Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Rujuk


__ADS_3

[Tuan Y, mertuaku nak berjumpa dengan Andini. Ape yang harus kulakukan? Dia terus desak aku, atau kalau tak Ilham akan menceraikanku. Tolong aku!]


Ilham mengirimkan pesan itu pada Mr. Y seolah yang mengirimkan email itu adalah Sonia. Yang Ilham tahu Y mungkin adalah orang dibalik semua kerumitan ini.


Ilham kembali memejamkan matanya, mencoba mengingat- ingat lebih banyak kenangan kecilnya dahulu dengan Yola. Mereka hanya pernah bertemu beberapa kali saat masih kecil tapi rasanya saat itu ia sudah sangat menyukai Yola. Tapi kenapa saat mereka dipertemukan lagi ketika membicarakan pernikahan, Ilham tidak begitu ingat lagi pada Yola? Ilham menyesalinya. Begitu banyak waktu terbuang dan tak jelas antara ia dan Yola.


Ilham masih larut dalam lamunannya saat ponselnya bergetar. Ada pesan masuk di email Sonia. Ilham langsung mengeceknya. Terkejut saat ia melihat itu adalah balasan email yang dikirimnya pada Mr. Y. Ilham tak menyangka balasannya akan datang secepat itu.


[Aku akan pertemukan keluarga Nirwan dengan anak mereka yang hilang, Andini. Tapi ada satu syarat]


Ini yang ditunggu-tunggu Ilham. Syarat. Dia ingin tahu apa mau dari orang itu. Setelah menjalankan semua drama sulit ini sekian puluh tahun, menculik adiknya, memporak-porandakan hubungan perkawinannya dengan Yola, tentulah yang akan diminta oleh orang ini bukan hal yang sederhana seperti uang.


[Apa yang kau minta? Aku akan bagi tahu dengan Ilham dan keluarga Nirwan. Mereka pasti akan menyanggupi syarat darimu]


Ilham menunggu balasan email itu lagi. Satu menit .... Dua menit .... Tiga menit ....


Trrrt .... Ponsel itu bergetar lagi, pertanda ada email yang masuk.


[Aku mau menantu keluarga Nirwan]


Ilham mengernyitkan keningnya bingung.


[Aku?]


[Hahaha .... Aku tak tertarik padamu. Aku ingin Yolanda Gunawan]


Deg!


Jantung Ilham jadi berdebar tak tenang. Kenapa Mr. Y ini mengincar Yolanda? Dia bukankah menculik Andini? Tapi pada saat itu Yola bahkan belum lahir. Apa yang diinginkan Mr. Y ini sebenarnya?


[Mengape mesti Yolanda? Tuan Y suka pada Yolanda, ke?]


Dari keterangan yang Sonia katakan, saat pertama Mr. Y ini bertemu dengannya, Mr. Y adalah seorang laki- laki yang kira- kira seumuran mereka. Ini pun masih menjadi tanda tanya untuk Ilham. Kalau pun Mr. Y ini adalah penculik Andini, bukankah saat Andini hilang dia masih seumuran Ilham? Anak seusia 7 tahun mana mungkin bisa menculik seorang bayi? Atau penculiknya adalah orang tua si Mr. Y ini?


[Tuan Y? Kenape tak balas saya punya pesan? Tuan Y menaruh hati dengan Yola ke?]


Rasanya Ilham tak sabar ingin mengetahui siapa Mr. Y ini. Kalau benar dia menyukai Yolanda, ini akan menjadi suatu masalah yang besar. Mr. Y ini berbahaya. Kalau dia atau siapa pun orang dibalik penculikan Andini bisa menyembunyikan Andini selama berpuluh tahun, bukan tidak mungkin mereka juga bisa melakukan hal yang sama pada Yola. Tidak! Ilham tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Yola. Sudah cukup adiknya menderita karena manusia berinisial Y ini, jangan sampai Yola pula yang jadi korbannya.


[Tuan Y, kenape diam saje? Tuan Y menyukai Yola ke?]


Tak lama akhirnya pesan Ilham di balas juga.


[Aku sudah pernah bilang padamu, terlalu banyak tau bisa memperpendek umur. Tetapi karena kau sudah terlalu banyak tanya, aku kasih tau kamu]


[Aku memang suka Yolanda Gunawan]


Glekkk!!! Ilham menelan saliva. Ini tidak bisa disepelekan. MR. Y ini sepertinya nekad. Lalu Ilham mengetik lagi.


