Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Hafiz ...


__ADS_3

"Yuri, ... apa kau melihat bagaimana cara Yahya Nirwan mati? Bagaimana? Apa dia terlihat menderita? Apa dia kesakitan?" tanya Lucas dengan sorot mata gelap.


Mata itu dipenuhi oleh kebencian. Benci oleh dendam karena Tengku Yahya Nirwan dan sahabatnya Salim Gunawan telah merampas patung emas Montha Somnang yang hampir dia dapatkan dengan susah payah. Bagaimana tidak, awalnya patung emas itu mereka dapatkan informasinya dari seorang informan mereka yang bertugas di kapal pesiar Yolanda.


Saat ketua geng mereka menyusun rencana, Lucas menyusun pula rencana pengkhianatan dengan salah seorang temannya. Rencananya mereka tidak lain dan tidak bukan adalah merampas lagi patung itu dari kawanan mereka. Lucas telah bosan hidup sebagai penyamun. Dengan patung emas seberat 1 kwintal itu, dia yakin bisa memperbaiki hidupnya seperti orang normal lainnya jika dia melebur kembali patung itu menjadi emas batangan dan menjualnya. Dengan hasil penjualan emas itu Lucas yakin dia bisa setidaknya membangun usaha yang lumayan untuk modalnya menjalani hidup normal seperti orang lain. Tetapi semua tidak berjalan sesuai rencananya, teman-temannya semuanya tewas karena berebut patung itu, sementara dirinya juga hampir meninggal karena berkelahi oleh Yahya dan Salim. Keduanya membuang Lucas ke tengah laut. Kalau ingat itu Lucas menjadi geram kembali .


"Ya, dia menderita. Dia terlihat kesakitan, tetapi dia masih tetap berusaha melindungi keluarganya. Dia melindungi Hafiz dariku," kata Yuri mengingat kembali apa yang terjadi sore itu.


"Orang tua yang sangat bodoh," caci Lucas. "Padahal bocah itu bahkan bukan cucunya."


Yuri hanya diam mendengar ocehan Lucas itu. Pikirannya melayang pada sosok seorang anak remaja bertubuh gendut beberapa tahun silam.


*Flashback*


"Dah, Gendut! Aku balik duluan, ya!" seru Yola remaja ketika Pak Darman, supir pribadi keluarganya yang biasa mengantar jemput Yola datang.


Saat itu Yola, Hafiz, Yuri sudah menginjak bangsu Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mereka berbeda kelas kini. Hafiz dan Yola masih berada di kelas yang sama. Dia dan Hafiz masuk di kelas unggulan. Hafiz dan Yola berada di kelas III-1, sementara Yuri berada di kelas III-10


Hafiz sendiri sedang menunggu jemputan dari sang mama. Pada saat yang sama Yuri baru keluar dari gerbang sekolah.


"Psssstt!!! Yuri, elu Yuri kan?"


Seorang lelaki berpenampilan urakan dan tengil tiba-tiba turun dari sepeda motor. Di telinga dan bibirnya diberi anting tindik. Sementara di leher dan lengannya yang sedikit terekspos karena baju tanpa lengan, terlukis tatto.


Yuri mencoba mengabaikannya. Dia kenal pada orang itu tapi memilih untuk pura-pura tidak tahu saja.


Mendapat pengabaian dari orang yang dia sapa, pria itu pun menjadi tak sabar dan turun dari sepeda motornya.


"Cih!!! Sombongnya! Mentang-mentang sekolah di sekolah elit lo sekarang. Lupa lo sama gue?" kata pria itu.


Yuri mencoba pergi untuk berlalu, mencoba untuk menghindari masalah. Tetapi pria itu mencegatnya.

__ADS_1


"Kenapa diam aja lo? Budeg lo sekarang? Atau bisu?" Lelaki itu masih tak mau melepaskan Yuri.


"Issss, maumu apa sih? Pergi nggak?!! Aku ini mau nunggu jemputan. Aku bentar lagi mau pulang!" Akhirnya Yuri mengeluarkan suaranya juga.


"Cieee ... yang lagi nunggu jemputan. Lo sekarang orang kaya? Atau lo cuma jadi sugar baby-nya om-om? Hahaha, nggak usah belagu loh! Gue tau lo itu aslinya dari keluarga miskin. Kita dulu satu sekolah pas SD sebelum lo pindah, lupa lo?" Lelaki itu semakin gencar mengintimidasinya.


