
"Kau tengoklah sendiri!"
Ilham segera menerima ponsel itu dari tangan Nadira. Sebuah vidio berdurasi sekitar 9 menit beredar di jejaring media sosial. Vidio itu bertajuk "Ketua Pengarah Bermain Sulit dengan Puan Marketing, Isteri Datang Kacaukan N-one dan Buat Kegaduhan Dengan Gundik Suami."
Ilham menonton vidio itu dengan gigi yang gemeretak.Bagaimana tidak, vidio itu tak hanya memperlihatkan pertengkaran antara Sonia dan Yola, tetapi juga vidio mesranya dengan Yola yang sedang berada di dalam mobil di parkiran basement N-one Grocery.
"Nadira, tolong kau panggilkan Leon! Suruh dia selesaikan sekarang juge website pembuat berita tu. Blok dan cari tahu siape dalang di balik ni semua. Kalau dah dapat, report ke polis office mase ni juge!" kata Ilham murka.
"Ilham, kau tenanglah sikit!" pinta Nadira.
"Macam mana aku boleh tenang Nadira? Ini dah pasti akan mempengaruhi Yola. Dia sedang mengandung aku. Yola mesti stress kalau sampai dengar berita ni. Sudahlah biar aku yang cakap langsung pada Leon pasal ni," kata Ilham cemas.
"Kau tenanglah sikit, Ilham!" kata Atok Yahya. "Macam mana kau boleh selesaikan problem kalau kau tak boleh tenangkan dirimu sendiri? Yola pun akan khawatirkan kau kalau kau macam ni," kata Atok Yahya lagi.
"Atok, Atok tunggu sahaja Ilham kat sini. Ilham mesti selesaikan problem ni sekejap," kata Ilham pada Sang Atok. "Dan kau Nadira, aku boleh minta tolong ke, tolong kau ambil, kau curi talipon bimbit (Handphone) punya Yola. Jangan sampai dia tengok tu berita," perintah Ilham.
"Haaah? Mencuri?"
"Sekejab sahaja, sampai berita dan vidio tu hilang dari peredaran," kata Ilham.
"Aku tak nak mencuri, Ilham ..." rengek Nadhira.
"Sekejap sahaja. Nanti pula talipon bimbit tu akan di kembalikan juge kalau masalah ni dah usai," bujuk Ilham.
Tak menunggu lama pria itu pun pergi ke ruang Wakil Ketua Pengarah yang berada di samping ruangannya.
***
Sementara itu di ruang Pengarah Marketing, Ammar sedang menatap lekat- lekat pada sang Mommy. Matanya tiba-tiba berkaca- kaca.
"Ammar, kau kenapa, Sayang?" tanya Yola tak mengerti.
Ammar menyeka matanya yang berair.
"Mom, siape yang bikin Mommy macam ni? Siape yang pukul Mommy? Ammar nak pukul orang tu juge," tanya Ammar terisak.
Hal itu malah membuat Yola jadi terharu.
"Mommy tak sengaja jatuh tadi, Sayang. Mommy tak hati-hati. Jadi beginilah akhirnya," dusta Yola sambil menunjukkan wajahnya sendiri.
"Mom, Grandma kate berdusta tu dapat membuat kite masuk nerake. Mommy tak takut ke? Kenape Mommy berdusta dengan Ammar?" tuntut bocah tu.
"Ehmm, Mommy nggak bohong. Memang Mommy jatuh tadi," jawab Yola lagi- lagi dengan kebohongan.
"Kalau macam tu macam mana dengan adik babynya Ammar? Dia jatuh juge ke???" pekiknya panik.
Fokus Ammar pun langsung berpaling pada perut Yola.
"Lil Bro, are you Ok?" tanyanya sambil mendekatkan telinganya pada perut Yola itu.
"Yes, i'm okay. Don't worry, Ammar Bro!" bisik Yola menirukan suara anak kecil seolah itu adalah suara janin dalam perutnya.
__ADS_1
Ammar mendongakkan wajahnya melihat ke Yola.
"Mom, itu suara Mommy. Ammar tahulah!" protes bocah itu.
Yola tertawa kecil.
"Betul, itu suara Mommy. Pandai Ammar," puji Yola.
Ammar menatap Yola dengan pandangan memicing.
"Mestilah, Mom. Kalau tak pandai bukan anak Mommy. Betul tak?"
Yola tertawa lagi.
"Betul juga. Ngomong- ngomong Ammar ke sini sama Atok dari Tadika?" tanya Yola lagi setelah memperhatikan Ammar masih menggunakan seragam TK-nya.
Ammar mengangguk.
"Atok besar, jemputkan Ammar di Tadika. Habis tu kite ke sini pula. Nak minta ijin dari Daddy agar Ammar boleh ikut Kakek ke Jakarta," jawab anak itu.
"Oh ya?"
Yola kaget mendengar berita yang disampaikan Ammar.
Ammar mengangguk.
"Kamu memangnya mau?" tanya Yola tak percaya.
