
Pulau Pinang (Penang),
Usai dari Jabatan Kecemasan dan Trauma (IGD) pasca insiden tak disengaja jatuhnya kursi roda Sonia yang berakhir di tolong oleh seorang pasien bernama Dimas hingga menyebabkan orang itu mendapatkan pertolongan darurat, Yola dan Ilham pun kembali ke front office rumah sakit untuk melanjutkan administrasi Sonia untuk melakukan CT scan. Bertiga dengan makcik Saripah, Ilham dan Yola juga setia menunggu Sonia hingga selesai melakukan prosedur CT Scan. Namun karena hasil CT scan pun tidak segera keluar begitu selesai pemindaian mereka semua kembali ke ruang perawatan Sonia.
"Makcik, makcik tak ape kan kalau kat sini hanya berdua sahaja dengan Sonia? Ilham nak bawa Yola bermalam kat Kampung Baru sahaja," kata Ilham pada Makcik Saripah.
Ilham bermaksud membawa Yola berkunjung menginap ke Kampung Baru, rumah dari Datuk Abidin, saudaranya Atok Yahya walau pun hanya untuk semalam dua malam. Terakhir kali saat mereka datang ke Penang untuk honeymoon, Iham tidak sempat membawa istrinya itu untuk diperkenalkan ke keluarga besar keluarga Nirwan. Meski pun saat majlis perkahwinan mereka keluarga dari Penang datang untuk memberi doa dan restu, nyatanya hanya sedikit dari mereka yang bisa datang. Yang lainnya sibuk dengan rutinitas dan pekerjaan harian mereka sehingga tak bisa datang untuk bahkan sekedar memberi selamat atau mengenal cucu menantu Tengku Yahya Nirwan itu. Dan berhubung mereka ada di sini lagi, Ilham akan memanfaatkan moment ini untuk membawa Yola ke rumah besar keluarga Nirwan di Pulau Pinang ini.
"Duuh Abang, kalau makcik sendirian yang jaga di sini, kasihan makcik donk," kata Yola menanggapi.
"Tak apelah, sayang. Makcik kalau ade ape-ape kan bolehlah memanggil juru rawat untuk bantu tolongkan ape-ape yang diperlukan Sonia. Abang nak bawa Yola bermalam kat rumah saudaranya Atok. Datuk Abidin nama dia. Mase kita kat sini dahulu saat honeymoon, abang tak sempat pun bawa Yola. Nah, sekarang kite ade kesempatan pula untuk balik kat sini, tak ade salah kan kalau kite berkunjung kat sana? Kasihan Datuk Abidin. Hanya tinggal sendiri sahaja yang masih hidup saat ni. Dia mesti sedih kehilangan Atok Yahya. Jadi kite mestilah turut hiburkan dia supaya Datuk Bidin boleh merase bahgia sikit kerana dah dikunjungi cucu dan cucu menantu abang kesayangan dia. Tak ade salahnya kan?"
Karena Ilham sudah berkata begitu, maka Yola tak punya hal lain untuk dibantah.
"Kakak Sonia, maafkan kami ya. Kami ke rumah saudaranya atok dahulu di kampung baru. Mungkin akan menginap di sana. Tapi tenang aja, Makcik Saripah ada di sini kok dan kalau butuh apa-apa bisa panggil perawat dulu. Kalau ada kondisi yang sangat darurat dan mendesak bisa telepon kami. Kira-kira makcik bisa kan?" Kali ini Yola yang berbicara pada makcik dan Sonia.
Kata-kata dari Yola dan Ilham tentu saja segera disanggupi oleh Makcik Saripah. Dari awal dia diajak kesini oleh Ilham dan Yola dan diberi uang lebih sebagai gaji tentu saja untuk menjaga Sonia, termasuk saat kedua majikannya ini tidak berada di sini.
Dan begitulah dengan diantar oleh supir pribadi mereka, kedua pasangan suami istri itu segera diantar ke kampung baru. Kedatangan mereka disambut dengan hangat keluarga Datuk Abidin Nirwan, adik dari Atok Yahya.
"Ilham, kau datang?" sapa sang datuk yang usianya hanya berselisih dua tahun dari Atok Yahya.
