Jodoh Dari Malaysia

Jodoh Dari Malaysia
Honeymoon Package


__ADS_3

Putri masih mematung setelah ciuman yang membuat separuh nyawanya seperti terbang itu usai. Hafiz menjentikkan jarinya dua kali di depan mata Putri hingga kelopak mata indah dengan bulu mata lentik itu mengerjap. Sadar kalau yang baru saja dialaminya itu bukanlah mimpi.


"Hey, are you okay?" tanya Hafiz dengan nada menggoda.


Bughhh!!! Satu pukulan ringan mendarat di dada Hafiz!


"Aww!!"


"Hafiz, kalau mau melakukan sesuatu kira-kira donk. Nggak nyadar apa di sini banyak orang?" omel Putri dengan wajah yang bersemu merah.


Hafiz tertawa melihat eksperesi itu.


"Jadi kalau tak ade orang boleh ke?" goda Hafiz.


"Isss ... Hafiiiz!" sungut Yuri sambil tangannya kali ini mencubit lengan Hafiz.


"Aww ... Putri, tak payah cubitlah. Mestinya tuh cubit dibalas cubit, kiss dibalas kiss, hahaha ..."


"Idiiih maunya. Belum halal bwambaaang!!" (dikutip dari komentar mbak quiesh barra hihihi).


"Alhamdulillah Putri dah mau panggil saye Abang," kata Hafiz cuek.


"Bukan abang! Tapi Bambang!" balas Putri jutek seraya kembali ke meja mereka tadi.


"Bambang tu siape? Hahahaha ..."


"Paklek tukang somay dekat rumah!"


Hafiz terus tertawa mendengar ocehan Putri. Putri kembali jutek padanya setidaknya itu menandakan kalau mood gadis itu sudah kembali seperti sebelumnya.


Keduanya kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda akibat sedikit adegan dramatis dan romantis mereka beberapa saat lalu.


"Dah kenyang?" tanya Hafiz saat melihat iga domba di piring Putri habis menyisakan hanya tulang iganya. "Mau abang mintakan satu lagi? Nampak sedap sangat Putri makan tu abang tengok."


"Hmm, sudah ah. Nanti kamu bangkrut lagi. Mana kayaknya ini mahal banget lagi," cibir Putri.


"Ya dah kalau macam tu abang minta satu lagi," kata Hafiz bersiap-siap untuk memesan.


"Nggak, nggak kok. Aku cuma bercanda," kekeh Putri.


"Kalau macam tu kita balik sekarang. Dah jam setengah sebelas ni," kata Hafiz setelah melirik jam di pergelangan tangan kirinya.


Putri mengangguk tanda setuju. Namun belum mereka meninggalkan meja, tiba-tiba seorang room boy datang menghampiri.


"Tuan Hafiz?" tanyanya.

__ADS_1


Hafiz mengangguk bingung.


"Kawan Tuan menitipkan ini kepada Tuan," kata room boy itu.


"Siape?" tanyanya.


"Sila Tuan tengok sendiri," jawab lelaki itu sambil menyerahkan sebuah kartu yang nampaknya adalah sebuah keycard itu. Selain itu ada secarik kertas berisi catatan juga.


Hafiz! Tahniah kawan, kerana kau akhirnya berubah menjadi pejantan normal. Aku tak tahu kau dan kekasih kau tu bermalam di bilik mana. Tetapi apabila kau masih kurang bersenang-senang pakailah ini untuk beberapa hari lagi!


Hafiz menatap keycard yang ada di tangannya dengan mengernyit.


"Ini card ape?" tanyanya pada waiters yang mengantar titipan Nizam. Jelas-jelas dia tau itu keycard bertuliskan Royale International Hotel, yang berarti itu adalah kartu kunci untuk membuka salah satu kamar di hotel ini.


"Oh, itu keycard suite room untuk package honeymoon," jawab room boy itu. "Saya disuruh Tuan Nizam untuk memberikannya pada Tuan Hafiz."


Aiiis, apa-apaan si Nizam itu, gerutu Hafiz sambil melirik pada Putri. Nizam membuat reputasinya turun di mata Putri ini namanya. Bisa-bisa Putri salah paham kalau begini.


"Ahh, tak payah! Kite ni hanya makan malam kat sini, Bang! Abang ni dapat kembalikan pada Nizam lagi ke?" kata Hafiz sambil menyerahkan kembali keycard pada room boy itu.


"Eeh, sayang. Rezeki jangan ditolak tau," kata Putri sambil merebut kartu itu dari tangan Hafiz.


"Putri, ape maksud kau ni? Jangan cakap kau mahu kite bermalam kat sini ye?" kata Hafiz dengan pandangan menuduh.


"Diiih, pedenya! Ini sayang kalau ditolak. Ini bisa dipake sama Yola dan Bang Ilham tau!," jawab Putri sembari menatap kartu itu dengan mata berbinar. "Mas, ini berlaku berapa malam?"


"Keycard ni berlaku tiga hari tiga malam dimulakan dari malam ni semenjak Tuan Nizam check in untuk anda berdua, Tuan," kata room boy itu untuk menerangkan.