[Lalu, kau nak aku bikin ape?] tanya Ilham.


[Aku mau kamu pastikan kalau pernikahan Yola dan Hafiz akan terjadi. Tak boleh ada yang menggagalkan]


Ilham makin bingung.


[Kau kate, kau menyukai Yola, tapi kenape kau nak dia berkahwin dengan Hafiz? Bukannya itu berarti kau takkan boleh bersama- sama dia bila perkahwinan itu terjadi]


[Itu bukan hal yang harus kamu tahu. Kecuali kau sudah bosan hidup]


Sampai disitu Ilham tak berani bertanya lebih banyak lagi. Dia takut itu berdampak pada keselamatan Yola.


Sementara itu di suatu tempat, di sebuah ruangan tertutup dan remang, seseorang yang sedang berbalas email itu menyunggingkan sebuah senyum jahat di sudut bibirnya.


"Ya aku memang suka Yolanda Gunawan. Aku suka dia MATI!" gumamnya lirih.


***


Penandatanganan surat perjanjian kontrak antara N-one Grocery dan pihak Malaysian Airport berjalan lancar. Schedule itu berlangsung di airport dengan di hadiri oleh pihak- pihak yang berkepentingan. Usai acara itu, Yola buru- buru ingin menemui Hafiz yang saat ini ingin berangkat ke Johor. Mereka berjanji bertemu di bandara. Sebenarnya lebih tepatnya Yola menyempatkan diri menemui Hafiz mumpung dia sedang berada di bandara. Ilham sendiri menyuruh Leon untuk kembali ke N-one lebih dulu.


"Kau mau kemane?" tanya Leon.


Ilham hanya melambaikan tangan ke belakang tanpa menoleh pada Leon. Dia sedang berusaha mengimbangi langkah kaki Yolanda yang terlihat buru-buru. Telah seminggu Yola menghindarinya. Hari ini pun kalau bukan karena ada penandatanganan kontrak ini, dan Yola diminta ikut oleh Pak Abidin, tak mungkin Yola akan mau ikut bersamanya ke bandara.


"Yola, tunggu sekejap!" panggil Ilham.


Tapi Yola tak menghiraukannya. Dia malah semakin berlari kecil. Kakinya memang sudah tidak sakit lagi.


Hingga akhirnya Yola memanggil seseorang,


"Ehsan!!!" serunya.


Sialan! Hafiz lagi, gerutu Ilham dalam hati. Tetapi Ilham tetap tak mengurungkan niatnya untuk mendekati gadis yang sudah tidak gadis itu.


Hafiz menyambut Yola dengan antusias.


"Kau menunggu lama?" tanya Yola merasa bersalah.


"Tak. Kau usah khawatirkan aku. Kau khawatirkan dirimu sahaja. Sepanjang aku pergi, kau jangan dekat dengan lelaki mana pun, ya ...." sindirnya sambil melirik Ilham.


Yola mengangguk canggung. Merasa tak enak pada keduanya.


"Kapan kau kesini lagi, Ndut?" tanya Yola.


"Secepatnya, Sayang. Kau ni, aku masih ade kat sini kau nampaknya dah rindu pun. Kau jangan nakal, ye! Awas sahaja kalau kau berani berselingkuh di belakang aku, aku tak segan tarik kau ke penghulu detik tu juge," gurau Hafiz setengah mengancam.


Dan Yola tahu ancaman bernada gurauan itu serius. Dia mencoba tersenyum simpul.


"Pesawatnya berangkat jam berapa, Ndut?"


"Sekejap lagi," jawab Hafiz tetap menatap Yola intens."

__ADS_1


"Kau tak boleh bertolak sendiri ke? Yola masih nak bekerja. Ada banyak sangat job di N-one. Jangan hanya tahu minta salary banyak je, tetapi tak tanggungjawab dengan job," kata Ilham tak sabar dengan tingkah Yola dan Hafiz. Dia cemburu.


Hafiz mendelik gusar. Sebenarnya juga Yola sebal dengan kata-kata Ilham tapi dia menahannya.


"Oh, kalau macam tu kenape tak kau ijinkan Yola untuk resign? Yola masih banyak sangat yang mahu terima dia bekerja. Sayang, kau katakan pada Ketua Pengarah kau ni, untuk ijinkan kau resign. Calon suami kau ni, bukan pula pria yang fakir sangat. Lepas berhenti dari N-one, kau boleh mengurus H-fiz Gym & Fitness manapun yang kau suke. Kau Puan Boss-nya dan selalu diterima disana," balas Hafiz dan menatap tajam Ilham. "Tak macam sorang, perusahaan warisan Atok je dah pun arogan sangat, cih!