"Iya, Tok! Ilham ade kat sini bersama Yolanda. Datuk belum sempat berjumpa dengan dia, kan? Dia isteri Ilham, Tok!" kata Ilham sambil merangkul bahu sang istri.
Namun kemudian Yola menepis tangan si abang dan beringsut menyalim tangan sang Datuk.
"Atok, ini Yolanda. Maaf baru bisa datang ke sini," kata Yola setelah mencium tangan orang tua itu.
"Yolanda?" Kening pria tua itu nampak mengerut.
Entah hanya perasaan Yola, tampaknya datuknya Ilham yang satu ini sepertinya agak kurang wellcome padanya.
"Isteri kau Sonia, kan?"
Respon dari Datuk Abidin membuat Yola merasa speechless. Yola menatap Ilham dengan tatapan bertanya, menuntut penjelasan. Yola selalu berpikir selama ini semua keluarga Nirwan menerimanya, mendukungnya, tapi kali ini kenapa Yola merasa sebaliknya ya? Sungguh Yola butuh penjelasan.
"Tok, Ilham dah bercerai dengan Sonia. Yola isteri Ilham dari semenjak dahulu. Datuk lupa ke?" tanya Ilham lembut mencoba mengingatkan. "Ilham tahu, Datuk belum pernah sebelumnya berjumpa dengan Yola, tetapi Atok mesti dah mendengar kan bahwasanya dahulu ketika Ilham belum bertolak ke Berlin, Ilham dah berkahwin dengan Yola, cucu dari kawan Atok Yahya. Datuk tak ingat ke?"
Datuk Abidin menatap Yola tajam dan membuat Yola menjadi merinding.
"Tak ingat," jawabnya dengan mata masih memindai Yola dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Ilham menghela napas panjang. Ilham memang sempat mendengar dari kerabatnya yang lain, yang datang dari Penang saat majlis perkahwinannya bahwa kondisi kesehatan sang Datuk memang menurun waktu itu hingga tak dapat hadir di hari pernikahan Yola dan Ilham. Kalau tak salah waktu itu mereka bilang kalau datuk Abidin menderita demensia (pikun). Padahal umurnya bahkan masih lebih muda waktu itu dibandingkan Atok Yahya.
"Baiklah kalau Datuk tak ingat," kata Ilham pasrah. "Tapi Atok, cuba Atok tengok lagi Yola agak lama-lama sikit supaya tak lupa lagi dengan Yola nanti," selorohnya.
"Ekhhemn ..." dehem orang tua itu, malah memjauhkan pandangannya dari Yola.
Datuk Abidin kini celingak-celinguk ke arah luar.
"Atokmu mana? Dia tak ikut ke?" tanyanya membuat Yola dan Ilham saling pandang.
Yola malah terlihat kebingungan.
"Tok...." Ilham bingung menjelaskan.
Pastilah saat ini pikunnya datuk Abidin sedang kumat lagi. Dia pasti lupa kalau atok Yahya telah meninggal dunia. Aihhh, sungguh membuat hatinya menjadi galau.
__ADS_1
"Atok kau mesti tak ade waktu nak datang kemari untuk tengok datuk, kan?" kata Abidin pula.
"Hmmm...."
"Datuk, kenape Bang Ilham dan kakak ipar datang tak bagi tahu Fi'i?"
Di saat-saat Ilham merasa terpojok dengan tuntutan Datuk Abidin yang bertanya tentang Atok Yahya, untunglah Syafi'i datang menyelematkannya.
"Bang, Hafiz tak ikut ke?" tanya Syafi'i sambil ikut celingak-celinguk pula.
"Tak. Abang kat sini bukan nak holiday-lah. Jadi macam mana dia boleh ikut kat sini? Dia pun ada banyak job kat KL," jawab Ilham.
"Yaaaah, padahal seronok kalau ada Hafiz," jawab Syafi'i dengan wajah manyun.
"Eeh, dengan abang tak seronok ke?" Ilham pura-pura protes pada perkataan sepupu dua kalinya itu.
