
Pagi ini Yola dan Ilham masih berada di kediaman Datuk Abidin di Kampung Baru, Penang. Rencananya mereka akan ke rumah sakit sekitar jam sepuluhan untuk mengurus keadaan Sonia.
"Yola tak payah ikut ke hospital nanti. Biarkan abangmu Ilham sahaja yang pergi nak uruskan Sonia, hmm?" usul Makcik Aminah.
Usul Makcik Aminah ini bukan semata-mata tanpa alasan sama sekali. Pagi ini kaki Yola terlihat bengkak. Bukan hanya kakinya sebenarnya, wajahnya juga. Bawaan hamil yang biasa sering disebut edema ini kini dia juga mengalaminya, padahal selagi dia mengandung Ammar dulu, dia tak mengalami hal seperti ini. Tubuhnya tetap ramping waktu itu meski perutnya mulai membuncit. Tetapi yang perlu disyukurinya di kehamilannya kali ini adalah, dia tak perlu mengalami morning sickness yang hebat seperti waktu itu.
"Nggak apa-apa, Makcik. Aku ikut aja," kata Yola.
"Tetapi kakimu bengkak macam ni," kata Makcik Aminah mengkhawatirkan Yola.
"He em. Tapi nggak sakit, kok. Makcik nggak usah khawatir ya," kata Yola mencoba menenangkan makcik Aminah.
"Hmm betul kata Makcik. Yola ni sejak mengandung dah pun bengkak sangat macam gajah, makcik," ledek Ilham menimpali percakapan sang istri dengan sepupu dari ayahnya itu.
"Abang! Aku nggak sebengkak itu ya. Ini cuma kakinya aja yang bengkak. Entar juga kalau udah lahiran bakal kembali seperti semula kok," bantah Yola.
Dia yang selalu memperhatikan penampilannya tentu saja keberatan jika diledek bengkak atau gendut oleh suaminya. Namun tampaknya itulah yang membuat Ilhan semakin gemas padanya.
"Memang bengkak pun. Kelebihan lemak dimana-mana," ledek Ilham semakin menjadi-jadi.
"Bukan kelebihan lemak tapi kelebihan cairanlah! Itu biasa terjadi pada ibu hamil," protes Yola masih tak mau kalah.
"Hummm, abang percaye. Semua makanan yang Yola makan memang cairanlah." Ilham mengejek sang bumil yang nafsu makan dan ngemilnya memang berkali lipat dari biasanya sebelun dia hamil.
"Isss!! Beneran. Lihatin deh di mbah g**le kalau nggak percaya!" Yola mencubit lengan suaminya yang semakin mengoloknya tak henti-henti.
"Hu uh, tak payah abang tengok. Abang percaye," cibir Ilham.
"Ihhh ngeselin deh. Malas aku sama abang. Kalau gitu aku disini aja, nggak usah ikut ke rumah sakit!" Yola mulai merajuk.
"Ke hospital, Honey. Rumahnya tak sakit pun." Tuh! Ilham tak henti-henti meledeknya.
"Terserah!" Yola menjadi mencak-mencak sendiri dan memutuskan untuk kembali ke kamar, meninggalkan makcik Aminah dan Ilham yang tertawa karena puas meledeknya.
Di dalam kamar Yola menjadi uring-uringan sendiri, sambil merentangkan kakinya di tempat tidur. Lalu dengan pelan-pelan dia mengelus kakinya yang bengkak. Sebenarnya ini tidak terlalu sakit, tetapi tetap saja cukup membuatnya merasa tidak leluasa untuk bergerak.
Tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya Yola memutuskan untuk menghubungi Putri. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Yola untuk menunggu. Tak lama Putri pun mengangkat teleponnya.
"Put? Kamu lagi ngapain? Ammar udah berangkat sekolah belum?" tanya Yola. Kewajibannya sebagai seorang ibu meski hanya sekedar menanyakan kabar anaknya tentu tetap harus dijalankan meski pun sekarang dia sedang tidak berada di rumah.
"Sudah, dari tadi," jawab Putri.
"Oh, dia udah sarapan belum sebelum berangkat tadi?" tanya Yola lagi. "Diantar sama Mama ya?"