"Kakek kate di Jakarte ade nenek uti yang sedang sakit. Ammar mestilah datang kat sana agar nenek boleh sembuh dari sakit, sebab Ammar ni obat penawar sakit Kakek cakap, Mom," ujar Ammar polos. "Tapi Ammar tak paham pun, macam mana Ammar boleh jadi obat?"
Yola dengan senyum senang mencubit pipi putranya itu gemas.
"Kalau kamu mahu nenek uti cepat sembuh, saat sampai di sana, kamu langsung peluk cium nenek, Ok?" kata Yola antusias.
Ammar pura- pura berpikir sejenak.
"Baiklah kalau macam tu. Tapi Mom, nenek tu baik ke? Dia sayangkan Ammar ke?"
Lagi- lagi pertanyaan dengan ekspresi lucu dan menggemaskan.
"Nenek tu adalah mamanya Mommy. You know, dia juga mommy-nya Mommy. Dia tu paling baaiiiiik sedunia. Nenek paling best. Percaya Mommy, dia sangat menyayangimu, Ammar," kata Yola.
Teringat oleh Yola dulu saat dia ketahuan hamil oleh dokter, betapa dia sangat ingin menggugurkan kandungannya. Tapi Mamah Ratih malah marah dan bersikeras memaksa Yola agar mau mengandung dan melahirkan Ammar. Dengan kasih sayang seorang ibu, dia mendampingi masa sulit dan kehamilan Yola dengan penuh kesabaran, hingga akhirnya Ammar terlahir dan kini ada di hadapannya.
Ammar mengangguk senang.
"Baiklah. Sesampai kat sana, Ammar nak peluk cium nenek, Mom!"
"Budak pandainya, Mommy!" puji Yola. "Abang Ammar memang paling best sedunia!!!!"
"Mommy puuuunnnn!" puji Ammar balik sembari memeluk Yola.
__ADS_1
Yola balas memeluk Ammar dengan sayang. Romansa Ibu dan anak itu tiba- tiba tarhenti saat Nadira tiba- tiba datang dan menerobos pintu. Kedatangan Nadira yang terlihat tergesa- gesa tentu saja membuat Yola heran. Dan Nadira pun sempat bingung apa yang akan dia lakukan agar bisa mengambil ponsel Yola tanpa ketahuan si empunya. Namun saat melihat keadaan Yola yang berantakan dia pun punya ide.
"Yola!!! Kau begaduh dengan Sonia ke?" tanya Nadira panik
Yola mengangguk.
"Ya, Tuhaaan, perempuan tu ..." Nadira terlihat geram. "Kau tengok penampilan kau, kacau sangat. Aku pun baru tahu dari kawan- kawan SPG di bawah. Baju kau pun robek macam tu!"
Ammar melepaskan pelukannya dari sang Mommy.
"Mom, betul ke Mommy medusa yang bikin macam ni pada Mommy?" tanya Ammar lagi- lagi polos.
"Medusa siapa?" tanya Yola balik sambil mengedipkan mata memberi kode agar Nadira tak melanjutkan omongannya tentang Sonia.
"Mommy Sonia, Mom! Mommy usah berdusta dengan Ammar. Pasti Mommy Sonia yang bikin ni, betul kan?" desak Ammar.
Yola memutar otaknya bagaimana cara memberi jawaban yang tepat untuk Ammar tanpa membuat anak itu menjadi pembenci.
"Mommy tadi hanya berakting dengan Mommy Sonia, Sayang. Tapi tak disangka Mommy jadi jatuh, terus luka- luka macam ni. Mommy Sonia pun sama. Luka juga macam Mommy. Kita sama- sama terluka. Mommy Sonia lebih kasihan," kata Yola.
"Betul ke?" tanya Ammar.
"Hmm... betul. Dia luka di dalam," kata Yola penuh makna.
"Yola, sebaiknya kau ganti baju kau tu dahulu. Pakai seragam N- one dahulu, macam mana?" tanya Nadira.
"Boleh juga," jawab Yola.
"Kalau macam tu kau minta sahaja dengan Melisa sekalian kau ganti baju kau tu, Ammar biar dengan aku sahaja," saran Nadira.
"Oke. Ammar, kamu tunggu Mommy di sini, ya ... Mommy ganti baju dulu," kata Yola.
Ammar menggangguk.
Sepeninggalan Yola, Nadira melirik ponsel Yola yang sedang diisi dayanya pada stop kontak.
"Ammar, tadi Atok Yahya panggilkan Ammarlah di ruangan Daddy. Aunty lupa bagi tahu," dusta Nadira.
"Iya, ke?" tanya Ammar balik.
"Hu um," Nadira mengiyakan
"Kalau macam tu Ammar ke Atok dulu Aunty, bye ...
"Bye ..." balas Nadira.
Sepeninggalan Ammar, Nadira pun segera mencabut ponsel Yola beserta kabel charger-nya. Lalu ia pun mengantonginya dan keluar dari ruangan Pengarah Marketing Itu.
***
Maaf updatenya telat. Ada gangguan wifi di tempat author semalam, mau update gagal terus. Jadi sempatnya baru pagi ini.
__ADS_1
Jangan lupa lupa like dan komentnya ya...