Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Tanda Tangan!


__ADS_3

"Saye dah ade di rumah keluarga Nirwan, Mr. Y," kata Melisa pada pada panggilan teleponnya.


Sore itu dia membawa Sonia berjalan- jalan di halaman belakang keluarga Nirwan. Tujuan utamanya tentu bukan untuk membuat pasiennya tidak merasa bosan, melainkan agar dia bisa menelepon Mr. Y tanpa didengar oleh siapa pun di rumah itu.


"Semua terkendali?" tanya pria itu di seberang sana.


"Keadaan kat sini masih saye pantau. Semua tak ade yang curige kalau saye adalah kaki tanganmu Mr. Y," jawab Melisa.


"Bagus, kamu awasi tua bangka itu. Cari tahu dimana dia menyembunyikan harta rampasan Yolanda itu. Ini mungkin tidak akan mudah. Tapi dia satu-satunya yang mengetahui dimana letak harta rampasan Yolanda berada. Salim sendiri sudah lama meninggal. Jadi hanya orang tua itu yang tau dimana mereka menyimpannya saat itu," kata si penelepon di seberang sana.


"Kalau boleh tahu darimana saye baiknya mencari tahu tentang harta itu lebih dahulu? Dan harta ape yang sedang dicari tahu ni?" tanya Melisa.


"Hmmm ..." Terdengar suara berpikir Mr. Y.


Melisa menunggu jawaban pria itu.


"Harta apa pun itu kau tak perlu tahu lebih jelas. Yang penting saat kau menemukan ada yang mencurigakan dan janggal terjadi, kau boleh langsung memberi tahuku," kata Mr. Y.


"Lalu dari mane sebaiknya saye mencari tahu?" tanya Melisa mencoba mengulang pertanyaannya. "Ape dari cucu menantu keluarga Nirwan? Yolanda?"


Tebakan Melisa nampaknya sesuai dengan apa yang dipikirkan oleh Mr. Y.


"Hmm ... betul. Kau harus awasi wanita itu baik-baik. Jangan sampai terlewatkan apa pun yang mencurigakan yang ada padanya. Dia dikawinkan dengan putra keluarga Nirwan saat masih usia dini, pastilah ada penyebabnya. Tapi selain itu, kau juga harus mengamati seluruh orang yang berada di rumah itu, khususnya Zubaedah dan Ilham," kata Mr. Y.


"Ilham?"


"Ya. Dia cucu satu-satunya Tengku Yahya Nirwan saat ini, tak menutup kemungkinan kunci untuk mendapatkan harta itu sebenarnya ada padanya, walaupun aku lebih mencurigai istrinya, Yolanda" jawab Mr. Y.


"Cucu satu-satunya? Bukankah Ilham masih memiliki adik perempuan? Demi hal itulah Ilham mahu nak kahwinkan Sonia?" tanya Melisa semakin ingin tahu.


Terdengar terkekeh di ujung telepon sana.

__ADS_1


"Soal itu jangan terlalu banyak ikut campur. Soal Andini Nirwan, tidak banyak orang yang mengetahui hal itu. Jadi kau pun sebaiknya jangan terlalu banyak ingin tahu. Terlalu banyak tahu bisa memperpendek umur, kau tahu?"


"Ma- maaf kalau macam tu Mr. Y, saye tak akan banyak bertanya lagi," kata Melisa.


"Kerjakan tugasmu dengan baik dan jangan sampai ada yang curiga kau adalah kaki tanganku, kau paham?"


"Mmm ... saye paham," kata Melisa.


Melisa mengenal Mr. Y dari namanya, sejak dia kecil. Dia sesungguhnya belum pernah bertemu dengan orang yang menamai dirinya sendiri itu dengan variabel Y.


Tetapi keluarganya banyak berhutang budi pada Mr. Y ini, termasuk dalam hal membiayai segala kebutuhan hidup keluarga mereka termasuk biaya sekolah Melisa dengan kakak-kakaknya.


Jadi selain karena ingin membalas budi, dia juga mendapat pekerjaan sampingan yang jauh berkali-kali lipat besarnya daripada bekerja di rumah sakit sebagai juru rawat.


"Kau awasi Sonia. Jangan biarkan dia sehat kembali. Selama beberapa hari sekali kau beri dia plankton dengan dosis kecil saja, agar perkembangan penyakitnya tidak terlalu terlihat di mata orang lain," kata Mr. Y, memberi titah terakhirnya pada gadis itu.


"Baiklah, kalau macam ..."


Melisa buru-buru mematikan teleponnya saat mendengar suara langkah seseorang memasuki area taman belakang. Dia sudah tidak peduli apakah Mr. Y akan merasa diabaikan olehnya atau pun menganggap dirinya tidak sopan jika menutup panggilan telepon itu. Tetapi dia tidak boleh mengundang kecurigaan sama sekali.