"Eh, tak payah sibuk sangat macam tu. Kalau mereka nak pergi honeymoon pasti pergi pakai wang sendirilah," jawab Hafiz hendak merebut kembali kartu itu dari Putri.


Putri sigap mengelak.


"Sayang kalau nggak dipakai, mubazzir! Atau diduitin bisa nggak nih, Mas?" tanya Putri lagi.


Sontak Hafiz dan room boy itu membelalak tak percaya padanya.


"Tak boleh. Kalau dah check in, deposito dah dibayar, wang tak dapat balk lagi," kata room boy itu lagi menerangkan.


"Oh begitu?" Putri manggut-manggut. "Baiklah, kalau begitu coba kutawarin sama orang di meja sana. Siapa tau mereka mau gantiin nginap di kamar suite room dengan uang, ya kaaan?" katanya dengan ide yang menyala cemerlang di otaknya.


Lalu tanpa mengajak Hafiz, Putri pun segera menghampiri meja yang dimaksud. Hafiz melongo melihatnya. Sungguh gadis ajaib. Hadiah dari Nizam berupa package honeymoon ingin dia duitin? Yang benar saja!


Dan Hafiz semakin melongo saat melihat gadis itu berbicara dengan empat orang di meja. Hafiz mendekatinya.


"Hafiz, kakak-kakak sama abang ni mau gantiin separuh harga kamar katanya. Aku kasih aja ya?" katanya ceria.

__ADS_1


Heuh? Hafiz mengusap rambutnya dari depan ke belakang. Duuh Putri ini sudah seperti orang susah saja. Bukannya Putri juga berasal dari keluarga berada ya?


Salah seorang lelaki di meja itu sudah mengeluarkan dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang ringgit.


"Jadi berape?" tanyanya pada Putri.


Sebelum Putri bertanya pada room boy tadi, Hafiz buru-buru mendorong pelan tangan pria yang hendak membayar kamar itu dengan sopan.


"Maaf, Bang! Bilik ni tak jadi dijual. Ini hadiah kawan saye untuk saye dan isteri honeymoon. Tetapi isteri saye ni nak jadikan bilik ni wang kerana pekerjaan saye tak menetap." Hafiz bersandiwara.


Ohh, kasihaaan ...


Mata keempat orang di meja ini pun melihat kasihan pada Putri dan Hafiz.


"Sayang, aku ni tahu, upahku dari bekerja tak seberapa. Tetapi ini honeymoon kita. Nizam mesti berikan bilik ni untuk kite agar kite dapat menikmat mase honeymoon berdua. Tak payah pikir pasal wang. Lepas honeymoon ni, aku akan balik bekerja untuk carikan kau wang," bujuk Hafiz dalam sandiwaranya.


Putri memutar bola matanya malas. Hafiz bersandiwara lagi!


"Adik-adik ni pasangan pengantin baru ke?" tanya salah seorang wanita dari keempat orang itu.


"Macam tulah, Kak," jawab Hafiz sembari melirik Putri yang melotot padanya.


"Aiss, Dik! Kasihan husband kau ni. Tak payahlah sampai menjual hadiah dari kawan. Kau tak dengar ke husband kau kate dia akan bekerja keras lepas korang berdua honeymoon. Jom! Baliklah kat bilik sekarang. Pengantin baru tak baik malam-malam ni ade diluar," goda mereka lagi.


"Kalau macam tu kami balik kat bilik dahulu, Kakak, Abang!" pamit Hafiz yang dibalas godaan dari keempat orang itu.


Hafiz tertawa mendengar godaan itu sembari menarik tangan Putri dari sana.


"Isss!! Sembarangan banget sih ngaku-ngaku?Kan aku jadi gagal dapatin uangnya!" omel Putri sesaat ketika mereka sudah berada di lift.


"Memang kau perlu wang berape? Nanti abang yang beri! Tak payah macam tu, ape kate kawan abang nanti kalau bilik tu dijual kembali?"


"Cie... mentang-mentang kaya. Cincin dibuang, ni juga mau ngasih aku duit biar aku nggak jual tuh kamar?Malu-maluin banget tingkahku tadi ya. Ya ampuuun sorry, habis kan mubazzir kalau kamarnya nggak dipake. Itu duit, Bang! Duit!" Putri balas sewot. "Lagian temanmu juga aneh sih, ngasih kamar begitu untuk kita, apaan? Kita kan belum nikah!"


Hafiz senyum-senyum mendengarnya.


"Ho oh, belum. Tetapi tak lama lagi," kata Hafiz tergelak. "Apa itu berarti abang boleh mengganggap Putri mahu?"


"Apaan? Maksudku bukan begitu!"


Hafiz masih tak berhenti menggoda Putri, sampai mereka turun ke lobby hotel. Hingga saat itu dia tak sengaja melihat seseorang yang dia kenal.


Hey, bukankah itu notarisnya Atok?


****

__ADS_1


Like, komeent dan beri dukungan lainmya untuk author ya ....


__ADS_2