Hafiz jelas- jelas telah merendahkan Ilham. Hati pria itu sakit karenanya. Soal itu mau tak mau Ilham memang harus mengakuinya. Di usianya yang masih sangat muda, yakni 24 tahun, Hafiz sudah memiliki 4 cabang sanggar olahraga gym dan fitness di beberapa kota di Malaysia. Sementara dirinya harus puas dengan hanya menerima begitu saja perusahaan N-one Grocery dari Atok. N-one sudah ada sejak puluhan tahun silam, atok pun hanya punya seorang anak perempuan yang akhirnya menikah dengan seorang diplomat. Harapan satu- satunya harapan hanyalah Ilham, cucu kandungnya yang akan memimpin semua cabang N- one untuk masa- masa yang akan datang.


Sebelum Ilham benar- benar meluapkan emosinya, Yola memegang lengan Hafiz sambil menggeleng agar tidak melanjutkan lagi pertikaian mereka.


"Yola!! Kau Yola, kan?"


Situasi yang mulai memanas itu tiba- tiba berubah saat seseorang memanggil Yola. Ketiganya menoleh.


"Iya, benar. Kamu memang Yola!" pekik wanita dengan potongan rambut pendek itu.


Wanita itu tiba- tiba saja menghambur dan memeluk Yola.


"Yuri?" tanya Yola seakan tidak percaya.


"Iya, ini aku! Kamu kemana aja, Yol? Ya Tuhan, sahabatku ini memang makin cantik aja deh dari waktu ke waktu! Kok bisa ya kita ketemu di sini?" Yuri tertawa cekikikan.


Perempuan itu sepertiga punya sifat yang riang dan ceria. Dia langsung bisa menguasai situasi tanpa merasa canggung sama sekali. Setelah tamat SD, Yuri dan Yola masih sempat satu sekolah, namun saat mereka lulus SMP, keduanya memilih sekolah yang berbeda dan hampir takk pernah lagi bertemu.


"Aku selalu pengen ketemu kamu dari dulu tau, nggak? Tiap reuni kamu nggak pernah datang. Aku pernah main ke rumah kamu, tapi Tante bilang kamu kuliah di Amerika. Apa karena udah lulusan Amrik makanya sombong sama teman sendiri?" tanya Yuri pura- pura dengan mimik sedih.


"Ya nggaklah. Ngomong-ngomong pas Friska bikah aku juga datang kok, tapi kamu nggak ada di sana," kata Yola.


"Haaa? Friska nikah? Kok kamu tau? Kenapa aku nggaj diundang? Kalian masih sering komunikasi? Diih kalian berdua jahat bange sih!" tuding Yuri.


"Nggak, nggak gitu kok. Aku juga tau dari Kak Rafly. Karena temannya Rafly yang mau nikah sama Friska waktu itu. Jadi kami datang barengan deh," kata Yola menjelaskan


"Oh, gitu? Padahal kukira si Friska nikahnya bakal sama si Ehsan gendut loh. Kikikikik .... Dulu kan dia paling senang tuh belain si Ndut kalau kamu isengin, Yol! Hahaha lucu deh, gimana ya, kabar si Ehsan sekarang? Aku pengen lihat sebulat apa dia sekarang. Hahahaha!" kata Yuri dengan tawa berderai.


"Ehmmm!!!" Merasa terpanggil dalam pembicaraan itu, Hafiz pun berdehem keras.


Enak aja nih cewek- cewek ngobrolin dia pake ngejek lagi!


Yola tersenyum geli. Sementara Yuri menatap Hafiz seperti familiar pada pria itu. Dan kemudian menatap Ilham.


"Siapa, Yol? Ini suamimu?" tanya Yuri.


Yuri tau kabar Yola hamil saat SMA dulu, tapi tak benar-benar tau siapa yang menjadi suami Yola.


Ilham merasa dongkol mendengar tebakan Yuri. Sementara Yola tersenyum menatap Hafiz. Hafiz sendiri balik memandang Yuri dengan tatapan memicing seperti ingin menelan Yuri hidup- hidup.


"Yuri, ini Hafiz," kata Yola memperkenalkan Hafiz kembali pada Yuri.


Yuri masih belum ngeh pada kata- kata Yola.


