Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Kesal


__ADS_3

"Yola, kamu bisa pulang dulu nggak ke Jakarta? Mama butuh kamu sekarang ada di sini, nak!" kata Ratih di suatu panggilan vidio.


"Hmmm? Mama kenapa? Mama sakit?" tanyanya dengan nada cemas.


"Nggak, Mama nggak sakit, kok! Mama cuma pengen Yola datang ke sini sama Ammar juga. Sebentar lagi kamu kan bakal resmi jadi Ny. Nirwan. Bakal makin jarang kamu bisa jengukin Mama kesini," kata Ratih sebal.


Yola sempat mencelos dalam hatinya. Gimana mau jadi Ny. Nirwan yang resmi. Perceraian si Abang dan Sonia aja belum tahu bagaimana ujungnya, keluhnya dalam hatim


"Ihhh, Mama ya nggaklah. Yola bakal sering ngunjungin Mama ke Jakarta nanti," bantah Yola dengan pembelaannya pada diri sendiri.


"Nih buktinya, belum juga jadi resepsinya dah sombong, nggak mau nurutin Mama. Mamanya kangen dicuekin ...." cibir sang Mama.


"Isss ... iya, iya. Yola bakal pulang. Tapi Yola minta ijin abang dulu, ya!" katanya pada si Mama.


"Diiihhh, gitu aja mesti minta ijin segala. Padahal mau ketemu Mama sendiri. Memang Ilham bakal nggak bolehin?" cibir Ratih masih bersikap seolah-olah dia masih sebal pada menantunya itu.


"Ya, mesti minta ijinlah! Yola kan istrinya! Istri itu apa-apa dan kalau mau kemana-mana harus minta ijin dulu kali, Mah sama suami," kata Yola sok bijaksana. "Gitu aja masa Mama nggak tau," cibir Yola balik.


"Ceileeeh ni anak, udah pinter ngajarin Mama sekarang, ya! Nurut banget ni anak sama suami ya ... tapi sama Papa Mamanya, membangkang neh," balas Mama Ratih mencibir Yola.


"Isss, kapan Yola membangkang sama Mama sama Papa? Yola nggak ingat tuh," kata Yola ngeles.


"Pura-pura nggak ingat nih anak. Pas Mama sama Papa ngelarang kamu sama Ilham, tetap aja kan kamu berlari ke pelukan dia. Apa coba namanya tuh kalau bukan membangkang?" serang Mama Ratih.


"Ihhh, apaan sih? Mama bawel deh. Udah dikasih cucu juga," jawab Yola balas cibir.


"Bener, ya? Kalau kamu udah lahiran nanti adiknya Ammar Mama yang asuh," tuntut Mama Ratih.


"Ihhh apaan? Nggak bisa gitu, donk, Ma. Yola juga pengen asuh dan besarkan anaknya Yola sendiri. Dulu Ammar, nggak sempat Yola urus, sekarang adiknya Ammar mau Yola urus sendiri aja dulu, Mah," kata Yola.


"Kalau gitu Ammar ikut mama aja dulu kalau kamu udah lahiran. Kamu juga mesti adil donk sama Mama. Masa iya, mertua kamu boleh ngasuh Ammar dari bayi. Mama kapan bisa momong cucu sendiri?" tanya Ratih penuh harap.


Yola jadi bingung sendiri menjawabnya. Andai dia dan sang Mama tinggal berdekatan mah dia akan merengek pada Ilham agar mereka bisa tinggal bersama dengan Mama Ratih.

__ADS_1


"Enggg ... kalau itu nanti aja kita bicarakan, ya Mah ... Kan Yola juga butuh persetujuan Abang kalau masalah itu," jawab Yola merasa tak enak hati.


"Ya sudah, pokoknya besok kamu ke sini dulu bawa Ammar, oke? Harusnya sih Ilham kalau tahu diri nggak akan berani ngelarang kamu kalau mau pulang ke Jakarta, daripada Mama nggak restuin nanti perkawinannya. Nggak berkah loh nanti," kata Mama Ratih menakut-nakuti.


"Iya, iya. Nanti kalau abang pulang kerja Yola tanya. Bukan soal tau diri atau nggak, Mah. Takutnya abang nggak bolehin karena tahu Yola lagi hamil muda. Hamil muda rentan naik pesawat," kata si bumil mencoba membela suaminya di depan sang Mama.


"Idiiih, sekarang tahun berapa sayang? Ya sebelum berangkat kamu konsul ke dokter spesialis kandungan dulu donk. Biar nanti kamu dikasih suplemen dan persiapan lain agar kuat di perjalanan. Lagi pula KL-Jakarta cuma 2 jam-an doank. Nggak akan sampai bikin kamu kecapean yang kayak gimana gitu. Udah ah, pokoknya Mama nggak mau tau, kamu besok harus udah ada di sini! Titik!" kata Mama Ratih.


