
Hari sudah malam saat Ilham baru datang dari N-one Grocery. Sebenarnya Leon, Nadhira dan beberapa bawahannya mengajaknya makan bersama malam ini untuk merayakan keberhasilan mereka mendapatkan satu perjanjian kerja sama lagi dengan pihak pelabuhan di daerah Selangor. Namun dikarenakan tadi siang dia mendapat kabar dari rumah kalau sang Mama sedang terluka dan Yola pun harus pulang lebih dahulu, membuat ia membatalkan acara makan-makan itu. Kondisi mamanya dia rasa lebih prioritas dibandingkan acara makan-makan yang diadakan oleh rekan-rekannya di N-one.
Keberhasilan N-one Grocery menjalin kerja sama sebelumnya dengan pihak airport, membuat Presiden Direktur N-one Grocery yang baru itu melirik sarana transportasi sebagai peluang bisnis berikutnya. Dan kali ini pelabuhan adalah salah satu sektor yang dia rasa mampu menaikkan omset perusahaan dengan cara cepat dan berlipat. Bukan tanpa alasan Ilham melakukan segala cara untuk bisa menaikkan omset perusahaan N-one Grocery. Janji sang istri Yolanda, pada Atok untuk menaikkan omset tahunan perusahaan sebanyak 30%, Ilham rasa perlu untuk tetap diwujudkan. Namun dikarenakan Yola sedang hamil dan tidak dapat bekerja lebih keras, dia berinisiatif untuk mengambil alih tugas itu untuk menepati janji istrinya itu pada Atok Yahya.
Ilham tertegun saat masuk ke dalam rumah dan mendapati semua sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Abang, udah pulang?" sapa Yola begitu menyadari kehadiran suaminya itu.
"Hum," jawab Ilham sambil matanya menatap lekat pada sosok seorang gadis yang sedang duduk di samping Mamah Zubaedah.
Mamah Zubaedah terlihat intim menggenggam tangan tangan gadis itu. Seperti seorang yang telah lama dirindukannya. Apa itu Andini? Ilham mendekat sambil matanya tak lepas memandang Andini, mencoba mengingat-ingat foto Andini yang didapatkan Yola dari dokter spesialis jantung itu. Dan kini Ilham yakin, gadis ini memang Andini.
"Kau dah balik?" sapa Zubaedah pada putra sulungnya itu.
Ilham mengangguk dan meraih telapak tangan Zubaedah untuk diciumnya. Zubaedah menepuk sofa di sisinya, untuk menyuruh Ilham duduk di sebelahnya. Ilham menurut. Kini Zubaedah duduk di tengah-tengah kedua anak kandungnya itu.
Yola sendiri mendekati Ilham dan membantu suaminya itu membuka kancing paling atas kemeja Ilham dan melepas dasinya. Tak lupa ia membuka kancing di pergelangan tangannya.
"Andini ..." bisik Yola memberi tahu.
Ilham mengangguk dan menyempatkan diri mengelus rambut Yola dengan sayang seraya mengucapkan terima kasih karena telah membantunya membukakan dasi dan kancing bajunya.
"Thank you, Honey," ucapnya.
Yola mengangguk sembari menggulung dasi Ilham dan kembali duduk di sofa yang lain di dekat Ammar dan Putri. Perutnya benar- benar membesar saat ini sehingga untuk duduk kembali pun dia harus berhati-hati.
"Jadi macam mana? Kau dah puas pusing-pusing? Akhirnya tahu balik rumah juga," kata Ilham seolah sedang memarahi adiknya yang hanya pergi beberapa jam saja dari rumah.
"Ilham ..." tegur Zubaedah sambil mencubit paha Ilham.
"Awww, Mamah! Kenape Ilham dicubit macam tu?" pekik Ilham sambil mengaduh kesakitan.
"Jangan cakap macam tu. Nanti Andini tak nak balik sini macam mana?" omel Zubaedah.
"Haiss, kau dah tengok? Kau ni kesayangan Mamah kat sini! Baru dicakap macam tu Abang dah dimarahkan Mamah macam tu. Memanglah Ilham ni hanya anak tak disayang," cibir Ilham pada Zubaedah.
Andini tersipu. Dia tahu siapa lelaki ini. Ini pastilah Ilham, Abang kandungnya.
"Kau tahu siapa saye?" tanya Ilham untuk mengurangi kecanggungan Andini padanya.
Andini mengangguk.
"Siape?" tanya Ilham ingin memastikan.
