Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Mengelabui Yuri


__ADS_3

"Yuri, kamu ngapain di sini?" tanya Yola tak suka. "Hafiz mana?"


Tanpa butuh persetujuan Yuri, Yola pun memaksa masuk diikuti oleh Ilham, lalu Putri dan Ammar. Saat Putri dan Yuri berpapasan, keduanya sempat saling bersitatap mencoba untuk saling mengidentifikasi siapa orang di hadapan mereka masing-masing. Di dalam pikiran Yuri tak terlintas Putri siapa selain dari salah satu keluarga Ilham atau Yola. Sementara berbeda dengan Putri, melihat Yuri dia malah berprasangka kalau gadis itu mungkin adalah kekasih dari Hafiz. Dan itu benar-benar merusak suasana hatinya.


"Hafiiiz!" panggil Yola. "Endut!!"


Masih tak ada sahutan dari dalam.


"Ehsaaaan!!!" teriaknya lagi memanggil julukan Hafiz yang lain.


Tak lama pintu kamar terbuka.


"Yola, astaghfirullah! Kenape teriak-teriak macam tu? Aku tu ade di bilik mandilah! Tak sabar sikit ke?" Hafiz malah balik mengomel.


Hafiz keluar dari kamarnya dengan memakai baju bersih dan rambut basah. Nampaknya dia juga baru selesai mandi. Yola berganti-gantian menatap Yuri dan Hafiz. Sungguh sangat mencurigakan bagi orang yang tak mengenal Hafiz pasti, saat melihat seorang perempuan dan lelaki berada di apartemen berdua saja dan keduanya nampak baru selesai keramas. Tetapi tidak bagi Yola, dia mengenal Hafiz luar dan dalam (dalam hatinya maksudnya). Hafiz bukan pria sebrengsek itu.


"Dia ngapain di sini?" tanya Yola sambil memandang sinis pada Yuri.


Wanita itu pun langsung menggenggam tangan Putri dan mengajaknya duduk di sofa.


Melihat siapa yang ditarik Yola, Hafiz pun baru tersadar melihat siapa gadis familiar yang ada di hadapannya. Tapi demi menjaga rencananya tetap bisa berjalan mulus, Hafiz pun bersikap sebiasa mungkin. Padahal dalam hatinya dia merasa sangat, sangat, dan sangat senang melihat ada Putri di sana. Ohhh, berarti Abang dah berhasil bujuk Mama Ratih untuk meminta Tante Imelda mengijinkan Putri ke KL, begitu pikirnya.


"Yuri, kamu berganti pakaian dahulu kat bilik. Tak baik kalau orang tengok kau macam tu, nanti saye disangka Yola dan Abang berbuat macam-macam dengan kau pula," suruh Hafiz dengan nada lembut setengah bergurau. Seolah dia sedang berbicara dengan orang yang dia sayang.


"Oh ... maaf, maaf! Saya ganti baju dulu kalau begitu." Yuri seakan baru sadar kalau dia hanya memakai jubah mandi setelah ditegur oleh Hafiz, padahal dalam hatinya sih senang-senang saja andai Yola dan Ilham salah paham pada apa yang mereka lakukan.


Hafiz menatap Yuri lekat-lekat sebelum gadis itu hilang dari pandangannya.


"Putri ..." gumamnya pelan, seperti takut kalau Yuri akan mendengar suaranya memanggil gadis di hadapannya itu.


Putri tersenyum masam, isi kepalanya kacau saat ini. Suasana di sini tak seperti yang diharapkannya.


"Ammar, mau temani Aunty ke luar nggak?" tanya Putri lirih.


Dia tak sanggup berada disini lagi. Jelas-jelas Hafiz memiliki hubungan dengan wanita itu. Terlihat dari cara Hafiz yang takut ketahuan Yuri ada sesuatu di antara mereka. Aiiihh, Putri bodoh! Apa yang kamu pikirkan sebenarnya? Kamu sungguh merasa kalau kalian mungkin soulmate? Hanya karena insiden kecil di kamar mandi? Sadarlah, Putri! maki Putri dalam hati


"Keluar nak buat ape? Ammar mau menonton sahaja, Aunty!" jawab Ammar.


"Oh, ya udah deh. Aku keluar dulu deh, Yol. Aku tunggu di mobil aja. Bang Ilham, boleh aku minta kunci mobilnya?"


"Hah? Buat ape? Kau disini sahaja tak ape? Kau nak ape? Minum?" Ilham mencoba menawarkan.


Putri menggeleng.

__ADS_1


"Cuma pengen cari angin," katanya memberi alasan.


"Di balkon aja, yuk! Di situ anginnya kencang, terus pemandangannya bagus lagi," ajak Yola. Dia tahu apa yang dirasakan sepupunya itu. Yola ingin menghiburnya tetapi waktunya memang tidak tepat.


Putri menggeleng lemah.


"Aku mau turun ke bawah, Yol. Kasih aja aku kunci mobilnya. Nanti aku tunggu di mobil," tolaknya.


Yola menghela napas. Putri tak gampang dibujuk, ini adalah satu kesamaan sifat yang mereka punya.


"Abang, kasih Putri kuncinya," pinta Yola pada Ilham.


