
#Cinta_Dua_Negara/Jodoh dari Malaysia
Part 33
Sinar matahari pagi yang masuk lewat jendela kamar hotel mengusik tidur Sonia. Sambil mengerjap-ngerjapkan matanya, wanita itu memandang sekelilingnya. Benar dia tidak bermimpi. Dia benar-benar menginap bersama Ilham di sini.
Ya Tuhaaan .... Alangkah senangnya hatinya saat ini. Meski kepalanya agak sedikit pusing tapi Sonia ingat kalau dia tadi malam berciuman panas dengan Ilham dan astaga .... Sonia baru menyadari kalau tubuhnya sekarang polos tanpa selembar benang pun. Buru- buru Sonia ke ke meja toilet, melihat di cermin. Leher, pundak, hingga dadanya pun dipenuhi tanda cinta. Lelaki itu seganas itukah semalam? Ya ampuuuun, Sonia hampir bersorak kegirangan.
Sonia melompat kembali ke ranjang saat mendengar suara shower dari kamar mandi tiba- tiba berhenti. Ilham keluar dengan tubuh basah dan hanya memakai handuk sajam. Rambutnya yang juga basah membuat penampilannya menjadi terlihat macho dan manly.
"Kau dah bangun?" sapa Ilham.
"Emmm, iya," Sonia terlihat canggung dan malu- malu.
"Cepatlah mandi! Aku akan minta layanan kamar untuk antarkan kite breakfast," kata Ilham.
"Ah, iya," jawab Sonia.
Usai Sonia mandi, Ilham telah selesai berpakaian. Sarapan pun telah tersedia di sana. Sambil sarapan Ilham pun kembali mencoba mengajak wanita itu berbicara.
"Sonia, aku perlu informasi yang aku minta pada kau semalam. Kau tahu darimana tentang Andini? Orang yang memberitahumu itu, duduk dimana?" tanya Ilham sembari menikmati sarapannya.
"Enggg .... Itu ...." Kembali keraguan hinggap di hati Sonia.
Ilham menghembuskan napas kesal, sembari meletakkan sendoknya.
"Kite dah sejauh ini, tapi kau masih tak nak bagi tahu aku?" Kata Ilham gusar. "Sonia!! Andini itu adik aku. Adik ipar kau! Macam mana kau boleh tengok adik ipar kau dipermainkan orang lain? Dia punya keluarga. Keluarga Nirwan! Kenape kau tak nak bantu die kembali pada keluarga Nirwan? Kau ni kakak ipar macam ape?!"
"Ilhaaam!!!" Sonia berusaha membujuknya. "Aku betul- betul tak tahu Andini ade dimana. Orang yang bagi tahu aku, juga tak sembarang pula boleh dihubungi. Aku hanya pernah bertemu dengannya satu kali. Lepas tu kami hanya berkomunikasi lewat email sahaja. Srmua foto dan perkembangan tentang Andini dia kirim lewat surel sahaja. Aku tak berdusta Ilham!" kata Sonia berusaha meyakinkan.
"Kalau begitu bagi aku alamat surelnya!" pinta Ilham.
Lagi- lagi Sonia ragu ingin memberikannya.
"Sonia!!!" desak Ilham.
Sonia terkejut mendengar nada suara Ilham yang sedikit membentak.
"Aku akan bagi kau Ilham, tetapi kau mesti janji satu hal padaku," tuntutnya.
Ilham membuang napas kasar.
"Ape??" tanyanya berusaha sabar.
"Meski Andini telah ditemukan, kau tak boleh campakkan aku!"
"Tak akan," jawab Ilham asal.
"Kita akan bersama selamanya," katanya.
"Hmmm ...." gumamnya mengiyakan.
Sonia membuka tasnya dan memberikan ponselnya pada Ilham.
"Aku tak tahu siape namanya. Selama ni dia hanya menyebut dia punya nama Mr. Y. Alamat surelnya ada kat situ," kata Sonia.
Ilham mencatat alamat Mr. Y tersebut.
"Sonia, aku juga nak minta email dan passwordmu. Kau tak keberatan kan?" tanya Ilham.
"I- iya. Tentu saja, Ilham. Aku akan berikan kau passwordnya juga," kata Sonia. "Aku akan kirimkan lewat chat."
__ADS_1
"Hmmm, kalau begitu aku pergi ke N-one dahulu. Kau boleh balik sendiri, kan?" tanya Ilham. "Aku dah terlambat."
Begitu mendengar Ilham akan pergi, Sonia langsung berinisiatif mendekati Ilham lagi. Dia segera memeluk Ilham dengan tingkah genit dan menggodanya.
