Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Masih Tentang Andini


__ADS_3

"N-one Grocery, adalah perusahaan besar retail di Malaysia. Pemiliknya adalah Tengku Yahya Nirwan, kakekmu, keluargamu. Papa sendiri tidak tahu apa yang membuat mereka harus melakukan ini padamu. Hanya saja seseorang yang memberikanmu pada kami, mengatakan kamu dalam situasi yang berbahaya jika tetap bersama mereka. Jadi papa pikir ini mungkin ada kaitannya dengan persaingan bisnis. Pebisnis-pebisnis besar biasanya memiliki pesaing dengan perusahaan lain. Kamu tahu mereka terkadang menghalalkan segala cara sampai mencelakai anggota keluarga dari pebisnis saingannya. Jadi papa berpikir alangkah baiknya kalau keadaannya begini saja," kata pria itu menjelaskan.


Abraham Yusuf, sejak menemukan Andini memang selalu berusaha mencari tahu tentang asal-usul anak angkatnya itu. Dari kecurigaannya kalau orang yang meletakkan bayi itu di di rumahnya adalah pakcik Abidin, dia menelusuri tentang N-one Grocery tempat orang tua itu bekerja yang mana dari pengakuan Abidin, toko itu adalah milik abangnya. Dari situ Abraham mendapat berita tentang hilangnya cucu dari pemilik perusahaan retail itu. Pernah Abraham punya niat ingin mengkonfirmasi langsung pada pihak keluarga Nirwan tentang Andini. Tetapi egoisme sebagai orang tua dan rasa takut kehilangan Andini membuatnya berpikir seribu kali untuk memberi tahu keluarga kandung anak semata wayangnya itu.


Andini termangu menatap secarik kertas yang ada di tangannya. Tadinya dia berpikir kalau dia adalah anak yang dibuang oleh keluarganya dan dipungut oleh pasangan dokter yang dia tahu selama ini itulah mama dan papanya. Tapi disurat itu katanya dia dalam bahaya jika tetap berada di sisi keluarganya. Jadi sebenarnya apa yang terjadi?


Sejak mengetahui fakta itu dari papanya, Andini kerap mencari tahu sendiri masa lalunya, siapa yang menjadi orang tua kandungnya dan bahkan rumah tempat dia hilang. Andini juga pernah ke rumah keluarga Gunawan, dan dari security penjaga gerbang perumahan, Andini tahu kalau keluarga Gunawan memiliki seorang putri yang kira-kira seumurannya. Dari situ dia kerap mengikuti dan mengawasi diam-diam Yolanda.


Hingga di tahun berikutnya nformasi yang dia cari sendiri akhirnya berujung pada berita kalau Yola akan berlibur ke Kuala Lumpur. Itu dia dengar tidak sengaja dari asisten rumah tangga keluarga Gunawan yang berkebetulan waktu itu sedang ngerumpi di halaman depan rumah besar itu. Dari situ juga dia mengetahui kalau Yolanda yang seumuran dengan dirinya ternyata telah dinikahkan dini dengan seorang putra dari keluarga Nirwan, yang dia yakini adalah abang kandungnya sendiri.


Mengetahui kalau Yolanda akan ke Kuala Lumpur dengan mertuanya, Andini pun memohon pada Abraham Yusuf untuk mengijinkannya berlibur ke Kuala Lumpur. Ketika sang Papa menanyakan apa tujuan dia ingin pergi ke sana sementara waktu itu bukanlah hari libur, Andini dengan jujur mengatakan dia hanya ingin melihat keluarga kandungnya dari jauh. Hanya itu tak ada niatan lain seperti mengakui pada keluarga Nirwan kalau dialah Andini mereka yang telah hilang semenjak bayi. Sang Papa dan Mama akhirnya dengan berat hati memperbolehkan Andini pergi dengan ditemani salah seorang ART mereka yang sudah lama turut mengurus Andini dari sejak kecil. Lagi pula di Kuala Lumpur dia memiliki saudara kandung yang akan menjadi tujuan Andini pergi dan Andini sudah pernah beberapa kali ke sana sebelumnya.


Hingga akhirnya Andini dan ART-nya itu pun berangkat di hari yang sama dengan Yola. Mereka mengikutinya di bandara. Dan di bandara jugalah Andini melihat Zubaedah pertama kalinya sejak dia dewasa, karena sebelumnya Yola dan mertuanya serta Hafiz memang berjanji untuk bertemu di bandara. Gadis kecil itu tak dapat mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya saat melihat wanita itu, ibu kandungnya. Ada rasa aneh di dalam hatinya, rasa iri, marah, dan sakit hati namun rindu terkadang merasa menginginkan wanita itu, namun kadang berubah lagi menjadi benci bercampur aduk menjadi satu.


