Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Hamil?


__ADS_3

"Ade Sonia kat sini, kau tak ape ke?" tanya Ilham begitu keduanya masuk ke kamar.


Ilham ingin mandi dan membersihkan diri, dan Yola membantu ingin mempersiapkan segala keperluan Ilham.


"Kalau aku bilang aku nggak suka dia disini, gimana? Abang mau ngusir dia?" tanya Yola.


"Yola ...." bujuk Ilham.


"Kalau gitu abang nggak perlu tanya kayak begitu. Aku jelas nggak baik- baik aja," kata bumil itu dengan manyun.


Ilham pun langsung berinisiatif memeluk Yola untuk menghilangkan rasa kecewa dan kesal istrinya itu.


"Mommy Ammar, usah merajuk, Oke? Kite pusing- pusing sahaja biar mommy Ammar tak pening," bujuk pria itu.


Yola mengangguk.


"Oke. Kalau gitu abang mandi aja dulu. Aku juga mau siap- siap," kata Yola.


"Mommy Ammar, tak mandikan Daddy ke?" goda pria itu.


Yola mencubit perut Ilham.


"Ihhh Daddy Ammar suka nakal ya sekarang.Abang, abang mandi sana!" suruh Yola.


Ilham tertawa mendengar omelan Yola.


"Ok, ok, baiklah. Abang mandi sekarang," kata pria itu sembari mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.


Dan selang beberapa lama Ilham pun telah selesai mandi. Semua pakaiannya telah tersedia di atas ranjang. Dalam hatinya dia sangat senang dengan semua ini. Kehadiran Yola tentunya membawa banyak kebaikan dalam hidupnya. Contohnya hal sekecil ini. Biasanya sebelum ada Yola, dia menyiapkan semua pakaiannya sendiri.


"Kau mahu pergi macam ni?" tanya Ilham heran melihat Yola yang berpenampilan sangat cantik malam ini.


Dia memakai dress selutut dan sedang memakai riasan make up yang membuatnya tampak glow.


"Hmmm iya, gimana? Cantik nggak?" tanya Yola sumringah.

__ADS_1


Ilham mengangguk namun tetap tak habis pikir kenapa Yola harus berdandan secantik itu, padahal mereka hanya ingin pergi jalan- jalan ke mall, atau sekalian makan malam saja. Bukankah ini terlalu berlebihan?


"Hmmm, can- tik, isteri abang selalu cantik. Tapi kite hanye pergi pusing- pusing sekejap nak kawani Ammar, kenape Yola berdandan macam orang yang nak pergi ke undangan majlis perkahwinan?" tanya Ilham bingung.


"Is, abang! Aku dandan gini biar nggak malu- maluin abang, tau?" kata Yola manyun.


"Baiklah, terserah Mommy Ammar sahaja," kata Ilham.


Dan kedua orang itu kini sibuk melanjutkan aktivitasnya. Ilham sibuk berpakaian dan Yola sendiri sibuk memakai riasan. Pemandangan itu membuat mereka benar- benar terlihat seperti pasangan suami istri layaknya orang lain sekarang.


"Abang dah selesai, abang tunggu di luar ya," kata Ilham.


Dia sangat paham kalau wanita membutuhkan waktu lebih banyak untuk berdandan.


"Hmmm, ok," sahut Yola.


Ilham keluar dari kamarnya dan tak sengaja bertemu dengan asisten rumah tangga yang baru keluar dari kamar tempat Sonia berada. ART itu tampak mengomel. Di tangannya dia memegang nampak makanan dan juga baju kotor yang Ilham duga itu pasti punya Sonia.


"Makcik, kenape?" tanya Ilham pada wanita yang usianya sedikit lebih muda dari Zubaedah itu.


"Tak de ape- ape, Ilham. Makcik hanya merasa sulit nak bagi makan Sonia. Makcik dah bagi die makan. Tapi dia tak dapat mengunyah makanan tu. Jadi makcik terus bagi dia air minum. Tetapi die muntahkan pula," keluh Makcik itu geleng- geleng kepala.


"Makcik yang sabar, besok Ilham akan bawakan juru rawat untuk merawat Sonia. Jadi makcik tak disulitkan lagi untuk uruskan die," kata Ilham mencoba menenangkan ART itu.


