
"Astaghfirulllaaahh!!! Ilhaaam!!!" teriak Mama Zubaedah histeris.
Saat itu ia baru turun dari mobil dan langsung shock melihat kondisi rumah dan sekitar komplek perumahan Atok Yahya yang sudah gelap-gulita sementara nampak api berkobar di bagian belakang rumah. Para tetangga pun turut membantu mengangkat air dan menyiram api yang masih berkobar itu.
"Tenang sikit, Makcik. Apinya dah mulai mati. Tadi api dah nampak besar sangat, tapi ni dah jauh berkurang," kata salah seorang tetangga mencoba menenangkan Zubaedah.
Ilham yang sudah mematikan mesin mobil juga langsung keluar, begitu pun Yola, Ammar, Hafiz dan Yuri.
"Atook!!! Atokk!!! Atok ade di mane?" teriak Ilham dan mencoba menerobos ke dalam rumah yang mulai di penuhi asap tebal itu.
Segera Ilham mendobrak pintu ruang kerja Atok Yahya.
"Atok???" Ilham berusaha mencari-cari dengan bantuan cahaya dari layar ponselnya. Tapi tak menemukan Atok Yahya di sana.
Meski Ilham harus menahan napas agar tak sampai menghirup asap, Ilham tetap bertekad menerobos masuk lebih dalam menuju kamar Atok.
Sementara itu di kamar yang ditempati oleh Sonia, wanita itu juga mulai nampak panik dalam kegelapan. Dia bisa mencium asap dan teriakan orang-orang yang sedang berusaha memadamkan api. Jadi ledakan itu pasti telah menimbulkan kebakaran yang cukup besar, pikirnya.
Tapi masalahnya saat ini dimana Melisa? Apa yang dilakukannya? Dan bagaimana Sonia bisa keluar dari kamar ini sedang bergerak saja dia kesulitan?
Sonia mulai berusaha keras menggerak-gerakkan badannya yang kaku. Sial! Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhnya? Kenapa badannya bisa kaku seperti ini? Dan apa sebenarnya yang disuntikkan Melisa padanya selama ini? Sonia merasa tiap kali Melisa menyuntikkan obat itu padanya, tubuhnya menjadi semakin lebih mati rasa, bahkan akhir-akhir ini dia mulai pelupa, kadang-kadang telinganya bisa tak berfungsi tapi kadang bisa.
Dan kini dia terjebak dalam tubuh yang rusak ini. Rusak segala organ yang ada padanya hingga dia kesulitan untuk bahkan sekedar menyelamatkan diri.
"To-long ... " teriaknya yang malah terdengar seperti gumaman.
Namun sepertinya tak ada yang mendengarnya. Sonia mulai sesak bernapas. Dia tahu dia harus bisa pergi dari sini. Hingga akhirnya dengan susah payah sedikit demi sedikit tubuhnya akhirnya bisa digesernya pelan-pelan ke pinggir ranjang. Digesernya sedikit lagi, hingga akhirnya wanita itu terjatuh di lantai dengan posisi telentang.
Sonia berusaha lagi memiringkan tubuhnya mencoba untuk telungkup, meski pun mencobanya malah membuat tubuhnya sakit. Hingga akhirnya wanita itu berhasil telungkup.
"Atok!!Atok!!!" Suara Ilham sayup- sayup hingga semakin jelas terdengar di telinga Sonia.
"Il ... ham!!! Il- haaaam," Sonia mencoba berteriak sambil menggeser-geser tubuhnya yang telungkup ke arah pintu.
"Atoook!!!" suara itu semakin jelas.
Entah karena kekuatan apa, apa karena takut mati terkurung oleh asap yang semakin banyak masuk lewat celah bawah pintu, ataupun karena kekuatan cinta yang tiba-tiba datang karena kehadiran Ilham, Sonia entah darimana memilliki kekuatan lebih untuk menggeser-geser tubuhnya mendekati pintu.
__ADS_1
"Ilhaam .... Il- haaam!!!" teriaknya meski orang yang dipanggilnya belum tentu mendengarnya dari luar kamar.
Sonia lantas tak mau putus asa. Dia langsung menggedor-gedor pintu kamar itu dengan kekuatan tangannya yang tak seberapa itu.
"Il- ham?" ratap Sonia.
Kesadaran Sonia mulai menurun sekarang. Namun sebelum dia benar-benar tak sadarkan diri, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka sedikit. Tubuhnya yang mengganjal jalannya pintu untuk keluar masuk rumah, segera digesernya agar orang di balik pintu itu tidak kesulitan menolongnya.