"Kenape cepat sangat kebersamaan kite, Ilham? Kau tak bolehkah cuti hari ni je?" tanyanya manja.
Ilham melepaskan pelukan Sonia, sedikit risih tapi berusaha untuk tidak ditunjukkannya.
"Aku ada meeting hari ini dengan kolega penting. Kau baliklah dahulu," kata Ilham.
"Ilham, aku mahu kite tinggal bersama macam suami isteri lainnya," pinta Sonia.
Ilham menghela napas. Sungguh banyak sangat menuntut, gerutunya dalam hati.
"Sebaiknya jangan dahulu. Ammar tak suka dengan kau. Aku takut dia tak boleh terima kau, Sonia!" jawab Ilham beralasan.
"Tapi Ilham, aku akan berusaha nak dapatkan hati Ammar. Aku akan bersabar dengannya. Nanti pun kite akan jadi keluarga juga," desak Sonia.
"Pelan- pelan sahaja, usah tergesa- gesa. Ammar perlu waktu untuk boleh terima ini semua," kata Ilham. "Dah dulu. Aku berangkat sekarang!"
***
"Dimana Yola?" tanya Ilham yang datang dan nampak terburu- buru ke N-one
Juli sekretarisnya Yola mengernyitkan keningnya bingung.
"Maksudku, dimana Puan Pengarah?" ralat Ilham.
Gadis itu baru paham kalau yang di cari oleh Ketua Pengarah itu adalah Pengarah Pemasaran Yolanda.
"Oh, Puan Pengarah ke airport untuk berjumpa calon kolega kite yang Ketua Pengarah dan Puan pengarah jumpai semalam," kata July menjelaskan.
"Dia bersama siape? Dah lama ke?"
Tanpa membuang waktu Ilham segera menyusul Yola dan Leon ke Bandara. Karena terlalu sibuk mengurusi Sonia dari semalam Ilham sampai tidak melihat betapa banyak panggilan tidak terjawab dari Yola dan yang diakhiri dengan beberapa chat menusuk dari dia.
[Aku mengerti Abang membenciku, tapi jangan sampai hubungan kita mempengaruhi urusan pekerjaan. Kan abang yang bilang agar kita tidak mencampuri urusan pribadi dan pekerjaan? Tadi Tuan Abidin menghubungiku mengenai kerja sama dengan pihak Malaysian Airport. Besok pagi beliau mau kita ke airport membahas rencana lanjutan kerjasama N-one dan pihak Airport.]
Chat itu dikirim tadi malam dan pagi ini pun Yola masih menghubunginya.
[Abang, kalau kehadiranku di N-one bisa mempengaruhi kinerjamu memimpin perusahaan, sebaiknya aku resign saja. Atok membangun N-one bukan untuk disia- siakan seperti ini!]
Kesalahpahaman lagi! Yola pasti mengira kalau Ilham sengaja tidak mengangkat teleponnya. Ya Tuhan!
"Leon, kalian dimana?" tanya Ilham di telepon begitu dia sampai di bandara.
Dan segera Ilham menuju tempat yang diberitahu Leon.
"Maaf, saye datang terlambat," ucap Ilham pada pimpinan Airport.
"Tak ape, kat sini ade Wakil Ketua Pengarah N-one dan Puan Pengarah Pemasaran. Mereka berdua pun cukup sahaja untuk membahas planning kerja sama kite," ucap Direktur Malaysian airport.
"Ow, begitu? Kalau begitu saye tak diperlukan lagi kat sini?" gurau Ilham pura- pura merajuk.
"Hahaha .... Mana mungkin, Tuan Ilham ni. Saye hanya bergurau je," balas Direktur itu.
Dan pembahasan tentang rencana kerja sama itu berujung pada penentuan jadwal tanda tangan kontrak antara kedua belah pihak. Ilham menatap kagum pada Yolanda. Wanita itu memang tak bisa diremehkan trik marketingnya. Entah karena dia memang cantik, atau karena dia memang menarik secara alami, Ilham merasa semua ini tak lepas dari peranan mantan istrinya itu. Mengingat akan mantan istri Ilham merasa nelangsa lagi.
"Kenape kau lambat sangat datang? Teleponmu tak kau angkat kau dari semalam kate Yolanda, ape kau bikin tu?" tanya Leon menginterogasi.
Ilham menatap Yola yang sengaja membuang mukanya jauh- jauh.
__ADS_1
"Aku bertaruh main game dengan Ammar, bile aku kalah, aku tak boleh pegang telepon sampai pagi dan harus kawani dia main. Lepas Ammar tidur, aku pun mengantuk pula, aku pun tidurlah sampai esok pagi. Jadi tak dengar suara telepon bunyi- bunyi," dusta Ilham memberi alasan.
