
"Hafiz??" gumam Yola setengah tak percaya.
Hafiz dengan wajah tampannya sedang tersenyum dan memandangnya penuh dengan cinta.
Segera dia bangkit dan duduk. Dalam hatinya bertanya- tanya, kemana Ilham? Bukannya tadi malam Ilham bermalam di apartemennya? Matanya segera mencari- cari ke seluruh sudut kamar.
Hafiz ikut mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.
"Cari siape?" tanyanya pada wanita itu.
Yola tergagap.
"Anu ... em ...."
"Cepatlah bangun. Aku akan bikinkan kau breakfast sepanjang kau mandi," kata Hafiz.
Yola menjatuhkan kakinya ke lantai dan memakai sandal rumahannya. Kini dia duduk bersebelahan dengan Hafiz di ranjang.
"Kapan kamu sampai, Ndut?" tanyanya sembari meraih ikat rambutnya di atas nakas.
"Baru sahaja. Aku langsung kat sini kerana dah tak sabar pun nak berjumpa calon isteri aku," kata Hafiz sembari mencubit pipi Yola.
Rasa tak enak dalam hati Yola pun tiba- tiba datang menyergap begitu saja.
"Hafiz, aku ... ada yang ingin ku bicarakan denganmu," kata Yola ragu.
Dia ragu bukan karena dia mencintai Hafiz. Tapi rasa tidak tega karena dia akan menyakiti hati pria baik yang telah mencintainya itu sepenuh hati.
Hafiz tersenyum.
"Kau mandi sahaja dahulu. Kita boleh berbincang nanti sahaja, kau akan terlambat ke N-one nanti," kata Hafiz sembari membalikkan badannya untuk pergi ke dapur.
"Tapi ... ini pen ...ting," kata Yola terbata.
Hafiz kembali menoleh.
"Sepenting ape?" tanya Hafiz dengan raut wajah polosnya. Tersenyum seperti biasa pada Yola. "Kalau macam tu cakaplah!"
Yola termangu mendengar kata-kata Hafiz. Rasanya tak tega menyakiti lelaki yang selalu setia menjaganya itu.
"Hmmm ... Nanti aja deh. Aku mandi dulu," kata Yola buru- buru mengikat cepol rambutnya.
Di kamar mandi Yola sangat mengutuki dirinya yang tak bisa jujur pada pria itu. Padahal dia bisa aja bicara dengan gamblang kalau dia telah rujuk kembali dengan Ilham dan meminta pria itu untuk mengikhlaskannya. Tapi melihat wajah polos yang dulu berpipi gembul itu membuat Yola seketika menjadi tak sampai hati.
__ADS_1
Yola keluar dari kamar mandi dan tertegun melihat satu stel bajunya telah berada di atas ranjang. Dan juga ...
"Nduuuuut!!!!!" teriak Yola dengan wajah yang memerah.
Terdengar suara gelak tawa Hafiz dari dapur. Sepertinya Hafiz tau apa yang membuat Yola marah.
"Cepat sikit, nanti breakfast ini aku habiskan pula!" teriaknya dari luar kamar.
Segera Yola memakai baju yang telah di siapkan oleh Hafiz itu dan keluar kamar dengann rambut basah terurai yang dia keringkan manual dengan handuk.
"Hafiz!!! Brengsek!!! Siapa suruh kamu siapkan bajuku!!" teriak Yola dengan nada marah karena malu. Bagaimana tidak malu, Hafiz tak hanya menyiapkan baju kerjanya melainkan juga menyiapkan pakaian dalamnya di atas ranjang. Memalukan!!
"Hahaha ... Usah marah- marah, Sayang. Aku persiapkan kau punya pakaian agar kau tak terlambat masuk kat office," kata pria itu. sembari menepuk- nepuk kepala Yola dan membimbingnya ke meja makan
"Tapi kamu nggak seharusnya bongkar- bongkar pakaian dalamku, Nduuuuuttt!!!" omel Yola.
"Tak apelah. Nanti pun aku tak cuma tengok kau punya underware. Isinya pun boleh juga aku tengok .... ummmm ..."
Yola segera menyumpal selembar roti ke mulut Hafiz sebelum lelaki itu berani membayangkan hal yang tidak- tidak dengannya.
"Jangan ngomong sembarangan!" kata Yola kemudian berpaling melihat meja makan yang di atasnya hanya ada roti. "Mana sarapannya? Kok nggak ada?" tanya Yola.