Di sisi lain hatinya merasa diperlakukan tidak adil, tidak rela manakala melihat Zubaedah memperlakukan Yolanda dengan sayang, bak putrinya sendiri. Harusnya dia yang ada di sana kan? Kenapa dia dibuang? Kenapa mereka tak mencarinya lagi? Kalau benar dirinya dalam bahaya jika bersama dengan keluarga Nirwan, bagaimana dengan gadis itu.


Tapi tunggu dulu ... selain anak perempuan bernama Yolanda itu ternyata ada lagi anak lelaki gendut yang kira-kira seumurannya. Anak itu sepertinya sangat manja pada perempuan yang harusnya adalah ibu kandungnya itu. Apa itu saudara kandungnya yang lain? Tetapi mereka terlihat sebaya. Apa ibu kandungnya punya anak lagi setelah mengandungnya? Sungguh teganya mereka, membuangnya dan melupakannya begitu saja. Andini tak habis pikir.


Mereka berada dalam pesawat yang sama, Andini yang duduk berjarak beberapa kursi pesawat di belakang mereka hanya memperhatikan mereka dalam diam. Yola dan lelaki gendut itu sama sekali tak berhenti saling bersenda gurau selama dalam perjalanan. Dari ocehan-ocehan mereka tentang PR, tugas sekolah, hingga membicarakan guru killer dan teman-teman sekolah, Andini akhirnya tahu kalau mereka adalah teman satu sekolah. Dan bisa dipastikan juga kalau dia adalah anak di keluarga Nirwan dari caranya memanggil Zubaedah dengan panggilan mama.


Begitu pesawat lepas landas, Andini masih saja terus mengikuti mereka hingga ke rumah Green House. Pokoknya misinya selama di Kuala lumpur tiada lain dan tiada bukan adalah stalking apa-apa yang dilakukan keluarga kandungnya untuk memenuhi rasa penasarannya dan papanya tak punya pilihan lain selain memberi ijin dan fasilitas yang diperlukan putrinya selama dia ada di Kuala Lumpur.


Rasa penasaran jugalah yang akhirnya membuatnya sabar menunggu mobil keluarga Nirwan keluar dari komplek perumahan dan mengikutinya hingga ke pusat perbelanjaan di area menara petronas.


Andini mengikuti mereka lagi, awalnya mereka berempat. Tetapi kemudian Zubaedah dan anak lelaki gendut itu memisahkan diri dan membiarkan Yolanda dan Ilham hanya jalan berdua. Dalam hal ini Andini merasa tidak setuju dengan sikap ibu kandungnya. Terlihat sekali kalau Zubaedah sangat ingin mendorong menantunya itu untuk dekat dengan Ilham, orang yang pastinya adalah abang kandung Andini. Miris sekali di keluarga Nirwan itu ada tradisi menikahkan anak sekecil mereka, bahkan saat anak itu masih sekolah. Di sini tiba-tiba Andini merasa beruntung tidak dibesarkan di keluarga Nirwan. Siapa yang tahu andai dia masih bersama mereka, mungkin juga mereka akan menikahkan dini dirinya juga?


Andini menjadi bergidik membayangkannya namun tetap mengikuti Yolanda. Entahlah, harusnya dia mengikuti Zubaedah saja, tetapi pesona anak perempuan bernama Yolanda itu lebih menarik perhatiannya. Nampaknya dia sangat disayangi oleh semua keluarga Nirwan.

__ADS_1


Tapi tunggu dulu ... siapa wanita itu? Seorang wanita seumuran Ilham abangnya tiba-tiba datang, menyapa Ilham dan Yolanda. Ilham dan gadis yang baru datang itu terlihat saling mengenal, oh bukan ... mereka sepertinya lebih dari saling mengenal tetapi juga akrab. Ketiganya akhirnya berjalan ke sebuah coffe shop. Dan lihatlah wajah Yolanda, merengut seperti tak suka akan kehadiran gadis itu. Apa dia cemburu? Hahaha, lucu sekali! Andini menertawainya dalam hati. Gadis yang sama kecilnya seperti dia itu, sudah tau cemburu?Oh my God! Sumpe dia nggak merasa terbebani dengan pernikahan dini ini?


Andini memang masih sama kecilnya dengan Yolanda waktu itu, mungkin mereka hanya beda usia beberapa bulan saja, atau beda satu tahun. Andini waktu itu kelas 1 SMP, sementara Yolanda kelas 6 SD. Jadi, Andini sangat tahu jika di usia mereka, seiring masa pubertas, rasa suka pada lawan jenis itu sudah mulai tumbuh. Tetapi dijodohkan? Dan Yolanda terlihat memiliki rasa cemburu pada kedekatan suaminya dengan wanita lain, membuat Andini menjadi geli karenanya. Suami, hahaha lucu sekali. Jangan sampai deh dia memilikinya di usia ini.


