerana hubu ...."
Tiba- tiba saja kata-kata manager itu terhenti saat merasakan kakinya ditendang dari bawah oleh salah seorang rekannya. Yola bisa mengetahui itu.
"Kerana apa?" desak Yola.
"Tak de ape- ape, Puan Pengarah, sungguh tak ade ape- ape. Maafkan kelancangan saya yang tak bisa mengontrol mulut ni," katanya merasa bersalah.
Hingga rapat selesai manager itu lebih banyak diam dari pada mengutarakan usulnya tidak seperti rapat sebelumnya. Maka ketika rapat itu telah usai, Yola memintanya untuk tinggal dalam ruangan rapat berdua saja dengannya.
"Katakan padaku rahasia seperti apa yang tak boleh kuketahui jika itu menyangkut bagian pemasaran dan omset perusahaan?" tanya Yola pada manager itu.
"Pu- puan, saya, saya tidak mengerti apa maksud puan ...." Katanya terbata- bata.
"Kalau kamu tidak mengerti, saya akan mengatakannya dengan jelas. Saya ingin mengetahui masalah apa yang terjadi antara N-one dan Victoria sehingga pemiliknya tidak lagi mau bekerja sama dengan N-one?" tanya Yola tegas.
"Ampuni saya, Puan. Itu bukan sesuatu yang boleh saye ceritakan pada siape- siape. Tuan Ilham akan marah sangat jika tahu ini dibahas lagi," kata manager itu cemas.
"Jangan khawatirkan dia, saya yang akan menanggungnya untuk kamu kalau dia marah. Katakan saja," perintah Yola.
"Saya tak boleh, Puan ...." Manager yang memang terlihat agak kemayu itu memelas agar Yola tak memaksanya.
"Baiklah begini saja, bagaimana kalau saya membeli rahasiamu itu," kata Yola.
"I-itu lebih tak boleh, Puan. Saya tak nak menerima suap!" katanya tegas.
"Saya tidak akan membelinya dengan uang. Tapi saya akan membeli rahasia itu dengan rahasia, bagaimana?" kata Yola menawarkan.
"Membeli rahasia dengan rahasia, macam mana?" tanya manager itu bingung sekaligus tertarik.
"Saya akan beri tahu kamu rahasia yang baru kami sendiri yang tahu di antara teman- temanmu? Macam mana? Minat tak?" tanya Yola dengan campuran logat Malaysia.
"Rahasia???" Mata manager itu jadi berbinar.
Mendengar kata "rahasia" membuat dia merasa seperti orang yang bisa diandalkan dan dipercaya.
"Iya, rahasia. Ini juga menyangkut rahasia Tuan direktur Ilham," kata Yola.
Lelaki itu semakin penasaran.
"Rahasia apa itu, Puan?" desaknya tak sabaran.
"Mahu tahu?"
"Sini saya bisikkan," kata Yola sembari membisikkan sesuatu di telinga manager letoy itu.
"Apeeee???? Ya Tuhan! Macam mana boleh?" teriaknya histeris.
Yola mengangguk.
"Jadi Puan Yola adalah isteri ...." Manager yang bernama Aldi itu tak lagi melanjutkan kata-katanya saat melihat isyarat Yola yang menyuruhnya tutup mulut.
Mulut Aldi masih menganga. Ya Yola memberi tahu identitasnya sebagai istri dari Ilham pada manager itu. Dan entah bagaimana pertukaran rahasia itu pun membuat keduanya menjadi semakin akrab dan seperti terlibat hubungan persahabatan.
"Jadi begitulah kisahnya, Tuan Victor pewaris hotel Victoria sangat mencintai Puan Sonia. Dulunya N-one dan Victoria selalu membuka hubungan kerja sama di berbagai cabang N-one dan hotel Victoria. Namun semenjak ade masalah itu, Victoria memutuskan hubungan kerja sama denga N-one. Di cabang N-one yang lainnya tak de masalah tentang pemutusan hubungan kerja sama tu. Sebab cabang N-one lain punye tempat strategis dan tak perlu bergantung dengan perusahaan lain. Berbeza dengan N-one pinggir utara kota ni. Di sini sepi, walaupun banyak pemukiman penduduk, tetapi kerana penduduknya masih warga kampung mereka pun lebih memilih berbelanja ke pasar tradisional." kata Aldi.
"Masalah apa lebih tepatnya antara Ilham, Sonia dan Victor?" Yola lebih tertarik kisah cinta segitiga mantan suaminya itu.