"Hai, aku Yuri. Temannya Yola," kata Yuri menjulurkan tangannya.


Yola tertawa melihat Hafiz yang terlihat sebal dan tak kunjung menyambut uluran tangan Yuri.


"Kenapa kamu ketawa?" tanya Yuri heran.


"Dia ini ... Hahaha, dia Hafiz, Yuri! Si Ehsan gendut! Hahaha ...." Yola masih saja tertawa membuat Ilham jadi tersentuh hatinya.


Telah lama dia tak melihat Yola tertawa seperti ini.


Mulut Yuri sampai menganga mendengar itu.


"Ha- Hafiz? Si- si gendut? Kamu jangan bercanda, Yol!"


Yuri memperhatikan Hafiz dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lelaki itu sungguh tampan. Mana mungkin dia si Ehsan gendut? Pikir Yuri.


Hafiz melipat tangannya bersidekap di dada.


"Dah puas tengok? Inilah si gendut yang kau maksud? Jadi macam mana? Sebulat ape dia sekarang, bagi tau aku!" kata Hafiz kesal.


Mendengar Hafiz yang terlihat kesal, malah membuat Yola semakin tertawa tak berhenti.


"Benaran, Yol?" tanya Yuri masih kurang percaya. "Aku kira dia suamimu."


Hafiz dengan cepat menarik Yola dan merangkulnya.


"Aku akan jadi suaminya tak lama lagi. Iye kan, sayang?"


Hafiz selalu punya kesempatan untuk menunjukkan kalau Yola adalah miliknya pada Ilham membuat Ilham menggeretakkan giginya geram.


"Tapi, Yola, kukira kamu nikahnya sama yang lain. Emm ... Aku sempat dengar kamu hamil saat kita masih kelas 1 SMA. Jangan bilang kamu sama Ehsan ...."


"Bukan, Yuri. Jangan bahas itu, ya! Aku akan ceritakan itu lain kali," sela Yola cepat. "Ngomong- ngomong, Ndut! Kamu check-in sekarang aja, deh. Nanti kamu ketinggalan pesawat!"


Kelihatan sekali Yola ingin menghindari topik bahasan itu. Dia tak tahan dipandang secara intens oleh Ilham.


"Oh iya, Yur? Kamu di KL ngapain?"


"Aku lagi nganggur. Terus diajak main ke sini sama Tante aku. Rencananya sih aku masih tiga bulanan lagi di sini. Kamu sendiri di sini ngapain? Kamu tinggal di sini sekarang?" tanya Yuri.


Yola mengangguk.


"Aku kerja di sini. Kalau gitu, aku minta nomor HP-mu aja deh. Nanti aku hubungin. Aku masih harus kerja soalnya," kata Yola sembari melirik Ilham yang sudah merasa jengah melihatnya.


Selesai mereka bertukar nomor ponsel dan Yuri pergi, Yola berpaling lagi pada Hafiz.


"Ndut, kamu masuk sekarang deh, nanti kamu telat check-in lagi," kata Yola lagi.


"Baiklah, aku diusir ...." kata Hafiz pura- pura sedih.

__ADS_1


"Nggak begitu, tapi nanti kamu telat, aku juga mau balik ke N-one nih," kata Yola frustasi.


"Ya sudah. Kamu naik taksi sahaja, Sayang." kata Hafiz seakan mengisyaratkan Yola untuk tidak pulang bareng Ilham.


Yola mengangguk.


"Kalau macam tu aku masuk sekarang," kata Hafiz sambil mengulurkan tangannya ingin memeluk Yola, tapi wanita itu menolaknya.


"Ada banyak orang, Ndut," tolak Yola tak kuasa menatap Ilham.


"Kalau begitu, macam ni saja," Hafiz merengkuh wajah Yola dan mengecup kening Yola dalam. "Aku masuk."


Yola mengangguk. Dan begitu Hafiz telah hilang dari pandangannya, Yola segera buru- buru melangkahkan kakinya keluar bandara. Dia ingin sesegera mungkin menyetop taksi dan kembali ke N-one.


Belum sempat dia mendapatkan taksi, benar saja Ilham yang mengejarnya berhasil menangkap tangannya.


"Jom, ikut abang!"


Yola tak kuasa menolak saat Ilham menarik tangannya untuk dibawa ke mobilnya.


"Aku naik taksi saja," kata Yola.


Ilham tak menghiraukan Yola. Dia memaksa Yola masuk ke mobilnya.


"Kau sangat senang ke dipeluk cium oleh Hafiz?"