"Emm, iya. Dia sudah sarapan roti sama susu tadi sebelum berangkat ke sekolah tadi. Terus diantar sama makcik Zubaedah, tetapi makciknya dari tadi belum balik-balik ke rumah," Putri melaporkan.
"Oh gitu ... iya nggak apa-apa. Mungkin Mamah mampir di pasar atau di Supermarket palingan. Entar juga nggak lama pulang," jawab Yola.
Usai menanyakan tentang Ammar dan Mama Zubaedah, Yola menyempatkan diri berbasa-basi menanyakan tentang hubungan Hafiz dan Putri. Tetapi tanpa diduga gadis itu malah mengatakan hal yang sama sekali tak diduga oleh Yola.
"Yol, sebaiknya aku disini nggak usah nungguin kamu sampai lahiran deh ya? Entar kalau kamu sudah balik dari Penang, aku pulang aja ke Palembang. Aku nggak enak sama makcik Zubaedah. Mungkin makcik nggak suka aku menjalin hubungan dengan Hafiz," katanya dengan perasaan tak enak hati.
"Hah? Kok gitu? Siapa bilang Mamah nggak suka sama kamu? Mamah suka kok sama kamu. Kok bisa-bisanya kamu berpikiran kayak gitu?" tanya Yola heran campur bingung.
"Emm, aku pikir ... sepertinya Makcik nggak suka sama aku deh ..."
Lalu Putri menceritakan tentang kejadian pagi saat Zubaedah bersikap ketus pada dirinya dan Hafiz. Posisinya yang hanya seorang tamu di rumah itu seketika menjadi tidak enak hati.
Yola mengernyitkan keningnya heran. Masa Mamah Zubaedah seperti itu?
"Emm, Putri. Kamu jangan terlalu masukin ke dalam hati ya ... Mungkin Mamah lagi banyak pikiran," hibur Yola. "Mamah nggak bermaksud membuat kamu merasa nggak nyaman. Buktinya selama kamu berada di sini, baru kali ini kan Mamah kayak gitu? Biasanya juga nggak, kan?"
"Emm ... iya sih ..."
"Nggak usah dipikirin. Itu pasti Mamah lagi banyak pikiran. Mungkin karena keingat sama Atok Yahya," kata Yola lagi.
"Hmm ... iya," jawab Putri meski pun dalam hatinya dia tetap masih merasa tak enak hati.
"Kalau gitu, udahan dulu teleponnya ya, Put. Kamu jangan pusingkan hal kayak gitu. Tungguin aku pulang, paling beberapa hari lagi aku balik," ujar Yola lagi.
"Hmm, oke."
Yola pun mematikan panggilan telepon itu dan kembali fokus memijat-mijat kakinya. Tak lama Ilham pun kembali masuk ke dalam kamar setelah perbincangannya dengan Makcik Aminah terhenti oleh panggilan telepon dari Leon. Ilham memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu di kamar, karena merasa tidak enak dengan Datuk Abidin yang sedari tadi duduk di kursi goyangnya. Ilham tak tahu apakah saat itu Datuk Abidin ingatannya sedang baik-baik saja atau tidak, mengingat orang tua itu mengidap penyakit demensia. Dan pembicaraannya di telepon dengan Leon sebaiknya Datuk Abidin tidak perlu mendengar apalagi jika nanti pembicaraan mereka sampai menyerempet membahas kematian atok Yahya.
"Kau dah urus semuanya ke?" tanya Ilham sambil duduk dipinggir ranjang di sebelah Yola.
Semua yang dimaksud oleh Ilham tentunya adalah hal yang memberatkan Yuri agar tak bisa lolos dari hukuman.
__ADS_1
"Kite hanya perlu mencari notary-nya Atok, kau tenang sahaja Ilham. Aku dah suruh orang untuk mencarinya juge. Dia tak akan boleh bersembunyi lama-lama," kata Leon mencoba menenangkan.
"Bukti CCTV tu macam mana? Dari sebelah kamar Atok tak ade jiran lain ke yang memiliki CCTV yang menghadap ke bilik Atok? Andai punya, ini tak akan susah untuk memasukkan Yuri ke dalam bui," tutur Ilham. "Aaku khawatir dia dapat lolos kalau bukti yang kite miliki tak cukup kuat."
