Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Flashback Ilham (2)


__ADS_3

"Hafiz begaduh dengan kawannya yang bullying Yola. Budak tu sampai masuk hospital. Mamah dipanggil oleh cik gu Hafiz bidang kesiswaan. Cik gu tu yang bekisah tentang Yola hingga Mamah tahu dia mengandung," Zubaedah menerangkan semuanya pada Ilham di telepon.


"Bullying?" gumam Ilham tercekat.


Tentu saja. Kenapa dia tak memikirkan sampai ke sana. Hamil di saat Yola masih di usia dini, sedang sekolah pula, hal seperti itu pasti sulit untuk bisa diterima lingkungan sekolah. Di masa Ilham sekolah menengah dulu pun ada temannya yang mengalami kasus serupa, hamil di saat dia masih sekolah dan seluruh sekolah tentu membully dan mengecam gadis itu sebagai wujud dari sanksi sosial yang harus dia terima karena melakukan tindakan asusila.


Tetapi Yola? Ini jelas beda kasus. Yola sudah menikah. Dan Ilhamlah yang telah menikahinya, merayunya hingga sampai pada tahapan mereka akhirnya berhubungan suami istri. Jadi dimana salah istri malangnya itu? Dalam hal ini, Ilhamlah yang paling patut disalahkan. Ya Tuhaaan, Ilham merasa dadanya sampai sesak mendengarnya.


"Kau tahu Ilham? Kalau Cikgu-nya Hafiz tak menceritakan hal ni pada Mamah, kite tak akan tahu pasal ni, pihak keluarga Gunawan khususnya mama papa Yola tak nak bagi tahu kite. Macam mana ni, Ilham? Mama pun dah berjumpa dengan Yola kat sekolah, dia tak nak berbicara apa pun ke Mamah. Mamah ni jadi sedih dan bingung dengan semua yang terjadi. Huffft ..." Terdengar Zubaedah menarik napas lagi.


"Mama usah khawatir, Ilham nak bertolak kat Indo esok. Kite rundingkan kat sana kalau Ilham dah sampai," bujuk Ilham.


"Tak payah datang kat sini, Ilham. Kau kate, kau mesti ikut sidang bachelor (S1), kan?"


Ilham mendesah. Waktu 9 minggu yang diwajibkan fakultas untuk menyelesaikan skripsinya sejak registrasi skripsi telah habis ditambah lagi perpanjangan 4 minggu yang telah dia ambil karena enggan kembali ke Berlin. Itu pun dengan memberikan banyak alasan ada sesuatu hal yang urgensi pada pihak universitas, barulah Ilham mendapat perpanjangan 4 minggu untuk menyelesaikan skripsinya itu. Dan setelah itu, minggu lalu akhirnya pria yang masih berstatus mahasiswa itu pun akhirnya mendapat termin atau appointmen untuk sidang bacherol. Dan waktunya hanya berkisar 5 hari lagi dari sekarang.


Ilham tidak bisa menunggu selama itu untuk tidak menemui Yola. Bagaimana pun Yola pasti membutuhkan dukungan darinya. Soal sidang, Ilham setidaknya masih punya beberapa hari untuk kembali ke Berlin, setelah dia menemui Yola sejenak di Jakarta, begitu pikirnya.


Dan keesokan harinya setelah menempuh perjalanan dari Tegel Airport, Berlin (sebelum bandara Tegel ditutup di tahun 2020 dan diallihkan ke bandara Brandenburg) selama lebih dari 13 jam perjalanan dan terlebih dahulu transit di bandara Changi, Singapore, akhirnya Ilham sampai juga menjelang malam di Jakarta. Dia langsung menuju rumah dinas Ismail, sang Papa.


Zubaedah menyambutnya dengan wajah kusut.


"Ilham, Mamah dah cakap kau tak perlu datang kat sini. Macam mana dengan sidang bacherol-mu nanti?" tanya Mama khawatir.


"Mamah usah risaukan tu," jawab Ilham mencoba menenangkan.


"Usah risaukan macam mana? Dah pun banyak perkara, kau pula nak tambah dengan perkara lain," gerutu Zubaedah.


Ilham memaksakan diri untuk tersenyum.


"Lepas Ilham selesai uruskan perkara dengan Yola, Ilham akan lekas balik kat Berlin, Mah," jawab pria itu lagi. "Si gendut mana?"