"Iya deh, iya deh. Memang ada apaan sih, Ma? Kok Mama kayak maksain Yola harus balik ke Jakarta besok?" tanya Yola was-was.


Sedikit suudzon mulai hinggap di hatinya. Jangan-jangan Mama dan Papanya ingin menggagalkan rencana resepsi pernikahannnya dengan Ilham? Terus sengaja menyuruh Yola dan Ammar datang dan menyembunyikannya dari si Abang untuk memisahkan keluarga kecilnya untuk selama-lamanya. Ya Tuhaaaan, jangan sampai itu terjadi! jeritnya dalam hati.


"Mama, sebenarnya ada apaan sih? Mama sama Papa nggak ada rencana mau pisahin Yola dengan Abang, kan?" tanyanya dengan selidik.


"Kalau iya, kenapa memangnya? Kamu tetap akan memilih Ilham?" tanya Ratih pura-pura jutek.


"Mamaaaa ...." rengek Yola lagi.


"Haisss .... Ya nggaklah. Mama cuma kangen, udah dibilangin juga. Waktu resepsi kamu cuma tinggal semingguan lagi, kan?" tanya Ratih.


"Wanita ular tu, udah diceraikannya belum?" tanya Ratih lagi. "Kalau belum, jangan harap Mama akan kasih restu kamu sama Ilham!" kata sang Mama memberi ultimatum


"Em ... Mama, udah dulu ya, nanti Yola tanyakan ke abang dulu, boleh nggak Yola ke Jakarta besok," kata bumil itu buru-buru.


"Hmmm, oke. Mama tunggu, ya!"


"Hmmm."


Setelah menutup teleponnya Yola merasa galau. Bukan soal dia diijinkan Ilham atau tidak ke Jakarta besok, melainkan resah karena pertanyaan sang Mama mengenai perceraian Ilham dan Sonia. Sementara hingga saat ini Yola merasa tidak ada perkembangan lagi mengenai hal itu sejak terakhir kali Ilham menunjukkan surat bersedia dipoligami yang ditanda tangani oleh Sonia.


Sekarang ditambah lagi dengan wanita itu masuk rumah sakit, mungkinkah Ilham semakin tidak tega menceraikannya? pikir Yola.


Kegelisahannya itu pun segera butuh pelampiasan begitu Ilham sampai di rumah malam ini. Lelaki itu begitu sibuk mondar-mandir akhir-akhir ini. Entah apa-apa yang dikerjakannya Yola tidak tahu.

__ADS_1


"Abang, resepsi pernikahan kita jadi nggak sih?" tanya Yola memulai percakapannya dengan Ilham.


"Mestilah," jawab pria itu singkat, terkesan acuh.


"Terus masalah perceraian abang dan Sonia, gimana?" tanya Yola menahan agar emosinya tidak meluap mendengar jawaban singkat Ilham yang terkesan sepele itu.


"Hmmm, nanti ade masenya kita rundingkan hal tu ya ..." jawab Ilham sembaru mengotak-atik ponselnya membuat Yola semakin tidak sabar.


"Abang!!! Sebenarnya abang serius nggak sih mau ceraikan Sonia?!" tanya Yola kesal.


Ilham mengerutkan dahinya seolah bingung.


"Serius, Honey!"


"Kalau serius, kenapa perceraiannya nggak diurus?" kata Yola semakin kesal.


"Hmmm, itu ..." Ilham pura-pura berpikir. "Sonia masih ade kat hospital. Tunggu dia sihat dulu."


"Abang!!! Sampai kapan? Kalau dia nggak sehat-sehat gimana? Abang nggak jadi-jadi gitu ceraikan dia? Abang ni plin-plan! Kalau abang nggak serius menceraikan dia bilang aja! Aku akan balik ke Jakarta besok!"


"Hmm, kalau Yola rindu dengan Mamah dan Papah boleh sahaja, balik kat sahaja sana dahulu!" kata Ilham seakan dia maklum akan kerinduan sang istri pada orang tuanya.


"Aku juga akan bawa Ammar!!!"


Ilham mengangguk setuju.


"Nanti abang mintakan ijin Ammar untuk cuti ke dia punya cikgu," jawab Ilham enteng.


"Abang!!!" jerit Yola kesal.


***


Wah, wah, menurut kalian kenapa Ilham bersikap begitu, ya?

__ADS_1


Kalian makin pelit like dan komentnya beib. Kalau makin pelit author tamatin nih dengan gantung :D


__ADS_2