
“Apa mereka semua tidak waras? Aku baru mau memasuki usia 18 tahun. Kenapa malah jadi seperti ini? Aku sangat lelah,” keluh Scarlesia seraya memijit pelipisnya.
“Berita ini sudah dimuat di koran kekaisaran Nona,” kata Hana.
“Secepat itu? Astaga aku baru saja mau beristirahat tapi malah timbul masalah yang seperti ini,”
“Dan juga para bangsawan akan menggelar rapat di istana bersama kaisar mengenai masalah ini Nona,”
Rasanya saat ini Scarlesia ingin menghancurkan benda-benda di kamarnya, dia tidak senang sama sekali dengan berita yang menurutnya sangat mengganggu dan merepotkan seperti ini.
“Apa yang sedang dilakukan Ayah sekarang?” tanya Scarlesia.
“Yang Mulia Duke sedang berada di ruang kerjanya untuk membicarakan masalah ini bersama Tuan Muda Carlen dan Tuan Muda Aldert,”
“Oke. Bawa aku ke sana sekarang,”
Hana dan Erin langsung mendampingi Scarlesia untuk menghampiri Eldrick, Carlen, dan Aldert. Dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk hal ini, dia ingin semuanya tuntas hari ini tanpa hambatan atau gangguan.
Sementara itu, sekarang Eldrick, Carlen, dan Aldert sedang menatapi tumpukan surat lamaran pertunangan untuk Scarlesia di atas meja. Mereka menatap dengan wajah serius, mereka ingin membakar semua surat-suratnya tapi tidak bisa dilakukan begitu saja dikarenakan yang mengirimi surat-surat ini bukan orang biasa.
“Jadi, apa yang mesti kita lakukan sekarang?” tanya Aldert.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan tapi aku tidak suka melihat surat-surat ini,” jawab Carlen.
“Bagaimana kalau kita bakar saja?” usul Aldert.
“Jangan! Kita harus tunggu Sia dulu sebelum memutuskan untuk membakarnya,” larang Eldrick.
“Yang Mulia, Nona ingin bertemu dengan anda,” kata Wilson.
Mereka bertiga mengangkat kepalanya bersamaan.
“Suruh dia masuk,”
Scarlesia masuk ruangan bersama Hana dan Erin begitu sudah diberikan izin oleh Eldrick. Tanpa berlama-lama Scarlesia langsung mengatakan serta bertanya mengenai berita yang disampaikan oleh Hana.
“Ayah, apa surat itu semuanya adalah surat lamaran pertunangan?” tanya Scarlesia melirik setumpuk surat.
__ADS_1
“Iya betul. Apa kamu ada niat untuk menerima salah seorang diantaranya?” tanya Eldrick kembali.
“Tentu saja tidak ada. Tolak semua surat lamaran pertunangannya karena aku masih belum ada pikiran untuk menikah,” ujar Scarlesia.
Persis dengan yang mereka kira, Scarlesia tidak akan menerima lamaran dari siapapun. Jawaban yang didengar darinya membuat mereka semua puas seketika.
“Sepertinya sebentar lagi akan banyak bangsawan bodoh yang menargetkan Ayah karena masalah ini,” ucap Carlen.
“Kenapa? Ini kan hak aku untuk memilih dengan siapa aku akan menikah. Jika para bangsawan itu menyalahkan Ayah hanya karena aku menolak semua lamaran pertunangan maka sama saja mereka mencari mati,” balas Scarlesia tersenyum jahat.
“Tidak hanya itu, aku rasa para gadis bangsawan juga menargetkan Sia di pergaulan kalangan bangsawan,” timpal Aldert.
“Kalau masalah itu sih aku tidak peduli, mereka akan aku buat menyesal seumur hidup jika berani menyinggungku duluan,” gertak Scarlesia.
“Jadi sekarang….”
Braakkk
“SIAAAAA!!!”
“Kalian kalau masuk harus ketuk dulu pintunya, jangan asal dobrak saja,” tegur Scarlesia.
“Sia, apa itu benar kalau banyak pria yang mengirimimu surat lamaran pertunangan?” selidik Zenon.
Mereka mengabaikan teguran Scarlesia, tidak peduli apapun yang dikatakan oleh Scarlesia mereka hanya ingin mengetahui kebenarannya saja.