"Kau tau usah pening pikirkan hal macam tu. Meski bukti CCTV tak cukup kuat, kerana tak menunjukkan dia berbuat hal itu pada Atok, tetapi bukti ubat-ubatan yang polis temukan di rumah Lucas akan cukup untuk buat dia tak dapat keluar dari bui." Lagi-lagi Leon mencoba menenangkan.
"Ape hasil pemeriksaan laboratory tentang ubat-ubat tu dah keluar? Dah dipastikan ke kalau itu ubat terlarang?" tanya Ilham ingin tahu.
"Aku baru nak tanya sekejap pada Tuan Polis, lepas aku tunggu Makcik dahulu berjumpa Yuri," kata Leon.
"Makcik? Maksudmu Mamah?"
"Humm ... iya."
"Mamah ade kat balai polis? Nak buat ape?" tanya Ilham heran sekaligus penasaran.
"Makcik nak berjumpa Yuri. Aku pun tak tahu mereka nak bicarakan ape. Tetapi makcik tak bolehkan aku ikut berjumpa Yuri. Dia nak bercakap dengan Yuri empat mata sahaja. Padahal aku pun nak berjumpa dengan Yuri, nak bujuk dia untuk dapat bagi tahu rahsia Lucas yang lainnya," keluh Leon.
"Mamah bercakap berdua sahaja dengan Yuri? Ape yang mereka nak bicarakan?" Ilham masih saja penasaran.
"Entah," jawab Leon acuh.
"Sekarang Mamah ade kat mana?" tanya Ilham khawatir.
"Masih ade di bilik besuk. Mungkin tak akan lama lagi jam berkunjung akan habis," kata Leon melaporkan.
Ilham menarik napasnya, bingung.
"Okay. Kamu pastikan Mamah tak dicelakai oleh Yuri," kata Ilham memperingatkan.
"Okay. Usah khawatirkan tu. Di dalam pun ade penjaga yang awasi mereka," ujar Leon mencoba menenangkan.
"Dan Leon, pasal bukti untuk memberatkan Yuri, kau tak ingat ke di mase ade kompetisi pemilihan ketua pengarah, aku menyuruh Hafiz dan Yuri untuk dapatkan logo brand dari syarikat Iora market dan dia mencuri konsep brand dari Tuan Hamid, yang sebetulnya adalah orang suruhan kite. Kalau tak salah Yuri ade gunakan senjata api mase tu kan untuk mengancam mamanya Tuan Hamid? Itu dapat dijadikan bukti tambahan untuk memberatkan Yuri," kata Ilham pula.
"Ahhh, itu betul lah. Kenape aku tak ingat lagi pasal tu?" pekiknya histeris.
"Kerana kau dah tua. Dah pelupa! Dahlah tu. Kau urus baik-baik N-one, hmm? Aku masih nak ke hospitao untuk uruskan Sonia," kata Ilham.
"Ya, ya, ya. Okelah kalau macam tu." Dan panggilan telepon itu pun diakhiri oleh Leon.
Kini Ilham duduk di sebelah Yola, turut memijat lembut kaki sang istri yang memang terlihat bengkak.
Yola menggeleng.
"Tadi yang telepon itu Mama ya?" tanya Yola balik.
"Bukan. Leon," jawab Ilham singkat.
Yola tampak berpikir keras hingga Ilham merasa perlu memberi penjelasan tambahan.
"Leon berjumpa Mamah di Balai Polis. Dia kata Mamah nak berjumpa Yuri hanya berdua sahaja," imbuh Ilham menjelaskan.
"Untuk?" Yola mengernyitkan keningnya heran.
"Entah. Tetapi agaknya Mamah nak datangi Yuri untuk lampiaskan amarah dia kerana dah ..." Ilham tak sanggup mengucapkan lanjutannya, bahwasanya Yuri telah membunuh sang Atok.
"Ini aneh," kata Yola.
"Kenape?"
"Kalau cuma untuk ngelabrak Yuri dan marah-marah, kenapa harus bicara berdua saja? Atau Leon yang nggak mau nemuin Yuri bareng?"
Ilham menggeleng.