Pintu kamar terbuka,
"Sonia??!!!" teriak Ilham kaget.
Tak disangkanya akan menemukan Sonia di sana setelah mencari Atok kemana-mana namun tak menemukannya. Sonia sendiri belum ada yang menemukan karena seluruh pembantu dan pelayan rumah sangat sibuk memadamkan api.
"Il-haamm .... Uhhhukkk! Uhhuuuk!!"
Saat pintu kamar itu dibuka, asap putih di luar kamar juga ikut menggangu pernapasan Sonia.
"Sonia!! Juru rawat kau tu mane?" tanya Ilham yang kini menutup hidungnya sendiri agar tidak kemasukan asap.
Sonia menggeleng lemah.
Ilham yang melihat kondisi Sonia yang lemah seperti itu, tak punya pilihan lain selain menolong mengangkat dan menyelamatkan Sonia keluar dari dalam rumah.
Di luar, Yola yang khawatir kenapa Ilham tak juga muncul-muncul terlihat heran melihat Ilham yang keluar sambil menggendong seseorang.
"Ilhaaam!!!" pekik Zubaedah menyambut Ilham yang datang dengan membawa Sonia.
"Tak de Atok di dalam, Mamah. Ilham dah cari pun," kata Ilham sambil terengah-engah ngos-ngosan sambil berusaha meraup oksigen segar sebanyak-banyaknya setelah meletakkan Sonia terlebih dahulu ke dalam mobil.
"Mereka cakap Atok ade kat rumah hospital, Ilham. Atok tak sadarkan diri. Kite mesti tengok Atok kat sana," kata Zubaedah.
Ilham mengangguk.
"Oke, kite sekalian bawa Sonia, die kekurangan udara pule. Ilham temukan dia terjebak dalam bilik seorang diri. Jom kite ke hospital," ajak Ilham.
Mamah Zubaedah menggeleng.
__ADS_1
"Kau sahaja, tak de yang jaga kat sini, kalau Mamah ikut kamu pergi kat hospital Permata Hati. Bawa juge, Hafiz dan kawan wanitanya pergi. Nanti kau hantarkan pula Ammar dan Yola kat apartemen terlebih dahulu. Lepas tu kau dan Hafiz bolehlah jage Atok bersama kat hospital," kata Mamah Zubaedah.
Ilham manggut-manggut.
"Oke kalau macam tu, jomlah!" kata Ilham sepakat pada usulan Mamah.
Hingga akhirnya di dalam mobil, Yola dan Ammar berada di depan. Dan Hafiz dan Yuri mengapit tubuh Sonia dan memeganginya agar tidak jatuh.
"Yola, abang hantar kau dan Ammar ke apartemen dahulu, hmm?" kata Ilham.
Yola merengut.
"Aku dan Ammar ikut aja, abang! Lebih utamakan Sonia dulu dari pada mengantar kami pulang," kata Yola.
"Perjalanan ke hospital searah, sayang, jadi kau, Yuri dan Ammar abang kasih turun di depan apartemen, lepas tu abang dan Hafiz akan lanjut bawa Sonia kat hospital yang sama dengan hospital tempat Atok dirawat," kata Ilham.
"Abang, biarkan aku ikut!" protes Yola.
Entah kenapa hatinya kini terasa nyelekit lagi saat melihat Ilham menggendong Sonia tadi.
"Tak boleh. Ibu yang sedang mengandung tak bole ade kat hospital berlama-lama," tolak Ilham akan permintaan Yola.
Yola seketika menjadi lebih cemberut sambil melirik Sonia yang berada di kursi belakang mobil melalui kaca spion. Dan Ilham tampaknya mengerti apa yang dikhawatirkan oleh sang istri.
"Ini bukan saat yang tepat untuk cemburu, Honey," katanya mengingatkan.
Yola hampir kesedak saat Ilham berhasil menebak apa yang dipikirkannya.
"Siapa yang cemburu? Issss ...." bantah Yola.
Ilham menjadi tertawa meskipun di hatinya masih ada kegelisahan memikirkan Atok Yahya yang sedang dirawat saat ini
"Abang, memangnya dimana perawat yang merawat Sonia? Kok dari tadi di rumah Atok, aku lihat nggak ada dia?" celutuk Yola.
Dan Ilham hanya bisa mengerutkan keningnya.
Kemana dia ya? Itu jugalah yang berada dalam benaknya Ilham.
__ADS_1
***
Hey reader, jangan lupa like dan komentarnya ya ...