Yuri menatap sekelilingnya takut-takut. Dia takut ada teman-temannya yang lain yang akan mendengarkan. Jangan sampai ada yang tahu kalau dia sebenarnya bukan anak orang kaya. Bahwa dia dulu bersekolah hanya di sekolah kumuh yang siswa-siswinya pun berasal dari pemukiman kumuh.


Yuri agak sedikit lega karena di halte hanya ada Hafiz. Anak-anak lain mungkin sudah pada pulang sedari tadi. Yuri terlambat karena ada piket menyapu ruang kelas setelas pulang sekolah.


"Terus mau kamu apa?" tanya Yuri.


"Bagi gue duit lo, lo anak orang kaya kan sekarang? Nggak banyak cepek doank," kata pria itu.


"Seratus? Rupiah? Ribu?" tanya Yuri memperjelas.


"Ngelawak lo? Seratus ribulah, Oon! 100 perak apaan? Lo kira ini jaman baheula? 1000 perak aja sekarang nggak ada artinya! Kasih gue duit, atau kalau nggak teman-teman lo, bakal tau kalau lo sebetulnya cuma anak pecun! Emak lo kan pembokat merangkap pecun. Ye kan?"


"Jangan bohong lu!"


"Aku nggak bohong!Aku cuma punya 10 ribu aja.


"10 ribu? Dapat apa? Beli bakso aja kurang kali, minumnya aja nggak dapat!" tukas pria itu.


"Tapi serius aku nggak punya uang lagi," kata Yuri.


Lelaki itu tersenyum licik dan nakal.


"Ganti dengan yang lain juga boleh," kata pria itu.


Hafiz yang sedari tadi mendengar percakapan itu dan hanya diam saja, kini memilih untuk ikut campur. Dia tidak mengerti apa yanng

__ADS_1


"Bang! Aku ade wang hanya sebanyak ni je. Abang pergi sahaja dari sini. Kalau tak aku akan panggilkan guru kami untuk datang kat sini!" kata Hafiz sambil mengeluarkan uang dari kantongnya. Uang sejumlah 120 ribu, dan menyerahkannya pada pria itu. "Sisanya boleh Abang anggap bonus sahaja."


"Wah, baek juga lu, Gendut! Kamu naksir sama si Yuri ini?" tanya lelaki itu.


"He em," jawab Hafiz asal. "Jangan ganggu Yuri lagi, ya Bang! Kalau macam tu abang balik sahaja sekarang!"


Hafiiz ... batin Yuri.


Sepeninggalan lelaki itu, Yuri pun buru-buru mengucapkan terima kasih pada Hafiz.


"Ndut, makasih ya!" ucapnya. Yuri masih terbiasa memanggil Hafiz dengan panggilan itu sama dengan Yola. "Aku akan bayar uangmu nanti. Tapi kalau boleh aku minta tolong jangan ceritakan pada siapa-siapa apa yang kamu dengar tadi."


"Tak payah bayar kembali. Yuri kamu mesti hati-hati menjaga diri dan kau usah risau aku tak akan cakap pade siapa-siapa pasal ni," kata Hafiz.


"Makasih, Ndut!"


"Sama-sama. Aku nak balik rumah dahulu. Mamah aku dah datang jemput," katanya sambil menunjuk mobil Zubaedah yang baru datang dan berhenti tepat di depan halte.


*Flashback Off*


"Kau bersiaplah besok untuk ke Iora Grup. Kamu harus mencari tahu siapa yang menyimpan logo brand baru Iora market. Pokoknya kau jangan sampai kalah dengan si Hafiz itu," kata Lucas.


Yuri mengangguk.


"Kalau kamu berhasil, aku akan memberikan lagi untukmu ini," kata Luca sambil mendorong tembakau kalengan yang telah diracik dengan obat-obat terlarang itu ke hadapan Yuri, membuat mata gadis itu kembali berbinar melihat upahnya.


Barang-barang dan obat-obatan yang dberikan Lucas sungguh membuatnya kecanduan dan ketergantungan. Tanpa Yuri sadar, begitulah cara Lucas mengendalikannya.


****


Hallo beib maaf ya updatenya telat banget ini, soalnya minggu banyak acara dan babnya belum bisa dibikin dengan alur berat karena kesibukan author. Maaf ya... ehh jangan lupa like dan komentnya ya...

__ADS_1


__ADS_2