"Abang Ilham, kan?" jawab Andini.
"Betul!" Ilham menjentikkan jarinya. "Kerana kau dah tahu, Dini, Abang bagi tahu. Jangan segan dengan Abang. Kite memang dah lama tak bersua. Tetapi biar macam mana, Abang ini adalah Abang kandungmu. Takdir memisahkan kite berpisah sekian lama. Tetapi Abang masih ingat dahulu kau adalah adik kesayangannya Abang. Itu sebelum kau menghilang, jadi jangan anggap keluarga ini seperti orang lain. Kau tetap putri keluarga Nirwan, sampai bila pun," kata Ilham.
Zubaedah mengangguk sambil menepuk paha Andini.
"Abang kau betul, Sayang. Kau tinggallah Kat sini, hmm? Supaya kite dapat berkumpul bersama-sama," bujuk Zubaedah.
Andini tak langsung menjawab. Dia menatap orang-orang di sana satu persatu, mencoba menyelami kedalaman hati mereka.
"Emmm ... tapi ..."
"Tapi ape?" tanya Zubaedah.
"Itu, anak Mamah yang satunya," gumamnya.
Zubaedah terdiam sejenak mengingat anak yang mana lagi, kemudian dia teringat pada Hafiz dan akhirnya dia tertawa.
"Hafiz?" tanyanya masih dengan tawa.
Andini dengan ragu mengangguk.
"Kau tak cemburu dengan dia, kan?" tanya Zubaedah dengan tawa berderai.
Andini menjadi tersipu dibuatnya.
"Hafiz, buat Mamah sama sahaja dengan korang berdua. Mamah sayangkan dia, walau dia tak dapat gantikan Andini di hati Mamah. Kau usah khawatirkan Hafiz, hmm? Dia akan jadi saudara yang baik. Dia akan mengerti akan kehadiran Dini. Usah cemaskan itu, Sayang. Hafiz anak Mamah yang baik," kata Zubaedah.
__ADS_1
"Dia sekarang ada dimana, Mah?"
Zubaedah mengerutkan keningnya dan berpaling pada Putri.
"Putri, Hafiz ade kat mana?" tanya Zubaedah pada Putri.
Eh? Putri tersentak ditanya begitu oleh Zubaedah. Camer, cieeee ...
"Emmm, Abang Hafiz ... emmm," Gadis itu terbata menjawabnya.
"Cie.... Putri panggilnya sekarang Abang Hafiz ya ... Cieee ...." goda Yola.
Putri semakin gelagapan digoda begitu oleh Yola.
"Iss, Yola apaan ..."
"Jadi kan Mah, kita lamar Putri buat Abang Hafiz?" gelak Yola. Rasanya menyenangkan menggoda sepupunya itu. "Kayaknya nggak perlu tunggu Yola lahiran deh, Ma. Kelamaan. Kasihan yang lagi kasmaran."
"Iss, Yola! Mulutnya ..." gerutu Putri. "Udah deh, aku balik ke kamar aja kalau kamu godain aku mulu!"
"Hahaha ... iya, iya. Nggak kok. Aku cuma bercanda. Memang Hafiz ada dimana, Put?" tanya Yola di antara tawanya yang mulai mereda.
"Mana kutahu, kamu tanya dialah, chat, telepon kek," gerutu Putri.
"Kamu kan calon bininya. Jadi pasti kita tanya ke kamulah," goda Yola lagi.
"Yola ... Makcik, Putri balik ke kamar aja dulu ya, aku nggak enak digangguin Yola mulu," adunya pada Zubaedah.
Zubaedah terkekeh.
"Yola, stop it! Jangan mengganggu Putri macam tu, nanti dia tak nak menjadi bahgian keluarga kite macam mana?" Zubaedah malah tambah menggoda.
Itu membuat Putri semakin memerah menahan malu.
"Makcik ..." protesnya.
"Mulai biasakan panggil Mamalah, Put ..."
"Yola! Kenape bakal isteri aku kau ganggukan macam tu?"
Tiba-tiba saja suara Hafiz terdengar mengagetkan semua yang ada di ruang tamu itu. Hafiz tiba-tiba saja telah berada di sana.
"Hafiz, kamu datang?" sahut Yola.
"Hmm, ade ape ni berkumpul beramai-ramai macam ni?" tanya pria itu.
Pandangannya kini tertumbuk pada Andini. Dia tersenyum, sepertinya dia juga tahu itu siapa.
