
Mata Yola membelalak saat melihat ke arah yang ditunjuk oleh Hafiz.
"Putri??!!" pekiknya tak percaya.
Putri yang sedang lewat mendengar pekikan Yola juga sampai terkejut. Gadis itu baru saja membawa Ammar membeli es campur ke depan. Dan rencana akan mengambil mangkok untuk mereka nikmati berdua dengan Ammar di taman bunga milik Mama Ratih di samping rumah.
"Apa???" tanya Putri mendengar namanya disebut.
"Oh ... emh, nggak ada apa-apa," kata Yola sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Terus kenapa sampe teriak-teriak manggil namaku. Aneh ...." gerutu Putri.
"Namamu bagus, makanya aku panggil-panggil," jawab Yola ngawur. "Ammar mana?"
"Ada di samping rumah nungguin ini ..." Putri menunjukkan bungkusan es campur di plastik yang dibawanya. "Kamu mau? Makcik? Abang Ilham? Dan ..."
Putri tidak melanjutkan kata-katanya saat melihat pada Hafiz. Dia tiba-tiba gugup saat ingin berinteraksi dengan Hafiz. Hal itu membuat Yola dan Mama saling pandang bingung. Keduanya melihat Hafiz yang tampak sedikit canggung juga saat bersitatap dengan Yuri.
Yola jadi curiga ada sesuatu di antara kedua orang ini.
"Kamu beli dimana, Put?" tanya Yola.
"Di ... anu di simpang komplek," kata Putri.
"Put, bisa belikan buat aku sama Mama, Abang dan Hafiz nggak? Tapi kamu makan aja dulu yang udah kalian beli duluan sama Ammar. Kami belakangan aja nggak apa-apa," kata Yola.
"Hmm, oke."
"Abang minta duit!" pinta Yola pada Ilham.
Ilham yang membawa dompetnya kemana-mana mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan yang dia dapatkan dari money canger di Kuala Lumpur sebelum mereka berangkat ke Jakarta beberapa hari yang lalu.
"Cukup tak?" kata Ilham mengeluarkan tiga lembar uang pecahan seratus ribu.
"Satu lembar aja udah cukup kali. Berapaan harganya, Put?" tanya Yola sembari mengambil uang 100 ribu dari tangan Ilham.
"10.000," jawab Putri.
"Nah, cukup nih berarti. Entar tanyain Atok sama Papa di depan, mau juga atau nggak. Kalau mereka mau, beliin sekalian, oke?"
Putri menerima uang itu sambil mengangguk.
"Oke."
"Nggak ngerepotin, kan Put?" tanya Yola.
Putri menggeleng.
"Nggak, kok!" jawabnya kalem.
__ADS_1
Diiih apa-apaan si Putri?Biasa kalau ngomong blak-blakan tiba-tiba sok santun begitu. Ini pasti ada sesuatu nih, batin Yola curiga.
Setelah menerima uang dari Yola dan balik dari dapur membawa mangkok, Putri kembali ke samping rumah untuk mendatangi Ammar yang sudah tak sabar menunggunya. Putri dan Ammar memang cepat akrab. Putri yang cepat membaur dan tidak kaku dengan Ammar yang gampang beradaptasi membuat mereka cepat dekat.
Setelah Putri hilang dari pandangan Yola kembali ingin menginterogasi Hafiz.
"Apa maksudmu kamu ingin menikah dengan Putri?" tanya Yola dengan mata memicing.
"Ya macam tu lah," jawab Hafiz salah tingkah.
"Macam tuh gimana? Ndut!! Kamu jangan macam-macam, ya! Kamu harus bertanggung jawab dengan Yuri! Dan bisa-bisanya kamu menaksir Putri, Ndut? Dia itu sepupu aku! Aku nggak mau ya, kamu mempermainkan dia!" kata Yola memperingatkan.
"Aku dah kate, aku tak berbuat apa pun dengan Yuri. Dan kalau ade yang aku tanggung jawabi, mungkin .... sebaiknya aku bertanggung jawab dengan Putri sahaja," katanya dengan suara yang semakin memelan.
Yola, Mama dan Ilham sempat bengong mendengarnya. Hingga kemudian Yola tersadar dan menjadi berang dibuatnya.
"Apa maksudmu kamu harus bertanggung jawab dengan Putri? Kamu apain dia, Ndut?? Sejak kapan kamu sama dia dekat? Kamu udah kenal lama sama Putri?!!" pekik Yola tak kalah kencang dari yang tadi.
Hafiz menggeleng.
"Taklah. Aku sahaja kenal dengan dia baru sahaja semalam," jawab Hafiz galau.
"Baru sahaja kenal dah mahu berkahwin dengan anak gadis orang, itu tak masuk di akal, Gendut! Kau jujur sahaja dengan Yola, kau mesti dah kenal lama dengan Putri, kan? Selama ini kau sering juge bolak-balik kat Indonesia. Jangan-jangan ...." Ilham dengan jahil ingin memprovokasi Yola dan Mama untuk memojokkan Hafiz.