“Aku tadi mendengarnya di pusat kota, semua orang sibuk membicarakanmu jadi aku langsung kemari untuk memastikannya langsung,” sambung Oliver.
“Tunggu sebentar. Kalian harus sabar dan aturlah napas kalian dulu pelan-pelan, aku akan mengatakannya kalau kalian sudah tenang,” ucap Scarlesia menenangkan mereka semua.
Eldrick menggeleng-gelengkan kepalanya, ia pusing karena banyak sekali pria yang menginginkan putrinya. Terlebih lagi pria-pria yang menginginkannya bukanlah pria dari kalangan biasa tapi mereka memiliki kekuasaan dan jabatan yang tinggi. Dari sini lah kecemasan dan kekhawatiran menelan diri Eldrick, ia semakin takut membiarkan putrinya sendirian. Semakin banyak pria yang menginginkannya maka semakin banyak pula bahaya yang menghadangnya.
“Sebenarnya pria yang seperti apa yang diinginkan oleh Sia?” pikir Eldrick.
“Sia, kami sudah tenang. Cepat katakan tentang berita yang tidak jelas itu,” desak Elios.
“Itu benar. Tidakkah kalian melihat tumpukan surat di atas meja ini?” jawab Scarlesia menunjuk ke tumpukan surat.
__ADS_1
“Banyak sekali, mereka semua ingin melamar Sia? Aku tidak akan membiarkannya,” tegas Louis.
“Aku juga. Kalau bisa saat ini juga aku ingin menebas kepala mereka semua,” timpal Andreas mengeluarkan pedangnya.
“Ya ampun kalian tenang saja karena aku tidak akan menerima lamaran pertunangannya,”
“Apa kamu tidak tertarik menjadi permaisuri? Tampaknya kamu menghindari sekali menjadi permaisuri,” ujar Elios.
“Aku tidak mau menjadi permaisuri karena menurutku itu kurang menantang dan melelahkan karena harus bertempur setiap hari dengan para selir. Aku lebih tertarik menjadi kaisar jadi aku lebih leluasa dalam memerintah tanpa harus bertempur dengan para wanita,”
Mereka tercengang karena jawaban yang diberikan oleh Scarlesia, terdengar asal-asalan tapi mimik wajahnya menjelaskan bahwa ia serius dengan perkataannya.
“Kaisar? Kau ingin menjadi kaisar? Rasanya itu tidak mungkin,” sanggah Aldert.
“Ya, aku rasa juga begitu karena terlalu mustahil untuk digapai,” balas Scarlesia setuju dengan perkataan Aldert.
“Lalu kenapa kau mengatakan ingin menjadi kaisar?” tanya Zenon.
“Aku hanya berbicara mengenai mimpi yang tidak akan terwujud,” dalih Scarlesia.
Mereka dibuat bingung oleh perkataan Scarlesia yang berputar-putar, mereka tidak mengerti kenapa Scarlesia berkata mengenai mimpi yang tidak jelas seperti ini. Mereka tak bersuara selama beberapa saat, Scarlesia ikut bingung melihat mereka yang memandang aneh padanya.
“Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Ada yang salah?” heran Scarlesia.
“Ya aku hanya merasa kalau…”
“NONA! NONA!”
Seekor burung pipit kecil terbang masuk ke dalam mansion untuk mencari Scarlesia, burung itu adalah Cici. Tampaknya dia membawa berita buruk karena dari suaranya saja bisa diketahui bahwa ada rasa takut serta cemas. Cici terbang dengan kecepatan penuh lalu menghinggap di atas telapan tangan Scarlesia.
“Ada apa Cici? Apa yang terjadi?” cemas Scarlesia.
“Nona, ada berita buruk! Monster di laut utara saat ini sedang menuju ke daratan dan sepertinya mereka memiliki niat buruk pada orang-orang di sana. Anda harus segera ke sana Nona untuk membantu semua penduduk yang ingin dibunuh oleh monster laut tersebut,” lapor Cici.
“Ada berapa monster yang keluar?”
“Sekitar 5 monster Nona. Satu monster laut saja kekuatannya bisa menghancurkan satu kekaisaran tapi ini 5 monster laut. Bagaimana anda akan menghadapinya Nona?”
__ADS_1