Tak lama berselang, Andini memperhatikan Yolanda yang berjalan keluar coffe shop dengan wajah kusut kemusut. Sementara Ilham, terlihat ingin sekali mencegah Yolanda pergi tetapi wanita yang baru datang itu menghalanginya. Entah apa yang dikatakannya hingga Ilham akhirnya membiarkan Yola pergi begitu saja. Sungguh lelaki yang tidak peka.


Dan Andini lagi dan lagi mengikuti Yolanda. Sambil menelepon, gadis kecil itu pergi ke toko pakaian dalam pria tempat terakhir Zubaedah dan Hafiz berpisah dengan mereka. Yola nampak bertanya pada penjaga toko dan akhirnya berbalik dengan lemas karena tak menemukan Zubaedah dan Hafiz berada. Sesaat dia mematikan ponselnya lalu mencari Zubaedah dan Hafiz berkeliling. Dan Andini masih saja mengikutinya, kali ini lebih dekat dari belakang.


Yola kelihatan tampak semakin gelisah karena tak menemukan Zubaedah dan Hafiz di mana pun. Dan dia mulai membuka tasnya kembali dan mengambil ponselnya. Saat itu ide gila Andini timbul. Spontan otaknya menyuruhnya untuk mengambil ponsel dan tas gadis kecil itu. Di ponsel itu pasti ada nomor kontak dari Zubaedah kan? Entah untuk apa, tetapi Andini berpikir mungkin dia akan membutuhkannya nanti. Dan tasnya mungkin saja akan ada sesuatu yang menarik di sana nanti. Lalu dalam hitungan ketiga Andini pun melakukan apa yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan. Menjambret!


Andini dari belakang segera merampas ponsel yang tergenggam menempel di telinga Yola. Begitu pun dengan tas yang tersampir di bahunya. Lalu dia segera berlari sekencang-kencangnya. Tak dipedulikannya lagi teriakan gadis itu memanggilnya maling.


"Tunggu!!! Maling!! Heyyy!! Tolong!!!" jerit Yola.


Andini tak menghiraukannya. Dia terus berlari. Sesekali dia melihat ke belakang, memastikan jaraknya dengan Yola masih jauh dan dia aman dari jangkauan gadis itu. Sungguh sangat beresiko apa yang diperbuatnya kali ini. Tak terpikir bagaimana kalau dia tertangkap oleh tim security mall dan diserahkan pada pihak kepolisian sementara mama dan papanya tak ada di sini. Ahh, uncle Adnan, saudaranya Papa pasti akan marah nanti kalau sampai dia datang ke Kuala Lumpur hanya untuk membuat masalah.


Dia sudah sampai di lantai bawah dan yupp! Akhirnya dia berhasil mencapai pintu dan keluar hingga teras mall dan menoleh ke belakang, Yola masih saja mengejarnya. Kuat juga gadis itu, dia bahkan hampir kehabisan tenaga. Lalu Andini segera bersembunyi di balik pilar, dan begitu Yola dekat, Andini menjulurkan kakinya hingga gadis itu tersandung dan terjerembab di lantai teras mall.


Dia sempat menoleh dan merasa khawatir juga. Tetapi tidak! Bisa berabe kalau dia menolongnya nanti. Salah-salau Yola malah akan memanggil security nanti. Lalu dengan rasa bersalah Andini pun segera menuju parkiran dimana ART yang tidak diperbolehkannya untuk masuk tadi telah menunggun di dalam mobil uncle Adnan.


"Ya Tuhan, Neng Dini, kemana aja. Lama amat sih?" tanya Mbok Marni yang sedari tadi napasnya kembang kempis karena khawatir Andini tidak keluar-keluar dari dalam mall, sementara dia tidak diperbolehkan ikut ke dalam. Dia takut anak majikannya ini hilang atau kena masalah di dalam.


Andini tak menjawab. Jantungnya masih berdetak kencang tak karuan.


"Pakcik! Kita pulang sekarang ke rumah uncle Adnan!" pintanya dengan napas ngos-ngosan.


Dini segera memasukkan ponsel yang dijambretnya dari Yola, ke dalam tas gadis itu. Sementara Mbok Marni tak berani bertanya apa-apa.

__ADS_1


Persis seperti dugaannya, di dalam ponsel itu ada nomor telepon Zubaedah, Ilham, dan juga beberapa foto Yolanda dan keluarga Nirwan yang dia simpan entah dengan tujuan apa. Hatinya berusaha mengingkari kalau dia juga menginginkan keluarga kandungnya itu dalam hidupnya. Maka sesekali ada masanya Andini iseng-iseng menelepon Zubaedah dengan privat number, berharap bisa mendengar langsung suara wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu sekaligus juga wanita yang telah membuangnya itu.