"Jangan-jangan ape?" tanya Zubaedah cemas.
Meski hubungan Hafiz dan keluarga Nirwan mulai membaik tapi pria itu masih canggung kalau ingin memanggil "abang" lagi pada Ilham.
Ilham tertawa melihat Hafiz yang dongkol padanya. Tapi tak demikian dengan Yola yang semakin menatap Hafiz curiga.
"Kamu jujur deh, Ndut! Sebenarnya kamu dan Putri udah kenal lama? Benar kata Abang kamu kan memang sering mondar-mandir ke Indo sini. Jangan-jangan ...." Yola tak melanjutkan kata-katanya.
"Jangan-jangan ape?" tantang Hafiz pada Yola.
Hafiz sungguh heran, kenapa Yola selalu tak percaya padanya. Dan kini Hafiz ingin tahu apalagi yang dipikirkan Yola padanya.
"Jangan-jangan kamu menghamili Putri juga??? Iya???!!!" jerit Yola mengagetkan Mamah Zubaedah dan Ilham
"Apaaa????!!! Siapa? Putri siapa yang kalian maksud??!"
Jreng!Jreng!
Keterkejutan Ilham dan Mama Zubaedah akan prasangka Yola yang langsung diucapkannya secara blak-blakan, belum seberapa dibandingkan keterkejutan Mama Ratih dan orang tua Putri yang tiba-tiba saja telah berada di koridor pembatas ruang tamu dan ruang keluarga rumah Gunawan itu.
"Yola, Putri siapa yang kamu maksud sedang hammil?" Tante Imelda, Mamanya Putri langsung menghampiri Yola dan bertanya pada keponakannya itu.
"Ehmmm, anu Tante ...." Yola bingung bagaimana menjawabnya sedangkan dia sendiri saja belum jelas akan hal ini.
"Anu apa?" desak Tante Imelda sambil melirik Hafiz dengan pandangan tajam mengancam.
__ADS_1
"Yola nggak tau," jawab Yola bingung.
"Kok nggak tau? Kan kamu yang bilang tadi? Tante sempat dengar loh.Sekarang cerita Putri siapa yang hamil!" desak Tante Imelda lagi. "Putri mana? Putri!!! Putri!!!"
Tante Imelda langsung mencari dan memanggil anak perempuannya itu dengan nyaris setengah berteriak. Sementara Yola menggigit bibirnya sendiri karena telah membuat kekacauan di rumah ini.
"Yola, memang ada apaan? Siapa lagi yang hamil?" tanya Mama Ratih pada Yola.
"Yola nggak tau ah, Ma," jawab Yola pusing.
Ilham hanya geleng-geleng kepala melihat Yola yang terlalu suka ikut campur masalah Hafiz dan kini kena batunya.
Tak lama Tante Imelda telah datang menarik Putri yang sibuk makan es campur dengan Ammar di samping rumah kembali ke ruang keluarga.
"Putri, kamu hamil?" tanya Tante Imelda pada putrinya itu.
Putri yang mendengar pertanyaan itu menjadi kaget setengah mati.
"Ya enggaklah. Ih, mama nih ngomongnya kok kayak gitu!!" bantah Putri tak terima.
"Tapi kata Yola kamu hamil!" tuding sang Mama.
"Ih, hamil apaan?" tanya Putri lagi-lagi. Dia butuh penjelasa dari Yola sekarang. "Yol?"
Yola langsung geleng-geleng kepala sambil menggerak-gerakkan tangannya.
"Nggak, nggak! Aku nggak ada nuduh kamu kok! Aku nanya kayak gitu ke Hafiz karena katanya dia mau nikah sama kamu dan mau tanggung jawab. Ya aku heran donk, tanggung jawab apaan nikahin segala kalau bukan karena menghamili anak orang, ya kan?"
"A-spa? Menikah?" kali ini Putri yang mengedip-ngedipkan matanya tak percaya sambil melihat pada Hafiz.
Kini mereka saling berpandangan lagi dan lagi-lagi sambil tersipu-sipu.
"Ho oh. Hafiz bilang dia mau nikahin kamu. Mau tanggung jawab katanya. Wajar donk kami curiga," kata Yola membela diri.
Kini Tante Imelda yang mengerutkan dahinya dan berpaling ke Hafiz.
"Apa benar begitu? Tanggung jawab, tanggung jawab bagaimana maksudnya?" tanya Tante Imelda. "Mau nikahin anak saya itu maksudnya gimana? Lelucon?"
Hafiz menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan.
"Ya, kalau boleh. Saye mahu berkahwin dengan Putri, Tante."
Semua yang ada di sana melongo tak percaya.
***
Kalian gengs? Melongo juga nggak sih? Sebenarnya ada apakah antara Putri dan Hafiz?
Like dan komentnya jangan makin dikit donk ...
__ADS_1