Kecantikan Nona Paling Sempurna

Kecantikan Nona Paling Sempurna
Rindangnya Pohon


__ADS_3

“Yang Mulia, Duchess Freya ingin menemui anda.”


Scarlesia tengah sibuk mengobrol bersama Cici dan Kitty, tapi seorang pelayan memanggilnya dan mengatakan bahwa Duchess Freya datang bertemu dirinya. Scarlesia terpaksa menyudahi obrolannya dulu lalu ia langsung beranjak pergi menemui Duchess Debora di ruang tamu.


“Salam kepada Yang Mulia Putri Mahkota,” ucap Duchess Freya membungkuk memberi salam.


“Tidak usah terlalu sopan duchess, silakan duduk saja,” kata Scarlesia.


Duchess Freya segera duduk, begitu pula dengan Scarlesia duduk berhadapan dengannya. Tak lupa para pelayan menyajikan minuman dan cemilan untuk menemani pembicaraan mereka berdua.


“Ada apa duchess? Apa ada sesuatu yang ingin anda katakan kepada saya?” tanya Scarlesia.


Ekspresi Duchess Freya tampak menggambarkan kerumitan, dia menunduk beberapa detik sebelum ia menjawab pertanyaan Scarlesia.


“Saya ingin meminta maaf pada anda Yang Mulia tentang masalah yang menimpa anda ketika menghadiri pesta minum teh yang saya adakan. Saya tidak memprediksi hal itu akan terjadi salama pesta berlangsung, sejujurnya saya ingin menemui anda di hari itu juga tapi pihak istana melarang orang lain untuk masuk,” jawab Duchess Freya memaparkan kepada Scarlesia alasan kenapa dia datang menemuinya.


Sebenarnya nama Duchess Freya saat ini tengah menjadi perbincangan di Evariste sebab dia dianggap tidak bisa menjalani pestanya dengan baik. Tercorengnya nama baik Duchess Freya tentunya menjadi beban pikiran tersendiri baginya, selama ini keluarga Duchess Freya telah mengabdi pada kekaisaran dan menunjukkan sumpah setianya pada kaisar. Namun, karena masalah ini kesetiaan keluarga Duchess Freya diragukan oleh para bangsawan.


“Ini bukan kesalahan anda duchess, jadi anda tidak perlu meminta maaf kepada saya karena saya tahu anda orang baik. Yang meracuni saya hari itu bukan rencana anda tapi ini adalah ulahnya Abigail.”


Tepat sebelum Scarlesia kehilangan kesadarannya sepenuhnya, dia melihat Abigail di sana sedang bersembunyi di balik tembok sembari menutupi wajahnya dengan jubah tapi Scarlesia tetap bisa mengenali wajah Abigail. Mendengar itu, Duchess Freya kaget bukan kepalang karena dia telah menyelidiki dalang di balik insiden keracunan Scarlesia.


“Abigail? Bagaimana anda bisa mengetahuinya Yang Mulia?” tanya Duchess Freya.


“Saya melihatnya berada di ruang pesta pada hari itu, anda tahu sekarang kan? Anda tidak salah sama sekali. Dan juga racun yang digunakannya untuk membunuhku bukan racun yang bisa ditemui oleh sembarang orang. Ini adalah racun berbahaya bahkan jauh lebih berbahaya daripada racun biasa,” jelas Scarlesia.


Duchess Freya menghembuskan napas lega, bibirnya melengkung membentuk senyum. Dia akhirnya tenang setelah mengetahui siapa dalang di balik semua ini.


“Tapi kan Abigail kabur dan tidak tahu dimana keberadaannya kini. Bagaimana cara menangkapnya Yang Mulia?”


Scarlesia meneguk tehnya terlebih dahulu lalu menaruh cangkir tehnya di atas meja.


“Abigail sudah mati. Jika dia masih hidup, dia pasti akan datang ke istana kala aku sedang terbaring lemah tapi wanita itu tidak menampakkan batang hidungnya di hadapanku. Artinya saat ini dia sudah tidak ada lagi,” ujar Scarlesia.


“Masuk akal juga, apa dia dibunuh?”


“Sepertinya benar, dia mati dibunuh oleh seseorang yang dia anggap sebagai sekutu.”


Duchess Freya mengangguk mengerti, dia melanjutkan beberapa pembicaraan lain bersama Scarlesia. Sekarang masalah siapa penaruh racun di minuman Scarlesia beberapa waktu lalu sudah terpecahkan.


“Tentu saja dia dibunuh, dewa kegelapan tidak butuh manusia sebagai bawahannya,” batin Scarlesia menyeringai.

__ADS_1


Selepas Duchess Freya pamit undur diri, Scarlesia segera membuat sebuah pengumuman di sebuah kertas yang berisi tentang pelaku yang meracuninya. Kemudian kertas pengumuman tersebut ditempel di papan pengumuman di tengah alun-alun kota agar semua orang bisa melihat dan membuka mata masing-masing bahwa Duchess Freya tidak salah apapun.


Sejak hari itu, nama baik Duchess Freya balik seperti semula. Desus-desus buruk mengenaik Duchess Freya telah menghilang bak ditelan bumi. Scarlesia bersyukur semuanya bisa kembali seperti sedia kala.