Di tengah lelahnya selama di perjalanan, Ilham masih menyempatkan diri menanyakan keberadaan sang adik, meski pun hubungan mereka nampak buruk sejak peristiwa di majlis pernikahannya dengan Sonia kemarin. Sejak Hafiz kembali ke Jakarta, sampai Ilham kembali ke Berlin, tak sekali pun Hafiz mau menjalin komunikasi dengannya. Dia yang biasa selalu merasa dekat dengan Ilham, abangnya, kini menjauh. Tak sekali pun dia mau mengangkat telepon Ilham bahkan membalas chatnya. Ini adalah mimpi buruk bagi ikatab persaudaraan di antara mereka.

__ADS_1


"Hafiz dah tidur," jawab Zubaedah.


"Cepatnya ...?"


"Hmmm ..."


Tak hanya pada Ilham, pada Zubaedah dan semua keluarga Nirwan, lelaki bertubuh gemuk dan gempal itu juga menarik diri dari mereka. Hafiz tak sedekat dulu dengan sang Mama. Dia hanya berbicara satu-satu, hanya sekedar menghormati orang yang telah mengangkatnya anak selama ini.


"Jom, kau rehatlah dahulu, dah malam ni. Kau mesti penat di perjalanan kan? Pasal Yola kite ..."


Di saat itu, Hafiz tiba-tiba keluar dari kamarnya. Dia yang tadinya hanya ingin mengambil air minum, sempat tertegun melihat Ilham yang baru tiba dan sedang bercakap-cakap dengan sang Mama.


"Hafiz, kau belum tidur?" tanya Zubaedah.


"Nduuutt!!!" Ilham melambaikan tangannya mencoba bersikap tetap akrab pada Hafiz seperti biasanya mereka.


Tetapi Hafiz malah melengos tak peduli. Segera dia berlalu ke dapur untuk mengambil air minum. Ilham mengikutinya ke dapur.


"Nduut, kau tak nak sambut abang ke? Abang bawakan kau kasut sport agar kau rajin jogging biar kurus sikit. Abang tadi belikan ketika transit kat Changi (Airport)," kata Ilham.


Lagi-lagi Hafiz tak menghiraukan Ilham. Dengan cepat dia meneguk habis air dingin dari dalam kulkas, menutupnya dan bersiap untuk pergi.


"Hafiz!" panggil Ilham lagi.


Masih tak dihiraukan, yang ada malah Hafiz sengaja meninggalkannya di dapur dan kembali ke kamarnya sendiri.


Ilham tak mudah menyerah. Setelah mengeluarkan sepatu sport dari dalam kopernya, pria itu pun mendatangi kamar Hafiz.


Ceklek!


Ternyata tak dikunci. Di atas tempat tidur, Hafiz sedang membuka-buka layar ponselnya. Melihat Ilham datang, Hafiz segera memasang mode tak bersahabat.


"Hafiz, abang tahu kau mesti marah sangat dengan abang, kan?" tanyanya lembut. "Abang kat sini datang untuk tengok Yola. Kau dan dia satu school. Betul ke yang dikate Mamah tu, kalau Yola ...."

__ADS_1


Ilham tak kuasa melanjutkan kata-katanya.


Terdengar napas memburu dari Hafiz, pertanda dia sedang menahan amarah.


"Hm? Kenape? Kau dah bahgia ke mase ni?"


Hafiz yang semula adalah adik yang penuh kebanggaan terhadap abangnya kini sudah tidak kenal rasa sopan lagi. Sedikit pun dia tidak lagi menghargai Ilham.


"Hafiz ..." bujuk Ilham.


"Yola mengandung. Dia pregnant! Dia dibullying oleh seluruh siswa sekolah kami, Abang!! Abang senang sekarang?"


Ilham terdiam.


"Kau bahgia mendengarnya?" tuntut Hafiz.


Ilham mengangguk.


"Ya. Aku nak jadi seorang ayah. Macam mana aku boleh tak bahgia?" Ilham merasa tercekat mendengarnya.


Dan tak disangka, satu pukulan keras melayang dari tangan Hafiz pada Ilham.


"Kau ni ego sangat! Macam mana kau boleh bahagia di atas penderitaan orang lain?!!"


Dan ...


Bruuughh!!


Hafiz memukulnya ke dua kali.


***


Like dan komentnya ya beib ...

__ADS_1


__ADS_2