Makcik ART itu hanya menghela napas mendengar kata- kata Ilham. Mereka hanya asisten rumah tangga di rumah ini, tetapi majikan mereka sangat peduli pada apa yang menjadi keluhan mereka. Ilham bahkan memperlakukan ART yang telah cukup berumur layaknya ibunya sendiri. Oleh sebab itulah dia tidak mau dipanggil Tuan oleh mereka. Para ART yang usianya lebih tua biasa memanggil Ilham dengan namanya saja.


"Bukannya macam tu Ilham, makcik itu tak suke dengan dia. Dahulu pun sangatlah angkuh sekarang pun meski sakit seperti masih sama sahaja. Makcik lebih suke kalau Ilham dengan Yolanda. Dari dahulu dia dah pun baik hati hingga kini pun sama. Kerana itu makcik bahagia sangat, korang berdua dapat bersatu kembali. Apelagi tinggal bersama di rumah Atok ni, makcik lagi suke. Tak sabar hati makcik pula tunggu kelahiran adiknya Ammar tu," kata sang makcik yang ternyata telah bekerja bertahun- tahun dengan keluarga Nirwan.


"Iyalah makcik, makcik doakan sahaja Ilham dan Yolanda dapat bersama selamanya. Dan mohon doanya pula agar adiknya Ammar selamat dan sehat hingga tiba mase Yola melahirkan nanti," kata Ilham.


"Mestilah. Makcik pasti doakan semoga semua kebahagian dan Rahmat Allah berikan untuk Ilham dan keluarga," kata wanita itu.


"Aamiin makcik. Makcik lihat Ammar ke? Ilham nak pergi pusing- pusing sekejap nak bawa Ammar dan Mommy-nya," tanya Ilham mengalihkan pembicaraan.


"Sekejap Makcik tengok, hmm?"

__ADS_1


Ilham mengangguk lalu berlalu meninggalkan makcik itu ke ruang keluarga. Tak sedikit pun niatnya ingin menjenguk Sonia yang berada di depan kamar itu meski hanya sekedar ingin melihat keadaannya. Bertambah hancur hati Sonia yang mendengar pembicaraan Ilham dengan asisten rumah tangga itu dari dalam kamar.


****


Jalan- jalan kali ini Yola dan Ilham memutuskan untuk membawa Ammar ke mall saja. Hal sederhana yang langsung terpikirkan oleh pasangan itu kemana harus membawa seorang anak kecil untuk menghibur mereka.


Pasangan keluarga harmonis itu nampak terlihat serasi satu sama lain dan menjadi pusat perhatian orang- orang di mall. Selain karena kasus skandal Yola dan Ilham akhir- akhir ini, mereka kebanyakan mengenali Ammar sebagai model ambassador N- one beberapa waktu lalu.


"Abang, kita dilihat- lihat sama orang," kata Yola risih.


"Tak payah tengok, sayang," kata Ilham semakin mengeratkan rangkulannya pada Yola sementara sebelah tangannya memegang tangan Ammar.


Sepertinya Ilham memang sangat bertekad ingin menunjukkan keluarganya yang sebenarnya di hadapan publik.


Tak ada yang lebih membahagiakan bagi anak- anak seumur Ammar selain menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya dengan bermain bermacam- macam permainan di area mall. Berbagai macam permainan mereka coba. Namun ada kalanya Yola tak ikut bermain mengingat kondisinya yang sedang hamil muda. Kalau sudah begitu dia hanya bisa ikut betpartisipasi mengambil peran mengambil foto ayah dan anak yang sedang asyik bermain itu.


Selang beberapa lama ponsel Yola berdering. Dia mengernyitkan keningnya saat melihat siapa yang menelepon. Itu Yuri. Lama menyimpan kontak Yuri ditelepon, tetapi dia selalu tak ingat untuk menghubungi gadis itu.


"Halo, Yuri?" sapanya.


Terdengar isakan tangis di sana.


"Yur?" Yola semakin bingung.


"Yola, tolong aku .... hiks ..."


"Tolong apa? Kamu kenapa, Yur?"


"A- aku hamil. Huuuu .... hu ...."


"Ha- hamil? Kenapa bisa? De- dengan siapa?" tanya Yola gugup campur panik.


"Ha- hafiz. Huuuu .... huuu ..."


Yola langsung menganga tak percaya.

__ADS_1


***


Hai reader, kok kalian makin pelit likenya. Likenya yang banyak donk. Jangan lupa komentnya juga yak ...


__ADS_2