"Tak seronok. Abang dah berkahwin pun, macam mana nak seronok pusing-pusing dengan lelaki yang dah punya bini. Haiss, kalau ada Hafiz bolehlah kami pusing-pusing mencari gadis-gadis muda di Gurney Drive sambil mencari makan," kata pria itu lagi.
"Kalau hanya nak mencari makan, senang (mudah) je tu. Nanti kite pergi sama-sama dengan kakak ipar kau, Yola. Dia suka sangat dengan pasembur kat Gurney Drive. Iya kan, Sayang?"
Yola mengangguk membenarkan, walaupun suasana hatinya menjadi agak sedikit memburuk karena datuk Abidin nampaknya kurang begitu senang padanya, tetapi sebaliknya malah mengingat Sonia sebagai istri dari suaminya.
Sementara itu Datuk Abidin memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan meninggalkan cucu-cucunya itu bercengkrama satu sama lain.
"Eh, kakak ipar pernah ke Penang ke?" tanya Syafi'i lagi.
Yola mengangguk.
"Pernah beberapa bulan lalu dengan abang," jawab Yola.
"Kalau macam tu kenape tak singgah kat sini?Abang ni juge, macam mana datang ke Penang tapi tak singgah? Macam tak punya family je kat sini!" tuding Syafi'i pada Ilham.
Yola segera mencubit perut suaminya itu sebelum dia mendengar hal-hal memalukan lainnya.
"Abang! Ngomong tu disaring. Iss ... abang ni!" gertak Yola sebal.
"Memang betul pun ape abang kate kan? Kau tengoklah hasilnya ni ..." Ilham mengelus-elus perut Yola, pamer.
"Ihhh, apaan? Malu tau ..." Yola mencubit tangan Ilham gemas. Bisa-bisanya memamerkan hal seperti itu di depan orang lain.
"Abang Ilham ni memang tak tahu malu lah," cemooh Syafi'i. "Tak berperasaan pula. Dah tahu kite tak ade pasangan hendak show up pulak. Tak patut, tak patut!"
"Hey, kalau kau iri, kau berkahwin jugelah. Hafiz pun tak lama akan berkahwin pula dah tu. Tinggallah Syafi'i sendiri menjadi bujang lapuk. Hahaha..." ledek Ilham.
"Haiss!! Abang ni tolong carikan akulah kalau macam tu. Hanya tahu mengolok je," gerutunya.
Ilham tertawa terbahak-bahak melihat gerutuan Syafi'i. Mereka masih saling mengolok dan menggoda saat anak perempuan Datuk Abidin datang dan menyuruh mereka makan.
"Ilham kau dan Yola akan bermalam kat sini kan?" tanya Makcik Aminah, nama anak perempuan datuk Abidin.
"Hu um, iya Makcik. Tetapi agaknya kami tak lama. Ini pun kami datang ke Penang untuk membawa Sonia berubat berkebetulan ada cuti bersama pula," jawab Ilham sambil menyuap nasi yang disiapkan Makcik Aminah untuk dia dan Yola.
"Oh, macam tu? Sonia belum sihat juga ke?" tanya Makcik Aminah.
Terakhir kali dia ke Kuala Lumpur menghadiri pernikahan keponakannya ini, dia memang sempat melihat bagaimana kondisi mantan istri Ilham itu.
"Macam tu lah, Makcik," jawab Ilham sembari menghela napasnya.
__ADS_1
"Family dia sungguh-sungguh tak nak uruskan dia ke? Makcik kasihan denganmu dan Yola. Dah pun bercerai masih juge nak susahkan kau dan Yola. Macam mana korang berdua boleh tenang kalau macam tu?"
Ilham mengangkat bahunya. Malas berkomentar akan hal itu. Masa lalu dan pernikahannya dengan Sonia apabila dibahas terus menerus tak akan ada habisnya. Hanya jika Sonia bisa sehat seperti sedia kala barulah mungkin dia bisa lepas dari Sonia.
"Sonia tu memangnya sakit ape?" tanyanya Makcik Aminah lagi.
"Entahlah, Makcik. Ilham pun bingung nak jelaskan. Tetapi mase ni dia tu mengidap komplikasi. Semua bahagian badan dia rosak di dalam. Tadi kami dah pun bawa dia CT scan usai diperiksa ke dr. Tan, internis kat Healthy World Hospital. Tetapi hasil pemindaian tu belum lagi keluar," jawab Ilham lagi sambil menyesap air putih yang berada di depannya.