"Oh, macam tu?"
"Hu uh," jawab Ilham.
Saat ketiganya hendak pulang, Leon bertanya apa Yola ingin ikut mobilnya atau mobil Ilham.
"Kau ikut kereta Ketua Pengarah atau ikut aku je?" tanya Leon.
"Aku ikut wakil ketua aja. Aku ke sini bersamamu, pulang pun tentu harus denganmu, kan?" jawab Yola ketus.
Ilham tak ingin berdebat dan membiarkan Yola begitu saja ikut di mobil Leon.
Saat ketiganya sampai di kantor N-one, Yola dikejutkan dengan seruan imut nan menggemaskan.
"Mommy!!!"
Yola menoleh. Rasanya rindu sekali dengan suara malaikat kecilnya itu. Namun seketika rasa bahagianya tiba- tiba menurun begitu saja ketika melihat seseorang yang sedang bersama Ammar.
Ammar begitu melihat Mommy-nya langsung berlari ke pelukan Yola.
"Mommy kemana saje? Ammar rindu pada Mommy!" ucap bocah itu.
Yola jadi terharu melihatnya dan matanya seketika berkaca-kaca.
"Mommy pun rindu sangat dengan Ammar, tapi Mommy ada banyak sangat job, jadi belum bisa bertemu Ammar," kata Yola lembut membujuk Ammar.
"Ilham, aku datang bersama Ammar nak ajak kamu makan siang. Aku sengaja jemput Ammar di tadika," kata Sonia mencoba mengabaikan keberadaan Yola.
Nada suaranya terdengar show-up ingin memperlihatkan keharmonisannya dengan Ilham. Dan lihatlah saat dia merapikan rambutnya ke belakang, seakan sengaja memperlihatkan pada Yola leher mulusnya yang dihiasi beberapa kissmark.
Deg!
Yola terpaku sejenak melihat tanda itu. Apa jangan-jangan dia dan Ilham .... Pikirannya pun mulai tak karuan ditambah lagi saat Leon yang tak tahu situasi atau memang sengaja ingin memperkeruh suasana menggoda Sonia.
"Woaaa ... Ehmmm, ada nyamuk besar ke gigit Puan Sonia semalam?" godanya.
Sonia terlihat tersipu malu. Nampak sangat jelas di mata Yola kalau saingan cintanya itu dengan sengaja ingin memperlihatkan itu padanya. Yang berarti pembuat kissmark itu tiada lain adalah Ilham.
"Adududu, amboi .... Ketua Pengarah dan Puan Sonia meski dah lama berkahwin masih tetap mesra dan penuh kasih, ye....?" goda karyawan lain yang mendengar.
Sonia semakin tertawa sementara Ilham terlihat salah tingkah mendengarnya.
"Ilham, kite pergi sekarang sahaja. Aku tak tahan digoda anak buah kau di sini," katanya dengan suara manja.
Dia tak menyangkal prasangka Leon dan karyawan di sana. Ilham pun sepertinya tidak berusaha menyangkalnya. Hati Yola seakan dicabik- cabik rasanya.
"Mommy, jom makan siang bersama dengan Ammar dan Daddy!" ajak Ammar.
Yola mencoba tersenyum.
"Next time, Oke? Mommy banyak sekali pekerjaan. Lagi pula Mommy sudah makan siang," dusta Yola sembari mengelus rambut anak itu. "Ammar, makan siang dengan Daddy dan Mommy Sonia dulu, ya!" bujuknya.
Sesungguhnya hatinya pedih harus mengajari putranya sendiri memanggil Mommy pada wanita lain, terlebih lagi wanita itu adalah Sonia. Wanita yang telah menghancurkan hidup dan kebahagiannya.
"Tapi, Mom ...." protes Ammar.
"Mommy balik dulu ke ruangan Mommy, ya! Mommy kerja dulu," kata Yola sembari meninggalkan Ammar tanpa persetujuan bocah itu. Yola segera menuju departemennya, sebelum sesuatu yang ditahannya sekuat tenaga terjun bebas di pipinya.
"July, aku akan sibuk mengurus perencanaan kerja sama dengan Malaysian Airport. Jadi jangan sampai ada yang menggangguku. Siapa pun itu, katakan aku lagi sibuk!" titah Yola pada sekretarisnya itu.
__ADS_1
"Baik, Puan!" jawab July heran.
Lalu Yola pun segera masuk ke ruangannya dan mengunci diri di sana. Segera Yola duduk di kursinya dan menangis sejadi-jadinya. Hatinya perih melihat kenyataan kalau Ilham telah menjadi milik Sonia seutuhnya.