Nada cemburu terdengar berapi-api dari kata-katanya.


"Dia tunanganku," kata Yola acuh.


"Yola!!!" bentak Ilham. "Abang dah berjanji akan bereskan masalah ni. Kenapa kau tak percaya pade abang?"


Yola menghela napas. Dia memberi jeda pada hatinya untuk bisa menenangkan diri.


"Bereskan dulu masalahmu baru datang padaku," kata Yola pada akhirnya. "Aku nggak mau diberi harapan palsu. Janjimu buktikan dulu. Bereskan masalah Andini, Sonia, dan dapat restu dari Mama dan Papa. Abang bisa?"


Ilham menatap wajah itu dalam. Apakah ini artinya Yola memberinya kesempatan?


"Yola, abang akan usahakan ..."


Yola menggeleng. "Aku mau janji yang pasti. Abang bisa nggak menjamin kalau Papa akan menyetujui kita rujuk kembali? Abang bisa nggak menceraikan Sonia? Jawab abang!!!" desak Yola frustasi.


Dia ingin menangis sangking depresinya. Namun kemudian dirinya tanpa dia sadar telah berada di pelukan lelaki itu.


"Mesti abang bisa. Abang akan dapatkan restu Papa untuk bawa Yola kembali. Hmmm?"


Yola memejamkan mata. Tangannya bergerak secara naluriah memeluk Ilham kembali. Dosakah dia sekarang? Tetapi sungguh dia tak dapat berpaling lagi dari pria ini. Dia sungguh-sungguh telah terjebak di dalamnya.


"Abaaang ...." panggil Yola masih dalam posisi memeluk Ilham.


Pria itu tersenyum. Dia senang dipanggil begitu oleh Ilham.


"Hmmm?" sahut Ilham.


"Kita harus ke N-one sekarang," kata Yola dengan mata terpejam.


"Tak, kite mesti ke Green House sekarang," kata Ilham.


"Kenapa?" tanya Yola sembari melepaskan pelukannya.


"Abang nak rujuk dengan kamu sekarang, Yola! Kamu mau tak?"


Yola bimbang.


"Abang belum tepati janji," jawab Yola.


Ilham mengangguk.


"Itu betul. Tapi Abang mesti tepati nanti. Percaya dengan Abang. Lagi pula talak yang abang ucapkan pada Yola, baru talak satu. Itu masih sangat boleh untuk rujuk kembali meski tanpa akad nikah kerana kau juga belum selesai masa iddah."


Yola dilema sekarang.


"Yola mahu tak? Kite akan sembunyikan ni sementara waktu dari semua orang, sembari kita berjuang mempertahankan cinta kita. Abang sangat takut kehilangan Yola. Kalau tak sekarang, kau mungkin akan menikah dengan Hafiz nanti. Itu membuat abang tambah takut," kata Ilham.


Jangan percaya Yola, jangan percaya kata lelaki ini, dia selalu tak bisa menepati janjinya, pikir Yola.


Tetapi kemudian hatinya selalu tak sinkron dengan pikirannya. Yang terucap justru sebaliknya.


"A- aku mau rujuk dengan abang."


Ilham tersenyum lembut. Sambil memegang lembut kepala istrinya itu, Ilham mengucapkan kata-kata rujuk itu.


"Yolanda Gunawan, abang kembalikan engkau pada nikahku. Abang berjanji mulai mase ni, hanya kaulah istri abang yang sesungguhnya, abang akan lindungi Yola dan pernikahan kita apa pun yang terjadi."


Yola mengangguk dan tak lama dia bisa merasakan kecupan demi kecupan mendarat di pipi hingga bibirnya.


Ilham tersenyum melihat rona merah di pipi istrinya itu. Dan dia ingin melihat ekspresi yang lebih dari itu nanti.


"Green House, ya?" kata Ilham sembari menyalakan mesin mobilnya.


"N-one dulu. Ini masih jam kerja," jawab Yola malu.


"Pulang kerja, macam mana?"


"Bawa Ammar tapi ...."


Ilham menggeleng.


"Ammar besok sahaja. Malam ni abang mahu hanya berdua saje dengan Yola. Tak ape, kan?

__ADS_1


Yola mengangguk. Dia tau apa yang diinginkan Ilham. Dia pun merindukan suaminya itu. Dan diam- diam Yola melepas cincin pemberian Hafiz dari jarinya.


Maaf, aku egois, Ndut! batinnya dalam hati.


__ADS_2