"Waaah, Hafiz dah tak disayang agaknya ni. Budak kesayangan Mamah dah balik," selorohnya membuat Andini yang mendengarnya merasa tak enak hati.
"Memanglah, Abang pun tak disayang Mamah lagi. Macam manalah kite ni, Fiz ..." kata Ilham menimpali.
"Huuuuu ...huuuu ..." Kedua abang beradik gokil itu langsung memainkan dramanya pura-pura menangis sambil berpelukan.
"Korang berdua ni memang pandai berlakon. Dini usah hiraukan berdua ni, kedua anak Mamah ni nampaknya memang kurang hiburan. Saudari kau dah datang bukan disambut baik-baik malah diajak bergurau macam ni," omel Zubaedah pada Ilham dan Hafiz.
"Iyalah, iyalah, Hafiz hanya bergurau je. Andini bakal menjadi adik kesayangan. Mamah usah khawatir. Dia akan jadi saudari perempuan satu-satunya Hafiz dan Abang, betul kan Bang?" tanyanya meminta pendapat Ilham.
Ilham mengangguk membenarkan.
"Terus aku nggak dianggap saudari lagi, Ndut?" protes Yola.
"Kau ni iparlah, macam mana boleh jadi saudari," ledek Hafiz.
"Ahh, kamu nggak konsisten," gerutu Yola.
Dan perkumpulan keluarga Nirwan itu berlanjut hingga beberapa lama. Di saat-saat quality time seperti itu, mereka juga menyempatkan diri untuk membahas rencana pernikahan Hafiz dan Putri. Tak lupa juga melakukan panggilan Vidio pada Papa Ismail yang berada di Johor Baru. Orang tua itu sudah mendengar sebelumnya dari Zubaedah kalau Andini mereka telah ditemukan. Tetapi dia baru bisa melihatnya hari ini.
"Dini, anak Papah. Lama Papah dan Mamah ni mencari dini, akhirnya berjumpa juge. Papah akan ke KL juge lusa, untuk memberkati majlis walimatul hamli-nya saudari iparmu, Yola. Kau sabar tunggu Papah, hmm?" kata orang tua itu.
Andini mengangguk. Jadi ini Papanya. Ternyata sama dengan Papa Abraham yang juga tinggal berjauhan jarak bersama mamanya di Jakarta.
__ADS_1
"Ilham mana?" tanya Ismail menanyakan putra sulungnya.
Terakhir kali mereka masih saling bersitegang satu sama lain, saat ayahnya, Tengku Yahya Nirwan meninggal dunia.
"Hmmm ... Ilham disini," sahut Ilham.
Rasanya tak ada alasan untuk bersitegang lagi dengan sang Papa. Toh sekarang semua sudah berjalan lagi sesuai dengan yang semestinya. Lagi pula almarhum Atok Yahya tak akan tenang jika dia dan sang ayah tidak saling bertegur sapa.
"Ilham, kau jaga Andini. Papah tak nak kalau Andini sampai hilang lagi. Ini mesti jadi tanggung jawab kau, kerana kau yang mase ni ade di KL bersama Hafiz. Korang berdua mesti jage Andini menggantikan Papah. Ilham, Hafiz? Korang berdua dengar tak ape cakap Papah?" tanya Ismail.
"Iyalah, iyalah. Hafiz dengar, Papah. Tak tahu kalau Abang, dengarkah atau tak," sahut Hafiz.
"Mestilah Abang dengar, Ndut. Kau ni, hendak buat Abang begaduh dengan Papah pula," gerutu Ilham.
"Abang pun yang suka begaduh dengan Papah. Hafiz tidak," cibir Hafiz.
Kemudia sang Abang pun tak tahan untuk tidak menjitak Hafiz.
"Kau ni cakap macam-macam pula!"
Lalu keduanya pun saling hitam seperti biasa yang mereka lakukan saat anak-anak. Zubaedah hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya.
Pada moment itu, tak lupa mereka juga menyempatkan diri melakukan panggilan Vidio pada orang tua angkat Andini. Panggilan vidio itu disambung tiga ke Penang dan juga Jakarta.
"Dini, Mama senang kau bisa berkumpul lagi bersama keluarga kandungmu, Nak. Tetapi Dini jangan lupa. Meski Mama bukan orang yang melahirkanmu, tetapi Mama juga tetap adalah Mama kamu. Rumah ini, keluarga ini, selamanya adalah rumah kamu, keluarga kamu. Kamu jangan sampai ....lupakan mama sama papa ..." Tangis wanita itu meledak tanpa bisa ia menahannya di panggilan vidio itu.
