Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Pelaminan Yang Sama


__ADS_3

Hafiz sedang bermalas- malasan di sofa apartemen Gold Century malam ini. Hidupnya terasa membosankan dan tak ada semangat untuk melakukan hal apa pun. Semua ini dikarenakan putusnya hubungan asmara antara dia dan Yola.


Alangkah bagusnya andai waktu itu hubungan mereka tak merembet keluar dari zona persahabatan. Hubungan kasih yang singkat itu membawa harapan tinggi untuk Hafiz dan pada akhirnya dia jatuh terjerembab dari ketinggian. Dan sekarang itu membuatnya kehilangan mood untuk beraktivitas. Karena itu dia memilih untuk tidak wara wiri mengerjakan urusannya di tempat gym. Dia memutuskan untuk menyuruh asistennya untuk mengerjakan semua hal itu.


Ting!Tong!!


Bunyi suara bell membuatnya berhenti sejenak bermain game. Siapa yang datang? pikirnya. Apakah Yola? Bukankah sekarang wanita oti tinggal di rumah keluarga Nirwan? Sudahlah pindah ke apartemen Ilham, eh sekarang dia pindah ke tempat yang lebih jauh lagi.


Ting!Tong!


Suara bell itu berbunyi lagi. Hafiz duduk.


Ting!Tong!Ting!Ting!Ting!Tong!!!


Suara bell itu menjadi tidak sabaran.


"Haisss!!! Sekejap!!!" teriak Hafiz kesal walaupun orang yang berada di luar pintu mungkin tidak akan mendengarnya.


Hafiz pun segera buru-buru ke pintu dan heran melihat orang yang ada di monitor adalah Yola dan Ilham. Hal apa yang membuat Yola terlihat kesal dan seakan ingin memakannya?


"Hey Yola! Kau kenape?" tanya Hafiz setelah menghubungkan connector dalam dan luar alat intercom itu.


"Hafiz! Buka pintunya nggak!! Sekarang!!! Aku benar-benar marah ni," kata Yola.


"Sekejap!" jawab Hafiz.


Dan begitu pintu apartemen yang pernah didiami oleh Yola itu terbuka dia langsung menyerang Hafiz dan memukulinya dengan tasnya.


"Hafiz!! Kau benar-benar keterlaluan. Kamu harus tanggung-jawab pada Yuri!" kata Yola marah.


"Ta- tanggung jawab ape? A- aku tak de berbuat apa pun padanya," bantah Hafiz tergagap.


"Oh, ya? Yuri itu lagi hamil sekarang. Dan itu gara-gara kamu. Sumpah! Aku nggak nyangka kamu begitu! Tapi setidaknya walaupun kamu khilaf, Ndut, tetap aja kamu harus jadi pria gentleman donk! Kamu nggak malu apa nebar benih dimana-mana. Terus nanti kamu punya anak, anak kamu nasibnya gimana kalau nggak ada bapaknya? Gimana kalau dia anak perempuan? Siapa yang akan akan jadi walinya kalau dia ingin menikah nanti?" omel Yola.


Hafiz mendengus kasar.


"Yola aku betul-betul tak ingat kalau aku dan Yuri pernah berbuat sejauh tu. Kami tak pernah dekat. Bersua pun setelah kite lulus sekolah hanya sekali saat di airport. Macam mana, aku boleh menghabiskan malam dengan dia? Kau ni cuba berpikir sihat!" kata Hafiz menunjukkan pembelaan diri.


"Kau yang tak berpikir sihat!" kata Ilham membela sang istri. "Kau hanye tak ingat. Bukan berarti tak melakukan. Saat kau mabuk, pikiran kau tuh tak jernih. Tapi kau hanya lelaki normal je yang hanye ikuti naluri pada perempuan. Tinggal mengaku sahaja ape susahnya?" sindir Ilham mencari gara- gara.

__ADS_1


Hafiz mendelik jengkel pada Ilham.


"Jangan samakan aku dengan engkau. Aku bukan buaya darat macam kau!" cecarnya.


"Cih! Terus kau ini ape kalau bukan buaya darat juge? Aku tak melakukan apa pun pade Sonia tapi aku kahwinkan die. Dan kau membuat wanita mengandung benih kau tapi tak nak tanggung jawab. Itu ape namanya?" balas Ilham tak mau kalah.


"Abang!!!" Sekarang Yola yang mendelik jengkel pada Ilham.


"Maaf, Honey! Abang tak maksud ungkit pasal Sonia. Tapi si Endut Ehsan ni sungguh terlalu tak mahu kahwinkan kawan kau tu. Siape nama dia? Yuri?"