“Masalahnya sudah kelar tapi kenapa kekuatanku sampai sekarang masih belum pulih? Aku bosan melihat penyihir dan para ksatria mengelilingi istanaku setiap hari hanya untuk mengawasiku agar tidak kemana-mana,” gerutu Scarlesia.


Ini sudah gerutuan ke sekian kalinya, Scarlesia tidak bisa menghentikan mulutnya agar tidak menggerutu. Dia kesal bukan main, dia hanya ingin bermain sejenak di luar namun kebebasannya dibatasi secara ketat. Sedari tadi yang dia lakukan hanyalah berdiri di tepi jendelanya seraya memandangi langit biru, tidak ada yang lebih spesial dari itu.


“Sia, kau jangan keseringan menggerutu,” tegur Louis dari bawah.


Mendengar suara Louis, Scarlesia spontan melirik ke bawah dan ternyata Louis sedang duduk di bawah pohon yang tumbuh berhadapan tepat dengan jendela kamarnya.


“Louis! Sejak kapan kau di sana?” tanya Scarlesia.


“Baru saja, aku mendengarmu menggerutu jadi aku putuskan duduk di sini sambil menyaksikan gerutuanmu,” jawab Louis.


“Aku bosan, tunggu di sana. Aku akan menghampirimu,” kata Scarlesia hendak berbalik dan menyusul Louis.


“Tidak usah. Biar aku jemput kau ke kamar,” cegat Louis.


Ketika Scarlesia berbalik, Louis sudah berada tempat di belakang dirinya lalu langsung menggendongnya untuk dibawa ke bawah.


Pohon yang rindang ditambah hembusan angin siang memberikan nuansa indah untuk bersantai dari segala beban pikiran dan pekerjaan.


“Tidak buruk juga ternyata,” ucap Scarlesia.


Mereka duduk berdampingan di bawah pohon tersebut, kemudian tiba-tiba saja Louis merebahkan kepalanya di atas paha Scarlesia.


“Aku lebih suka melihat wajahmu dari sini,” ujar Louis.


Scarlesia tertawa kecil, ia mengelus rambut Louis pelan.


“Kau manja sekali.”


“Tidak apa-apa, aku hanya ingin dimanjakan olehmu.”


Kata-kata Louis begitu manis terdengar, namun ini juga lucu buat Scarlesia karena dulu sebelum berubah menjadi wujud yang lebih dewasa, dia tidak pernah bertingkah seperti ini.


“Hahaha benarkah? Mulutmu manis sekali.”


“Oh ya? Mulutku manis kah? Bagaimana kalau kau mencicipi mulutku yang manis sekarang?” goda Louis menggunakan tatapan serta senyuman nakal sambil menciumi ujung rambut Scarlesia.

__ADS_1


“Apakah kau mencoba merayuku sekarang?”


Scarlesia mencubit gemas pipi Louis, sesungguhnya Louis dewasa lumayan membuatnya kesal.


“Aduhh jangan cubit pipiku, aku hanya bercanda.”


“Jangan coba-coba merayuku lagi….”


“WOY LOUIS!”


Secara mengejutkan, Andreas bersama pria lainnya datang mengagetkan Louis dan Scarlesia.


“Kenapa kau di sini? Beraninya kau merayu Sia di belakang kami,” omel Zenon menarik Louis agar bangun dari paha Scarlesia.


“Kalian menggangguku! Pergilah dan jangan ganggu waktuku bersama Sia,” usir Louis.


Ia menghadap samping lalu melingkarkan tangannya di pinggang Scarlesia, wajahnya bersentuhan dengan perut Scarlesia.


“Apa yang kau lakukan? Cepat berdirilah!” Oliver geram dan membantu Zenon untuk menarik Louis agar lepas dari Scarlesia.


“Tidak! Aku tidak mau! Jangan paksa aku!” kukuh Louis.


Andreas tidak tahan lagi, dia mengeluarkan pedangnya kemudian mengarahkannya kepada Louis guna untuk menggertak Louis.


“AAAAHH JANGAN! Aku akan berdiri sekarang juga.”


Akhirnya Louis menurut, ia pun berdiri dengan perasaan kesal setengah mati pada mereka yang berani mengganggu waktu mesranya bersama Scarlesia. Setelah Louis berdiri, kini giliran Andreas tiduran di atas paha Scarlesia.


“KENAPA SEKARANG MALAH KAU YANG TIDUR DI PAHANYA SIA?” teriak Louis kesal.


“Bangunlah Andreas! Kau tidak boleh memonopoli Sia begitu saja,” ucap Elios sebal.


Seperti biasa, Andreas tidak menanggapi protes mereka semua dan dia berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka katakan padanya.


“Sia, aku mengantuk, Izinkan aku tidur sebentar,” tutur Andreas.


“Oke, tidurlah.”


“CURANG! KAU CURANG ANDREAS!”


Mereka semua meneriaki Andreas berlaku curang, mereka tidak henti-hentinya protes agar Andreas segera beranjak dari Scarlesia. Sedangkan Scarlesia sendiri hanya terkekeh melihat mereka bersikap layaknya anak-anak termasuk Xeon yang juga ikut menggerutu pada Andreas.

__ADS_1


__ADS_2