"Leon kate Mamah yang tak mahu dikawani berjumpa dengan Yuri. Hanya berdua sahaja," jawab Ilham. Mendengar pendapat Yola, tak urung membuatnya juga ikutan bingung.
"Tadi Putri telepon. Katanya mood Mamah lagi nggak baik," imbuh Yola lagi. "Tadi malam saat Hafiz menceritakan tentang penangkapan Yuri, katanya Mama terlihat sangat bersyukur dan lega. Eh pagi ini, Mamah terlihat ketus. Hafiz ingin mengantar Ammar ke sekolah pun tak boleh katanya. Jadi Putri sampai merasa tak enak hati. Kira-kira kenapa ya, Bang? Ini aneh kan ... Mamah nggak biasanya begitu," tanya Yola meminta pendapat Ilham.
Meminta pendapat Ilham sama sekali tak membantu. Yang ada lelaki itu juga makin terlihat bingung sama sepertinya.
"Entahlah," jawab Ilham. "Nanti abang tanya kalau talipon Mamah."
Yola mengangguk.
"Sekarang macam mana? Kau ikut ke hospital ke? Atau tinggal kat sini?" tanya Ilham lagi.
Yola terlihat berpikir. Sebenarnya badannya malas untuk diajak kerja sama berjalan ke sana kemari. Tubuhnya semakin besar saja rasanya. Tetapi ada yang dia ingin cari tahu di rumah sakit setelah gagal mencari tahu tadi malam. Tadi malam setelah menerima panggilan telepon dari Hafiz, keduanya terlalu sibuk menonton vidio penangkapan Yuri di internet, di depan mini market N-one. Dan bahkan mereka masih sempat berbincang hingga beberapa saat mereka lupa tujuan mereka datang ke tempat itu.
__ADS_1
"Aduuh, abang! Kok kita malah duduk disini? Kebiasaan deh," omel Yola saat sadar mereka duduk di emperen supermarket N-one.
"Ahh, iya betul. Sekarang cakap kite nak buat ape kat sini?" tanya Ilham seraya berdiri. Tak lupa ia pun mengulurkan tangannnya untuk membantu Yola berdiri. Sepertinya dia lupa kalau Yola sudah memberi tahu apa alasan mereka datang ke minimarket ini.
Yola menerima uluran tangan Ilham dan kini ikut bangkit dari duduknya.
"Yuk kita masuk ke dalam," rengek Yola sambil menarik tangan Ilham.
"Kau nak beli ape?" tanya pria itu berusaha mengimbangi langkah istrinya yang terlihat terburu-buru.
"Aku kesini bukan mau beli apa-apa," jawab Yola.
"Habis tu?"
"Udah dibilangin tadi aku mau nyari Andini," jawab Yola lempeng, seolah tanpa beban sama sekali.
"Yola ...."
"Nggak usah cerewet deh, ah ... Ayuuuk ..."
Dan mau tidak mau akhirnya Ilham menuruti juga mau sang istri. Hingga sampailah mereka di dalam mini market ini. Tak ada yang mengenali keduanya. Itu biasa terjadim Terkadang tidak semua karyawan apalagi yang bekerja di cabang-cabang kecil sebuah perusahaan mengenal bos mereka yang datang dari pusat.
"Permisi Tuan, bisa saya berjumpa dengan staf bagian personalia yang ada di sini?" tanya Yola sopan pada security yang berdiri tak jauh dari pintu.
Lelaki itu memperhatikan Yola dari atas ke bawah. Perempuan hamil, pikirnya.
"Maaf, Puan. Kat sini tak ade jawatan kosong (lowongan kerja) untuk wanita yang sedang mengandung," kata security itu dengan nada sesopan mungkin.
Jawatan kosong? Lowongan kerja begitu? Yola sampai menganga mendengar Tuan Security yang mengira dia datang ke sini ingin menanyakan lowongan pekerjaan.
"Ah, maaf. Saya sedang tidak ingin mencari pekerjaan. Saya cuma ingin bertemu dengan bagian personalia. Ada yang ingin saya tanyakan terkait salah seorang pegawai yang bekerja di sini," jawab Yola sekaligus meluruskan.