Karena sang istri yang meminta, mau tidak mau Ilham pun memberikannya.


"Tapi awas, jangan dibawa lari keretanya," guraunya sambil menyerahkan kunci mobil pada Putri.


Putri hanya mengangguk lesu. Tak berminat untuk menjawab gurauan Ilham yang menurutnya terdengar garing itu. Lalu dia pun pergi keluar.


Setelah Putri pergi, Hafiz pun langsung berbisik protes pada sang Abang.


"Kenape Abang tak cakap kalau Putri ade kat sini?" bisiknya sebal.


"Abang nak kasih kau surprise. Tetapi agaknya kau lebih dahulu bagi kita surprise," sindir Ilham sinis.


"Ini tak seperti yang korang berdua fikirkan. Aku punya alasan ..." Hafiz tak melanjutkan kata-katanya lagi. Menjelaskannya sekarang tak akan tepat dengan keberadaan Yuri di apartemennya ini. Sebentar lagi gadis itu pasti akan keluar dari kamar setelah berganti pakaian.


"Kau memang harus punya alasan bagus, Ndut! Dan kau harus jelaskan padaku nanti Aku nggak akan membuatmu hidup tenang kalau kau mempermainkan perasaan Putri!" bisik Yola dengan geram.


Dia terpaksa mengikuti permainan Hafiz berbisik juga karena menduga Hafiz pasti punya suatu yang direncanakan pada Yuri dan Yuri pastinya tidak boleh tahu.


"Aku akan bagi tahu alasannya nanti. Tetapi nanti aku perlu bicara bertiga hanya dengan Abang dan Yuri. Kau tak ape kan?"


Yola mengernyitkan keningnya.


"Kenapa aku tak boleh ikut?" salak Yola dengan judes.


Di saat yang sama, Yuri keluar dari kamar dan telah mengenakan pakaian rapi


Hafiz menatap Yola dengan pandangan memohon. Bukan tanpa alasan dia tak ingin pembicaraan mereka tak boleh diikuti oleh Yola.


"Cih ..." desisnya sebal sambil bangkit dari duduknya.


Dengan sorot mata sinis dia memandang Yuri dan kini mendatangi Ammar yang sedang menonton televisi di ruang berbeda.

__ADS_1


"Loh, Yola mau kemana?" tanya pada Hafiz. "Dan perempuan tadi mana? Dia siapa?"


"Oh, itu sepupunya Yola, Putri. Dia nak be bawah, talipon bimbit (ponsel) dia tertinggal kat kereta," jawab Hafiz asal.


Dia bisa membujuk Putri nanti, tapi urusan mereka dan Putri harus segera di selesaikan.


"Hafiz? Yuri? Korang berdua ade yang mesti dijelaskan pada saye ke?" tanya Ilham memulai pembicaraan. Ekspresinya seakan tak suka.


"Abang, aku ade yang nak dibagi tahu. Aku dan Yuri dah pun menjalin kasih selagi di Kamboja," kata Hafiz seolah hati-hati.


Dan drama ini dengan insting masing-masing pemain pun telah dimulai.


"Ape?!!" Ilham yang seolah terkejut memasang mimik tak percaye. "Kau salah minum obat ke? Kau lupa dia siape? Dia ni anak angkat Lucas, Hafiz! Kau jangan bermain-main dengan hal macam ni!"


"Saye tak nak bermain-main. Saya mencintai Yuri, Abang!"


Dari balik pintu yang terbuka diam-diam Putri mendengarkan. Tadinya dia bermaksud kembali ke mobil, tapi mengingat mobil ada di basement gedung ini, Putri pun mengurungkan niatnya dan berniat kembali ke apartemen Hafiz dan bersikap seolah-olah tak ada yang terjadi. Tapi dia malah tak menyangka akan mendengar pengakuan seperti ini dari mulut Hafiz. So sad!


Ilham menggeleng.


"Tak kite baru sahaja berbaikan, tetapi kalau macam ni tak payah kite teruskan menjalin persaudaraan lagi. Kau tak ingat ke, dia bahkan mencuri seluruh isi apartemen Abang, kosong tak bersisa apa pun!" kecam Ilham.


"Saya dapat menjelaskan hal itu!" sela Yuri cepat.


Ilham menatap Yuri dengan pandangan menyelidik.


"Saya disuruh Lucas untuk mencari kemungkinan informasi tentang patung Montha Somnang di apartemenmu, eh Abang!" ralat Yuri membuat Ilham menjadi jijik mendengarnya.


"Montha Somnang?"


Yuri mengangguk.


"Saya akan ceritakan semuanya sekaligus akan bantu Abang untuk menyingkirkan Lucas dari N-one, bagaimana?" Yuri menawarkan.


Ilham mulai tertarik.


"Macam mana caranya?"


***


Bagaimana kelanjutannya ya? Dan bagaimana dengan hati Putri yang patah guys? Dukungannya ditunggu ya... berupa like dan koment aja reader beib, lumayan buat tingkatin performa.


Mudah-mudahan sebelum episode 300 JDM udah tamat dan biar author bisa fokus nerusin novel lain yang mangkrak. Doain ya...

__ADS_1


__ADS_2