"Kalau itu saye kurang tahu, Puan. Tetapi itu terjadi 5 tahun lalu. Ada insiden yang mengakibatkan Puan Sonia keguguran, itu melibatkan Tuan Victor. Entah karena Tuan Ilham menuduhnya atau macam mana saye kurang paham, mungkin Tuan Victor menjadi tersinggung dan memutuskan hubungan kerja sama dengan semua cabang N-one," kata Aldi memutuskan.
Oh, jadi begitu? Pikir Yola. Sonia keguguran dan Ilham memarahi Victor, sehingga Victor tersinggung. Berarti Ilham sangatlah mencintai Sonia dan menyayangi calon anak mereka. Atau sekarang Sonia jadi sulit hamil makanya Ilham jadi mendekatinya dan menyayangi Ammar karena hanya Ammarlah anak Ilham satu- satunya? Begitulah pikiran Yola.
Sial! Apa yang kamu pikirkan, Yola? Apa kamu kira dia benar- benar cinta denganmu? Batinnya. Dan tiba- tiba hati Yola menjadi sesak karenanya.
"Baiklah, Aldi. Cukup informasinya. Soal informasi yang kamu berikan saya tidak akan memberi tahu pada siapa pun. Saya harap informasi tentang aku adalah isteri dari Ketua Pengarah juga tak perlu sampai ke telinga siapa pun, okey? Itu telah lama berlalu. Kami pun telah berpisah," kata Yola.
"Jadi, Puan direkturlah ibunda dari tuan muda Ammar?"tanya Aldi masih penasaran.
Yola mengangguk.
"Ya, aku ibu kandungnya. Banyak hal yang terjadi di antara kami. Tapi itu telah lama berlalu," kata Yola.
"Ternyata kabar angin tentang Puan Sonia tak hanya satu-satunya isteri Tuan Ilham adalah benar, tapi saye baru tahu kalau isteri pertama adalah puan Yola, mengingat usia Puan masih sangat muda, macam mana mungkin?"
Yola tersenyum.
"Saya dikawinkan dengannya saat saya masih berusia 12 tahun, wajar kalau kamu tak percaya. Tapi sungguh itulah yang terjadi. Dan ngomong- ngomong Aldi, next time, andai bertemu saya di luar N-one, panggil saja saya Yola. Kamu lebih tua daripada saya," kata Yola.
"Siap Puan Direktur!" sahut Aldi cepat.
\*\*\*\*\*\*\*
"Kita berhenti di hotel Victoria sebentar!" kata Yola pada wakil direktur pemasaran.
__ADS_1
"Nak buat apa, Puan Pengarah?" tanya pria itu.
"Sekejab saja. Kamu tunggu saja di sini!"
Yola segera keluar dari mobil dan langsung masuk ke hotel. Kehadirannya langsung disambut oleh staf hotel. Tapi Yola dengan ramah langsung berkata kalau kedatangannya hanya untuk bertemu koleganya bukan untuk check-in hotel.
Berpura- pura sedang menunggu koleganya di lobby hotel, Yola menyapu sekitarnya dengan pandangannya pada sekitarnya. Di dalam hotel selain ada resto juga ada semacam toserba mini. Yola segera beranjak ke toserba itu.
"Permisi, Puan. Puan nak cari ape?" tanya seorang pe,gawai Toserba.
Penampilan pria ini lumayan tampan, tapi menurut penilaian Yola sebagai karyawan Toserba pegawai itu terlalu dewasa. Umurnya mungkin sekitar 35 tahun.
Yola tak menjawab pria itu melainkan langsung ke rak- rak pajangan mengamati harga barang. Gila! Harga satu produk bisa 3 kali lipat harga barang di tempat lain.
"Puan sedang cari ape? Biar saye bantu?" kata lelaki itu menawarkan.
"Nggak usah, saya bisa sendiri." jawab Yola.
"Puan orang Indonesia?" tanya lelaki itu.
"Ya, kok kamu tau?"
"Dialeg Puan berbeza dengan Malaysia punye," jawab karyawan itu.
"Oh, berbeza sikit je," balas Yola dengan menggunakan dialeg Malaysia.
Laki- laki itu jadi tersenyum dibuatnya. Wanita muda yang cantik dan menarik. Yola sebenarnya tidak tahu kalau lelaki itu adalah Victor yang sedang turun langsung ke lapangan dan ingin mengevaluasi progress toserba di hotelnya.