"Oh, maaf. Puan ni dengan siape? Dan pegawai mana yang hendak Puan tanyakan? Sekedar informasyen (informasi) dari kami, saat ni bahagian personalia sedang tutup dikeranakan cuti bersama, dan mereka staf back office akan kembali buka untuk beberapaa hari ke depan saat cuti bersama telah usai. Dan tentunya mereka akan tersedia di jam-jam kerja dari pukul delapan pagi, hingga pukul tiga petang," jawab pria itu lagi-lagi dengan pembawaannya yang sopan.
Oh, iya tentu saja! Bisa-bisanya dia melupakan hal itu. Dirinya dan Ilham bahkan ada di sini karena ada cuti bersama, apalagi karyawan back office di N-one cabang?
"Oh, ck, baiklah," decak Yola. "Kalau manager? Supervisor? Apa semua libur juga?" tanya Yola putus asa.
Security itu mengangguk mengiyakan.
Harusnya Yola tahu semua staf officer memang diliburkan karena ada cuti bersama.Namun karena supermarket dan mini market tetap buka, karyawan di front office seperti staf kasir, security, hingga karyawan-karyawati yang bekerja di depan menjaga dan menyusun rak pajang, tentu tetap bekerja dengan imbalan uang lembur menggantikan hari cuti yang mereka telah korbankan.
"Oke, kalau begitu. Kalau dengan Tuan, saya bisa bertanya kan?" tanya Yola penuh harap.
"InsyaAllah, kalau saye tahu saye akan jawab, selama ini tidak bertentangan dengan pekerjaan saye," jawab pria itu. Lagi-lagi dengan ramah, membuat Yola menjadi senang melihatnya.
"Beberapa bulan lalu saya pernah bertemu dengan seorang staf pegawai di sini, bernama Andini Y, bisakah saya menemuinya?"
Tuan security memandang penuh keingintahuan pada Yola.
"Puan ni siapanya?"
Yola bingung menjawabnya.
"Dah lah tu, tak payah buat isteri saye bingung. Kau cakaplah sahaja, ape yang dia nak tahu," sela Ilham cepat.
"Tu-tuan ni siape?"
"Haiss, aku pun kau tak tahu siape? Tengku Ilham Nirwan! Siape lagi!" jawab Ilham dengan wajah bete, membuat tuan security itu mengedip-ngedipkan matanya beberapa kali ingin memastikan.
"Tu-tuan Ilham? Ketua Pengarah N-one? Eh, maaf. Presiden Directur?" pekiknya tak percaya
"Hmmm, iya saye. Sekarang kau cepatlah cakap ape yang isteri saye nak tahu!" gerutu Ilham sebal.
"Ini pasti Puan Yola? Ya Tuhan, mesti aku bermimpi tadi malam dapat bertemu dengan eksekutif syarikat macam ni," kata security itu dengan binar senang.
Ah, Yola menjadi salah tingkah dengan sikap berlebihan security itu bertemu mereka.
"Ahh, jadi Tuan, boleh saya tahu tentang pegawai wanita bernama Andini Y?" tanya Yola lagi.
Security itu menatap Yola dan Ilham bergantian.
"Dia dah lama tak bekerja kat sini. Tetapi baru sahaja dia datang kat sini untuk membeli belah (belanja) Tuan Ilham dan Puan Yola tak sempat berjumpa di depan ke?"
****
Hai, hai genks... Terimakasih untuk kalian yang tetap setia mengikuti JDM walaupun JDM mulai ngebosanin wkwkw... sabar-sabar author perkirakan JDM tamat sekitar 15-16 episode lagi. Versi 2000 lebih kata per episode ya... Tapi awas jangan minta dibikinkan season lanjutan entar kalau JDM udah tamat. Soalnya yang sudah-sudah seperti novel author yang pertama i love you dr. gagu, pas masih daring atau on going banyak yang nggak sabar pengen tamat. ehh udah ditamatin malah minta dibikinin extra part dan season lanjutan. Kan readernya lucu.
__ADS_1
Sabar-sabar lah kalian buat yang menganggap alurnya lambat. Kan bacanya gratis cyn, nggak pake koin juga. Kalian nggak akan tekor juga. Author ni serba salah, entar dipaksa tamat dengan alur instan kalian protes lagi.
Udah ah pidatonya... jangan lupa like dan komentarnya ya ....