Saat Andini duduk di bangku SMA, dia terkadang masih aktif mencari tahu kabar tentang Yolanda dan keluarga Nirwan. Tidak intens, hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya saja. Saat itu dia terkejut mendapati Yolanda yang tengah hamil di saat dia masih sekolah dan dari seorang temannya yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan Yolanda, Andini tahu kalau Yolanda memiliki masalah dalam pernikahannya. Kasihan iya, tetapi dia tidak yakin memiliki andil untuk merasa kasihan pada iparnya yang tak pernah mengetahui keberadaan dirinya itu. Hingga akhirnya gadis itu lulus SMA dan Andini masih kuliah di Jakarta, dia tak dapat lagi mencari tahu apa pun tentang Yola dan keluarga Nirwan. Yolanda waktu itu telah melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Dan Andini pun meneruskan kembali kuliahnya di Jakarta.


Lulus kuliah, Andini memutuskan untuk ikut sang Papa yang telah lama bertugas di Penang, Malaysia, sementara sang Mama tetap berada di Indonesia. Rasa penasarannya pada keluarga Nirwan belum usai. Gadis itu melamar kerja di N-one Grocery untuk mengorek hal-hal internal perusahaan yang berhubungan dengan pemilik perusahaan dan keluarganya. Dari situ Andini tahu, kalau abang kandungnya Tengku Ilham Nirwan yang dulu sepengetahuannya menikahi Yolanda ternyata di depan khalayak istri yang dinikahinya secara resmi adalah seorang wanita bernama Sonia.


Penyelidikannya tak berhenti di situ saat Andini mendengar secara tak sengaja rahasia yang lebih penting dari orang kepercayaan Tengku Yahya Nirwan bernama pakcik Abbas, kalau Yolanda dan Ilham dahulu berpisah karena ada kaitannya dengan dirinya, anak kandung keluarga Nirwan yang telah lama hilang. Kabarnya seseorang memanfaatkan itu, untuk membuat mereka bercerai. Dan Andini yang merasa ambigu dengan itu, merasa perlu menyelidikinya lagi. Hingga ketika dia memiliki waktu untuk cuti, dia berangkat lagi ke Kuala Lumpur dan membuntuti Ilham dan Yola yang entah karena apa bisa bekerja di perusahaan keluarga milik mantan suaminya. Dan kejadian penjambretan itu pun terjadi untuk kedua kali dengan niat bisa mendapatkan info lain di tas dan ponsel Yolanda.


Namun sesuatu yang tak disangkanya terjadi, setelah Andini kembali ke Penang dan kembali bekerja di N-one, rupanya sebuah kebetulan terjadi lagi, tak sengaja Yolanda menemukan dirinya di mini market, dan untungnya dia bisa menghindar waktu itu. Karena takut rahasianya akan ketahuan, Andini segera mengajukan resign dari N-one. Hingga kemudian, dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan magister-nya di Kuala Lumpur.


*Flashback Off*


Abidin menatap nanar dr. Abraham. Telah lama dia tahu kalau dokter ini telah kembali ke Penang. Beberapa kali juga dia mencari tahu tentang Andini, sebelum dia mengalami penyakit demensia ini. Dan entah mengapa hari ini ketika dia berada di Healthy World hospital, ingatannya tiba-tiba kembali pada Andini dan menuntunnta untuk datang je ruang dokter spesialis jantung ini.


"Pak-pakcik Abidin?" Dr. Abraham kembali bertanya untuk meyakinkan kalau sosok orang tua di hadapannya ini memang pria itu. Pakcik Abidin.


"Andini, boleh ke awak balikkan Andini pada kami?" Rasa bersalah pria tua itu pada almarhum sang abang tak pernah pupus, hingga di tanpa disadarinya tubuhnya dengan alami membuat beberapa ingatannya hilang karena kepikunan. Tetapi hari ini tiba-tiba saja dia ingat semua.


"Ma-maaf. Ape maksud Pakcik?" Dr. Abraham ingin menyangkal secara tidak langsung kalau dia sangat paham apa maksud dari pria tua ini.


"Saye mengirim Andini kami pada awak 24 tahun silam. Awak lupa ke?"


Dr.Abraham terhenyak. Semakin terhenyak saat sadar seseorang di depan pintu telah mendengarkan pembicaraan mereka. Orang itu tak kalah syoknya.


"An-dini? Apa maksud Datuk?"


Tiba-tiba saja Ilham telah berdiri di sana. Ada Yola dan Makcik Aminah juga.

__ADS_1


****


Maaf gengs, di bab ini banyak narasi daripada dialog tagnya. Biar babnya tidak terlalu berkepanjangan. Jangan lupa suportnya yak!


__ADS_2