Yola masih mengitari semua produk yang dijual disana dan membandingkan harga- harganya dengan yang ada di supermarket N-one. Dan pada akhirnya Yola hanya membeli beberapa bungkus cemilan dan membawanya ke kasir.
Setelah membayar, Yola pun menyempatkan diri pergi menemui resepsionis hotel. Dan anehnya karyawan yang memang tak memakai pakaian seragam itu ikut juga ke meja resepsionis.
Victor entah kenapa sangat tertarik dengan wanita yang baru ditemuinya sekali ini. Yola sempat melirik heran padanya.
"Maaf, Puan, saya ingin bertanya, bisakah saya bertemu dengan manager hotel ini?" tanya Yola pada resepsionis.
Resepsionis itu sempat melirik pada Victor namun bosnya itu memberikan kode menggelengkan kepala.
"Manager sedang ada urusan penting. Ada keperluan ape kalau kami boleh tahu?" tanya resepsionis itu.
"Kalau bertemu dengan pemilik hotel atau Tuan Victor? Saya bisa?" tanya Yola.
Lagi-lagi Victor memberikan kode pada resepsionis itu.
"Puan ada urusan ape dengan Tuan Victor? Sudah buat janji ke?"
"Oh," Yola jadi gelagapan. "Saya temannya. Tapi saya kehilangan kontaknya. Jadi saya belum buat janji." dusta Yola.
Ooooo, menarik sangat, pikir Victor. Puan cantik kerana kau hendak sangat nak berkawan dengan aku, aku kabulkan permintaan kau, batin hati Victor.
Lalu lelaki itu pun memberi kode pada resepsionis itu untuk meminta kartu nama pada Yolanda.
"Oh, Tuan Victor pun sedang tak ade. Kalau puan mahu, bolehlah tinggalkan name card saje, nanti kami sampaikan pada Tuan Victor," kata resepsionis itu.
"Oke, baiklah. Ini kartu nama saya. Tolong disampaikan pada beliau," kaya Yola sembari mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.
Sebelum Yola meninggalkan hotel itu ia sempat melirik pada Victor. Dia masih heran apa yang dilakukan lelaki itu di meja resepsionis bukannya bekerja menjaga rak pajangan dalam toserba.
Selesai menjalankan misi cadangannya Yola kembali ke dalam mobil.
"Puan kate sekejab je," keluh wakil direktur.
"Maaf, maaf. Saya ada sedikit yang harus dilakukan di sana. Saya sudah memutuskan untuk mencoba menjalin kerja sama lagi dengan hotel Victoria," kata Yola.
"Tapi itu bukan sesuatu yang bisa kita putuskan sendiri. Perlu persetujuan dari Ketua Pengarah," kata wakil direktur sedikit cemas pada ide direktur pemasaran ini.
"Jangan cemaskan itu. Aku yang akan bicara padanya nanti," kata Yola.
Selama dalam perjalanan pulang ke N-one, Yola asyik menulis coretan-coretan kecil pada buku catatannya tentang planning yang diutarakannya pada Ilham untuk mencoba menjalin kembali hubungan kerja sama Victoria Hotel dan N-one grocery.
Tepat sekali saat dia menyelesaikan coretannya saat mobil yang disetir oleh wakil direktur sampai di area parkir N-one. Yola segera bergegas naik lift dan buru- buru bergegas ke ruangan Direktur Utama. Masalah pribadi mereka bisa Yola kesampingkan sementara, tapi masalah pekerjaan dia harus cepat sesuai target meski dia harus berurusan dengan Ilham.
Yola sampai di depan ruangan direktur utama yang terbuka itu dan memeriksa kembali coretan-coretannya. Saat mengetuk pintu pun matanya masih terpaku sejenak pada lembaran kertas putih yang dipenuhi tulisannya itu.
Tok! Tok!Tok
"Maaf, saya ada yang harus ...."
Yola mengangkat kepalanya dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Ilham dan Sonia .... Sonia yang sedang duduk di pangkuan Ilham dan mengalungkan tangannya ke leher lelaki itu.
Tak kalah terkejut dengan Yola, Ilham terlebih- lebih Sonia lebih shock dengan kehadiran Yola.
"Ka- ka-kau!!!!" Jerit Sonia tak percaya pada apa yang dilihatnya.
Yola sudah mempersiapkan ini sejak lama meski hatinya perih.
__ADS_1
"Ya, ini aku Yolanda Gunawan. Lama tak berjumpa, Ms. Nirwan, Kakak Sonia!" Ucap Yola tenang.