Buru-buru melisa mengajak Sonia berbicara seolah-olah dia memang membawa Sonia untuk menikmati indahnya taman bunga milik Zubaedah.


Sonia menatap tajam pada Melisa dengan wajah tak suka. Dia bisa mendengar percakapan perawat ini dengan Mr. Y saat mereka menelepon, walaupun Sonia tidak bisa mendengar saat Mr. Y yang bergantian berbicara.


"Tinggalkan saye dengan Sonia. Ade yang mesti saya bicarakan dengan dia," kata Ilham yang tiba-tiba telah berada di belakang mereka.


"Ba- baiklah. Puan Sonia, saye tinggal sekejap dahulu," pamit Melisa.


Keningnya mengerut saat melihat ada map di tangan Ilham. Dalam hatinya dia bertanya-tanya, apakah dia juga perlu mencurigai itu?


Melisa masih ingin mencuri dengar pembicaraan antara Ilham dan sonia andai cucu sulung pemilik supermarket besar di Malaysia itu tidak melotot tajam padanya. Dia tidak punya pilihan lain selain pergi dari sana.

__ADS_1


Ilham mendorong kursi roda Sonia ke arah bangku taman agar dia juga bisa lebih nyaman duduk sambil bicara dengan Sonia. Dia harus membicarakannya hari ini dengan Sonia.


"Sonia, kau tahu kenape, aku datang temui kau petang ni?" tanya Ilham berbasa-basi.


Sonia menggeleng pelan. Apa pun alasan Ilham menemuinya sore ini, dia sudah cukup senang pria itu masih mau menemuinya. Selama beberapa hari dia ada di rumah keluarga Nirwan, jangankan menjenguknya, mereka berpapasan di koridor saja, Ilham seperti tidak menganggapnya ada sama sekali.


Ilham menghela napas sebelum mengutarakan apa yang ada di hatinya.


"Sonia, kite dah bercerai. Kau pun dah tahu itu. Aku sudah mengucapkan talak atas engkau. Kau jangan pura-pura tak ingat itu, Oke?" kata Ilham mengawali pembicaraan yang ingin disampaikannya.


Kerongkongan Sonia rasanya tercekat. Oh, ternyata ini tujuan Ilham makanya dia pria itu mendatanginya.


"Kite belum bercerai secara resmi di Mahkamah Syariah. Aku ingin ceraikan kau mase ni, tapi keadaan kau membuat aku mempertimbangkan hal lain pula. Orang-orang akan anggap aku suami yang sampai hati menceraikan istri sendiri saat keadaan kau macam ni. Oleh kerana itu aku datang kat sini, nak meminta kau tanda tangan persetujuan aku untuk berkahwin dengan Yola di JAIS," kata Ilham.


Mata Sonia nampak berkaca-kaca. Sungguh dia tak rela prianya ini menikah dengan wanita lain, walaupun wanita itu adalah istri Ilham yang sesungguhnya. Ilham ingin mengesahkan status Yola.


"Jom, please Sonia, tak payah menangis macam tu. Kite tak betul-betul berkahwin. Yola adalah isteri aku yang sebenarnya. Aku nak kembalikan status itu padanya. Kau sendiri tahu, dia sedang mengandung anak aku mase n, adiknya Ammar. Aku tak nak dia mengalami mase pregnant macam dahulu aku tak de disisi dia, kerana ulah kau. Jadi aku minta, kau tanda tangan kat sini!"


Ilham membuka map itu dan menunjuk di bagian mana Sonia harus tanda tangan.


Tangan Sonia gemetar. Meski sulit digerakkan tetapi jari-jarinya masih sanggup memegang bolpen. Tapi dia tak mau, tak rela dimadu. Ini terlalu menyakitkan.


"Ayo tanda tangan! Kalau kau tak nak, biar aku merayu pade mahkamah syariah untuk dapat ceraikan kau tak peduli ape kate orang! Majlis perkahwinanku dengan Yola hanye menunggu waktu beberapa hari lagi dan aku perlu persetujuan agar aku boleh uruskab segala urusan administrasi di Jabatan Agama Islam. Aku tak nak berlama-lama. Jom!Tanda tangan!"


Karena Sonia masih tidak mau, dan malah menangis sesenggukan Ilham jadi memaksanya. Pria itu memaksa Sonia menggenggam bolpen dan memaksa genggam tangan istri di atas kertasnya itu hingga ia bisa menuntut Sonia untuk menggoreskan tinta di surat pernyataan rela dimadu itu.


"Hiks ... Il ... ham ... "


Sonia menangis sesenggukan namun kali ini memaksanya lebih kasar.


"Tanda tangan! Kau tak dengar aku cakap ke?Tanda tangan!!!"

__ADS_1


***


Hai, hai, hai selamat malam reader JDM, menurut kalian Sonia bakal tanda tangan nggak ya? Penasaran? Like dan komentar dulu beib ....


__ADS_2