Membahas Sonia, Yola kembali ingat akan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah yang kontaknya dia dapat dari ibu pasien Indonesia itu. Dia ingat ada foto dokter itu dan orang mirip wanita yang sudah dua kali berusaha mencopet barang-barang darinya. Wanita yang bernama Andini Y. Apakah memang hanya kebetulan namanya sama dengan adiknya Ilham yang sempat hilang di rumahnya sewaktu bayi? Tetapi kalau bukan untuk apa gadis itu seolah membuntutinya sejak dia masih kecil? Yola tidak percaya kalau gadis itu hanya pencopet biasa. Untuk apa dia mencopet kalau dia punya pekerjaan di market N-one? Itu kan sangat tidak masuk akal? Lalu fotonya bersama dokter spesialis jantung yang bernama Abraham Yusuf itu, sepertinya mereka akrab, seperti bapak dan anak. Jika dia punya bapak seorang dokter spesialis jantung, atau minimal kerabatnya, kemungkinannya kecil kan kalau profesinya pencopet?
"Yola, makanannya tak sedap ke?" tanya Makcik Aminah membuyarkan lamunan Yola.
"Hmmm?" Yola termangu sesaat, lalu sadar kalau sedari tadi dia hanya mengaduk-aduk nasi dan lauk di piringnya.
"Makanannya tak sedap ke? Mahu mau makcik buatkan yang lain ke?" tanya Makcik Aminah menawarkan.
Yola menggeleng pelan.
"Ahh, nggak kok, Makcik. Ini enak, beneran. Ini Yola makan ya?" kata Yola sambil menyendokkan lagi nasi dalam piringnya, memperlihatkannya pada Makcik Aminah dan menyendokkannya ke mulut.
"Aihh, Ilham kau mesti perhatikan makanannya Yola. Kau tak tengok ke dia kurus macam ni. Macam mana na bertenaga kalau tiba masa Yola melahirkan nanti?" omel sang makcik.
"Iyalah, Makcik. Ilham terus yang salah ni," keluh Ilham sambil memicingkan matanya pada Yola. "Sayang, habiskan makananmu. Nanti abang pula yang disalahkan Makcik."
Meski tidak begitu berselera, namun akhirnya Yola menghabiskan juga nasinya meski pun menyisakan sedikit lauk di piringnya.
"Abang, habis ini temani aku ke minimarket N-one donk?" pinta Yola.
"Nak ape?" tanya Ilham. "Kalau hanya nak beli kudapan (cemilan) kat sini pun ada kedai, kan Makcik?"
Makcik Aminah mengangguk.
"Betul. Yola nak beli ape? Nanti makcik suruh budak-budak tu untuk belikan kudapan untuk Yola," kata Makcik Aminah.
Yola menggeleng.
"Yola bukan mau ngemil, tapi Yola mau cari sesuatu di mini market itu," jawab Yola.
"Cari apa?" tanya Ilham.
Ilham sama sekali tak ingat lagi pada cerita Yola tentang gadis yang pernah dia temui di Penang beberapa bulan lalu dan dia curigai adalah Andini.
"Mencari sesuatu yang udah lama hilang," jawab Yola.
Dan itu membuat Ilham semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Ape?" tanyanya lagi.
"Ihh, abang cerewet deh. Mau temani aku nggak nih? Atau aku pergi sama pakcik driver aja?" Yola dengan wajah mulai cemberut kini seakan mengancam Ilham dengan wajah ngambeknya.
"Ya dah, ya dah. Abang akan hantar Yola kemana pun pergi. Ke ujung dunia pun kau akan kuhantar, Honey ..."
"Gombal teroooos ..." cibir Yola membuat Ilham dan makcik Aminah tertawa melihat sang bumil uring-uringan.
Mereka tak menyadari Datuk Abidin yang sedari tadi memperhatikan Yola dari jauh.
*Yolanda ...
__ADS_1
****
Hai reader.... Tetap dukung dan suport author yak* ....