
*Flashback on*
Tahun 1981
"Wah, kapal ini benar- benar mewah. Bagaimana menurutmu, Yahya?" tanya Salim pada teman di sebelahnya.
"Betul sangat tu, Salim. Kite beruntung boleh dapat job kat sini," kata pria bernama Yahya itu.
Keduanya masih takjub melihat kapal pesiar yang baru saja sandar di pelabuhan itu. Di badan kapal besar itu tertera nama "Yolanda" di sertai gambar bunga violet berwarna ungu sebagai pemanis.
"Yahya! Kau bersihkan bagian dek kapal dari lantai atas dulu!" panggil atasan mereka sekaligus memerintahkan Yahya untu bersih- bersih kapal.
Ya, Yahya dan Salim keduanya adalah ABK kapal non perwira yang bekerja di sebuah perusahaan kapal pesiar milik Jerman. Yahya berkewarganegaraan Malaysia sementara Salim berkewarganegaraan Indonesia. Mereka saling mengenal satu sama lain karena bekerja di perusahaan ini.
Bekerja sebagai ABK kapal tidaklah selalu seindah di benak orang-orang. Mereka berdua hanya pekerja kasar. Yahya adalah seorang petugas kebersihan, sementara Salim pula hanya seorang pelayan. Entah dikarenakan takdir atau apa keduanya berkebetulan selalu ditugaskan dalam kapal yang sama. Dan kali ini pun mereka akan kembali berlayar dengan Kapal "Yolanda" yang indah nan megah.
"Yahya! Kau bersihkan semua tempat ini disapu, pel sampai mengkilat dan jangan lupa kembalikan semua alat- alat kebersihan nanti ke ruang janitor," perintah atasannya itu lagi.
Yahya mengangguk dan kembali mengerjakan semua tugasnya dengan cepat.
Usai mengerjakan tugasnya pria itu pun membawa semua alat- alat kebersihan yang dia pakai untuk dikembalikan ke ruang janitor sesuai dengan apa yang diperintahkan padanya.
Di lorong dia berpapasan dengan seseorang bule. Entah mengapa ada setitik curiga di hatinya. Ruang janitor adalah ruang tempat menyimpan alat- alat kebersihan dan perkakas yang kotor. Dan pria bule itu sepertinya bukan dari kalangan bawah yang akan memasuki tempat seperti itu.
Apakah dia ABK perwira di kapal ini? Atau ABK non perwira yang jabatannya lebih tinggi darinya? Yahya bertanya- tanya dalam hati. Namun dia mau bertanya juga tidak akan ada gunanya. Yahya hanya bisa berbahasa Inggris sedikit saja. Dia takut jika dia bertanya apa yang dilakukan pria itu disitu nantinya akan menjadi masalah besar yang berakhir pemecatan dirinya jika bertanya dengan orang besar yang tak boleh disinggung. Maka akhirnya Yahya memutuskan untuk mengabaikan perasaan curiganya itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya hari yang dinanti pun tiba, Yolanda, kapal besar itu kini berlayar di dari Pelabuhan Hamburg menuju Kamboja. Kapal pesiar mewah itu nampak begitu anggun menelusuri sungai Elbe, meninggalkan kota Hamburg, Jerman.
Meski hanya pekerja kasar di kapal ini, namun kesenangan terbesar menjadi seorang ABK yakni bisa berkeliling dunia adalah hal yang sangat Yahya syukuri. Bisa menjelajah dunia, dan mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru, meski harus jauh dari keluarga membuat dia bersyukur atas apa yang dimilikinya. Begitu pun saat ini dia bisa menikmati pemandangan di tengah laut dengan matahari tenggelam nun jauh di ufuk barat sana.
Rasanya kapal telah berlayar lebih dari 10 jam sejak berangkat dari Hamburg jam 16.00 sore tadi, Yahya yang tengah tidur di kamar khusus ABK mendengar suara keributan dari luar. Bukan hanya dirinya yang terbangun tapi teman satu kamarnya juga. Yahya ikut keluar untuk melihat apa yang sesungguhnya terjadi.