"Abang udah diam aja. Nggak usah ikutan Yola ngomong. Biar Yola aja yang ngomong abang!"


Iham mengangguk malas.


"Baiklah kalau macam tu. Abang diam sahaja. Abang tahu, abang ni bukan siape-siape kalau dah menyangkut persahabatan korang," kata Ilham sok merajuk dan duduk di sofa pojok.


Yola tak mmperdulikan aksi kekanakan suaminya itu.


"Ndut, aku mau ngomong sama kamu," kata Yola sembari menarik tangan Hafiz dan membawanya ke balkon belakang agar Ilham tidak membuat rusuh lagi saat dia berbicara dengan Hafiz nanti.


Hafiz dengan wajah tak kalah cemberut pasrah saja saat bumil muda itu memaksanya duduk di kursi balkon.


"Aku tak berbuat apa pun pada die, macam mana dia boleh mengandung? Yola kau usah buat aku pening! Aku tak nak berkahwin dengan sesiapa pun apalagi dengan wanita setengah jantan tu!"


"Hey Hafiz sejak kapan kamu berubah jadi lelaki tak bertanggung jawab macam ini?Aku sebagai sahabatmu tak mau melihat perubahan semacam ini darimu, ya!" cecar Yola.


"Yola, kau sendiri dah pun tahu. Soal tanggung jawab kau usah ragukan aku. Sedangkan kau sahaja mengandung aku mahu tanggung jawab walaupun bukan ayah dari budak dalam perut kau tu. Kau sahaja yang tak nak. Apalagi jika betul aku ni punya anak sendiri. Tetapi aku tak merasa berbuat salah, kenape aku yang harus tanggung jawab. Dia boleh sahaja berbuat dengan pria lain tapi bermaksud menjerat aku," tuduh Hafiz.


Yola menganga tak percaya mendengar segala macam usahanya yang sepertinya tak membuahkan hasil.


"Hafiz aku nggak mau ya, kamu nuduh Yuri begitu. Dia itu sahabatku," cecar Yola mengingatka.


"Ya, ya, ya ... Lalu aku ni ape? Bukan sahabatmu ke? Kau tak nak aku menuduh Yuri macam tu. Tapi kau pula tuduhkan aku," kata Hafiz tak mau kalah.


Yola bangkit dari duduknya.


"Jadi kau tetap tak mau tanggung jawab?" tanya Yola gusar.


"Hmmm ...." gumam Hafiz sok cool.

__ADS_1


"Oke, baik! Kau kalau tak mau tanggung jawab, kita nggak usah berteman lagi!" kata Yola.


Hafiz masih tetap tak bergeming.


"Hafiz! Aku serius!" desaknya lagi.


Melihat Hafiz masih tetap tak bergeming akhirnya Yola memutuskan untuk meninggalkan balkon itu, berharap Hafiz akan mengejarnya dan mengatakan kalau dia mau bertanggungjawab pada Yuri.


Tapi hingga Yola berada kembali di ruang tamu, pria itu tak juga datang mengejarnya.


"Macam mana?" bisik Ilham.


Yola menggeleng sambil menatap sebal ke arah balkon.


"Ya sudah kalau macam tu, biarkan sahaja mereka uruskan problem mereka masing-masing," kata Ilham.


Dia juga merasa Yola terlalu memaksa ikut campur pada hubungan Yuri dan Hafiz.


Mendengar kata-kata Ilham yang seperti itu Yola malah semakin penasaran ingin merecoki Hafiz. Dan kemudian dia berbalik lagi ke balkon


"Hafiz, kau beneran nggak mau nikahin Yuri?" tanyanya lagi tak mau putus asa.


"Aku dah kate, jangan pernah bermaksud untuk menjodohkan aku dengan orang lain Yola. Apalagi nak paksa aku kahwinkan orang lain. Aku tak nak," katanya kesal.


"Ndut ..."


"Kau sendiri paling tahu. Aku hanye ingin berada di pelaminan yang sama dengan kau. Macam mana kau boleh suruhkan aku berkahwin dengan orang lain?" kata Hafiz murung.


Itu membuat Yola merasa ikut sedih dan berpikir banyak.


"Hafiz kita masih bisa berada dalam pelaminan yang sama kok," kata Yola sambil menatap Hafiz serius.


Hafiz menjadi mengernyitkan kening karenanya.


"Maksud kau?"


"Menikahlah di hari resepsi pernikahanku dengan abang!"


***

__ADS_1


Wkwkw ... Yola makin lama makin konyol. Bawaan hormon kali ya gengs? Btw, kalian makin pelit like dan koment author tengok. Macam mana ni?


__ADS_2