"Inilah," jawab Hafiz sambil menunjuk potongan roti yang tersusun rapi dalam piring.
"Roti?" tanya Yola tak percaya.
Yola mencibir. Tadinya setidaknya dia berharap akan menemukan sepiring nasi goreng buatan Hafiz begitu dia selesai mandi.
"Kenape?Tak suke? Padahal ini spesial pake cinte. Ini jambret," katanya Hafiz.
"Jambret apaan?" tanya Yola geleng- geleng kepala. Sifat konyol Hafiz sepertinya kumat lagi.
"Hu uh," kata Hafiz sambil mengangguk.
"Jam berarti selai. Bread (dibaca bret) berarti roti. Artinye roti selai, hahahaha," tawa Hafiz kencang mencoba bergurau.
"Isss, nggak lucu tau, Ndut," tukas Yola sambil duduk dengan manis dan meraih sepotong roti.
Senda gurau keduanya berlanjut hingga Yola akan berangkat ke N- one. Meski Yola sudah menolak untuk diantar, tapi Hafiz sangat bersikeras untuk mengantarkan Yola ke N- one.
"Udah, Ndut sampai sini sahaja," kata Yola.
"Baiklah, aku akan tunggu kau balik di apartemen. Aku pun mau istirahat pula," kata pria itu.
__ADS_1
Yola mengangguk.
"Jangan berani bongkar- bongkar lagi lemariku!" kata Yola memberi ultimatum sambil mengepalkan tinjunya.
Hafiz hanya tertawa garing sambil mengacungkan tangannya membentuk huruf "O", pertanda dia menyetujuinya.
Hafiz menatap perempuan itu hingga masuk ke dalam gedung N- one. Setelah Yola tak nampak lagi, dari dalam kantongnya, dia mengeluarkan secarik kertas kusut. Dibacanya ulang, meski pun tadi dia telah membacanya lebih dulu di apartemen.
[Sayangku, abang berangkat ke N- one lebih dahulu, Ok? Kau nampak sangat penat. Jadi kau rehatlah sekejab. Abang boleh mintakan ijin untuk kau cuti hari ini pada Nadira. Abang Ilham loving you]
Hafiz terlihat muak membaca surat itu, hingga kemudian dia meremasnya lagi dan membuangnya sembarang.
Jadi macam tu, Yola? Kau dah balik rujuk dengan Abang. Begitu ke pilihanmu? Tapi aku tak akan kalah kali ini. Kau adalah calon pendamping hidupku, batin pria itu.
***
Yola keluar dari lift dan heran saat melihat keributan sepertinya terjadi beberapa meter di depannya.
"Papa, kite mesti bicarakan ini terlebih dahulu," terdengar suara Ilham.
Papa? Yola terkesiap. Apakah Ilham sedang berbicara dengan papanya? Papa Abimanyu? Segera Yola bergegas mendekati kerumunan itu.
"Tak ada yang mesti dibicarakan lagi!! Yolanda akan saya bawa pulang hari ini ke Jakarta," balas Abimanyu garang.
"Papa!!!" pekik Yola sehingga orang- orang yang menonton pertikaian itu juga ikut melihat ke arahnya. "Apa yang Pala lakuin di sini?"
"Yola!!" Ilham spontan menarik Yola untuk bersembunyi di balik punggungnya.
"Kebetulan sekali kau datang! Sekarang ikut Papa pulang!"
Abimanyu tanpa mempedulikan Ilham lagi, mulai menarik tangan Yola kasar. Ilham tak mau kalah dan balas menarik Yola.
"Papa nggak bisa ngatur- ngatur Yola seperti dulu! Dia sekarang sudah dewasa. Dan dia isteri aku!" kecam Ilham tegas.
Pernyataan Ilham itu membuat para karyawan yang mendengar membuat mereka membelalak tak percaya.
"Isterimu? Sejak kapan? Hmmm?" balas Papa Abimanyu sinis. Kau punya buku nikah? Tidak, kan? Tapi aku adalah ayahnya! Aku berhak melarang dia untuk tidak tertipu lelaki ******** macam kamu!" teriak Abimanyu murka.
Ilham mendesah panjang.
"Ya benar. Tetapi aku juga berhak melarang dia untuk tidak pergi. Karena .... dia sedang mengandung anakku."
***
__ADS_1
Hai reader jangan lupa like, koment. Maaf
segitu dulu, author sangat ngantuk berat saat ini. Mana tadi naskah yang udah diketik tiba-tiba hilang dan harus ngetik ulang .Demi kalian lah ,,,