Dan betapa terkejutnya Yahya saat dia telah keluar dari kamar, dia bertemu dengan beberapa orang bertopeng yang membawa senjata api dan mengikat tangannya dan teman- temannya dan menggiring mereka ke aula kapal. Di sana pun telah banyak yang berkumpul dengan kondisi sama diikat tangannya ke belakang.
Tidak cukup lama baginya untuk mengerti kondisi ini, kalau kapal Yolanda ini telah dibajak oleh sekelompok orang bersenjata api. Tak aneh kalau mereka menjadikan Yolanda sebagai target. Kapal ini memuat penumpang dari golongan kelas kakap yang kekayaanny tidak diragukan lagi.
Situasi genting itu berlangsung cukup lama tanpa mereka bisa berbuat apa- apa. Maka dalam waktu yang tidak terlalu lama para pembajak itu pun telah berhasil mengumpulkan banyak harta rampasan dari para penumpang kapal.
"Hey, du! Kannst du die truhe zum nächsten schiff bewegen?"
"A- aku tak tahu ape yang Tuan cakap. Bi- bisa ke diartikan dalam bahase Melayu sahaja?" tanya Yahya terbata.
Seseorang yang lain lagi dari mereka tiba- tiba tertawa mendengar Yahya.
"Dia menyuruhmu dan beberapa temanmu mengangkat peti itu! Apa kau bisa?"
Yahya menganga mendengar suara laki- laki dari balik topeng itu. Kalau dia tidak salah, logat dari orang itu menunjukkan kalau dia adalah orang yang serumpun dengannya. Mungkin Indonesia?
"Sa- saye boleh angkat. Tapi saya mesti dibantu teman saye," kata Yahya lagi.
"Baiklah, kau ajak temanmu satu!" perintah orang itu lagi.
__ADS_1
Yahya memandang sekeliling dan teman- teman sekamarnya nampak memalingkan wajah mereka berharap Yahya tidak menunjuk pada mereka. Tapi tidak demikian halnya dengan Salim yang terlihat sedikit memberi kode kalau dia bersedia membantunya.
"Kalau macam tu, aku boleh minta dia sahaja yang tolong aku," pinta Yahya.
"Baiklah! Kalian cepat, angkat peti itu!"
Lalu setelah ikatan tangan Salim dilepas, keduanya pun seperti diperintahkan mulai mengangkat peti itu. Entah apa isinya, namun Yahya merasa peti itu cukup berat.
Hingga akhirnya peti itu berhasil diturunkan ke kapal kecil milik para pembajak, Yahya lagi- lagi terkejur karena mereka tidak diperbolehkan lagi naik kembali ke kapal Yolanda.
"Kalian ikut kami atau kalian boleh memilih untuk mati!" ultimatum pria itu lagi.
Dan lagi- lagi Yahya dan Salim tak bisa berbuat apa- apa. Mereka akhirnya ikut dengan kapal pembajak itu. Hingga tiba di dermaga gelap kota berikutnya, mereka kembali berpindah kapal untuk menghilangkan jejak. Dan itu berlangsung selama beberapa kali.
Hingga tibalah di hari ketiga mereka berlayar dengan para pembajak itu, entah bagaimana ceritanya ternyata di antara mereka sekomplotan ada yang tidak puas dengan pembagian harta rampasan atau bagaimana, Yahya tidak tau namun malam itu di tengah samudra nan luas terjadi tragedi saling serang yang tak cuma menumpahkan darah namun menghilangkan nyawa satu sama lain. Hingga yang tersisa dari mereka hanya tiga orang, di antaranya adalah orang Indonesia yang telah memilih mereka untuk ikut di kapal perompak itu.
"Was sollen wir mit ihnen machen?" tanya pria Indonesia itu pada pria Jerman sambil menunjuk pada Salim dan Yahya yang masih terikat tangannya di pojok ruangan itu.
Yahya tak mengerti apa artinya. Namun Salim dan Yahya bisa mengerti saat mendengar jawaban lelaki itu dengan menggunakan bahasa Inggris. Mereka terkesiap mendengarnya.
"Kill both of them. And dispose of with the other corpses! (Bunuh keduanya dan buang bersama mayat lainnya) Hahahaha ...."
***
Like dan komentarnya jangan lupa dear...
__ADS_1