Andini ikut menangis dibuatnya.
"Mama, mama jangan nangis donk. Dini tetap anaknya Mama. Andini nggak mungkin lupa sama orang yang telah membesarkan Andini dengan penuh kasih. Andini sayang Mama. Tetapi Andini juga tidak bisa selamanya abai pada Mama Zubaedah, Mamah yang telah mengandung dan melahirkan Dini. Mama ... Mama jangan sedih ya ..." bujuk Andini lada Mama angkatnya itu.
"Haiss, mamah kau tu memang macam tu lah. Suka menonton sinetron. Jadi ape tuh namanya tuh Dini, lebay? Alay?" ejek dr. Abraham dari Penang membuat Andini yang tadi menangis jadi tertawa sambil mengeluarkan air matanya.
"Papa, apa-apaan ngolokin Mama? Dini juga ikut ngetawain, Mama. Mama tuh takut Dini nggak balik-balik ke Jakarta lagi. Kalian mah enak di sana dekat. Penang dan KL, bisa kunjung-kunjungan. Mama sendirian di Jakarta, kesepian! Tau nggak?" omel wanita paruh baya itu masih sambil menangis tersedu.
"Sama sahaja, Mama. Jakarta-Malay pun naik plane hanya dua jam sahaja, nak ape buat pening macam ni. Ckckck .... Dini, cuba tengok mamah kau ni. Lebay ...." olok Abraham lagi pada istrinya.
"Iss, papa! Nyebelin banget sih!!"
"Makanya kalau nggak mau sendirian disana, ikut Papa dan Dini tinggal di sini, Sayang ...." bujuk Abraham.
"Di sini Mama juga punya kerjaan!"
"Resign Mama, nanti Mama buka praktek di KL sahaja," bujuk Abraham lagi.
"Nggak ah! Mama nggak mau pindah ke sana!"
"Ikut husband lebih diridhoi Allah, Mama," goda Abraham.
"Iya tau, tau ...."
Zubaedah yang mendengarkan percakapan putrinya dan kedua orang tua angkatnya itu bisa menarik kesimpulan kalau mereka adalah keluarga yang hangat dan penuh kasih sayang. Sungguh sangat beruntung Andini diasuh oleh mereka. Meski batinnya menderita selama 24 tahunan ini, tetapi mengetahui kalau Andini hidup dengan orang-orang baik Zubaedah merasa lega dan sangat bersyukur.
"Dik, maaf kalau saye menyela," sela Zubaedah. "Kalau boleh usulkan, alangkah baik kalau adik Ita, pindah kat sini, biar boleh dekat-dekat dengan Andini.Saye mengerti perasaan korang berdua, kerana saye juga dah mengalami, jauh dari anak serasa raga ini dah tak Ade jiwanya lagi. Saye sangat-sangat berterima kasih dah jagakan Andini selama ini dengan baik. Korang berdua sayangkan dia macam anak sendiri. Saye tak nak dikate sebagai orang tua yang mengutamakan ego. Dini adalah anak kite bersama, mestilah memiliki hak dan kewajiban yang sama atas dia. Bila korang berdua ni rindu, atau sebaliknya Andini merindukan mama dan papanya yang Ade kat penang atau Jakarta, sila berjumpa, tak mengapa. Mamah tak larang, hmm? Biarkan dia memiliki dua keluarga. Macam mana, Dini sepakat dengan Mama ke?"
Andini mengangguk.
"Iya, Mama. Andini setuju. Andini senang punya dua keluarga yang sayang pada Dini," jawabnya.
Kedua orang tua angkat Andini pun setuju dengan pemikiran Zubaedah. Baiklah, seperti ini tentu lebih baik, bukan?
Yola yang sedari tadi tak ikut nimbrung dalam percakapan dalam Vidio call itu tersenyum harum. Awal yang bahagia untuk keluarga mereka.
Di saat dia tengah memperhatikan Mamah Zubaedah dan Andini yang sedang bertelepon ria itu, dia tersentak saat ponsel yang dipegangnya sedari tadi bergetar. Telepon dari Eva. Yola segera mengangkatnya.
[Oke deh, aku bantu kalian untuk memanfaatkan Martin untuk menjebak bapaknya]
Yola tersenyum sumringah.
*****
Hai, reader! Jangan lupa like dan komentarnya yak!
__ADS_1